Accelerate Literature Icon
Want to do a literature review? Try our new Literature Review workflow

The Impact of Bullying on Stunting Adolescents

  • Abstract
  • Literature Map
  • Similar Papers
Abstract
Translate article icon Translate Article Star icon

Backgrounds: Stunting in adolescents is a development problem brought on by genetics, poor nutrition, and poverty. To transform ridicule into a weakness for bullying victims, bullies prey on teens with a less-than-ideal physique (stunting). Teenagers with small stature are one of the targets of bullying victims. This study's research goal was to ascertain how bullying affects stunted young people.Methods: employing a cross-sectional methodology with a quantitative descriptive design. Using the complete sampling methodology, 36 participants represented the study's population. The data was collected using a bullying questionnaire, and the impact of bullying was carried out with a constructed test with a reliability result of the bullying questionnaire at 0.951 and the reliability of the effects of bullying at 0.918.Results: A total of 21 respondents (58.3%) reported experiencing low bullying, and 19 reported feeling the impact of bullying was unaffected (52.8%). It is clarified that these teenagers can adapt to forming positive social connections at school. The engagement in bullying acts decreases as teacher concern for combating bullying increases. A total of 21 respondents (58.3%) experienced low bullying, and an additional 19 said the impact of bullying did not affect them (52.8%). These teenagers can adjust to making wholesome friends at school. Bullying behavior declines as teachers' concern for stopping bullying rises.Conclusion: In addition to choosing people with varied features from this study, it is anticipated that it will be possible to conduct research in this manner. It is also recommended that future researchers include additional variables. AbstrakLatar belakang: Remaja dengan perawakan pendek (stunting) merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh genetik, masalah gizi kronis, dan kemiskinan. Remaja dengan perawakan pendek menjadi salah satu sasaran korban bullying, para pelaku memanfaatkan remaja yang mempunyai tubuh kurang ideal (stunting) menjadikan bahan ejekan sebagai kelemahan korban bullying. Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak bullying pada remaja yang mengalami stunting. Metode: menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cros-sectional. Populasi dalam penelitian ini dengan sampel 36 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen angket bullying dan dampak bullying yang dilakukan uji construct dengan hasil reliabilitas kuesioner bullying sebesar 0,951 dan untuk hasil reliabilitas dampak bullying sebesar 0,918. Hasil: sebagian besar responden mengalami bullying ringan dengan jumlah 21 responden (58,3%) dan sebagian tidak mengalami dampak bullying dengan jumlah 19 responden (52,8%). Hal ini dijelaskan bahwa remaja tersebut dpaat menyesuaikan diri dengan memiliki hubungan sosial yang baik di sekolahan. Semakin tinggi kepedulian guru untuk mengatasi bullying maka akan semakin rendah keterlibatan remaja dalam melakukan tindakan bullying.Kesimpulan: Diharapkan dapat mengadakan penelitian yang serupa, dan disarankan peneliti selanjutnya umtuk menambah variabel-variabel yang lain, selain itu dengan memilih subjek dengan karakteristik yang berbeda dari penelitian ini

Similar Papers
  • Research Article
  • 10.31602/jt.v7i1.18384
PENYITAAN BARANG BUKTI BERGERAK PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM (Studi Kasus di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Kelas I Kupang)
  • Mar 13, 2025
  • Jurnal Terapung : Ilmu - Ilmu Sosial
  • Betania Maygawati Christy

Abstrak Penyitaan barang bukti merupakan satu langkah penting dalam sistem peradilan pidana yang berfungsi untuk membuktikan keterkaitan antara pelaku dan tindak pidana yang dilakukan. Namun, dalam praktiknya, tindakan penyitaan sering kali menimbulkan permasalahan, terutama terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia, di mana barang yang disita ternyata bukan milik pelaku kejahatan, melainkan milik pihak lain yang tidak terlibat. Tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Kupang yang menggali mekanisme penyitaan, peran aparat penegak hukum, serta dampaknya terhadap masyarakat, terutama pemilik barang yang sah. Pendekatan sosiologi hukum digunakan untuk memahami hubungan antara hukum, masyarakat, dan keadilan dalam proses penyitaan, serta untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak. Metode pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum dengan studi RUPBASAN Kelas I Kupang. Subjek penelitian meliputi pihak penyidik, pengelola RUPBASAN, dan masyarakat yang terdampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun penyitaan barang bukti memiliki dasar hukum yang jelas, pelaksanaannya sering kali menimbulkan kontroversi karena kurangnya sosialisasi, kesalahan prosedur, dan lemahnya pemahaman masyarakat terhadap hak-haknya. Untuk itu, diperlukan upaya perbaikan dalam mekanisme penyitaan, pengelolaan benda sitaan, serta pemberian edukasi kepada masyarakat untuk meminimalkan konflik dan menjaga kepercayaan publik terhadap sistem hukum. Penelitian ini memberikan sumbangan yang signifikan dalam menggali hubungan antara aspek hukum dan masyarakat, khususnya dalam konteks pelaksanaan penyitaan barang bukti yang bersifat bergerak. Kata Kunci: Penyitaan, Rupbasan, Prespektif Sosiologi Hukum. Abstract The seizure of evidence is a crucial step in the criminal justice system, serving to establish the connection between the perpetrator and the crime committed. However, in practice, this action often leads to issues, particularly concerning human rights violations, where the seized items do not belong to the offender but to unrelated third parties. This paper is based on research conducted at the State Confiscated Property Storage House (Rupbasan) Class I Kupang, which examines the mechanism of seizure, the role of law enforcement officers, and its impact on society, especially the rightful owners of the items. A sociological legal approach was employed to understand the relationship between law, society, and justice in the seizure process and to provide solutions to the problems arising in the implementation of movable evidence seizures.This research utilized a qualitative approach. The study aimed to examine the process of movable evidence seizure from a sociological legal perspective with a case study at Rupbasan Class I Kupang. The research subjects included investigators, Rupbasan managers, and affected community members. The findings revealed that while the seizure of evidence has a clear legal basis, its implementation often sparks controversy due to a lack of public dissemination, procedural errors, and the limited understanding of citizens regarding their rights. Therefore, improvements are needed in the seizure mechanism, management of confiscated items, and public education to minimize conflicts and maintain public trust in the legal system. This research makes a significant contribution to understanding the relationship between law and society in the context of movable evidence seizures. Keywords: Seizure, Rupbasan, Legal Sociology Perspective. PENDAHULUAN Penyitaan barang bukti merupakan langkah krusial dalam proses penegakan hukum, yang berfungsi untuk membuktikan keterkaitan antara pelaku dan tindak pidana yang terjadi. Dalam hukum acara pidana, penyitaan bertujuan untuk mengamankan barang bergerak atau tidak bergerak sebagai alat bukti untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan. Namun, proses penyitaan sering kali mendapat kritik karena dianggap melanggar hak asasi manusia, terutama ketika barang yang disita bukan milik pelaku, melainkan milik pihak lain yang tidak terlibat.Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum, dengan studi kasus di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN) Kelas I Kupang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pengelolaan barang sitaan di RUPBASAN, termasuk tantangan yang dirasakan oleh masyarakat akibat tindakan penyitaan yang tidak sesuai prosedur.Penelitian terdahulu telah membahas penyitaan barang bukti dari berbagai aspek. Ferdian (2015) menyoroti prosedur penyitaan barang bukti oleh penyidik Polri dan hambatan yang dihadapi, terutama dalam kaitannya dengan peraturan perundang-undangan. Elias Zadrach Leasa (2015) fokus pada penyitaan barang bukti dalam pelanggaran lalu lintas, dengan perhatian khusus pada profesionalitas penyidik dalam menangani barang bukti. Sementara itu, Abdul Rosyad (2014) mengkaji penyitaan aset dalam kasus korupsi, yang menekankan pentingnya kehati-hatian aparat hukum dalam mengaitkan aset dengan tindak pidana.Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik pada penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum, khususnya dengan studi kasus di RUPBASAN Kelas I Kupang. Penelitian ini menggali bagaimana proses penyitaan tersebut memengaruhi masyarakat, termasuk permasalahan yang muncul akibat kurangnya pemahaman hukum di kalangan masyarakati.Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaan benda sitaan. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi hukum, penelitian ini juga berupaya memahami hubungan antara hukum, masyarakat, dan keadilan dalam konteks penyitaan barang bukti.Fenomena penyitaan barang bukti dalam kasus tindak pidana, seperti pencurian kendaraan bermotor, menggambarkan bagaimana hukum berperan dalam menciptakan ketertiban. Namun, permasalahan timbul ketika pelaksanaan penyitaan dianggap tidak adil, terutama ketika barang yang disita tidak memiliki hubungan langsung dengan tindak pidana yang terjadi.Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi penting dalam perbaikan mekanisme penyitaan barang bukti. Dengan memahami kendala yang dihadapi, penelitian ini juga memberikan rekomendasi bagi aparat penegak hukum untuk meningkatkan transparansi dan profesionalitas dalam pelaksanaan tugas mereka.Secara keseluruhan, penelitian ini mempertegas pentingnya sosialisasi hukum kepada masyarakat, perbaikan prosedur penyitaan, serta pengelolaan barang sitaan yang lebih baik. Hal ini diperlukan untuk menciptakan keadilan hukum sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum yang berlaku.METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang bertujuani menggambarkan objek secara mendalam dan menyeluruh. Studi kasus digunakan karena sifat objek penelitian yang khusus, memungkinkan eksplorasi mendalam melalui wawancara dan analisis data terintegrasi. Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Kelas I Kupang, dengan jadwal penelitian dari awal Maret hingga pertengahan April 2024. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan pegawai kantor tersebut sebagai sumber data utama. Penelitian ini mengandalkan data primer berupa hasil observasi dan wawancara, serta data sekunder dari dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian.Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara (baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur), serta dokumentasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai fenomena sosial, sementara wawancara digunakan untuk menggali informasi lebih mendalam dari para informan. Dokumentasi berfungsi untuk melengkapi data dengan menggunakan dokumen primer dan sekunder. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dimulai dengan pengelompokan data hingga penyusunan kesimpulan yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami lebih lanjut mengenai proses penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum serta mengidentifikasi kendala yang muncul dalam proses penyimpanannya.HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan wawancara dan observasi di RUPBASAN Kelas I Kupang, diketahui bahwa penyitaan barang bukti bergerak merupakan langkah hukum yang sangat penting dalam penegakan hukum di Indonesiai, khususnya dalam kasus tindak pidana. Berdasarkan Pasal 39 KUHAP, penyitaan barang bukti dilakukan untuk mendukung pembuktian dalam perkara pidana, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Langkah ini diambil untuk mencegah barang bukti yang terkait dengan tindak pidana disalahgunakan, rusak, atau hilang. Penyitaan ini sangat penting untuk memastikan keutuhan proses peradilan dan memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.Dari sudut pandang sosiologi hukum, penyitaan barang bukti menggambarkan kewajiban negara dan aparat penegak hukum untuk menjaga tatanan sosial serta memberikan kepastian hukum. Proses penyitaan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada, yang mana penyidik harus mendapatkan persetujuan dari Ketua Pengadilan Negeri, kecuali dalam kondisi mendesak. Hal ini mencerminkan adanya pengawasan yang ketat untuk mencegah penyitaan yang melanggar hak-hak individu.Proses penyitaan dimulai dengan pembuatan surat perintah yang berisi rincian barang yang akan disita, alasan penyitaan, serta identitas penyidiki. Barang yang disita kemudian diamankan, diperiksa, dan didokumentasikan dengan cermat untuk memastikan keasliannya sebagai barang bukti. Penyidik bertanggung jawab menjaga keamanan dan kelengkapan barang tersebut selama proses penyelidikan dan peradilan berlangsung. Dalam beberapa kasus, penyitaan dapat melibatkan ahli untuk memastikan relevansi barang bukti dalam perkara pidana.Jika ada kekhawatiran bahwa barang bukti akan dihancurkan, dipindahkan, atau disembunyikan, penyitaan dapat dilakukan segera tanpa menunggu izin formal, dalam keadaan mendesak. Keadaan ini membutuhkan tindakan cepat oleh penyidik untuk memastikan barang bukti tetap berada di bawah kontrol negara. Penyitaan dapat mencakup benda berwujud maupun benda tak berwujud, selama barang tersebut relevan dengan tindak pidana dan dapat dimiliki.Secara keseluruhan, penyitaan barang bukti memegang peranan penting dalam menjamin proses hukum yang adil dan transparan. Pentingnya menjaga barang bukti hingga penyelesaian perkara menunjukkan bahwa barang bukti adalah elemen yang sangat vital dalam sistem peradilan pidanai. Langkah ini tidak hanya mengamankan hak-hak korban dan tersangka, tetapi juga memastikan bahwa pengadilan dapat menjalankan tugasnya secara efektif dan berkeadilan.Rumah Penyimpanani Barang Sitaan Negara (RUPBASAN)Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara (RUPBASAN) memainkan peran vital dalam sistem pemasyarakatan Indonesia, dengan tanggung jawab untuk menyimpan dan mengelola barang bukti serta barang sitaan negara sampai proses hukum selesai. RUPBASAN memiliki peran penting dalam mendukung sistem peradilan dengan memastikan bahwa barang-barang yang berkaitan dengan tindak pidana disimpan dengan aman dan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Peran ini menjadi elemen krusial dalam penegakan hukum yang bertujuan menciptakan keadilan bagi masyarakat.Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM, RUPBASAN, termasuk RUPBASAN Kelas I Kupang, bertugas untuk menyimpan barang bukti yang terkait dengan kasus pidana maupun perdata yang melibatkan negara. Keberadaan RUPBASAN memastikan barang bukti yang disita tidak disalahgunakan dan tetap terjaga keasliannya, sehingga dapat digunakan sebagai bukti dalam proses hukum yang sedang berjalan. Hal ini mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan barang bukti.Kinerja RUPBASAN memiliki peran penting dalam mencapai tujuan organisasi, yakni mengelola barang bukti secara aman, tepat waktu, dan sesuai dengan peraturan hukum. Kinerja yang optimal akan mendukung sistem pemasyarakatan untuk menciptakan keadilan bagi masyarakat melalui pengelolaan barang bukti yang profesional. Beberapa indikator keberhasilan kinerja RUPBASAN antara lain adalah keamanan barang, kepatuhan terhadap prosedur hukum, serta efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaannya.Pengelolaan barang bukti oleh RUPBASAN tidak hanya berfungsi untuk mendukung penegakan hukum, tetapi juga menjadi bagian integral dari sistem pemasyarakatan yang lebih luas. Pemasyarakatan bertujuan untuk membina narapidana agar dapat diterima kembali oleh masyarakat, sementara pengelolaan barang sitaan memastikan bahwa setiap proses hukum dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Keterkaitan ini menggambarkan pentingnya peran RUPBASAN dalam mendukung keseluruhan sistem hukum pidana.Penilaian dan pengukuran kinerja RUPBASAN sangat penting untuk memastikan bahwa tugas yang diemban dijalankan dengan efisien dan efektif. Dengan kinerja yang maksimal, RUPBASAN dapat berperan optimal sebagai bagian dari sistem hukum yang lebih luas, yang bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan penegakan hukum yang adil di Indonesia. Keberhasilan RUPBASAN juga berkontribusi dalam mencapai tujuan strategis dalam sistem pemasyarakatan dan penegakan hukum.Prosedur Penyitaan Barang BuktiProses penyitaan barang bukti bergerak adalah tindakan yang diatur dalam hukum untuk menyita barang-barang yang berkaitan dengan tindak pidana, baik barang yang dipakai untuk melakukan tindak kejahatan maupun yang diperoleh sebagai hasil dari kejahatan tersebut. Tindakan ini menjadi bagian dari proses penyelidikan, penuntutan, dan peradilan. Tujuan dari penyitaan adalah untuk memastikan bahwa barang bukti dapat digunakan dalam proses hukum guna menentukan kebenaran suatu kasus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam KUHAP.Langkah awal dalam proses penyitaan adalah penyusunan surat perintah penyitaan oleh penyidik. Surat tersebut mencantumkan informasi tentang barang yang akan disita, alasan penyitaan, dan identitas penyidik yang bertanggung jawab. Surat ini harus ditandatangani oleh penyidik dan disaksikan oleh pihak yang hadir saat penyitaan berlangsung, sehingga memberikan landasan hukum yang jelas bagi tindakan tersebut.Setelah surat perintah diterbitkan, penyitaan dilaksanakan di lokasi yang relevan, seperti tempat kejadian perkara (TKP) atau lokasi lain tempat barang bukti ditemukan. Penyitaan juga dapat dilakukan terhadap barang yang berada pada tersangka atau pihak terkait lainnya. Selama proses penyitaan, penyidik wajib memastikan barang bukti tetap utuh dan tidak rusak, mengingat barang tersebut sangat penting dalam proses hukum selanjutnya.Setelah barang bukti disita, barang tersebut harus diamankan dan disimpan dengan aman di tempat yang terkunci, dengan akses yang hanya diperbolehkan bagi pihak yang berwenang. Sebuah daftar inventarisasi juga dibuat untuk mencatat detail barang bukti, seperti nomor inventaris, jenis barang, dan kondisinya, untuk mencegah kehilangan atau kerusakan selama proses hukum berlangsung.Prosedur penyitaan ditutup dengan pemeriksaan dan pengembalian barang bukti. Pemeriksaan bertujuan untuk mengumpulkan informasi tambahan terkait dengan tindak pidana yang dilakukan, dan sering kali melibatkan ahli forensik atau pihak berkompeten lainnya. Jika barang bukti sudah tidak relevan, barang tersebut dapat dikembalikan kepada pemiliknya setelah melalui evaluasi menyeluruh untuk memastikan bahwa barang tersebut tidak diperlukan lagi dalam pembuktian di persidangan.Aspek Hukum dalam PenyitaanPenyitaan barang bukti dalam sistem hukum pidana Indonesia dijelaskan secara terperinci dalam Pasal 39 KUHAP, yang meliputi baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak yang relevan dengan tindak pidana. Barang bergerak mencakup dokumen, uang, kendaraan, dan barang lain yang mudah dipindahkan, sementara barang tidak bergerak meliputi tanah dan bangunan. Tujuan utama penyitaan adalah untuk memastikan barang bukti dapat digunakan dalam proses penyidikan, penuntutan, dan persidangan. Barang yang disita harus relevan dengan tindak pidana, baik sebagai alat kejahatan, hasil tindak pidana, atau objek yang dapat membantu mengungkap kebenaran peristiwa pidana.Penyitaan harus dilakukan sesuai dengan prosedur hukum untuk memastikan keabsahannya. Dalam hal penyitaan barang bergerak, penyidik hanya dapat melakukannya setelah mendapatkan izin tertulis dari Ketua Pengadilan Negeri setempat. Izin ini bertujuan untuk memastikan agar penyitaan dilakukan dengan pengawasan yang tepat dan tidak sewenang-wenang. Namun, dalam situasi darurat, penyidik dapat segera melakukan penyitaan untuk mencegah hilangnya barang bukti atau gangguan terhadap penyidikan. Setelah penyitaan dilakukan, penyidik harus melaporkan tindakan tersebut kepada pengadilan untuk memperoleh persetujuan selanjutnya.Berdasarkan Pasal 1 angka 16 KUHAP, penyitaan merupakan tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mengambil dan menyimpan barang yang memiliki keterkaitan dengan tindak pidana, guna mendukung proses pembuktian dalam jalannya hukum. Barang yang disita akan menjadi milik negara dan tetap berada di bawah pengawasan negara hingga proses hukum selesai, memastikan keutuhan dan kesiapan barang tersebut sebagai alat bukti sah di pengadilan.Setelah barang disita, penyidik bertanggung jawab untuk memastikan barang tersebut disimpan dengan aman. Umumnya, barang tersebut ditempatkan di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN) untuk memastikan kondisinya tetap terjaga hingga proses hukum selesai. Penyimpanan yang baik sangat penting untuk benda bergerak, seperti kendaraan dan perangkat elektronik, untuk mencegah kerusakan atau penurunan nilai. Pengelolaan yang efektif juga mencerminkan transparansi dan akuntabilitas aparat penegak hukum dalam menangani barang sitaan.Meski prosedur penyitaan telah diatur dengan jelas, praktik di lapangan sering kali menghadapi tantangan, seperti potensi pelanggaran hak asasi manusia. Salah satu masalah yang sering timbul adalah penyitaan terhadap barang yang ternyata bukan milik pelaku kejahatan, melainkan milik orang lain yang tidak memiliki keterlibatan dalam tindak pidana tersebut. Hal ini dapat memicu konflik hukum dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hukum dan menyediakan pelatihan bagi penyidik, sehingga proses penyitaan dapat dilakukan secara adil serta sesuai dengan prinsip keadilan dan ketentuan hukum yang berlaku.Kendala Penyimpanan Benda Sitaan/Bukti Bergerak Tindakan Pidana di Kantor RUPBASAN Kelas I KupangPenyimpanan barang bukti bergerak dalam perkara pidana merupakan aspek krusial dalam sistem peradilan untuk memastikan barang bukti dapat digunakan dalam tahap penyelidikan, penuntutan, dan persidangan. Namun, proses ini menghadapi sejumlah tantangan yang dapat mengurangi efektivitasnya. Salah satu kendala utama adalah semakin berkembangnya modus operandi kejahatan yang lebih kompleks, seperti kasus pencurian kendaraan bermotor yang melibatkan penghilangan identitas kendaraan. Hal ini mempersulit proses identifikasi dan penyimpanan barang bukti, yang berpotensi menghambat jalannya proses hukum.Selain itu, ada risiko kehilangan atau penghilangan barang bukti, baik berupa barang fisik maupun dokumen pendukung, yang sering dilakukan oleh pelaku kejahatan untuk menghilangkan jejak. Kehilangan barang bukti ini dapat merusak integritas perkara hukum dan menghambat proses peradilan. Untuk itu, pengamanan barang bukti perlu dilakukan dengan sangat ketat untuk memastikan bahwa barang bukti tetap terjaga, termasuk menjaga identitas barang sebagai bagian penting dalam penyelidikan.Permasalahan lain yang kerap terjadi adalah ketidakpatuhan terhadap prosedur yang telah ditentukan dalam proses penyitaan dan penyimpanan. Kelalaian atau kesalahan dalam pengelolaan barang bukti dapat menyebabkan hilangnya atau kerusakan barang bukti, yang berdampak buruk pada kelancaran proses hukum. Pelanggaran terhadap prosedur ini dapat mengakibatkan sanksi yang serius sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, termasuk ancaman hukuman pidana berdasarkan Pasal 233 KUHP lama atau Pasal 365 KUHP yang baru.Selain itu, penyimpanan barang bukti elektronik atau digital, seperti ponsel, komputer, atau data digital, menghadirkan tantangan tersendiri. Risiko perubahan atau penghilangan data elektronik memerlukan prosedur pengelolaan yang lebih ketat, mengingat data tersebut sangat krusial dalam proses pembuktian. Kelalaian dalam pengelolaan barang bukti digital dapat dikenai sanksi berdasarkan ketentuan dalam UU ITE, yang mencakup ancaman pidana hingga delapan tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 miliar. Sebagai langkah penyelesaian, masyarakat dapat melaporkan masalah tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri, sedangkan pengelolaan barang bukti diatur melalui Peraturan Kapolri No. 10 Tahun 2010.KESIMPULAN Artikel ini menjelaskan bahwa meskipun penyitaan barang bukti bergerak merupakan bagian penting dari penegakan hukum, proses tersebut tetap menghadapi berbagai tantangan. Perkembangan metode kejahatan, hilangnya atau penghilangan barang bukti, serta kelalaian dalam pengelolaan barang bukti menjadi hambatan utama yang harus diatasi oleh aparat penegak hukum.Namun, dengan pengelolaan yang lebih baik, termasuk penerapan prosedur yang lebih ketat dan pengawasan yang lebih intensif, masalah-masalah tersebut dapat diminimalkan. Penyidik dan aparat penegak hukum perlu memastikan bahwa barang bukti yang disita tetap aman, baik dalam bentuk fisik maupun digital, untuk memastikan kelancaran dan keadilan dalam proses hukum. Pengawasan yang ketat serta penerapan sanksi tegas terhadap pelanggaran dalam pengelolaan barang bukti akan memberikan efek jera dan memastikan tercapainya keadilan dalam sistem peradilan pidana.DAFTAR PUSTAKA Abiding Yunus, Strategi Membaca, Teori dan Pembelajarannya, Bandung, RIZQI Press.Agus Harjito dan Martono . 2010 . Manajemen Keuangan. Yogyakarta : Ekonisia Belas. Yogyakarta : LibertyAbdul Rosyad, 2014 dengan Judul Pembaharuan Hukum Dalam Penyitaan Barang Bukti Hasil Korupsi. Dalam jurnal Pembaharuan Hukum Vol 1 No 2. 2014Burhan Bungin.2012. Analisa Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali.Elias Zadrach Leasa, yang dimuat dalam jurnal Sinta 2 Vol 21 Nomor 2 tahun 2015 dengan judul Penyitaan Barang Bukti Dalam Pelanggaran Lalulintas.Ferdian, 2015 dengan judul, Penyitaan Barang Bukti Yang Dilakukan Oleh Penyidik Polri Dan Hambatannya Di Polrest Kutim Dan Hambatannya. Journal of Law Jurnal ilmu hukum, Ejurnal Untag Samarinda Vol 1 No 1. Hartono, Jogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis Edisi 6. Yogyakarta: BPFE.Harahap, M. Yahya.2007. Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata. Jakarta : PT. Sinar Grafika.Hadawi Nawawi, M. Martini hadari.,1995,Instrumen Penelitian bidang social, Jogyakarta, Gajah Mada UniversityMoenir H,A.S, 2001, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bina Aksara, Jakarta.Michael Quinn Patton, 1980, Qualitative Evaluation Methods, Edisi, 2, berilustrasi, cetak ulang. Penerbit, Sage Publications OC.D. Hendropuspito, 1989, Sosiologi Sistematika. Kanisius. Yogyakarta.Priya Santosa, Bima, dkk, 2010, Lembaga Pengelola Aset Tindak Pidana, Jakarta:Poerdarminto, 1985, Kamus Saku. Pustaka Pelajar.Sarwono, Sarlito Wirawan. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Soekanto, Soerjono. 2000. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Soekanto, Soerjono. 1983. Beberapa Aspek Sosial Yuridis Masyarakat. Offset Alumni: BandungSuranto, Aw,Komunikasi Interpersonal, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: AlfabetaSugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: AlfabetaLiteratur Tambahan :Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945Undang-Undang No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu LintasPeraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor mengatur hubungan antara barang bukti fisik yang disita dengan pelanggaranPeraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor E.2.UM.01.06 Tahun 1986 tanggal 17 Februari 1986 dan disempurnakan tanggal 7 November 2002 Nomor E.1.35.PK.03.10 Tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) RUPBASANPeraturan Menteri Kehakiman RI No. M.05.UM.01.06 tahun 1983 tentang Pengelolaan Benda Sitaan Negara dan Barang Rampasan Negara di RUPBASAN.

  • Research Article
  • Cite Count Icon 4
  • 10.32764/epic.v2i2.317
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI LINGKARAN
  • Sep 22, 2020
  • Exact Papers in Compilation (EPiC)
  • Khusnul Khotimah + 1 more

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran generatif terhadap hasil belajar peserta didik pada materi lingkaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan quasi eksperimen. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI A MA Bahrul Ulum tambak beras Jombang sebagai kelas kontrol dan kelas XI B MA Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang sebagai kelas eksperimen. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan uji t (Separeted Varians). Hasil penelitian yang diperoleh adalah hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran generatif pada materi lingkaran mendapatkan hasil yang lebih baik daripada tanpa menggunakan model pembelajaran generatif, hal tersebut dibuktikan dengan perhitungan uji t. Pada perhitungan uji t disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada pengaruh pembelajaran generatif terhadap hasil belajar matematika pada materi lingkaran peserta didik di MA Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran generatif terhadap hasil belajar peserta didik pada materi lingkaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan quasi eksperimen. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI A MA Bahrul Ulum tambak beras Jombang sebagai kelas kontrol dan kelas XI B MA Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang sebagai kelas eksperimen. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan uji t (Separeted Varians). Hasil penelitian yang diperoleh adalah hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran generatif pada materi lingkaran mendapatkan hasil yang lebih baik daripada tanpa menggunakan model pembelajaran generatif, hal tersebut dibuktikan dengan perhitungan uji t. Pada perhitungan uji t disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada pengaruh pembelajaran generatif terhadap hasil belajar matematika pada materi lingkaran peserta didik di MA Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

  • Research Article
  • Cite Count Icon 1
  • 10.31004/ijim.v2i3.90
Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan
  • May 15, 2024
  • Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research
  • Moch Syahdan Oktariza + 2 more

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan PT. Anugrah Yaden Utama. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah karyawan PT. Anugrah Yaden Utama. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan aplikasi pengolahan data SmartPls 4, pengujian hipotesis dan koefisien determinasi. Jumlah sampel dalam penelitian ini mengambil 60 responden. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner dengan menggunakan Gform (Google Form). Penelitian ini menunjukkan bahwa variabel gaya kepemimpinan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Anugrah Yaden Utama, gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap budaya organisasi dan kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. Anugrah Yaden Utama melalui variabel budaya organisasi pada PT. Anugrah Yaden Utama. Diharapkan dari penelitian ini pimpinan perusahaan PT. Anugrah Yaden Utama terus mengembangkan gaya kepemimpinannya dan karyawan perusahaan PT. Anugrah Yaden Utama terus meningkatkan lingkungan kerja yang nyaman melalui budaya organisasi untuk memperoleh kinerja maksimal dan memenuhi harapan.

  • Research Article
  • 10.21776/jmppk.2024.03.4.18
Pengaruh Live-Streamer Interaction, Live-Streamer Professionalism, Dan Price Discount Terhadap Purchase Intention Pada Live Streaming Shopping
  • Oct 1, 2024
  • Jurnal Manajemen Pemasaran dan Perilaku Konsumen
  • Annisa Tri Lestari

Development in this digital era is very massive. Progresses in technology have offered benefits and provided ease for human. One of the products of the technological advancement is e-commerce and social media, the social commerce. The objective of this research is to identify the effects of live streamer’s interaction, live streamer’s professionalism, and price discount on people’s intention to purchase Skintific through TikTok Shop, a social commerce application. This explanatory research explains the position of its variables and the effects between them. The respondents are 140 people. They were selected through nonprobability sampling method and purposive sampling technique with the criteria of citizen of the Special Capital Region of Jakarta with the minimum age of seventeen years who have watched the live stream session for Skintific on TikTok Shop at least once. The data of this research was acquired from Likert-scaled questionnaires and analyzed using multiple linear regression in the Statistical Package for Social Science (SPSS) version 25. This study finds that live streamer’s interaction and professionalism and price discount positively and significantly influence the purchase intention. Abstrak Perkembangan teknologi melahirkan inovasi baru untuk memasarkan produk salah satunya adalah social commerce dengan fitur live streaming shopping. Berbagai faktor menentukan keberhasilan penjualan dalam live streaming shopping diantaranya adalah live streamers interactions, live streamers professionalism, dan price discount. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel live-streamer interactions, live-streamer professionalism, and price discount terhadap purchase intention pada Skintific di social e-commerce TikTok Shop. Jenis penelitian ini adalah explanatory research, yaitu penelitian yang memiliki tujuan untuk menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta pengaruh antara satu variabel dengan variabel yang lainnya. Penelitian ini memiliki sampel sebanyak 140 responden yang merupakan warga DKI Jakarta berusia lebih dari 17 tahun yang pernah menonton sesi live streaming shopping merek SKINTIFIC di TikTok Shop sebanyak satu kali atau lebih. Sampel pada penelitian ini adalah non-probability sampling dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan program software Statistical Package for Social Science (SPSS) Versi 25. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa live-streamer interaction, live-streamer professionalism, dan price discount memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention.

  • Research Article
  • 10.30651/else.v8i2.23654
HUBUNGAN PERHATIAN ORANG TUA DENGAN KESIAPAN BELAJAR SISWA KELAS III SD NEGERI PORIS PELAWAD 6
  • Jan 29, 2025
  • ELSE (Elementary School Education Journal): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar
  • Nasya Uriani Fugri + 2 more

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perhatian orang tua dengan kesiapan belajar siswa kelas III SDN Poris Pelawad 6. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Poris Pelawad 6. Objek penelitian ini adalah perhatian orang tua dan kesiapan belajar siswa. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan ex-post facto yang digunakan adalah korelasi dan data yang digunakan adalah data kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta kelas III A dan III B SDN Poris Pelawad 6. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 responden, Pengambilan sampel menggunakan Teknik total sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa Skala Instrumen soal angket. Teknik pengujian Hipotesis menggunakan rumus korelasi Product Moment. Sebelum dilakukan uji analisis, dilakukan uji persyaratan yakni uji normalitas dan homogenitas, uji linieritas, uji signifikansi, dan uji korelasi. Hasil Pada penelitian ini diperoleh r hitung 0,618 < r tabel 1,671 , maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak pada rxy = 0,081 yang berarti penelitian ini berhasil menguji kebenaran hipotesis yaitu bahwa perhatian orang tua tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kesiapan belajar siswa kelas III di SD Negeri Poris Pelawad 6. Karena koefisien korelasi adalah negatif, maka semakin rendah perhatian orang tua dan semakin rendah pula kesiapan belajar siswa. Dengan nilai koefisien determinasi sebesar menunjukkan nilai R Square 0,007 berasal dari pengkuadratan nilai koefisien korelasi atau “R” yaitu 0,081 x 0,081 = 0,07 yang menunjukkan bahwa perhatian orang tua memberikan konstribusi terhadap kesiapan belajar sebesar 0,07 x 100 % = 7 % selebihnya 93 % difaktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata Kunci: Hakikat Pembelajaran, Teori Belajar, Perhatian orang tua, Kesiapan belajar, Karakteristik Siswa

  • Research Article
  • 10.55336/jpb.v4i1.86
Pengaruh Keasertifan dan Iklim Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Guru Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Tangerang Selatan Propinsi Banten
  • Mar 29, 2023
  • Journal of Tax and Business
  • Arfan Arfan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisa, menguji kebenaran hipotesis dan mengungkap pengaruh antara Keasertifan terhadap Kepuasan Kerja Guru, Pengaruh Iklim Kerja terhadap Kepuasan Kerja Guru dan Pengaruh Keasertifan terhadap Iklim Kerja. Hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1) Terdapat pengaruh langsung antara Keasertifan terhadap Kepuasan Kerja Guru . 2) Terdapat pengaruh langsung Iklim Kerja terhadap Kepuasan Kerja Guru dan 3) Terdapat pengaruh langsung Keasertifan terhadap Iklim Kerja. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Tangerang Selatan, Proivinsi Banten. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey kausal dengan teknik analisis jalur. Penelitian ini mengkaji tiga variable yang terdiri dari variable terikat, yakni Kepuasan Kerja Guru (X3) dan dua variable bebas yaitu Keasertifan (X1) dan Iklim Kerja (X2). Populasi penelitian ini adalah guru-guru SMA Negeri se Kota Tangerang Selatan sebanyak 547 (lima ratus empat puluh tujuh) orang yang tersebar di 11 SMA Negeri se Kota Tangerang Selatan. Sampel penelitian ini adalah guru-guru di SMA Negeri se Kota Tangerang Selatan sebanyak 77 (tujuh puluh tujuh) orang yang dipilih secara acak sederhana dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling dari populasi terjangkau berjumlah 337 orang. Ada tiga data yang dijaring dalam penelitian ini, yaitu data Keasertifan, Iklim Kerja dan Kepuasan Kerja. Untuk memperoleh data variabel Keasertifan, Iklim Kerja dan Kepuasan Kerja digunakan kuesioner yang disusun menurut Scala Likert dengan memberi bobot pada setiap jawaban yang menunjukkan bagaimana interaksi reaksi guru terhadap sejumlah pernyataan yang diberikan. Jawaban-jawaban yang diperoleh dijumlahkan dan dibandingkan satu sama lain sebagai jumlah skor yang menyebar sepanjang kontinum deskriminasi dari skor tertinggi ke skor yang terendah. Penelitian ini dilakukan pada situasi nyata, sesuai dengan penilaian responden tentang apa yang dialami dan dirasakan dan bukan apa yang diinginkan. Instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian membuktikan bahwa; 1) terdapat pengaruh langsung Keasertifan terhadap Kekuasan Kerja Guru; 2). terdapat pengaruh langsung Iklim Kerja terhadap Kepuasan Kerja Guru; 3) terdapat pengaruh langsung Keasertifan terhadap Iklim Kerja. Dengan demikian, Kepuasan Kerja Guru dapat ditingkatkan dengan adanya peningkatan Keasertifan dan Iklim Kerja Guru.

  • Research Article
  • 10.21580/jagc.0.0.0.9178
Subjective well-being in muallaf
  • Dec 31, 2022
  • Journal of Advanced Guidance and Counseling
  • M Yusuf Effendi

Purpose - This research is to find out the subjective well-being of muallaf where the focus of this research is the subjective well-being of muallaf.Method - The informants in this study were three primary informants, consisting of one student muallaf, two housewives muallaf. Data collection was carried out by interview and documentation methods. This study uses a phenomenological study method approach with Interpretative Phenomenological Analysis data analysis techniques. The credibility of the data used by researchers was tested using source triangulation.Result - The results and conclusions of this study are that each muallaf participant experiences subjective well-being in himself. Subjective well-being experienced by all muallaf participants in this study has a different picture. This happened because in deciding to become a muallaf, all participants had their own approaches and perspectives on the events they experienced before.Implication - Each muallaf participant in this study has various life satisfaction, positive affect and negative affect, all of which are subjective well-being processes of every participant muallaf.Originality - This research is presented concerning religious guidance services for deaf individuals.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan subjektif mualaf dimana fokus penelitian ini adalah kesejahteraan subjektif mualaf.Metode - Informan dalam penelitian ini adalah 3 orang informan primer, yang terdiri dari 1 orang mahasiswa mualaf, 2 orang ibu rumah tangga mualaf. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode studi fenomenologi dengan teknik analisis data Interpretative Phenomenological Analysis. Kredibilitas data yang digunakan peneliti diuji dengan menggunakan triangulasi sumber.Hasil - Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah setiap partisipan mualaf mengalami subjective well-being dalam dirinya. Subjective well-being yang dialami oleh seluruh partisipan mualaf dalam penelitian ini memiliki gambaran yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena dalam memutuskan untuk menjadi seorang mualaf, semua partisipan memiliki pendekatan dan cara pandang masing-masing terhadap peristiwa yang dialaminya sebelumnya.Implikasi - Setiap partisipan mualaf dalam penelitian ini memiliki kepuasan hidup, afek positif dan afek negatif yang berbeda-beda, yang kesemuanya merupakan proses subjective well-being dari setiap partisipan mualaf.Orisinalitas - Penelitian ini disajikan mengenai layanan bimbingan keagamaan bagi individu tuna rungu.

  • Research Article
  • 10.55526/sjs.v2i2.352
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GERAK DASAR LARI GAWANG KIDS ATLETIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 19 KOTA BANDA ACEH
  • Dec 28, 2022
  • SJS: Silampari Journal Sport
  • Afrizal + 1 more

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar lari gawang Kids Atletik pada siswa kelas V SD Negeri 19 Kota Banda Aceh. Metode penelitian ini tindakan kelas dan subjek penelitian ini adalah kelas V yang terdiri dari 32 siswa, objek dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatansaintifik Untuk memperoleh data dalam penelitian ini maka dilakukan tes siklus I yang berbentuk teknik lari larigawang. Setelah siklus I dilaksanakan maka diperoleh peningkatan hasil belajar siswa dari 32 orang siswa terdapat 21 siswa yang telah tuntas yaitu sebesar 65,62% dengan nilai rata-rata 2,53. Ini berarti ketuntasan belajar klasikal (>85%) belum tercapai, untuk itu peneliti masih perlu melakukan beberapa perbaikan dalam pembelajaran, dan peneliti melanjutkan penelitiannya dengan dilakukannya tes siklus II yang sama perlakuannya di siklus I. Setelah siklus II dilaksanakan maka diperoleh peningkatan hasil belajar siswa dari 32 orang siswa terdapat 29 siswa yang telah tuntas yaitu sebesar 90,62 % dengan nilai rata-rata 2,68. Ini berarti ketuntasan belajar secara klasikal(>85%) telah tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar lari gawang Kids Atletik pada siswa kelas V SD Negeri 19 Kota Banda Aceh. Metode penelitian ini tindakan kelas dan subjek penelitian ini adalah kelas V yang terdiri dari 32 siswa, objek dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatansaintifik Untuk memperoleh data dalam penelitian ini maka dilakukan tes siklus I yang berbentuk teknik lari larigawang. Setelah siklus I dilaksanakan maka diperoleh peningkatan hasil belajar siswa dari 32 orang siswa terdapat 21 siswa yang telah tuntas yaitu sebesar 65,62% dengan nilai rata-rata 2,53. Ini berarti ketuntasan belajar klasikal (>85%) belum tercapai, untuk itu peneliti masih perlu melakukan beberapa perbaikan dalam pembelajaran, dan peneliti melanjutkan penelitiannya dengan dilakukannya tes siklus II yang sama perlakuannya di siklus I. Setelah siklus II dilaksanakan maka diperoleh peningkatan hasil belajar siswa dari 32 orang siswa terdapat 29 siswa yang telah tuntas yaitu sebesar 90,62 % dengan nilai rata-rata 2,68. Ini berarti ketuntasan belajar secara klasikal(>85%) telah tercapai.

  • Research Article
  • 10.29313/bcscm.v5i1.18263
Hubungan Program Mbkm Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Dengan Keterampilan Berkomunikasi Dalam Organisasi
  • Feb 5, 2025
  • Bandung Conference Series: Communication Management
  • Dhea Anggieta Aprillia + 1 more

Abstract. The MBKM is one of the Merdeka Campus policies which was launched in 2019 with the aim of making students become graduates who are ready to enter the world of work. This research focuses on one of the MBKM programs in collaboration with companies, namely Certified Independent Study and Internship (MSIB). The aim of this research is to determine whether there is a relationship between the MSIB MBKM program and UNISBA students' verbal and non-verbal communication skills in communication. This research uses quantitative methods and a correlational study approach to measure the relationship between the two variables, where data is collected from the results of distributing questionnaires with a 4 score Likert Scale category. This research used a random sample with a sample of 203 respondents. The theories used in this research in this research are interpersonal communication and communication skills. The subjects of this research are UNISBA students who have participated in the MSIB MBKM program in 2020-2023. The results of this research are that there is a relationship between the MSIB MBKM program and communication skills in organizations among UNISBA students. Abstrak. Program MBKM merupakan salah satu kebijakan Kampus Merdeka yang diluncurkan sejak tahun 2019 dengan tujuan agar mahasiswa menjadi lulusan yang siap untuk terjun ke dunia kerja, Penelitian ini berfokus kepada salah satu progam MBKM yang bekerja sama dengan perusahaan yaitu Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara program MBKM MSIB dengan keterampilan berkomunikasi secara verbal dan nonverbal yang dilakukan oleh mahasiswa UNISBA dalam komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan studi korelasional untuk mengukur hubungan antara kedua variabel, di mana data dikumpulkan dari hasil penyebaran kuesioner dengan kategori Skala Likert 4 skor. Penelitian ini menggunakan sampel acak dengan sampel sebanyak 203 responden. Teori yang digunakan dalam penelitian ini dalam penelitian ini adalah komunikasi antarpribadi, dan keterampilan komunikasi. Subjek dari penelitian ini yaitu mahasiswa UNISBA yang pernah mengikuti program MBKM MSIB pada tahun 2020-2023. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara program MBKM MSIB dengan keterampilan berkomunikasi dalam organisasi di kalangan mahasiswa UNISBA.

  • Research Article
  • 10.62335/t8sem085
RESPON KELOMPOK PETERNAK TERHADAP ADANYA BANTUAN SAPI POTONG DI DESA MALONAS KECAMATAN DAMPELAS KABUPATEN DONGGALA
  • Nov 2, 2024
  • SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah
  • Suharno H Syukur + 3 more

Ternak sapi potong menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan sektor peternakan untuk menunjang usaha tani masyarakat perdesaan. Sapi (Bos Taurus) merupakan salah satu jenis ternak ruminansia yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia lebih tepatnya di predesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon kelompok peternak terhadap adanya bantuan sapi potong di Desa Malonas Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Malonas Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. Penelitian ini berlangsung selama dua bulan yang terhitung mulai dari tanggal 1 Desember 2023 - 31 Januari 2024. Penentuan lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive) yaitu di desa Malonas yang menjadi desa penerima bantuan ternak terbayak dalam program bantuan ternak sapi potong “Sulawesi Tengah Sejuta Sapi” mewakili desa yang lainnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei, yaitu teknik pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden yang ada di lokasi penelitian. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif yaitu penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi peternak yang berada di desa Malonas yaitu berjumblah 167 peternak. Sampel dalam penelitian ini adalah ketua kelompok, sekertaris, bendahara,dan 2 anggota kelompok yang ada di Desa Malonas Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. Teknik mengambilan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan menggunakan kusioner untuk menentukan berapa responden kelompok peternak terhadap adanya bantuan sapi potong di Desa Malonas Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. Namun hasil dari penelitian tersebut maka responden kelompok peternek yang ada di desa Malonas Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala dengan persentase 94% yang ada pada kategori “sangat baik”

  • Research Article
  • 10.24036/nara.v3i3.209
Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation Berbasis Diferensiasi Terhadap Hasil Belajar Sosiologi Siswa Fase E di SMAN 1 Solok Selatan
  • Sep 13, 2024
  • Naradidik: Journal of Education and Pedagogy
  • Aisah Firi Yani + 1 more

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran group investigation berbasis diferensiasi siswa Fase E SMAN 1 Solok Selatan. Jenis penilitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode quasi eksperimen. Jenis rancangan yang digunakan Post Tes tanpa Pre Tes (Post Test Only Control Design). Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu model pembelajaran group investigation berbasis diferensiasi variabel terikat. Hasil belajar variabel bebas. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 72 (kelas eksperimen dan kontrol masing-masing berjumlah 36 orang), yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dalam penelitian ini adalah hasil belajar sosiologi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu menggunakan objektif dan analisis data pada penelitian ini adalah skor dari hasil tes siswa yang diperoleh dengan metode konvensional dan model pembelajaran group investigation berbasis berdiferensiasi. Hasil penelitian ini ada tiga. Pertama, hasil belajar Sosiologi siswa kelas Fase E Solok Selatan tanpa menggunakan model pembelajaran group investigation berbasis diferensiasi memperoleh nilai rata-rata 74 dengan kualifikasi 66-75% yaitu lebih dari cukup (LdC). Kedua, hasil belajar Sosiologi siswa kelas Fase E Solok Selatan menggunakan model pembelajaran group investigation berbasis difensiasi memperoleh nilai rata-rata 88 dengan kualifikasi 86-95% yaitu baik sekali (BS). Ketiga, berdasarkan uji-t yang dilakukan terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model pembelajaran group investigation berbasis difensiasi terhadap hasil belajar Sosiologi siswa kelas Fase E SMAN 1 Solok Selatan thitung > t tabel (7,53>1,671) dengan demikian H1 diterima karena th > tt.

  • Research Article
  • 10.51881/jak.v22i2.132
HUBUNGAN ENTREPRENEURSHIP EDUCATION TERHADAP ENTREPRENEURIAL PROMOTION MELALUI ENTREPRENEURIAL MINDSET SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA PESERTA DIDIK SMK SE-MALANG RAYA
  • Aug 7, 2024
  • Akademika
  • Dieva Dieva Zahrohtu Anfi + 1 more

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan entrepreneurship education terhadap entrepreneurial promotion melalui entrepreneurial mindset. Dimana dalam penelitian ini entrepreneurial mindset ditempatkan sebagai mediator hubungan antara entrepreneurship education dan entrepreneurial promotion. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Responden penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Malang yakni SMK Negeri 1 Malang, SMK Negeri 11 Malang, dan SMK Negeri 7 Malang yang telah mendapatkan pendidikan kewirausahaan dan telah memiliki usaha yakni siswa kelas XI dan XII. Sampel penelitian ini berjumlah 350 siswa yang mengisi survei menggunakan google form. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) dengan menggunakan software Smart PLS versi 3. Penelitian ini menggunakan 2 model perhitungan PLS, yaitu Model pengukuran (Outer Model) dan Model Struktural (Inner Model). Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif signifikan terhadap promosi kewirausahaan pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif signifikan terhadap mindset kewirausahaan, promosi kewirausahaan berpengaruh positif siginifikan terhadap mindset kewirausahaan, serta mindset kewirausahaan memediasi secara signifikan pendidikan kewirausahaan terhadap promosi kewirausahaan. Penelitian ini memberikan bukti terhadap penelitian yang masih diperdebatkan bahwasannya pendidikan kewirausahaan dan mindset kewirausahaan mampu mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap promosi kewirausahaaan. Temuan ini juga menjadi bekal untuk calon wirausahawan dalam memahami dan menerapkan ilmu yang sudah diajarkan dalam berwirausaha

  • Research Article
  • 10.30997/alkaff.v2i2.13291
PENGARUH SERVANT LEADERSHIP TERHADAP PEMBENTUKAN IKLIM SEKOLAH RAMAH ANAK
  • May 1, 2024
  • AL - KAFF: JURNAL SOSIAL HUMANIORA
  • Ayuning Tyas + 2 more

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi iklim sekolah adalah kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam membentuk iklim sekolah ramah anak yang baik untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh servant leadership terhadap pembentukan iklim sekolah ramah anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi fungsional. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan angket sebagai data utama. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 811 guru. Dengan menggunakan rumus Slovin untuk menghitung sampel penelitian, diperoleh sampel penelitian berjumlah 89 guru. Perhitungan data dalam penelitian ini menggunakan bantuan software SPSS Ver.26. Analisis data yang dilakukan menggunakan signifikansi 0.05, didapatkan bahwa nilai sig sebesar 0.049 < 0.05, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Pada pengujian koefisien determinasi dapat diketahui bahwa servant leadership memberikan pengaruh sebesar 10.1% terhadap pembentukan iklim sekolah ramah anak, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukan kedalam penelitian ini sebesar 89.9%. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh servant leadership terhadap pembentukan iklim sekolah ramah anak.

  • Research Article
  • 10.33088/jurnalprosehatkuu.v2i1.358
PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN SIKAP CUCI TANGAN PAKAI SABUN MENGGUNAKAN MEDIA EDUKASI VIDEO PADA MURID KELAS IV DAN V SD NEGERI 35 PARAK KARAKAH PADANG
  • Jan 31, 2023
  • Jurnal Promosi Kesehatan Poltekkes Bengkulu
  • Azizah Khairunnisa + 4 more

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ini salah satu program yang telah dirancang oleh pemerintah. WHO menyatakan CTPS dapat mengurangi angka diare hingga 47%. Fakta di lapangan terdapat hanya 40% siswa kelas IV dan kelas V SD Negeri 35 Parak Karakah Padang yang mencuci tangan saat sebelum dan sesudah makan ketika disuruh oleh guru. Ini merupakan masalah yang peneliti amati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap siswa tentang cuci tangan pakai sabun menggunakan media edukasi video pada murid kelas IV dan V SD Negeri 35 Parak Karakah Padang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling yang mana seluruh siswa kelas IV dan V SD terlibat dalam penelitian. Jumlah siswa yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 80 siswa. Penelitian dilakukan selama satu minggu. Jenis penelitian Quasi Experiment (eksperimen semu) ini melalui pendekatan One Group Pretest dan Posttest Design, yang artinya dilakukan Pretest sebelum diberikan intervensi dan Posttest setelah diberikan intervensi. Data penelitian diolah menggunakan SPSS. Diperoleh hasil nilai rata-rata pengetahuan sebelum intervesi sebesar 18,14 dan setelah intervensi sebesar 19,01 dengan p-value sebesar 0,001. Sedangkan untuk perbedaan rata-rata nilai sikap sebelum intervensi sebesar 40,18 dan setelah intervensi sebesar 42,28 dengan pvalue sebesar 0,004. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah cuci tangan pakai sabun dengan menggunakan media video pada murid kelas IV dan V SD Negeri 35 Parak Karakah Padang. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan masyarakat untuk memahami tentang cuci tangan pakai sabun juga guru dapat memproduksi dan menggabungkan dengan informasi kesehatan lainnya.

  • Research Article
  • 10.62097/jec.v3i2.1855
EFEKTIFITAS LAYANAN KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK SELF MANAGEMENT UNTUK MENGATASI PERILAKU BULLYING PADA PESERTA DIDIK TINGKAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
  • Aug 30, 2024
  • Journal of Education Counseling
  • Yusi Rosalinda

Dalam perilaku bullying, pelaku dan korban merupakan kunci utama yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Pelaku bullying pada umumnya memiliki ciri yaitu: agresivitas yang tinggi dan kurang memiliki rasa empati. Jika peserta didik dibesarkan dalam keluarga yang mentoleransi bullying, maka peserta didik mempelajari bahwa bullying adalah suatu perilaku yang bisa diterima dalam membina suatu hubungan atau dalam mencapai yang diinginkan. Sehingga perlu upaya untuk mengurangi perilaku bullying dengan layanan konseling kelompok dengan teknik self-management. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah efektiv layanan konseling kelompok dengan teknik self management untuk mengatasi perilaku bullying Fisik pada peserta didik kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Jombang?, (2) Apakah efektiv layanan konseling kelompok dengan teknik self management untuk mengatasi perilaku bullying Verbal pada peserta didik kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Jombang?, (3) Apakah efektiv layanan konseling kelompok dengan teknik self management untuk mengatasi perilaku bullying Relasional pada peserta didik kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Jombang? Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku bullying peserta didik dan untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknik self-management dalam mengurangi perilaku bullying pada peserta didik di SMPN 01 Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian pre-experimental designs dengan bentuk desain one group pretest-posttest. Sampel dalam penelitian berjumlah 12 peserta didik SMPN 01 Jombang yang melakukan perilaku bullying dalam kategori tinggi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket perilaku bullying, wawancara, observasi dan analisis data dengan menggunakan uji T. teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu uji paired sample t-test dengan menggunakan SPSS 18.0 dengan analisis yaitu: (1) Sub variable Yi di peroleh hasil thitung 4.798 dan nilai sig. 0.001, (2) Sub variable Y2 di peroleh hasil thitung 4.287 dan nilai sig. 0.001, (3) Sub variable Y3 di peroleh hasil thitung 4.441 dan nilai sig. 0.001. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, artinya: (1) teknik self-management untuk mengatasi perilaku Bullying Fisik pada peserta didik kelas VIII di SMPN 01 Jombang. (2) teknik self-management untuk mengatasi perilaku Bullying Verbal pada peserta didik kelas VIII di SMPN 01 Jombang. (3) teknik self-management untuk mengatasi perilaku Bullying Relasional pada peserta didik kelas VIII di SMPN 01 Jombang..

Save Icon
Up Arrow
Open/Close
Notes

Save Important notes in documents

Highlight text to save as a note, or write notes directly

You can also access these Documents in Paperpal, our AI writing tool

Powered by our AI Writing Assistant