- Research Article
- 10.24853/nalars.23.1.17-28
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Zairin Zain + 1 more
Sebagai etnis yang telah menetap turun-temurun di pesisir Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, telah banyak kampung-kampung Melayu yang terbentuk dan berkembang. Walaupun berada di satu kota dan suku yang sama, tentunya setiap kampung memiliki perbedaan karakteristik sebagai bentuk penyesuaian kondisi daerah yang ditinggali masing-masing kelompok masyarakat. Karakteristik juga dapat ditemukan dari bentuk formasi atau pola permukiman kampung. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan formasi pada kampung-kampung Melayu di Kota Pontianak, khususnya Kampung Tambelan Sampit, Kampung Bansir, dan Kampung Beting. Metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi komparasi yang digunakan menghasilkan penemuan bahwa pola permukiman pada Kampung Melayu di Kota Pontianak mengikuti pola sirkulasi jalan, arah bangunan tetap menghadap ke Sungai Kapuas dan karakteristik pada masing-masing kampung karena pengaruh lingkungan atau kebiasaan dari suku lain.
- Research Article
- 10.24853/nalars.23.1.59-68
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Alif Faricha Almadina + 1 more
ABSTRAK. Rasa aman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dimiliki pada setiap aktivitas. Aktivitas manusia tidak hanya terjadi pada ruang personal tetapi juga pada ruang publik. Ruang publik dalam perspektif arsitektur merupakan ruang bersama sebagai ruang netral yang dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sifat netral yag dimiliki oleh ruang publik menyebabkan terjadinya keberagaman interaksi dan aktivitas dari berbagai kalangan masyarakat pada suatu lokasi yang sama. Namun, aktivitas di dalam ruang publik tidak selalu berlangsung dengan aman. Hal ini disebabkan oleh adanya peluang terjadinya perilaku negatif oleh sebagian orang. Terlebih lagi apabila pengaturan setting fisik suatu ruang publik tidak dirancang dengan baik. Hostile architecture dan CPTED (Crime Prevention Through Environmental Design) merupakan salah dua strategi desain yang mengupayakan penekanan resiko terjadinya perilaku yang tidak diinginkan. Penerapan hostile architecture dan CPTED melibatkan pengaturan elemen setting fisik yang dapat menekan resiko tersebut. Melalui metode content analysis, perilaku negatif diklasifikasi dan dianalisis keterkaitannya dengan upaya penerapan prinsip hostile architecture dan CPTED sebagai bentuk pencegahan terjadinya perilaku negatif melalui pengaturan elemen setting fisik di dalamnya. Dalam penelitian ini dihasilkan kategori elemen setting fisik dalam ruang publik yang dapat diatur berdasarkan prinsip-prinsip hostile architecture dan CPTED sebagai bentuk penekanan resiko terjadinya perilaku negatif. Kata kunci: pengaturan fisik, ruang publik, perilaku, hostile architecture, CPTED ABSTRACT. Safety is one of the needs humans must have while doing activities. Human activities can be done everywhere, either in personal or public spaces. From an architectural perspective, public spaces were granted as a third place that provides human needs. Public space had to be neutral for all people. This principle of public space established diverse activities and interactions between them. However, only some of these activities always go well. The possibility of negative behavior by some people could be a cause. Hostile architecture and CPTED (Crime Prevention Through Environmental Design) are design strategies that reduce unwanted behavior risk. The application of hostile architecture and CPTED involved the elements' arrangement of a physical setting in a public space. Through the content analysis method, undesirable behaviors were analyzed and integrated with the principles of hostile architecture and CPTED as preventions from the circumstance through elements of the physical setting. In this study, the arrangements of physical locations in public spaces based on the principles of hostile architecture and CPTED were initiated to suppress the appearance of undesirable behavior. Keywords: physical setting, public space, behavior, hostile architecture, CPTED
- Research Article
- 10.24853/nalars.23.1.69-76
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Muhammad Sega Sufia Purnama + 2 more
ABSTRAK. Masjid adalah tempat beribadah umat Islam. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, dibutuhkan kedaan yang nyaman. Studi kasus terpilh adalah Masjid Ukhuwah Islamiyah yang berada di dalam komplek Universitas Indonesia. Mempunyai luas bangunan kurang lebih 2608 m2. Masjid ini selalu ramai oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kenyamanan termal dan kebisingan lalu membandingkan dengan standar yang ada serta untuk membuktikan teori tentang desain pasif di bangunan tropis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran langsung di lapangan. Urutan kerjanya adalah menentukan titik ukur, lalu meletakan alat ukur di titik tersebut, pembacaan akan dibandingkan dengan standar dan di analisis. Hasilnya, Pembacaan suhu di daerah area shalat utama menunjukan suhu berada di atas standar kenyamanan yaitu 300 - 320 C sedangkan standar kenyamanan berada pada 220 - 280 C. Dilihat dari hasil pengukuran di lapangan, kebisingan suara berkisar antara 51 - 54 dB. Bila dibandingkan dengan standar kenyamanan dalam bangunan beribadah, yaitu 55 dB atau masih dalam batas wajar. Kesimpulannya, Penghawaan dan kebisingan menjadi faktor ketenangan dalam melakukan ibadah. Dalam penelitian ini, penghawaan belum optimal namun, kebisingan masih di ambang batas wajar. Aplikasi teori bangunan tropis belum mampu memberikan kenyamanan secara maksimal. Kata kunci: masjid, thermal, kebisingan ABSTRACT. The mosque is a place of worship for Muslims. These activities need a comfortable situation. The selected case study is the Ukhuwah Islamiyah Mosque, located within the University of Indonesia. Has a building area of approximately 2608 m2. This mosque is always crowded with students from various majors. This study aims to measure the level of thermal comfort and noise, compare it with existing standards, and prove the theory of passive design in tropical buildings. The method used in this research is direct measurement in the field. The sequence of work is to determine the measuring point and then place the measuring instrument at that point; the reading will be compared with the standard and analyzed. As a result, the temperature reading in the main prayer area shows the temperature is above the comfort standard of 300 - 320 C while the comfort standard is at 220 - 280 C. Judging from the measurements in the field, the noise ranges from 51 - 54 dB when compared with the average of comfort in a building of worship, which is 55 dB or still within reasonable limits. In conclusion, ventilation and noise are factors of tranquility in worship. In this study, the ventilation could be more optimal. However, the noise is still within reasonable limits. The application of tropical building theory has yet to provide maximum comfort. Keywords: mosque, thermal, noise
- Research Article
1
- 10.24853/nalars.23.1.1-16
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Cut Nur Aini + 2 more
ABSTRAK. Salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki banyak elemen-elemen bersejarah adalah permukiman masyarakat Mandailing di Sumatera Utara. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen fisik dan non fisik kawasan permukiman masyarakat Mandailing di tiga kampung yang berpotensi untuk dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya serta menentukan seberapa luas kawasan yang layak untuk di konservasi. Kajian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif-kualitatif yang berupaya mengidentifikasi elemen fisik permukiman (bangunan, ruang terbuka, jalan) dan elemen non-fisik (sosial-budaya, tata letak, orientasi, pola) yang potensial untuk dilestarikan.Hasil penelitian menunjukkan aspek-aspek non-fisik yang dapat dilihat pengaruhnya terhadap lingkungan permukiman ini antara lain adalah a) penerapan prinsip Banua; b) perbedaan status kampung; c) Sistem Sosial Dalihan Natolu yang me-ruang. Secara keseluruhan kawasan permukiman Mandailing ini dapat diklasifikasikan atas dua kategori zona yaitu pertama, kawasan konservasi yang direncanakan untuk direnovasi, direstorasi dan direhabilitasi melalui kontekstual desain arsitektur Mandailing dan tetap memperhatikan aturan-aturan setempat; dan kedua, kawasan preservasi yang diberi kesempatan untuk tetap mempertahankan keberadaan tiap elemen-elemen penyusunannya tetapi juga tetap mempertahankan aturan-aturan setempat. Urutan penanganan terhadap kebijakan preservasi dan konservasi yang akan dilakukan pada tiap kasus memiliki urutan tertentu berdasar kriteria yang ditetapkan, yaitu penanganan segera terhadap kasus 4 dan penanganan berikutnya pada tiga kasus berikutnya dengan urutan penanganan adalah kasus 2, kasus 3 dan kasus 1. Kata Kunci : Arahan Pelestarian, Tata Ruang, Permukiman, Mandailing ABSTRACT. The Mandailing community settlement in North Sumatra has many historic elements. The purpose of this research is to identify the physical and non-physical aspects of the Mandailing community's residential areas in three villages that have the potential to be preserved and maintained, as well as to determine how large an area is appropriate for conservation. This study employs a descriptive-exploratory-qualitative approach to identify settlement physical elements (buildings, open spaces, and roads) and non-physical elements (socio-cultural, layout, orientation, and patterns) with the potential to be preserved. According to the study, physical characteristics are classified into physical buildings and non-buildings. Bagas Godang, Sopo Godang, Sopo Emme, mosques, Pancur Paridian, Sopo Saba, Sopo Ladang, and Bale Hombung are among the physical elements of the structure. Alaman Bolak Selangseutang, roads, rivers, plantation areas, fields, rice fields, and forests are non-building physical features. Non-physical aspects that impact the settlement environment include: a) using the Banua principle, b) differences in village status, and c) the spatial Dalihan Natolu Social System. Overall, the Mandailing residential area can be divided into two zones: conservation areas, which are planned to be renovated, restored, and rehabilitated using contextual Mandailing architectural designs while still adhering to local regulations, and preservation areas, which are allowed to preserve the existence of each of its constituent elements while adhering to local laws. The preservation and conservation policies that will be implemented in each case will be handled in a specific order based on established criteria, namely immediate handling of case 4 and subsequent handling of the following three points in the order of handling case 2, case 3, and case 1. Keywords: Preservation Guidelines, Spatial Planning, Mandailing Settlements
- Research Article
- 10.24853/nalars.23.1.49-58
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Hamka Hamka + 1 more
ABSTRAK. Arsitektur vernakular yang ada ditiap wilayah provinsi di Indonesia sangat beragam, tidak terkecuali yang ada di Pulau Jawa, sehingga menarik untuk melihat tipologi perbedaan maupun persamaan bentuknya. Arsitektur vernakular di Indonesia merupakan produk budaya masyarakat etnis yang mendiami suatu wilayah seperti Suku Betawi, Sunda, Jawa, Madura, dan Osing yang ada di Pulau Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengdeskripsikan perbedaan dan persamaan tipologi bentuk arsitektur vernakular sesuai dengan letak dan latar belakang kesukuan yang ada di Pulau Jawa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif analisis deskriptif berdasarkan studi literatur jurnal yang pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini mengkaji tipologi bentuk arsitektur vernakular di Pulau Jawa berdasarkan variabel bentuk dasar, panggung atau tidak panggung, dan bentuk atap. Hasil penelitian ditemukan bahwa tipologi bentuk dasar badan bangunan berupa bentuk persegi dan persegi panjang. Tipologi bentuk panggung atau tidak panggung secara umum terbagi menjadi 2 tipe utama yaitu tipe panggung rendah untuk rumah vernakular etnis sunda yang ada di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten, sedangkan diwilayah provinsi berupa rumah tidak berpanggung atau badan bangunannya langsung menempel pada tanah. Hanya terdapat satu rumah yang bertipe panggung tinggi yaitu Rumah Panggung Betawi di Provinsi DKI Jakarta. Tipologi atap terbagi dalam beberapa bentuk yaitu atap pelana biasa, pelana dengan tambahan atap sosoran pada beberapa sisi, atap limasan biasa dan atap limasan dengan tambahan sosoran serta tipe atap joglo. Kata kunci: Tipologi, bentuk, vernakular ABSTRACT. Vernacular architecture in each province in Indonesia is very diverse, including in Java, so it is interesting to see the typology of differences and similarities in form. Vernacular architecture in Indonesia is a cultural product of ethnic communities that inhabit an area, such as the Betawi, Sundanese, Javanese, Madurese, and Osing tribes on the island of Java. This research aims to identify and describe the differences and similarities in the typology of vernacular architectural forms according to the location and ethnic background in Java Island. The research method used is a qualitative research method of descriptive analysis based on studies of journal literature that have been done before. This study examines the typology of vernacular architectural forms in Java Island based on the essential form variables, whether or not on stilts and the shape of the roof. The study results found that the building body's basic shape is square and rectangular. The typology of the form of stilts or not stilts is generally divided into two main types, namely the low stilt type for vernacular houses of Sundanese ethnicity in the Provinces of West Java and Banten, while in the provinces in the form of dwellings without stilts or the body of the building directly attached to the ground. Only one house is of the high stilt type, namely the Panggung Betawi House in DKI Jakarta Province. The roof typology is divided into ordinary gable roofs, gables with additional sosoran roofs on several sides, and regular pyramid roofs with other sosoran and joglo roof types. Keywords: Typology, form, vernacular
- Research Article
- 10.24853/nalars.23.1.39-48
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Anisza Ratnasari + 1 more
ABSTRAK. Selama pandemi COVID-19, semua aktivitas harus dilakukan di rumah. Hal ini berarti juga membuat kita semakin jauh dari alam. Tuntutan untuk tetap produktif harus juga diimbangi dengan kesehatan dan kenyamanan berhuni. Perancangan hunian dengan pendekatan desain biofilik dapat memberikan pengalaman penghuni untuk merasakan ruang dan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Metode kualitatif yang dilakukan melalui kajian literatur tentang desain biofilik dilakukan sebagai dasar perancangan hunian. Dengan demikian, implementasi desain biofilik tersebut seharusnya tidak hanya mengakomodasi kebutuhan berhuni, namun juga harus mampu menciptakan kualitas ruang dan nilai pada sebuah pola desain. Metode perancangan dilakukan melalui analisis kebutuhan ruang, studi preseden dan elaborasi atribut desain biofilik pada rancangan. Penerapan prinsip arsitektur biofilik terwujud melalui karakteristik ruang, bentuk ruang dan elemen ruang. Melalui pendekatan desain ini, interaksi penghuni, bangunan dan alam dengan optimal dapat mempercepat kenormalan baru. Sisi lain manfaat dari model perancangan ini, penghuni tetap dapat merasakan kesehatan dan kenyamanan berhuni. Kata kunci: desain biofilik; karakteristik ruang; bentuk ruang; elemen ruang; ABSTRACT. During the COVID-19 pandemic, all activities must be carried out at home, which makes us further away from nature. Productivity, health, and well-being must be in balance. The biophilic design approach of dwelling allows occupants to experience space and nature, both directly and indirectly. The qualitative method conducted through a literature review on biophilic design is the foundation for housing design. Therefore, implementing a biophilic strategy should accommodate occupancy needs and create spatial quality and the value of the design pattern. The design method is carried out by analyzing space requirements, evaluating case studies, and elaborating on biophilic design attributes. Applying these principles is manifested through characteristics of space, forms of play, and play elements. The outcome of the interaction of residents, buildings, and nature will accelerate the new normal; permanent residents can experience health and well-being. Keywords: biophilic design; characteristics of space; forms of space; elements of space
- Research Article
- 10.24853/nalars.23.1.77-84
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Dedi Hantono + 2 more
ABSTRAK. Ruang terbuka publik kota memiliki aksesibilitas yang sangat tinggi sehingga memudahkan berbagai aktivitas muncul walaupun tidak sesuai dengan fungsi ruang tersebut diantaranya aktivitas berdagang. Aktivitas berdagang yang tumbuh pada ruang terbuka publik menimbulkan tumbuhnya ruang pasar informal yang sering mendapatkan tekanan dari lingkungan. Upaya pedagang pasar informal untuk bertahan dikaji melalui atribut yang terdapat di dalam ruang pasar tersebut. Untuk melakukan penelitian ini diperlukan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menjawab “how” dan “why” terhadap fenomena yang terjadi. Hasil penelitian ini didapat bahwa Atribut Adaptasi bukan hanya menjadi bagian dari atribut saja melainkan membantu atribut lain dalam upaya kebertahanan pedagang pasar informal. Kemudian didapati bahwa Atribut Legabilitas tidak ditemui pada ruang pasar informal. Suatu temuan yang menarik dari penelitian ini bahwa selain atribut Weisman juga ditemukan faktor “keahlian” dalam kebertahanan pasar informal. Kata kunci: aktivitas, atribut, pasar, pedagang, ruang publik ABSTRACT. Urban public open spaces have very high accessibility, making it easier for various activities to emerge even though they are not by the function of the area, including trading activities. Trading activities that grow in public open spaces lead to the growth of informal market spaces that often get pressure from the environment. The efforts of informal market traders to survive are studied through the attributes contained in the market space. A qualitative research method with a case study approach is needed to answer the "how" and "why" of the occurring phenomena. This study found that the Adaptation Attribute is not only part of the attribute but helps other attributes in the survival efforts of informal market traders. Then, it was found that the Legibility Attribute was not found in the casual market space. An interesting finding from this research is that in addition to Weisman's attributes, the "expertise" factor is also found in the survival of informal markets. Keywords: activity, attribute, market, vendor, public space
- Research Article
- 10.24853/nalars.23.1.29-38
- Dec 29, 2023
- NALARs
- Ajeng Kusuma + 1 more
ABSTRAK. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu sarana perwujudan nilai (value) berdasarkan pengetahuan lokal yang dapat menjadi indikator perkembangan peradaban. Fakta bahwa Keraton Yogyakarta sebagai centrum kebudayaan Jawa yang masih terjaga dan eksis, dibuktikan melalui dua aspek yakni intangible serta tangible. Realitanya distribusi nilai lokal Jawa seperti filosofi kejawaan hingga pandangan hidup semakin terancam di kalangan generasi muda. Revitalisasi fisik Keraton Yogyakarta tentunya didasari kesadaran terhadap krisis pemahaman makna filosofis yang beredar di lingkungan publik. Vitalnya pemahaman mengenai makna simbolik di Keraton Yogyakarta dapat dipelajari melalui bangunan sebab memuat makna simbolik lengkap, khususnya di Bangsal Witana. Bangsal Witana memiliki kelengkapan ornamen sarat makna simbolik dengan berfokus pada lantai sebagai salah satu elemen penting pembangun Arsitektur. Seperti apa bentuk lantai di Bangsal Witana? Bagaimana proses relasi antar bentuk geometri dengan makna? Apa makna simbolik pola lantai Bangsal Witana? mengingat Bangsal Witana merupakan simbol Arsitektural guna mengajak seluruh rakyat untuk mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan urgensi penelitian untuk merumuskan bentuk lantai di Bangsal Witana, merumuskan proses relasi antar bentuk geometri dengan makna, serta merumuskan makna simbolik pola lantai di Bangsal Witana, Keraton Yogyakarta. Metode semiotika dengan model analisis milik Peirce dan Chandler, dimana mengkaji bentuk Arsitektur Bangsal Witana dalam sistem triadik yaitu ikon, indeks, dan simbol. Aplikasi metode tersebut dalam kajian unsur pola bentuk lantai Bangsal Witana guna mengungkap faktor laten sehingga menghasilkan kebenaran sesuai dengan pengetahuan lokal. Hasilnya berupa sistem yang terdiri dari tiga komponen tanda, terbangun dari objek pola lantai yang memiliki relasi dengan Vastusastra sebagai konteks. Kata kunci: Pola Lantai, Vastusastra, Bangsal Witana, Keraton Yogyakarta ABSTRACT. Ngayogyakarta Hadiningrat Palace means realizing values based on local knowledge as a civilization indicator. Fact Yogyakarta palace, as the center of Javanese culture, is maintained and exists through intangible and tangible aspects. The reality of the distribution of local Javanese values, such as Javanese philosophy and way of life, is threatened among the younger generation. The physical revitalization of the Yogyakarta Palace on public crisis awareness of understanding philosophical meaning circulating. Understanding that Yogyakarta Palace's symbolic meaning can be learned through buildings, especially in the Witana ward, is vital. Witana has complete ornaments full of symbolic meaning by focusing on the floor as one of the architectural building's elements. What does the floor look like in Witana Ward? What is the process of the relationship between geometric shapes and meaning? What is the symbolic meaning of the Witana Ward floor pattern? Consider Witana's architectural symbol to invite all people to remember God Almighty. The research is urgent to formulate floor shapes in Witana Ward to formulate the relation between geometric shapes and meanings and formulate the symbolic meaning of floor patterns in Witana Ward, Yogyakarta Palace. The semiotic method with Peirce and Chandler's analytical model examines Ward Witana architectural forms, namely icons, indexes, and symbols, in a triadic system. The application of this method in the study of the elements of the Witana Ward floor pattern is to uncover latent factors to produce truths through local knowledge. The result is a system consisting of three sign components, built from floor pattern objects that have a relationship with Vastusastra as context. Keywords: Floor Pattern, Vastusastra, Bangsal Witana, Yogyakarta Palace
- Research Article
- 10.24853/nalars.22.2.103-116
- Aug 3, 2023
- NALARs
- Fatimah Azzahra + 1 more
Ada dua mahakarya arsitektur di Aceh yakni, Rumoh Aceh dan Museum Tsunami Aceh. Rumoh Aceh keberadaannya mulai sulit ditemukan dan Museum Tsunami keberadannya semakin eksis. Muncul keinginan untuk memperjelas kedua karya tersebut dari sisi keindahan arsitektur yang bertujuan sebagai identifikasi unsur keindahan bentuk dan ekspresi.Rumusan permasalahan adalah identifikasi keindahan bentuk dan keindahan ekspresi terhadap kedua bangunan yang bertujuan menemu-kenali dan menambah wawasan arsitektur sebagai wacana preservasi dan konservasi bangunan heritage. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif studi kasus dengan teknik analisis deskriptif.Hasil penelitian pada unsur keindahan bentuk kedua bangunan pada dasarnya sama yakni setiap unsur tersebut ditemukan. Namun, yang membedakan adalah konsep dan jenis bangunan tersebut seperti; histori, fungsi, bentuk, dan dimensi sehingga dalam hal ini kedua bangunan mempunyai nilai lebih dan kurang. Secara visual Museum Tsunami tampak indah dengan architecture combined metaphor-nya dan Rumoh Aceh tampak unik dan menarik dengan segala makna pada setiap elemen arsitekturnya. Pada keindahan ekspresi sangat jelas bahwa Museum Tsunami mampu mengekspresikan kondisi bencana gempa bumi dan tsunami dengan analogi metapora pada wujud bangunan sehingga terkesan sangat menarik sedangkan Rumoh Aceh dengan nuansa alaminya belum mampu memberikan keindahan ekspresi yang terlalu jauh.Diharapkan hasil penelitian ini bukan sebagai wacana justifikasi atau bahkan membandingkan kedua mahakarya tersebut. Tetapi harapan utama dalam penelitian ini adalah sebagai wadah pemahaman ilmu arsitektur berkelanjutan. Ada pribahasa “tak kenal maka tak sayang” yang dalam konteks ini adalah memberikan hal terkecil dalam pemahaman dan pengetahuan khususnya Arsitektur Tradisional Aceh agar mampu bertahan dalam himpitan karya – karya besar arsitektur pasca modern.
- Research Article
- 10.24853/nalars.22.2.153-160
- Jul 27, 2023
- NALARs
- Anisa Anisa + 3 more
ABSTRAK. Manusia dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan ruang sebagai wadah kegiatannya. Idealnya ruang direncanakan dan dirancang berdasarkan analisis kegiatan terlebih dahulu. Namun pada kenyataannya, manusia seringkali mendapatkan hunian yang sudah ada sebagai tempat melakukan kegiatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menafsirkan adaptasi spasial pada hunian vernakular. Kasus penelitian adalah rumah-rumah di Kota Lama Kudus dengan batasan rumah yang mempunyai bentuk asli berupa rumah tradisional Kudus. Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan dan wawancara, yang dilakukan bersamaan dengan proses analisis. Hasil penelitian ini adalah ditemukan adaptasi spasial yang terjadi pada hunian vernakular pada hunian di Kota Lama Kudus mengikuti tingkatan atau hirarki ruang. Selain itu juga ditemukan macam strategi adaptasi yang dilakukan pada ruang berupa perubahan tata ruang, perubahan fungsi ruang, dan perubahan ukuran ruang. Perubahan tersebut dilakukan sebagai upaya adaptasi spasial dengan tujuan tidak hanya memenuhi kebutuhan semata namun juga untuk menambah kenyamanan pengguna hunian. Kata kunci: adaptasi spasial, hunian, vernakular ABSTRAK. Humans in everyday life need space as a container for their activities. Ideally, space is planned and designed based on prior activity analysis. However, in reality, humans often get existing housing as a place to carry out activities. This research is a qualitative research that aims to describe and interpret spatial adaptations in vernacular dwellings. The research case is the houses in the Kudus Old City with the boundaries of houses that have the original form of the traditional Kudus house. Data collection was carried out by observation and interviews, which were carried out simultaneously with the analysis process. The results of this study found that spatial adaptations that occur in vernacular dwellings in the Old City of Kudus follow levels or spatial hierarchies. In addition, various adaptation strategies were also found in space in the form of spatial changes, changes in spatial functions, and changes in spatial size. These changes were made as a spatial adaptation effort with the aim of not only meeting the needs but also to increase the comfort of dwelling users. Kata kunci: spatial adaptations, dwelling, vernacular