Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i3.9559
Raising of the Widow’s Son at Nain (Luke 7:11-17): Exegetical Intertextual Study of Luke-Acts as a Typology of the Elijah-Elisha Narrative
  • Sep 30, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Abel Aor Inyaregh

The most thoughtful of all the miracles Jesus performed during His earthly ministry are those in which He raised the dead. Liberal theologians, because of natural laws, objected to the logical possibility of miracles. Other folks have disputed the reality of miracles for centuries that they are merely garbage of stories that Jesus’ followers and disciples fabricated. More repeatedly, studies into the literary roots of the New Testament endeavour to connect Jesus' narrative to wonder-workers and holy men from the Greco-Roman world. The raising of a widow's son is unique to the Lukan pericope. This paper attempts to trace an intertextual relationship that exists between Luke-Acts and the Elijah-Elisha narrative. The study adopts narrative and socio-historical criticisms to investigate Luke-Acts as a typology of the Elijah-Elisha narrative, concentrating on the resuscitation of the deceased son of the widow of Nain to validate reality. The study found that the Jesus-Elijah/Elisha typology supports the authenticity and historicity of Jesus raising the dead. The major social issue in the raising of the widow of Nain’s son centres on the vulnerability of a bereaved mother whose only child had died, leaving her without family, social, or monetary upkeep, yet she found solace in Jesus.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i3.10239
Missionary Practice and Cultural Sensitivity: Exploring African Catholic Missionaries’ Encounter with African Indigenous Religions in Sub-Saharan Africa
  • Sep 30, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Chanda Armstrong

Early Western missionaries to Africa have been criticised for lacking cultural sensitivity to African indigenous religion(s) (AIR). This interpretive phenomenological study examines how the presence of Indigenous African Catholic missionaries in modern sub-Saharan Africa may have shifted the narrative of missionary encounters. It investigates how these missionaries navigate and experience cultural sensitivity within the context of their work. This study is based on the theoretical frameworks of inculturation and dialogue, informed by the Second Vatican Council’s focus on interreligious dialogue and Pope John Paul II’s advocacy for evangelising African cultures. Eight African missionaries from Western, Eastern, Central and Southern sub-Saharan Africa participated in this study, providing narrative data through semi-structured interviews. African missionaries have indicated both cultural sensitivity and insensitivity towards AIR, with some missionaries appreciating shared values and actively engaging in respectful interactions with AIR. However, challenges emerge in this interaction, including navigating cultural differences, syncretism, historical prejudices and theological dilemmas. Despite these challenges, indigenous missionaries are committed to inculturation and dialogue, incorporating certain indigenous practices into worship and developing culturally relevant pastoral approaches. The study recommends developing culturally sensitive evangelistic approaches that not only value and respect indigenous identities and spiritualities but also promote mutual understanding and social unity.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i3.7899
Me MEMAHAMI CINTA, KESETIAAN, DAN HUBUNGAN MANUSIA DENGAN TUHAN DALAM KITAB KIDUNG AGUNG
  • Sep 30, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Pitaya Rahmadi + 1 more

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna cinta, kesetiaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan sebagaimana terungkap dalam Kitab Kidung Agung melalui pendekatan stilistika, khususnya analisis simbol dan metafora. Kitab Kidung Agung yang kaya akan bahasa puitis, sering kali dimaknai tidak hanya sebagai ungkapan cinta antarmanusia, tetapi juga sebagai alegori hubungan antara manusia dengan Tuhan di alam baka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis teks untuk mengidentifikasi dan menginterpretasikan simbol dan metafora yang dominan dalam teks. Hasil analisis menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti kebun, anggur, bunga, dan hewan tertentu menggambarkan keindahan, keintiman, dan kerinduan yang mendalam antara sepasang kekasih dan orang yang dicintai, yang dalam konteks teologis dapat dimaknai sebagai representasi hubungan antara manusia dengan Tuhan di alam baka. Metafora cinta juga digunakan untuk menjelaskan kesetiaan dan pengabdian yang murni. Tulisan ini juga menegaskan bahwa Kitab Kidung Agung bukan hanya puisi cinta, tetapi juga memiliki makna teologis yang mendalam tentang hubungan transendental. Selain itu, penelitian ini mengajarkan bahwa cinta sejati adalah anugerah dari Tuhan, dan bahwa kita harus hidup dengan komitmen dan rasa hormat. Dengan memahami simbol dan metafora yang digunakan, pembaca diajak untuk berpikir tentang dimensi spiritual cinta dan kesetiaan dalam hubungan antara manusia dan Tuhan. Kata kunci: cinta, kesetiaan, simbol, metafora, hubungan antara manusia dan Tuhan

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i3.10255
An Analisis Pedagogical Content Knowledge (PCK) Mahasiswa Pendidikan Guru SD terhadap Materi IPA melalui Instrument Content Representation (CoRe) dalam Konteks Pendidikan Kristen
  • Sep 30, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Destya Waty Silalahi + 1 more

Pedagogical Content Knowledge (PCK) mepupakan kompetensi penting yang harus dimiliki oleh calon guru, khususnya guru IPA di tingkat Sekolah Dasar (SD). PCK mengintegrasikan pengetahuan konten dengan pengetahuan pedagogis sehingga materi pelajaran dapat dapat disampaikan secara efetif sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif siswa. Dalam konteks pendidikan Kristen, pemahaman konten IPA perlu didasarkan pada cara pandang alkitabiah (Biblical Cristian Worldview/BCW) agar pembelajaran berpusat pada Kristus dan berlandaskan kebenaran firman Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis PCK calon mahasiswa guru SD yang akan mengajar IPA menggunakan instrumen Content Representation (CoRe) dalam konteks pendidikan Kristen. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 78 mahasiswa calon guru SD sebagai subyek penelitian. Hasil penelitian menunujukkan bahwa 62% mahasiswa memiliki kemampuan PCK dalam kategori baik, 29% dalam kategori sangat baik, 8% dalam kategori cukup dan 1% mahasiswa dalam kategori kurang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sangat penting dilakukan pembekalan yang memadai bagi calon guru SD dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran IPA berbasis cara pandang Alkitabiah.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i3.10227
Membangun Kerja Sama Pemimpin di Sekolah Kristen: Perspektif Teologis atas Hambatan dan Solusinya
  • Sep 30, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Suparman

Kerja sama antar pemimpin merupakan fondasi penting dalam kepemimpinan sekolah Kristen yang berlandaskan pada kesatuan tubuh Kristus. Namun dalam praktiknya, kerja sama tidak terjadi secara otomatis, bahkan sering mengalami hambatan yang bersumber dari perbedaan kepribadian, ketidakseimbangan iman, serta perbedaan orientasi dan kepentingan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hambatan-hambatan kerja sama antar pemimpin dalam konteks sekolah Kristen melalui kajian naratif tokoh-tokoh Alkitab dan mengusulkan solusi berdasarkan perspektif teologis. Dengan pendekatan reflektif-teologis dan literatur terkini, artikel ini menyoroti bahwa kerja sama Kristen bukan sekadar strategi administratif, melainkan perwujudan koinonia yang mencerminkan relasi kasih Allah Tritunggal. Solusi yang ditawarkan meliputi formasi karakter rohani, mentoring spiritual, pendekatan restoratif dalam konflik, dan peneguhan visi bersama. Diharapkan, pemahaman dan praktik ini mendorong terbangunnya kepemimpinan Kristen yang transformatif dan otentik dalam komunitas pendidikan.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i2.9833
Pengembangan Instrumen Persepsi Remaja terhadap Peran Orangtua sebagai Pendidik Iman dalam Keluarga Kristen berdasarkan Ulangan 6:6-9
  • May 31, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Ganda Sari + 1 more

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen yang valid dan reliabel guna mengukur persepsi remaja terhadap peran orang tua sebagai pendidik iman dalam keluarga Kristen, berdasarkan Ulangan 6:6–9. Di tengah dunia VUCA—yang penuh dengan ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas—pembentukan identitas Kristen harus dimulai sejak dini dalam lingkungan keluarga, dengan orang tua sebagai pembimbing rohani yang konsisten. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan teoretis, dimulai dari kajian biblika dan teologis atas Ulangan 6:6–9, dilanjutkan dengan penyusunan konstruk, indikator, dan item yang divalidasi oleh ahli serta diuji kepada 260 mahasiswa. Instrumen akhir terdiri dari 26 pernyataan tertutup dengan skala Likert, mencakup enam indikator: pengenalan akan Allah, pengajaran perintah-Nya, komunikasi firman, keteladanan hidup orang tua, kasih dan disiplin, serta lingkungan spiritual keluarga. Validitas diuji menggunakan korelasi Pearson Product Moment yang menunjukkan bahwa seluruh item valid (r > 0,138), dengan konsistensi internal tinggi (Cronbach’s Alpha = 0,976). Penilaian pakar melalui Aiken’s V menunjukkan sebagian besar item berada pada kategori sangat valid. Instrumen ini efektif dalam menangkap persepsi remaja terhadap pendidikan iman oleh orang tua dan memperkuat relevansi Ulangan 6:6–9 sebagai dasar teologis pendidikan iman dalam keluarga Kristen.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i2.9710
Metode Pembelajaran Berbasis Pengalaman sebagai Upaya Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Konteks Pendidikan Kristen
  • May 31, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Sherina Putri Alehandra Balukh + 1 more

Pendidikan Kristen memiliki tujuan utama agar peserta didik mampu mengaitkan konsep-konsep teologis dengan realitas kehidupan sehari-hari serta menerapkannya dalam tindakan dan perilaku nyata. Untuk mencapai tujuan tersebut, keterampilan berpikir kritis menjadi aspek penting yang perlu dikembangkan. Namun demikian, sering kali ditemukan kurangnya inisiatif dari peserta didik untuk berpikir secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan oleh pendidik. Salah satu pendekatan yang diyakini mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah metode experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji secara epistemologis metode experiential learning sebagai salah satu strategi pembelajaran yang dapat mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah tinjauan pustaka (literature review). Dalam pandangan iman Kristen, manusia dianugerahi rasio dan kemampuan berpikir oleh Allah sebagai bentuk kasih karunia-Nya. Konsep-konsep epistemologis dapat menjadi landasan dalam membantu peserta didik mengembangkan kapasitas berpikir secara kritis dan reflektif. Akan tetapi, pengetahuan sejati tentang Allah hanya dapat diperoleh apabila kebenaran firman Tuhan dijadikan sebagai sumber utama dan dasar dalam berpikir kritis. Melalui penerapan metode experiential learning, pendidik diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran peserta didik melalui pemberian stimulus yang sesuai, serta mendorong keterlibatan aktif mereka dalam proses pembelajaran. Metode ini juga memungkinkan peserta didik untuk melaksanakan mandat budaya dengan lebih baik melalui pengalaman langsung yang bermakna. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar dilakukan pengkajian yang lebih mendalam disertai dengan contoh-contoh konkret berdasarkan literatur yang relevan guna memperkuat pemahaman epistemologis terhadap pengembangan berpikir kritis.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i2.9523
The Importance of a Principal’s Shepherd Leadership in Transforming Teachers' Understanding of the Christian Worldview
  • May 31, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Jekoniah Yoel + 1 more

Shepherd leadership is often understood as a form of leadership that takes place within the Church. However, it can also be effectively implemented in other settings, such as schools. In fact, schools may be one of the most ideal environments for shepherd leadership, as they require significant daily interaction among principals, teachers, and students. Shepherd leadership is especially important in schools because a principal cannot achieve the ultimate goals of education alone. It is therefore critical to have teachers who share the school's vision and mission. The purpose of this study is to explore in greater depth how shepherd leadership can transform teachers' understanding of a Christian worldview in their teaching, and how this transformation relates to discipleship in Christ. This research collects data to reveal how shepherd leadership is implemented in the school, how teachers respond to the principal’s leadership, and how their worldviews are transformed as a result.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i2.9628
Peran Guru Kristen Sebagai Pembimbing Siswa terhadap Dekadensi Etika Digital
  • May 31, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Greys July Sonatha Giawa + 1 more

The rapid advancement of digital technology has profoundly impacted social interactions and individual behaviors, particularly among students who increasingly disregard traditional social norms, contributing to a significant decline in digital ethics. This research, employing a literature review methodology, critically examines the transformative role that Christian education can play in restoring digital ethics among young people. It highlights the crucial function of Christian teachers, who are envisioned not just as educators but as mentors guiding students towards Christ’s redemption. The aim is to teach students to respond ethically in their digital interactions as a reflection of their redemption. The findings suggest that teachers who are deeply committed to Christ and who recognize that students, though marred by sin, are still made in the image of God, can effectively nurture ethical behavior. This study emphasizes the vital importance of integrating Biblical truths as the foundational framework for ethical education in the digital age, proposing that such integration can equip students to navigate the complex ethical landscapes of modern digital environments.

  • Research Article
  • 10.19166/dil.v7i2.9721
Navigating Leadership Succession and Regeneration in a Private Christian School
  • May 31, 2025
  • Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
  • Laksmi Maharani + 1 more

This study explores the complexity of leadership succession and regeneration in a private Christian school in West Jakarta and possible ways to navigate the challenges, as the school has experienced a high turnover rate in its leadership in the past five years. Using a qualitative case study approach, this research collected the data through in-depth interviews, observations, and document analysis. Principals as well as heads of schools participated and the research results revealed a discrepancy between the educational philosophy of Christian schools and the practices of leadership succession and regeneration, lacking a specific system or strategy. Moreover, there is no formal succession and inadequate spiritual mentoring for the school leader candidates. Therefore, considering that succession is also a spiritual mandate, this study offers a contextual and values-based pathway for leadership regeneration, which includes early-stage talent mapping, structured leadership development, spiritual mentorship, and alignment with the school’s Christian philosophy to ensure the continuity of biblically grounded leadership.