- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p160-171
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Moch Irwan Syah + 2 more
Background: Academic procrastination is a common maladaptive behavior among university students, especially those active in organizations who must balance academic and extracurricular responsibilities. Objective: This study aimed to examine the effectiveness of the token economy technique in reducing academic procrastination among organizational students at UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Method: Employing a one-group pretest-posttest experimental design, 16 purposively selected students participated in a three-week intervention involving structured rewards such as E-Wallet balances and mentoring services. The Academic Procrastination Scale–Short Form (APS-S) was used for data collection, while the analysis of the research results used gain score and paired sample t-test with JASP software. Results: The results showed a significant reduction in procrastination scores from pretest (M=81.88) to posttest (M=67.81), with p < 0.001. Conclusion: These findings suggest that token economy, when supported by time management strategies like the Eisenhower Matrix and social reinforcement, can effectively motivate students to complete academic tasks on time. This approach not only modifies behavior but also enhances self-regulation and responsibility in organizational contexts. Abstrak Latar Belakang: Penundaan akademik (academic procrastination) adalah perilaku maladaptif yang umum terjadi di kalangan mahasiswa, terutama yang aktif dalam organisasi dan harus menyeimbangkan tanggung jawab akademik dan ekstrakurikuler. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan teknik token economy dalam mengurangi penundaan akademik pada mahasiswa yang aktif berorganisasi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Metode: Menggunakan desain eksperimen one-group pretest-posttest, 16 mahasiswa yang dipilih secara purposif mengikuti intervensi selama tiga minggu dengan struktur hadiah seperti saldo E-Wallet dan layanan mentoring. Alat pengumpulan data menggunakan Academic Procrastination Scale–Short Form (APS-S), sedangkan analisis hasil penelitian menggunakan gain score dan paired sample t-test dengan perangkat lunak JASP. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada skor penundaan dari pretest (M=81,88) ke posttest (M=67,81), dengan p < 0,001. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa token economy, ketika didukung oleh strategi manajemen waktu seperti Eisenhower Matrix dan penguatan sosial, dapat secara efektif memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akademik tepat waktu. Pendekatan ini tidak hanya memodifikasi perilaku tetapi juga meningkatkan pengaturan diri (self-regulation) dan rasa tanggung jawab dalam konteks berorganisasi.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p105-118
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Nyoman Rhania Apsari Dewi + 3 more
Background: This study explores the impact of QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) on consumptive behavior among Gen Z in Surabaya, Indonesia. Objective: The research examines how QRIS influences impulsive purchasing decisions and self-control, focusing on the psychological drivers behind spending habits. Method: The study employed a qualitative approach with a realist paradigm; the researchers collected data through open-ended questionnaires, Focus Group Discussions (FGD), and in-depth interviews with 24 respondents, aged 19 to 23 years, who regularly use QRIS. Thematic analysis revealed that QRIS facilitates impulsive buying due to its ease of use, reducing the psychological spending barriers. Social influence and external factors, such as promotions and trends, drive consumptive behavior. A unique finding is the decisive role of peer behavior in shaping QRIS usage. Conclusion: The study suggests that improving financial literacy and self-control is essential to mitigate impulsive spending among Gen Z. Further research could focus on strategies to enhance financial literacy and self-control in digital payment. Abstrak Latar belakang: Penelitian ini mengeksplorasi dampak QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) terhadap perilaku konsumtif di kalangan Gen Z di Surabaya, Indonesia. Tujuan: Penelitian ini menggali bagaimana QRIS memengaruhi keputusan pembelian impulsif dan pengendalian diri, dengan fokus pada pendorong psikologis di balik kebiasaan belanja . Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma realis; peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner terbuka, Focus Group Discussion (FGD), dan wawancara mendalam dengan 24 responden, berusia 19 hingga 23 tahun, yang secara teratur menggunakan QRIS. Analisis tematik mengungkapkan bahwa QRIS memfasilitasi pembelian impulsif karena kemudahan penggunaannya, sehingga mengurangi hambatan psikologis dalam berbelanja. Pengaruh sosial dan faktor eksternal, seperti promosi dan tren, mendorong perilaku konsumtif. Penggunaan QRIS dipengaruhi oleh bagaimana teman sebaya atau orang-orang di sekitarnya menggunakannya juga. Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa meningkatkan literasi keuangan dan pengendalian diri sangat penting untuk mengurangi pengeluaran impulsif di kalangan Gen Z. Penelitian lebih lanjut dapat berfokus pada strategi untuk meningkatkan literasi keuangan dan pengendalian diri dalam pembayaran digital.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p190-201
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Rilta Mardalena + 2 more
Background: The students difficulties to make interaction with their teacher in the classroom, The process of teaching new vocabulary by using flash card. Objective: To know the autistic students in interaction, and the student’s response to it thus making the learning process easier. Methode: The writer conducted Classroom Action Research (CAR) which consists of two cycles, each cycle consists of four elements, namely: planning, acting, observing and reflecting. The writer doing the observation about January to March. Result: the students can implementation their vocabulary in simple speaking, the students have good eye contact, at the studied, the students can focus and giving good attention, the students can make good appropriate play with peers. The autistic students have a good dialog in simple speaking, and they can make minimal five different sentence of the some word who know. Conclution: The problem in the cycle is usually the students got difficulty to memorize the words and they easily get bored in studying English. To answer the problems the writer uses flash card to increase the student’s vocabulary. Abstrak Latar Belakang: Kesulitan siswa dalam berinteraksi dengan guru di kelas, Proses pengajaran kosakata baru dengan menggunakan flash card. Tujuan: Untuk mengetahui siswa autis dalam berinteraksi, dan respon siswa terhadapnya sehingga membuat proses pembelajaran lebih mudah. Metode: Penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat elemen, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Penulis melakukan observasi sekitar bulan Januari sampai Maret. Hasil: siswa dapat mengimplementasikan kosakata mereka dalam berbicara sederhana, siswa memiliki kontak mata yang baik, pada saat belajar, siswa dapat fokus dan memberikan perhatian yang baik, siswa dapat melakukan permainan yang tepat dengan teman sebaya. Siswa autis memiliki dialog yang baik dalam berbicara sederhana, dan mereka dapat membuat minimal lima kalimat yang berbeda dari beberapa kata yang mereka ketahui. Kesimpulan: Masalah dalam siklus ini biasanya siswa mengalami kesulitan untuk menghafal kata-kata dan mereka mudah bosan dalam belajar bahasa Inggris. Untuk menjawab masalah tersebut penulis menggunakan flash card untuk meningkatkan kosakata siswa.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p89-97
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Abdulkadir Kayaalp
Background: Narcissistic Personality Disorder (NPD) is characterized by excessive self-admiration, a need for validation, and a lack of empathy, often leading to emotionally harmful relationship patterns. Objective: This study aims to explore the psychological effects experienced by individuals who have been in romantic relationships with partners diagnosed with NPD. Method: A qualitative approach was adopted using purposive sampling to select participants who had been in long-term relationships with NPD individuals. Data were collected through in-depth interviews and thematically analyzed. Results: Findings indicate that NPD partners typically begin relationships with intense idealization, which gradually shifts to criticism, manipulation, and emotional abuse. Participants reported emotional exhaustion, diminished self-worth, and symptoms resembling post-traumatic stress. Conclusion: The study emphasizes the lasting psychological damage caused by such relationships, the need for strong social support systems during recovery, and the importance of raising awareness and providing psychological interventions. Further empirical research is encouraged to develop coping strategies and support mechanisms. Abstrak Latar Belakang: Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD) ditandai dengan kekaguman diri yang berlebihan, kebutuhan akan validasi, dan kurangnya empati, yang seringkali mengarah pada pola hubungan yang merugikan secara emosional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak psikologis yang dialami individu yang pernah menjalin hubungan romantis dengan pasangan yang didiagnosis NPD. Metode: Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik purposive sampling untuk memilih partisipan yang pernah memiliki hubungan jangka panjang dengan individu NPD. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa pasangan dengan NPD biasanya memulai hubungan dengan idealisasi berlebihan yang kemudian berubah menjadi kritik, manipulasi, dan kekerasan emosional. Partisipan melaporkan kelelahan emosional, penurunan harga diri, dan gejala mirip stres pascatrauma. Kesimpulan: Studi ini menyoroti kerusakan psikologis jangka panjang akibat hubungan tersebut, pentingnya dukungan sosial selama pemulihan, serta perlunya intervensi psikologis dan peningkatan kesadaran masyarakat. Penelitian lanjutan dianjurkan untuk mengembangkan strategi coping dan sistem dukungan yang efektif.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p119-132
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Chusnul Munawaroh + 1 more
Background: Sexual violence with child perpetrators is a complex phenomenon that has various backgrounds. Although children should be protected and guided in their growth and development, there are a number of factors that can trigger deviant behavior, such as sexual violence with children as perpetrators. Objective: How to know the psychological characteristics of sexual violence with children as perpetrators from foreign journals, then understanding the forms of sexual violence crimes is important to do so that it can be used as a lesson and various efforts are made to follow up on various cases. Method: The Systematic Literature Review method was chosen as the approach in writing this article, starting with identifying foreign journals, previous research, then filtering journals that are relevant to the topic, and analyzing the research findings and interpreting them, what are the characteristics of child perpetrators in several cases of sexual violence. Results: The characteristics of the child perpetrators of sexual violence, when viewed from a psychological perspective, are influenced by many interrelated and sustainable factors. Conclusion: The characteristics of this children are slightly different from those of adult perpetrators, due to hormonal and psychological instability in their developmental stages, and the perpetrators are also in situations that do not support healthy emotional and moral development.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p153-159
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Fikrotul Hanifah + 6 more
Background: Fear of Missing Out (FoMO) is a prevalent psychological phenomenon among adolescents in the digital era, driven by social media exposure and low self-concept. Objective: This study aims to evaluate the effectiveness of a psychoeducational intervention designed to strengthen positive self-concept as a preventive measure against FoMO in junior high school students. Method: The research employed a quasi-experimental one-group pre-test and post-test design involving 22 students from SMP Bukit Aksara, Semarang, of whom 20 completed the entire intervention. The instruments used were the FoMO Scale and a Self-Concept Knowledge Test. Results: The results from the paired sample t-test showed a statistically significant reduction in FoMO scores (p = 0.015). Qualitative analysis of open-ended responses and reflective journals indicated improved emotional awareness and self-acceptance, although cognitive understanding of self-concept remained inconsistent. Conclusion: The psychoeducational program effectively reduced FoMO tendencies and enhanced reflective and emotional capacities in participants, though cognitive outcomes require further instructional refinement. Abstrak Latar Belakang: Fear of Missing Out (FoMO) merupakan fenomena psikologis yang banyak dialami remaja, terutama dalam konteks penggunaan media sosial yang berlebihan. Remaja dengan konsep diri yang rendah lebih rentan terhadap kecemasan, tekanan teman sebaya, dan perilaku daring kompulsif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi psikoedukatif terstruktur dalam menurunkan kecenderungan FoMO pada siswa sekolah menengah pertama. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan model one-group pre-test and post-test. Sebanyak 20 siswa dari SMP Bukit Aksara mengikuti intervensi. Data dikumpulkan menggunakan Skala FoMO yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan dianalisis dengan statistik deskriptif serta uji t berpasangan. Hasil: Analisis menunjukkan penurunan skor FoMO yang signifikan secara statistik antara pre-test dan post-test (p = 0,015). Mayoritas peserta berpindah dari kategori FoMO sedang–tinggi ke tingkat yang lebih rendah setelah intervensi. Kesimpulan: Program psikoedukatif terbukti efektif dalam menurunkan kecenderungan FoMO pada remaja. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa model intervensi praktis berbasis psikoedukasi kelompok yang terstruktur dan aktif untuk menangani kecemasan terkait media sosial pada siswa sekolah menengah pertama.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p133-142
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Dinda Maulina Putri + 2 more
Background: Emerging adulthood is characterized by self-image exploration and emotional instability, where insufficient emotion regulation may result in impulsive fashion purchases, highlighting a significant issue in this developmental phase. Objective: This research is to analyze emotion regulation and impulsive buying in fashion purchases in emerging adulthood. Method: The purposive sampling technique was used with 107 respondents, using emotion regulation scale and Impulsive Buying Tendency Scale to statistic test. The analysis was conducted using JASP version 0.19.3.0 with linear regression technique, moderation, and independent samples t-test at 5% significance level. Results: Emotional regulation has a negative effect with a value of (β = -0.267) on impulsive buying, and emotional regulation has a statistically significant difference on gender with a value of (p = 0.013), while impulsive buying has no different value on gender with a value of (p = 0.717). Finally, the value of (B = -0.543, p = 0.033) on gender moderation was obtained. Conclusion: The conclusion is that emotional regulation can reduce impulsive buying, with the same level of impulsivity between genders. Abstrak Latar Belakang: Emerging adulthood adalah masa yang penuh gejolak dan pencarian citra diri. Terkadang mereka tidak mampu meregulasi emosinya saat emosinya memburuk, sehingga memunculkan perilaku impulsive dalam pembelian busana. Tujuan: Penelitian ini untuk menganalisis regulasi emosi dan pembelian impulsive dalam pembelian busana pada emerging adulthood. Metode: Penelitian ini menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan dari 107 responden menggunakan skala regulasi emosi adaptasi Indonesian Emotion Regulation Questionnaire for Sport (IERQ4S) dan skala pembelian impulsif adaptasi dari Impulsive Buying Tendency Scale. Analisis dilakukan menggunakan JASP versi 0.19.3.0 dengan teknik regresi linier, uji moderasi, dan independent samples t-test pada taraf signifikansi 5%. Hasil: Berdasarkan uji statisik, regulasi emosi berpengaruh negatif dengan nilai (β = -0.267) terhadap impulsive buying. Selain itu, regulasi emosi memiliki nilai beda pada gender dengan nilai (p = 0.013), sedangkan impulsive buying tidak memiliki nilai beda pada gender dengan nilai (p = 0.717). Terakhir, didapatkan nilai (B = -0.543, p = 0.033) pada moderasi gender. Simpulan: Kesimpulannya regulasi emosi mampu menurunkan impulsive buying, dengan tingkat impulsive sama antar gender.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p180-189
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Nabila Rachman + 3 more
Background: This research explores how modeling as a learning strategy can support preschool children in recognizing patterns, and whether their cooperative skills influence this effect. Objective: This study aimed to examine the effect of modeling as a learning strategy on pattern recognition skills in preschoolers and to determine whether cooperative ability acts as a moderator. Method: Using a quasi-experimental design with pretest and posttest, the study involved 31 preschool children aged 4–5 years, 17 boys and 14 girls from a private kindergarten in East Java. The participants were divided equally into an experimental group and a control group. Measurements were conducted using validated pattern recognition skills and cooperative ability, and the data were analyzed using independent t-tests and ANOVA. Results: revealed that preschool children in the experimental group showed a significantly higher improvement in pattern recognition (p < 0.001). Conclusion: Furthermore, cooperation was found to strengthen the relationship between modeling and pattern recognition. These findings highlight the importance of combining cognitive learning strategies with social skill development in early preschool education. Abstrak Latar Belakang: Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pemodelan sebagai strategi pembelajaran dapat mendukung anak-anak prasekolah dalam mengenali pola, dan apakah keterampilan kooperatif mereka memengaruhi efek ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemodelan sebagai strategi pembelajaran terhadap keterampilan pengenalan pola pada anak-anak prasekolah dan untuk menentukan apakah kemampuan kooperatif bertindak sebagai moderator. Metode: Menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pretes dan posttes, penelitian ini melibatkan 31 anak prasekolah berusia 4–5 tahun, 17 laki-laki dan 14 perempuan dari taman kanak-kanak swasta di Jawa Timur. Peserta dibagi secara merata menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan keterampilan pengenalan pola dan kemampuan kooperatif yang tervalidasi, dan data dianalisis menggunakan uji-t independen dan ANOVA. Hasil: mengungkapkan bahwa anak-anak prasekolah dalam kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan yang signifikan lebih tinggi dalam pengenalan pola (p < 0,001). Kesimpulan: Lebih jauh, kerja sama ditemukan untuk memperkuat hubungan antara pemodelan dan pengenalan pola. Temuan ini menyoroti pentingnya menggabungkan strategi pembelajaran kognitif dengan pengembangan keterampilan sosial dalam pendidikan prasekolah awal.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p172-179
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Shofia Nur Izzati + 1 more
Background: Statistics Indonesia has recorded that vocational high school graduates have had the highest Open Unemployment Rate (OUR) since 2022. This situation poses a challenge for final-year students, making it important to maintain optimism. Parental attachment can serve as a factor in shaping individual optimism. Objective: Understanding the relationship between Parental Attachment and optimism in final-year vocational high school students. Method: Quantitative research with a correlational design using Pearson Product Moment analysis. Respondents were 290 twelfth-grade students from a school in Surakarta, selected using cluster random sampling. The instruments used were the Life Oriented Test-Revised (r = 0.715) and the Parental Attachment Scale (r = 0.948). Results: There is a relationship between parental attachment and optimism in students (r=0.231; p<0.05), although the relationship is considered low. The study found differences in parental attachment scores between male and female students (Mdifference=11.341, p<0.05). Conclusion: The higher the parental attachment, the higher the students’ optimism. Future research can enrich the sample size, examine gender disparities, and explore internal factors related to optimism. Abstrak Latar Belakang: Badan Pusat Statistik mencatat lulusan SMK berada pada posisi tertinggi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sejak 2022. Kondisi ini menjadi tantangan bagi siswa tingkat akhir yang sedang menjalani masa transisi kehidupan, sehingga penting untuk memiliki optimisme. Kelekatan orang tua mampu menjadi faktor pembentuk optimisme individu. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kelekatan orang tua dengan optimisme pada siswa tingkat akhir SMK. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional menggunakan teknik analisis Pearson Product Moment. Subjek adalah 290 siswa kelas 12 (NLaki-laki=272; NPerempuan=18) salah satu SMK di Surakarta dengan metode cluster random sampling. Optimisme diukur dengan Skala Life Oriented Test-Revised (r = 0.715) dan kelekatan orang tua diukur dengan Skala Kelekatan Orang Tua (r = 0.948). Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara kelekatan orang tua dengan optimisme pada siswa (r=0.231; p<0.05) namun hubungan tergolong rendah. Hasil penelitian juga menemukan perbedaan nilai kelekatan orang tua siswa laki-laki dan perempuan (Mdifference=11.341, p<0.05) Simpulan: Hasilnya semakin tinggi kelekatan orang tua, semakin tinggi optimisme siswa. Penelitian selanjutnya dapat memperkaya jumlah sampel, melihat ketimpangan jenis kelamin, serta mengeksplorasi faktor internal yang berhubungan dengan optimisme.
- Research Article
- 10.26740/jptt.v16n02.p143-152
- Jun 30, 2025
- Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
- Aderemi Kehinde Ojewumi + 4 more
Background: This study investigated the relationship between Social Media Use (SMU), Social Media Motivation (SMM), and Mental Health Awareness (MHA) among Nigerian undergraduate students. Objective: Grounded in Uses and Gratifications Theory, the research aimed to determine the individual and combined predictive roles of SMU and SMM on students’ awareness of mental health issues, while also examining gender differences in MHA. Method: A total of 294 participants were selected through multistage sampling from two federal universities in southwestern Nigeria. Standardized questionnaires were used to collect data, which were analyzed using Pearson correlation, multiple regression, and independent t-tests. Results: Findings revealed no significant relationship between SMU and MHA, while SMM showed a positive, significant correlation with MHA. SMU and SMM jointly predicted MHA, explaining 15% of the variance. Male students demonstrated significantly higher mental health awareness than females. Conclusion: These findings highlight the importance of motivational and gender-related factors in designing effective mental health awareness interventions. Future research should explore platform-specific and culturally informed longitudinal studies to enhance the generalizability and applicability of results. Abstrak Latar Belakang: Penelitian ini menyelidiki hubungan antara Penggunaan Media Sosial (SMU), Motivasi Media Sosial (SMM), dan Kesadaran Kesehatan Mental (MHA) di kalangan mahasiswa Nigeria. Tujuan: Didasarkan Teori Penggunaan dan Kepuasan, penelitian bertujuan untuk menentukan peran prediktif individu dan gabungan dari SMU dan SMM terhadap kesadaran mahasiswa akan masalah kesehatan mental, sementara juga memeriksa perbedaan gender dalam MHA. Metode: Sebanyak 294 partisipan dipilih melalui pengambilan sampel bertingkat dari dua universitas federal di barat daya Nigeria. Kuesioner terstandarisasi digunakan untuk mengumpulkan data, yang kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson, regresi berganda, dan uji-t independen. Hasil: Temuan menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara SMU dan MHA, sementara SMM menunjukkan korelasi positif dan signifikan dengan MHA. SMU dan SMM bersama-sama memprediksi MHA, menjelaskan 15% dari varians. Siswa laki-laki menunjukkan kesadaran akan kesehatan mental lebih tinggi secara signifikan daripada perempuan. Kesimpulan: Temuan menyoroti pentingnya faktor motivasi dan faktor yang berhubungan dengan gender dalam merancang intervensi kesadaran kesehatan mental yang efektif. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi studi longitudinal yang spesifik pada platform dan berdasarkan budaya untuk meningkatkan generalisasi dan penerapan hasil.