Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p11
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • P M I Wahyuni + 2 more

Ampas kopi merupakan salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai biosorben. Biosorben ampas kopi ini dapat digunakan untuk menurunkan kandungan zat warna pada limbah tekstil seperti Remazol Yellow FG. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan konsentrasi optimum aktivator H3PO4, kondisi optimum dan kapasitas adsorpsi biosorben ampas kopi. Preparasi biosorben ampas kopi melalui tahap pencucian, pengeringan, pengayakan dan aktivasi dengan penambahan H3PO4 berbagai konsentrasi. Karakterisasi ampas kopi meliputi luas permukaan yang dianalisis menggunakan metilen biru, keasaman permukaan, dan identifikasi gugus fungsi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) Shimadzu/IR Prestige 21. Hasil aktivasi biosorben terbaik diperoleh pada konsentrasi H3PO4 sebesar 0,3 M (KAH). Kondisi optimum adsorpsi zat warna Remazol Yellow FG yakni pada waktu kontak 60 menit dan pH 2. Kapasitas adsorpsi biosorben yang diperoleh sebesar 30,2115 mg/g. Model isoterm yang terbaik yakni isoterm adsorpsi Langmuir dengan R2 sebesar 0,9851 Kata kunci: adsorpsi Langmuir, ampas kopi, biosorben, limbah tekstil, Remazol Yellow FG ABSTRACT Coffee residue is a waste that can be used as a biosorbent to reduce the concentration of dye agents in textile waste, such as Remazol Yellow FG. This research aimed to determine the optimum concentration of H3PO4 as an activator, the optimum adsorption conditions, and the adsorption capacity of the coffee residue biosorbent. The preparation of the biosorbent was conducted by washing, drying, sieving, and activating with the addition of H3PO4 solutions at various concentrations. The biosorbent was characterized for its surface area using the methylene blue method, surface acidity, and functional group contents using Fourier Transform Infrared (FTIR) Shimadzu/IR Prestige 21. The optimum condition for activation using H3PO4 was with a concentration of 0,3 M (KAH), while the adsorption of Remazol Yellow FG was 60 minutes of contact time and pH 2. The biosorbent adsorption capacity was 30.2115 mg/g. The adsorption process followed a Langmuir adsorption isotherm with an R2 value of 0.9851. Keywords: Langmuir adsorption, coffee residue, biosorbent, textile waste, Remazol Yellow FG

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p13
APLIKASI KULIT PISANG KEPOK DAN KULIT PISANG AMBON SEBAGAI ARANG AKTIF PADA ADSORPSI DAN DESORPSI ION KROMIUM (Cr6+)
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • D Rahmadhani + 1 more

Telah dilakukan penelitian untuk mengadsorpsi dan mendesorpsi ion kromium heksavalen (Cr6+) menggunakan agen penyerap berupa karbon aktif kulit pisang kepok dan karbon aktif kulit pisang ambon. Adsorpsi ion Cr6+ menggunakan karbon aktif dari bahan alam merupakan metode alternatif untuk menurunkan kandungan logam berat dengan efisiensi penyerapan yang tinggi. Karbon aktif kulit pisang diaktivasi melalui aktivasi kimia menggunakan aktivator HCl 2 M. Adanya proses aktivasi kimia diharapkan mampu meningkatkan kemampuan karbon aktif kulit pisang dalam menyerap ion logam berat Cr6+. Aplikasi karbon aktif kulit pisang kepok dan ambon untuk menyerap ion Cr6+ dilakukan dengan mengaduk sampel karbon aktif pada berbagai waktu dan konsentrasi larutan Cr6+. Hasil karakterisasi FT-IR karbon aktif kulit pisang setelah teraktivasi menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang sehingga terjadi penurunan intensitas serapan pada gugus -OH. Adsorpsi ion Cr6+ pada pH 2 memberikan waktu stabil 75 menit mengikuti model kinetika PSO dengan laju reaksi 0,05713 mg/g.min dan 0,04079 mg/g.min. Adsorpsi isoterm mengikuti model Langmuir dengan kapasitas adsorpsi 0,7036 dan 0,6387 mg/g dan energi adsorpsi 26,67 dan 23,55 kJ/mol untuk karbon aktif kulit pisang kepok dan karbon aktif kulit pisang ambon. Berdasarkan hasil desorpsi yang dilakukan, dugaan mekanisme interaksi yang terjadi antara adsorbat ion Cr6+ dengan gugus aktif pada karbon aktif kulit pisang melibatkan interaksi kimia melalui pembentukan ikatan hidrogen dan ikatan kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah organik dari kulit pisang kepok dan kulit pisang ambon berpotensi sebagai karbon aktif untuk mengurangi keberadaan ion logam berat Cr6+. Bahan alam dari limbah organik kulit pisang kepok dan kulit pisang ambon dinilai cukup efektif untuk mengurangi kadar ion Cr6+ dan mudah diregenerasi melalui proses desorpsi. Kata kunci: adsorpsi, desorpsi, kromium heksavalen (Cr6+), kulit pisang, karbon aktif ABSTRACT Research has been carried out to adsorb and desorb hexavalent chromium ions (Cr6+) using adsorbent agents in the form of activated carbon from kepok and ambon banana peels. Adsorption of Cr6+ using activated carbon from natural materials is an alternative method for reducing heavy metals with high absorption efficiency. Banana-peel carbon is activated through chemical activation using a 2 M HCl activator. The chemical activation process is expected to increase the ability of the banana-peel charcoal to absorb heavy metal ions of Cr6+. The activated carbon was applied from kepok and ambon banana peels to absorb Cr6+ by stirring the activated carbon at various times and concentrations of the Cr6+ solution. The results of the FT-IR characterization of banana-peel activated carbon after activation showed a shift in the wave number resulting in a decrease in the absorption intensity of the -OH group. Adsorption of Cr6+ at pH 2 gave a stable time of 75 minutes following the PSO kinetics model with reaction rates of 0.05713 mg/g.min and 0.04079 mg/g.min. Isotherms adsorption followed the Langmuir model with adsorption capacities of 0.7036 and 0.6387 mg/g and adsorption energies of 26.67 and 23.55 kJ/mol for kepok banana-peel activated carbon and ambon banana-peel activated carbon, respectively. Based on the results of the desorption, the suspected mechanism of the interaction between the Cr6+ ion adsorbate and the active groups in banana-peel activated carbon involved chemical interactions through the formation of hydrogen bonds and complex bonds. The results showed that organic waste from kepok banana peels and ambon banana peels has the potential as activated carbon to reduce the presence of heavy metal ions Cr6+. Natural materials from organic waste kepok and ambon banana peels are considered quite effective in lowering Cr6+ ion levels and are easily regenerated through the desorption process. Keywords: adsorption, desorption, hexavalent chromium (Cr6+), banana peels, activated carbon

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p04
PEMANFAATAN SELULOSA DARI KULIT SINGKONG SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN SEDOTAN RAMAH LINGKUNGAN
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • A A Mustaqim + 3 more

Penggunaan sedotan biodegradable merupakan salah satu cara untuk mengurangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh sedotan plastik. Dalam penelitian ini, sedotan dibuat terutama dari selulosa, dengan penambahan kitosan sebagai agen hidrofobik dan pati sebagai perekat. Selulosa diisolasi dari kulit singkong melalui proses delignifikasi menggunakan larutan NaOH 1% pada suhu 80°C selama 2 jam, diikuti dengan proses pemutihan dengan NaClO2 10% dan asam asetat glasial dengan perbandingan 4:1 v/v pada suhu 80°C selama 2 jam. Terakhir, proses hidrolisis asam dilakukan dengan menggunakan H2SO4 5M pada suhu 80°C selama 2 jam. Selulosa yang diekstraksi digunakan untuk menyiapkan sedotan dengan dan tanpa penambahan lilin lebah. Karakterisasi sedotan meliputi kekuatan tekan, uji pembengkakan, dan analisis termal menggunakan DSC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selulosa yang diperoleh dari proses delignifikasi, pemutihan, dan hidrolisis asam masing-masing sebesar 51,11 ± 0,56%, 76,29 ± 4,41%, dan 19,85 ± 5,83%. Kandungan alfa-selulosa setelah hidrolisis sebesar 91,25%, dan spektrum FTIR menunjukkan adanya puncak peregangan O-H pada bilangan gelombang 3336,0 cm-1 dan puncak peregangan C-H pada 2905,5 cm-1 yang menunjukkan adanya senyawa hidrokarbon alkana alifatik. Hasil uji swelling sedotan tanpa dan dengan lilin lebah masing-masing sebesar 58,56 ± 0,02% dan 12,58 ± 13,28% selama 30 menit. Nilai kuat tekan sedotan adalah 235,06 ± 48,57 N, dan karakteristik termal menunjukkan transisi kaca sebesar 266°C dan titik leleh sebesar 237°C. Uji karakteristik fisik didapatkan sedotan yang dihasilkan berbentuk padat, tidak berbau, tidak berasa, berwarna cokelat muda, dan bertekstur kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedotan ramah lingkungan yang dihasilkan memiliki sifat fisik yang baik. Produk ini berpotensi menjadi alternatif yang ramah lingkungan pengganti sedotan plastik dan mendukung upaya pengurangan limbah plastik. Kata kunci: biodegradable; kitosan; kulit singkong; sedotan; selulosa ABSTRACT Using biodegradable straws is a way to reduce the environmental damage caused by plastic straws. In this study, the straws were made primarily from cellulose, with the addition of chitosan as a hydrophobic agent and starch as an adhesive. Cellulose was isolated from cassava peel through a delignification process using 1% NaOH solution at 80°C for 2 hours, followed by a bleaching process with 10% NaClO2 and glacial acetic acid in a ratio of 4:1 v/v at 80°C for 2 hours. Finally, an acid hydrolysis process was carried out using 5M H2SO4 at 80°C for 2 hours. The extracted cellulose was used to prepare the straws with and without the addition of beeswax. The characterization of the straws included compression strength, swelling tests, and thermal analysis using DSC. The results showed that the cellulose obtained from the delignification, bleaching, and acid hydrolysis processes were 51.11 ± 0.56%, 76.29±4.41%, and 19.85±5.83%, respectively. The content of alpha-cellulose after hydrolysis was 91.25%, and the FTIR spectra showed an O-H stretching peak at wave number 3336.0 cm-1 and a C-H stretching peak at 2905.5 cm-1 that indicated the presence of aliphatic alkane hydrocarbon compounds. Swelling test results of the straws without and with beeswax were 58.56 ± 0.02% and 12.58 ± 13.28%, respectively, over 30 minutes. The compression strength value of the straws was 235.06 ± 48.57 N, and the thermal characteristics showed a glass transition of 266°C and a melting point of 237°C. The resulting biodegradable straws were solid, odorless, tasteless, light brown, and had a rough texture. Physical characteristic tests resulted in biodegradable straws that are solid, odorless, tasteless, light brown, and rough textured. The results indicated that the straws had good physical properties. This product has the potential to be an environmentally friendly alternative to plastic straws and supports efforts to reduce plastic waste. Keywords: biodegradable; chitosan; cassava peel; cellulose; straw

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p07
ANALISIS BIOETHANOL BERBAHAN AMPAS SAGU (Metroxylon SPP) DENGAN METODE SEPARATED HYDROLYSIS AND FERMENTATION (SHF) MENGGUNAKAN KATALIS ASAM SULFAT DAN ENZIM
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • K H Gulo + 3 more

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis yield dan karakteristik bioetanol yang dihasilkan dari ampas sagu (Metroxylon spp) dengan menggunakan metode fermentasi hidrolisis terpisah yang dibantu katalis asam sulfat () dan enzim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hidrolisis enzimatik menghasilkan yield bioetanol tertinggi sebesar 56,6%, sedangkan hidrolisis menggunakan asam sulfat menghasilkan yield yang lebih rendah, yaitu 33%. Karakteristik fisik bioetanol yang dihasilkan dari hidrolisis enzimatik memiliki densitas 0,8577 gr/mL dan viskositas 1,09 Cp, sementara bioetanol dari hidrolisis dengan asam sulfat memiliki densitas 0,8955 gr/mL dan viskositas 1,01 Cp. Pengukuran kadar etanol menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukkan bahwa bioetanol dari hidrolisis enzimatik memiliki kadar etanol sebesar 12,416%, sementara kadar etanol dari hidrolisis dengan asam sulfat sebesar 5,926%. Analisis FT-IR menunjukkan bahwa sampel bioetanol dari hidrolisis dengan asam sulfat maupun hidrolisis enzimatik memiliki gugus fungsi OH, CH, CH?, dan CO. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa metode hidrolisis enzimatik lebih efektif dalam menghasilkan bioetanol dengan karakteristik yang lebih baik dibandingkan metode hidrolisis menggunakan asam sulfat. Kata Kunci : Ampas sagu, Bioetanol, Hidrolisis Asam Sulfat, Enzimatik ABSTRACT This research aimed to analyze the yield and characteristics of bioethanol produced from sago waste (Metroxylon spp) using a separate hydrolysis and fermentation method assisted by two different catalysts used of sulfuric acid and enzyme. The results showed that the enzymatic hydrolysis method produced the highest bioethanol yield of 56.6%, while hydrolysis with sulfuric acid resulted in a lower yield of 33%. The physical characteristics of bioethanol from enzymatic hydrolysis showed a density of 0.8577 g/mL and a viscosity of 1.09 Cp, whereas from sulfuric acid hydrolysis had a density of 0.8955 g/mL and a viscosity of 1.01 Cp. The ethanol content measured by UV-Vis spectrophotometry revealed that bioethanol from enzymatic hydrolysis had an ethanol content of 12.416%, while bioethanol from sulfuric acid hydrolysis had an ethanol content of 5.926%. FT-IR analysis indicated that bioethanol samples both from sulfuric acid and enzymatic hydrolysis exhibited functional groups OH, CH, CH?, and CO. This study concludes that the enzymatic hydrolysis method is more effective in producing bioethanol with better characteristics than hydrolysis using sulfuric acid. Keywords: Sago waste, Bioethanol, Sulfuric Acid Hydrolysis, Enzymatic.

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p02
Study of Antioxidant Activity of Cem-Cem (Spondias pinnata L.f Kurz) Leaf Extract and Compound Identification Using LC-MS/MS
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • N K Ariati + 3 more

Tanaman Cem-cem (Spondias pinnata L.f Kurz) sering digunakan oleh masyarakat Bali sebagai tanaman obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan (IC50) pada ekstrak daun cem-cem dan mengidentifikasi senyawa aktifnya manggunakan metode Liquid Chromatography-Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS). Serbuk daun cem-cem sebanyak 750 g dimaserasi dengan 5 L etanol menghasilkan 35 g ekstrak kental etanol. Pada esktrak kental hasil uji aktivitas antioksidannya (IC50) sebesar 10,35 ppm, untuk hasil partisi menunjukkan bahwa antioksidan tertinggi terdapat pada ekstrak n-butanol dengan nilai IC50 44,99 ppm, diikuti oleh kloroform dengan nilai IC50 98,03 ppm, n-heksan dengan nilai IC50 219,89 ppm dan air dengan nilai IC50 298,43 ppm. Ekstrak n-butanol selanjutnya dipisahkan dengan kromatografi kolom dan diperoleh hasil 3 fraksi gabungan (F1, F2, F3) dan 1 fraksi yang tidak terelusi (F4), dengan aktivitas antioksidan tetinggi pada F1 yang memiliki nilai IC50 151,91 ppm. Berdasarkan analisis data LC-MS/MS ekstrak kental etanol dan F1 diduga mengandung senyawa rhamnetin yang berperan sebagai antioksidan. Kata kunci: antioksidan, daun cem-cem, LC-MS/MS, rhamnetin ABSTRACT Cem-cem plants (Spondias pinnata L.f Kurz) are often used by Balinese people for traditional medicine. This research aimed to determine the antioxidant activity (IC50) of cem-cem leaf extract and identify its active compounds using the Liquid Chromatography-Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS) method. About 750 g of cem-cem leaf powder was macerated with 5 L of ethanol to produce 35 g of crude ethanol extract. In the crude extract, the antioxidant activity test results (IC50) amounted to 10.35 ppm, for the partition results showed that the highest antioxidant was found in n-butanol extract with IC50 value of 44.99 ppm, followed by chloroform with IC50 value of 98.03 ppm, n-hexane with IC50 value of 219.89 ppm and water with IC50 value of 298.43 ppm. The n-butanol extract was further separated by column chromatography, and the results of the separation obtained three combined fractions (F1, F2, F3) and one fraction that did not elute (F4), with the highest antioxidant activity in F1 that has the IC50 value of 151.91 ppm. Based on the LC-MS/MS data analysis, the ethanol extract of F1 was suspected to contain rhamnetin compounds that acted as antioxidants. Keywords: antioxidant, cem-cem leaf, LC-MS/MS, rhamnetin

  • Journal Issue
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p09
ADSORPSI LOGAM Pb(II) PADA JAMU ASAM URAT SERTA VALIDASI METODE UJI KADARNYA MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • W Wahyuni + 2 more

Masyarakat cenderung memilih pengobatan herbal karena dianggap lebih aman dan alami, terutama selama pandemi dengan meningkatnya minat pada jamu tradisional. Namun, kontaminasi logam berat, seperti timbal (Pb), dari lingkungan dan proses industri menjadi masalah kesehatan yang serius oleh karena itu tujuan penelitian ini yaitu mengnalisis penggunaan adsorben tempurung kelapa dalam mengurangi kontaminasi Pb dengan menggunakan metode Destruksi Basah. Metode penelitian dimulai dengan pengambilan sampel Jamu Asam Urat di Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, menggunakan teknik random sampling. Analisis dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas arang tempurung kelapa dalam mengurangi kontaminasi logam berat timbal (Pb) dan menentukan kondisi optimal proses adsorpsi. Sebanyak 17 run eksperimen dirancang dengan variasi pH, waktu kontak, dan kadar adsorben untuk mengidentifikasi kombinasi terbaik dalam memaksimalkan penurunan kadar Pb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimasi penurunan logam berat timbal (Pb) mencapai hasil terbaik pada run ke-4, dengan %penurunan sebesar 87,76%. Penggunaan arang tempurung kelapa sebagai adsorben dalam kondisi optimal yang ditentukan melalui pendekatan Design Expert berhasil secara signifikan mengurangi kadar Pb dalam jamu asam urat. Kata kunci: adsorben, arang tempurung kelapa, jamu asam urat, timbal ABSTRACT People prefer herbal remedies because they are considered safer and more natural, especially during the pandemic when interest in traditional herbal medicine has increased. However, heavy metal contamination, such as lead (Pb), from environmental and industrial processes poses a serious health risk. Therefore, this research aimed to analyze the coconut shell charcoal as an adsorbent to reduce Pb contamination using the Wet Destruction method. The research methodology began with a collection of Uric Acid Herbal Medicine samples in the Sampung District, Ponorogo Regency, using random sampling techniques. Analyses were conducted to evaluate the effectiveness of coconut shell charcoal in reducing lead (Pb) heavy metal contamination and to determine the optimal conditions for the adsorption process. A total of 17 experimental runs were designed with variations in pH, contact time, and adsorbent concentration to identify the best combination for maximizing Pb reduction. The results showed that the optimization of lead (Pb) reduction achieved the best outcome in the fourth run, with a reduction percentage of 87.76%. Using coconut shell charcoal as an adsorbent under optimal conditions, determined through the Design Expert approach, successfully and significantly reduced Pb levels in the uric acid herbal medicine. Keywords: charcoal, coconut shell, timbal, uric acid herbal

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p05
POTENSI BAMBU TABAH DAN MODIFIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA INDIGO
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • R A Suwito + 2 more

Pewarna alami indigo, juga disebut sebagai "King of Dye", digunakan secara luas dalam pembuatan pakaian tradisional Bali. Meningkatnya penggunaan zat warna indigo menyebabkan volume limbah bertambah besar yang dapat mencemari lingkungan perairan. Penanganan limbah ini penting, untuk meminimalisir dampak negatifnya bagi lingkungan dan metode adsorpsi menjadi salah satu pilihan. Dalam penelitian ini, dipelajari efisiensi adsorpsi zat warna indigo menggunakan serbuk bambu (B0) dan serbuk arang bambu berukuran mikron (AB0) untuk mengadsorpsi zat warna indigo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bo dan ABo memiliki waktu adsorpsi, pH larutan yang sama yaitu 30 menit, dan pH = 2, massa adsorben sebesar 0,20 g dan 0,10 g untuk Bo dan ABo. Kapasitas adsorpsi B0 dan AB0 masing-masing sebesar 105,897 mg/g dan 236,056 mg/g. Isoterm adsorpsi B0 dan AB0 mengikuti model Freundlich. Kata kunci: Adsorben, indigo, bambu tabah, adsorpsi ABSTRACT The natural indigo dye, also known as the "King of Dye," is widely used in the production of traditional Balinese clothing. Increasing use of indigo dye results in large volumes of waste and can pollute aquatic environments. Managing this waste is crucial to minimize the negative impacts, and an adsorption method is an effective option. This study compares the adsorption efficiency of indigo dye using bamboo powder (B0) and micron-sized bamboo charcoal powder (AB0). The results showed that the optimum adsorption conditions for B0 and AB0 were 30 minutes, pH 2, adsorbent mass for B0 of 0.20 g, and AB0 of 0.10 g. The adsorption capacities for B0 and AB0 were 105.897 mg/g and 236.056 mg/g, respectively. The adsorption isotherms for B0 and AB0 followed the Freundlich model. Keywords: Adsorbent, indigo, Tabah bamboo, adsorption

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p08
CONTENT OF Pb AND Cu METALS IN CASSAVA LEAVES (Manihot utilissima Pohl.) AND THE BIOAVAILABILITY OF THESE METALS IN SOIL IN GUNUNG SALAK VILLAGE, TABANAN
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • D P Yana + 2 more

Tanaman singkong (Manihot utilissima Pohl.) banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan terutama daun dan umbinya, sehingga tanaman ini banyak ditanam oleh masyarakat di pekarangan rumah mereka. Masyarakat di Desa Gunung Salak Tabanan sebagian besar menanam singkong di lahan yang berdekatan dengan jalan raya, sehingga terpapar oleh polusi udara yang mengandung logam berat seperti logam Pb dan Cu. Kandungan logam dalam tanaman singkong dipengaruhi oleh kandungan logam dalam tanah yang digunakan sebagai media tanam. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan logam Pb dan Cu dalam daun singkong serta bioavailabilitas logamnya dalam tanah. Metode yang digunakan untuk menentukan keberadaan logam dalam daun singkong adalah digesti basah sedangkan untuk penentuan bioavailabilitas menggunakan metode ekstraksi bertahap yang diukur dengan Atomic Absorption Spectrometer (AAS). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sampel daun singkong dikategorikan tercemar karena telah melewati batas maksimum yang ditetapkan BPOM untuk logam Pb dan Cu berturut-turut sebesar 0,2 mg/kg dan 5,0 mg/kg. Kandungan logam Pb dan Cu dalam sampel daun singkong berturut-turut sebesar 119,5487 mg/kg dan 23,0215 mg/kg. Bioavailablitas logam dalam tanah pada saat sebelum penanaman didominasi oleh logam yang berpotensi bioavailabel untuk logam Pb dan bersifat non bioavailabel untuk logam Cu. Logam Pb dan Cu yang bioavailabel berturut-turut berkisar antara 7,97 – 18,45% dan 1,17 – 6,75%, sedangkan logam yang berpotensi bioavailabel untuk logam Pb dan Cu berkisar antara 45,98 – 72,31% dan 7,55 – 16,37%. Logam Pb dan Cu yang bersifat non bioavailable untuk berturut-turut berada pada kisaran 15,78 – 41,02% dan 76,88 – 91,28%. Kata kunci: Bioavailabilitas, Cu, Pb, Tanaman singkong ABSTRACT The cassava plant (Manihot utilissima Pohl.) is widely used as food, particularly the leaves and tubers, and is commonly planted in home gardens. In Gunung Salak Village, Tabanan, many people plant cassava on land close to the main road, which exposes it to air pollution containing heavy metals such as Pb and Cu. The metal content in cassava plants is influenced by the metal content in the soil used as a planting medium. This research aims to determine the metal content of Pb and Cu in cassava leaves and the bioavailability of these metals in the soil. The wet digestion method was used to determine the presence of metals, while the sequential extraction method was applied to assess bioavailability. The metal concentrations were quantified using an Atomic Absorption Spectrometer (AAS). The results show that the cassava leaf samples are categorized as contaminated because they exceed the maximum limits set by BPOM for Pb and Cu, which are 0.2 mg/kg and 5.0 mg/kg, respectively. The concentrations of Pb and Cu in the cassava leaf samples were 119.5487 mg/kg and 23.0215 mg/kg, respectively. The bioavailable metal fractions for Pb and Cu ranged from 7.97% to 18.45% and 1.17% to 6.75%, respectively, while the potentially bioavailable fractions of Pb and Cu ranged from 45.98% to 72.31% and 7.55% to 16.37%, respectively. The non-bioavailable fractions of Pb and Cu ranged from 15.78% to 41.02% and 76.88% to 91.28%, respectively. Keywords: Bioavailability, Cassava, Cu, Pb

  • Research Article
  • 10.24843/jchem.2025.v19.i01.p14
DECREASING COD AND BOD LAUNDRY WASTE BY PHOTODEGRADATION METHOD USING TiO2-CHITOSANE CATALYST
  • Jan 31, 2025
  • Jurnal Kimia
  • M H Amzan + 2 more

Limbah laundry mengandung bahan organik dengan konsentrasi tinggi yang dapat memberikan efek pada lingkungan perairan. Pencemaran air akibat limbah laundry dengan kandungan bahan organik tinggi menyebabkan penurunan kualitas air yang ditandai dengan meningkatnya nilai COD dan BOD. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas penggunaan katalis TiO2-kitosan untuk menurunkan kandungan COD dan BOD limbah laundry menggunakan metode fotodegradasi. Fotodegradasi adalah proses penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana menggunakan katalis dan sinar UV. Pembuatan komposit TiO2-kitosan dilakukan dengan sintesis TiO2 dan kitosan menghasilkan katalis TiO2-kitosan. Hasil karakterisasi TiO2-kitosan dengan FTIR menunjukkan keberadaan gugus OTiO, OH, NH, CH, dan CO yang mengidentifikasikan telah terbentuknya katalis TiO2-kitosan. Karakterisasi TiO2-kitosan dengan XRD menunjukkan fase kristalin anatase tetragonal. Kondisi optimum fotodegradasi limbah laundry dalam menurunkan nilai COD dan BOD menggunakan katalis TiO2-kitosan diperoleh pada massa katalis 50 mg, pH 7, dan waktu penyinaran selama 120 menit. Pengembanan TiO2 pada kitosan dalam kondisi optimum dengan sinar UV mempengaruhi efektivitas fotodegradasi limbah laundry dengan penurunan tertinggi nilai COD sebesar 90,5760 mg/L dan BOD sebesar 24,0000 mg/L. Kata kunci: limbah laundry, COD, BOD, fotodegradasi, katalis TiO2-kitosan. ABSTRACT Laundry waste contains high organic matter that causes a decrease in water quality, which is indicated by high COD and BOD values. The high COD and BOD values of laundry waste need to be reduced, one of which is using the photodegradation method. Photodegradation is a breaking down process of organic compounds into simpler compounds using catalysts and UV light. In this research, the catalyst used was the TiO2-chitosan catalyst synthesized using the sol-gel method. Catalysts characterization was carried out using FTIR and XRD. The catalyst was applied to reduce COD and BOD of laundry waste in the optimum photodegradation conditions. The results of the characterization of TiO2-chitosan with FTIR showed the presence of O=Ti=O, OH, NH, CH, and CO groups, which identified the formation of a TiO2-chitosan catalyst. The characterization of TiO2-chitosan by XRD showed a tetragonal anatase crystalline phase. The optimum conditions for degrading laundry waste to COD and BOD using a TiO2-chitosan catalyst were obtained at a catalyst mass of 50 mg, pH 7, and an irradiation time of 120 minutes. Embedding TiO2 on chitosan under optimum conditions with UV light affected the effectiveness of laundry waste photodegradation, with the highest decrease in COD values of 90.5760 mg/L and a BOD of 24.0000 mg/L. Keywords: laundry waste, COD, BOD, photodegradation, TiO2-chitosan catalyst.