Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.49631
Respon morfologi dan parameter genetik karakter biomassa sorgum lokal Indonesia induksi radiasi sinar gamma
  • Dec 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Yuniel Melvanolo Zendrato + 1 more

Pengembangan program diversifikasi diperlukan untuk menjawab permasalahan pangan dan bioenergi di Indonesia. Tanaman sorgum lokal dapat menjadi alternatif komoditas strategis untuk menjawab tantangan ini, dengan mengkaji kajian keragaman genetik dan potensinya. Pemuliaan mutasi dengan irradiasi sinar gamma dapat meningkatkan keragaman tanaman sorgum yang diarahkan untuk seleksi kandidat unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon morfologi dan parameter genetik karakter biomassa sorgum lokal Indonesia yang diinduksi melalui iradiasi gamma. Tujuh varietas sorgum Indonesia diiradiasi dengan sinar gamma (0, 100, 200, 300, 400, dan 500 Gy) dan ditanam pada kondisi lingkungan suhu berkisar 23-28 oC, curah hujan 3316 mm per tahun, dan pH tanah 5,8. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keragaman genetik varietas lokal sorgum yang diindikasikan dengan interaksi antara varietas dan dosis sinar gamma yang signifikan (p-value < 0.001) pada beberapa karakter pengamatan. Karakter biomassa memiliki korelasi positif dengan tinggi tanaman (r=0.92) dan karakter lain seperti diameter batang, karakter daun, dan brix. Tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang dan brix memiliki heritabilitas >0,87 dan kemajuan genetik persentase rata-rata yang tinggi (GAM) >27,83) sehingga karakter ini dijadikan karakter seleksi untuk biomassa sorgum. Ada 10 genotipe sorgum yang diseleksi berdasarkan indeks seleksi yang mengarah ke biomassa sorgum, yaitu S1R2, S1R1, S7R2, S6R0, S6R4, S6R5, S6R2, S2R0, S4R3, dan S1R0. Genotipe ini dapat digunakan sebagai materi genetik untuk program pemuliaan sorgum sebagai bioenergi masa depan di Indonesia. ABSTRACT The development of diversification programs is necessary to address food and bioenergy issues in Indonesia. Local sorghum can be used as strategic commodity alternative to address these challenges by examining genetic diversity and potential. Mutant breeding using gamma irradiation can increase the diversity of sorghum for the selection of superior candidates. This study aimed to evaluate the morphological response and genetic parameters of biomass characteristics of local Indonesian sorghum induced by gamma irradiation. Seven Indonesian sorghum varieties were irradiated with gamma rays (0, 100, 200, 300, 400, and 500 Gy) and planted in environmental conditions with temperatures ranging from 23 to 28 °C, annual rainfall of 3316 mm, and soil pH of 5.8, using a randomized complete block design (RCBD) with three replicates. The results showed an increase in the genetic diversity of local sorghum varieties, as indicated by a significant interaction between variety and gamma ray dose (p-value < 0.001) in several observed traits. Biomass traits had a significant positive correlation with plant height (r=0.92) and other traits such as stem diameter, leaf traits, and brix. Plant height, number of leaves, stem diameter, and brix had high heritability (>0.87) and genetic advance per mean (GAM, >27.83), making these traits suitable for selection for sorghum biomass. There are 10 sorghum genotypes selected based on selection indices that lead to sorghum biomass, namely S1R2, S6R0, S1R1, S7R2, S6R4, S6R5, S6R2, S2R0, S4R3, and S7R1. These genotypes can be used as genetic material for sorghum breeding programs for future bioenergy in Indonesia.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.49633
Keragaan agronomi dan korelasi komponen hasil galur turunkan esensial padi biofortifikasi inpari IR nutri zinc
  • Dec 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Wage Ratna Rohaeni + 4 more

Galur turunan esensial merupakan kelompok tanaman hasil pemuliaan padi yang memiliki sifat unggul dan berpotensi dikembangkan sebagai varietas baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan serta hubungan antar komponen hasil terhadap produktivitas galur turunan esensial yang dibandingkan dengan varietas tetua Inpari IR Nutri Zinc. Pengujian dilaksanakan pada akhir Januari hingga Juni 2025 di IP2SIP Muara, Bogor, menggunakan rancangan kelompok lengkap terpadu dengan empat ulangan. Galur BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 memiliki umur paling genjah dibandingkan tetua Inpari IR Nutri Zinc. BP35650*4-SKI-38-2-KNG-0-SKI-0 postur tanaman nyata lebih tinggi dibandingkan Inpari IR Nutri Zinc. Semua galur menunjukan tidak berbeda nyata dengan pada karakter Gabah kering Giling (GKG) dengan tetua backcross Inpari IR Nutri Zinc. Beberapa galur mengalami perbaikan karakter ukuran gabah dari tetua backcross (Inpari IR Nutri Zinc = 22,85 g), diantaranya: BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 (25,38 g), BP35650*4-SKI-16-1-KNG-0-SKI-0 (24,83 g), BP35650*4-SKI-19-2-KNG-0-SKI-0 (25,60 g), dan BP35650*4-SKI-22-3-KNG-0-SKI-0 (24,83 g). Jumlah gabah isi permalai menunjukan korelasi kuat terhadap hasil panen pada pengujian ini. Sebaliknya, panjang malai dan bobot 1000 butir memiliki hubungan yang lemah atau bahkan negatif terhadap hasil. Temuan ini memberikan dasar dalam pemilihan galur potensial yang memiliki produktivitas tinggi dan mendukung upaya pengembangan varietas padi unggul. ABSTRACT Essential derived rice lines are a group of breeding lines that have superior properties and have the potential to be developed as new varieties. This study aims to evaluate the diversity and relationship between yield components to the productivity of essential derivative strains compared to the parent variety Inpari IR Nutri Zinc. The test was carried out from the end of January to June 2025 at IP2SIP Muara, Bogor, using a randomized complete block design (RCBD) with four replicates. The BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 strain (106 hst) has the longest lifespan compared to the Inpari IR Nutri Zinc elder (109 hss). BP35650*4-SKI-38-2-KNG-0-SKI-0 (107.1 cm) real plant posture is higher than Inpari IR Nutri Zinc (99.3 cm). All strains show no real difference from the character of GKG with the elder backcross Inpari IR Nutri Zinc. Several lines showed larger grain size compared to Inpari IR Nutri Zinc (22,85 g), including: BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 (25.38 g), BP35650*4-SKI-16-1-KNG-0-SKI-0 (24.83 g), BP35650*4-SKI-19-2-KNG-0-SKI-0 (25.60 g), and BP35650*4-SKI-22-3-KNG-0-SKI-0 (24.83 g). The number of filled grains per panicle has a strong correlation with the yield in this research. In contrast, panicle length and weight of 1000 grains had a weak or even negative relationship with results. These findings provide a basis for selecting potential strains that have high productivity and support efforts to develop superior rice varieties.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.49154
Aplikasi giberelin (GA3) pada bawang merah (Allium ascalonicum L) lokal eban untuk meningkatkan Produksi dan mutu benih di dataran tinggi
  • Dec 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Anna Tefa + 4 more

Pengembangan bahan tanam bawang merah dari biji botanis (True Shallot Seed) merupakan salah satu inovasi teknologi dalam meningkatkan kualitas benih. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa giberelin (GA3) mampu menginduksi pembungaan dan meningkatkan produksi true shallot seed (TSS) pada bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan konsentrasi giberelin dan lama perendaman yang pengaruhnya paling baik terhadap hasil umbi, produksi true shallot seed (TSS) dan mutu benih bawang merah lokal Eban. Percobaan dilaksanakan pada bulan Juni sampai Oktober 2024 di Desa Saenam, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Laboratorium Universitas Timor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi giberelin dengan empat taraf yaitu 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm. Faktor kedua adalah lama perendaman dengan tiga taraf yaitu 30, 45 dan 60 menit. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan (Duncan's Multiple Range Test/DMRT) menunjukkan bahwa konsentrasi giberelin 200 ppm dan lama perendaman 30 menit menghasilkan jumlah umbi pertanaman 12,33 umbi, berat kering umbi 168,51 g pada konsentrasi giberelin 200 ppm dan lama perendaman 60 menit. Konsentrasi giberelin 300 ppm dan lama perendaman 30 menit meningkatkan persentase tanaman berbunga 54,50%, konsentrasi 100 ppm dan lama perendaman 30 menit meningkatkan jumlah kapsul bernas per umbel 17,67 dan jumlah biji per umbel 37,00. Uji mutu benih TSS yang dihasilkan oleh umbi yang diberi konsentrasi giberelin 300 ppm dan lama perendaman 30 menit menghasilkan potensi tumbuh maksimum 14,66% dan daya berkecambah 14,66%. Perendaman umbi dengan giberelin belum mampu menghasilkan benih dengan viabilitas sesuai standar benih bermutu, sehingga diperlukan penelitian lanjutan. ABSTRACT The development of shallot planting material from botanical seeds (True Shallot Seed) is one of the technological innovations in improving seed quality. Several research results show that gibberellin (GA3) can induce flowering and increase the production of true shallot seed (TSS) in shallots. This study aimed to determine the gibberellin concentration and soaking duration that had the best effect on bulb yield, true shallot seed (TSS) production and seed quality of local Eban shallots. The experiment was conducted from June to October 2024 in Saenam Village, North Central Timor Regency (TTU) and the Timor University Laboratory. The experimental design used was a factorial randomized block design (RAK). The first factor was gibberellin concentration with four levels: 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, and 300 ppm. The second factor was soaking duration with three levels: 0, 30, 45, and 60 minutes. The results of Duncan multiple range test (DMRT) analysis showed that gibberellin concentration of 200 ppm and soaking duration of 30 minutes resulted in 12.33 tubers per plant, dry weight of bulbs of 168.51 g at gibberellin concentration of 200 ppm and soaking duration of 60 minutes. Gibberellin concentration of 300 ppm and soaking duration of 30 minutes increased the percentage of flowering plants by 54.50%, concentration of 100 ppm and soaking duration of 30 minutes increased the number of full capsules per umbel by 17.67 and the number of seeds per umbel by 37.00. The quality test of TSS seeds produced by bulbs given gibberellin concentration of 300 ppm and soaking duration of 30 minutes resulted in a maximum growth potential of 14.66% and germination power of 14.66%. Soaking bulbs with gibberellin has not been able to produce seeds with viability according to quality seed standards, so further research is needed.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.45222
Pertumbuhan dan hasil dua spesies kacang koro (Mucuna pruriens; Canavalia ensivormis) akibat pupuk NPK
  • Jul 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Umi Trisnaningsih + 6 more

Jack bean (Canavalia ensiformis L.) and velvet bean (Mucuna pruriens L.) are local legume species with significant potential as sources of plant-based protein. To date, both species have primarily been utilized as sources of animal feed, green manure, and cover crops. This study aims to evaluate the effects of NPK fertilizer on the growth and yield of the two legume species. The experiment was conducted in Nanggela Village, Mandirancan District, Kuningan Regency, from June to November 2024. The experimental design used was a Randomized complete block design with treatments combining legume species (Jack bean and velvet bean) with NPK fertilizer applied at rates of 150, 225, 300, 375, and 450 kg ha-1. The variables observed were plant height, number of leaves, stem diameter, root length, root volume, leaf area index, relative growth rate, net assimilation rate, number of pods per plot, number of seeds per pod, weight of 100 seeds, and weight of seeds per plot. The results showed that the combination of species and NPK fertilizer doses significantly affected the growth and yield of koro plants. The best results were obtained from the treatment of jack bean with a dose of NPK fertilizer of 300 kg ha-1. ABSTRAK Kacang koro pedang (Canavalia ensiformis L.) dan koro benguk (Mucuna pruriens L.) merupakan spesies lokal yang memiliki potensi sebagai sumber protein nabati. Selama ini kedua spesies tersebut dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak, pupuk hijau, dan tanaman penutup tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua spesies koro. Percobaan dilaksanakan di Desa Nanggela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan pada bulan Juni sampai November 2024. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan kombinasi antara spesies koro (koro pedang dan koro benguk) dengan dosis pupuk NPK (150, 225, 300, 375, dan 450 kg ha-1). Semua perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, volume akar, indeks luas daun, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, jumlah polong per petak, jumlah biji per polong, bobot 100 butir biji, dan bobot biji per petak. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi spesies koro dan dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman koro. Hasil terbaik diperoleh dari perlakuan koro pedang dengan dosis pupuk NPK 300 kg ha-1. Dalam budidaya koro pedang, disarankan untuk menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 300 kg ha-1, sebagai upaya untuk menggantikan kedelai pada wilayah-wilayah di mana kedelai sulit tumbuh. Kata kunci: Koro pedang, koro benguk, pertumbuhan, pupuk majemuk

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.44835
Hasil padi (Oryza sativa l.) pada lahan sub-optimal akibat pemberian pupuk berbasis sensor
  • Jul 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Sri Ismiani + 2 more

Rice (Oryza sativa L.) is a key commodity in maintaining national food security. However, its production increase is still constrained by limited land availability and low fertilization efficiency, particularly in sub-optimal lands with poor soil fertility. This study aimed to evaluate the effectiveness of sensor-based fertilization on the yield of two rice varieties, IPB 9G and Gogo rice, under sub-optimal conditions. The research was conducted in Kembang Kerang Daya Village, East Lombok, using a split-plot randomized block design with two factors: fertilizer dose (6 levels, including sensor-based recommendations) as the main plot, and rice variety as the subplot, with three replications. Yield components observed included the number of grains per panicle, percentage of filled grains, 1000-grain weight, yield per plot, and estimated yields of harvested dry grain and milled dry grain. The results showed that sensor-based fertilization, combining inorganic, organic, and bio-fertilizers, produced the best performance in nearly all yield parameters, particularly in the IPB 9G variety. This system significantly increased GKG yield compared to conventional fertilization methods. The agronomic efficiency of sensor-based fertilization was 27% higher than conventional fertilization, aligning with the principles of precision agriculture. In conclusion, applying sensor-based fertilization on sub-optimal land presents a promising innovative solution to enhance rice productivity and input efficiency, especially in areas with low soil fertility. ABSTRAK Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional, namun peningkatan produksinya masih terkendala keterbatasan lahan dan rendahnya efisiensi pemupukan, terutama pada lahan sub-optimal yang memiliki tingkat kesuburan rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pemupukan berbasis sensor terhadap hasil panen dua varietas padi IPB 9G dan padi Gogo pada lahan sub-optimal. Penelitian dilaksanakan di Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur, menggunakan rancangan acak kelompok petak terbagi dengan dua faktor: dosis pupuk (6 level, termasuk rekomendasi berbasis sensor) sebagai petak utama, dan varietas padi sebagai anak petak, dengan tiga ulangan. Komponen hasil yang diamati meliputi jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, bobot 1000 butir, hasil ubinan, dugaan hasil gabah kering panen (GKP), dan gabah kering giling (GKG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan berbasis sensor dengan kombinasi pupuk anorganik, organik, dan hayati menghasilkan performa terbaik pada hampir seluruh peubah hasil, terutama pada varietas IPB 9G. Sistem ini mampu meningkatkan hasil GKG dibandingkan metode pemupukan konvensional. Peningkatan efisiensi agronomi dari pemupukan berbasis sensor 27% lebih tinggi dibandingkan pemupukan konvensional, selaras dengan prinsip pertanian presisi. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pemupukan berbasis sensor pada lahan sub-optimal berpotensi sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi input, khususnya pada wilayah dengan kesuburan tanah rendah. Kata kunci: NPK, Padi, Pupuk Organik, Sensor, Sub-optimal

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.46593
Respons tomat (Solanum lycopersicum l.) terhadap KH₂PO₄ dan giberelin pada hidroponik dutch bucket
  • Jul 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Intan Hadiatun Maghfirah + 3 more

Tomato (Solanum lycopersicum L.) is a horticultural commodity which the quality and the yield can be enhanced through the application of the Dutch bucket hydroponic system, along with KH₂PO₄ fertilization and gibberellin hormone treatments. This study aimed to evaluate the response of tomato plants in terms of productivity and quality under these treatments. The experiment was conducted in a greenhouse using factorial randomized complete block design with three replications. The first factor was KH₂PO₄ concentration at three levels: 0 ppm, 150 ppm, and 250 ppm; the second factor was gibberellin concentration at three levels: 0 ppm, 50 ppm, and 100 ppm. Data were analyzed using ANOVA and DMRT on parameters including number of flowers, number of fruits per plant, fruit diameter, average fruit weight, total fruit weight per plant, and total soluble solids value. The results indicated that the interaction of 150 ppm KH₂PO₄ and 50 ppm gibberellin produced optimal values for fruit weight per fruit of 41.32 g, total fruit weight per plant of 398.67 g, and total soluble solids of 6.28 °Bx. Furthermore, either individual effects of KH₂PO₄ or gibberellin concentrations significantly influenced all observed variables except on fruit diameter. Combination KH2PO4 150 ppm and gibbereilin 50 ppm is recommended for enhancing tomato cultivation performance under the Dutch bucket hydroponic system. ABSTRAK Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan komoditas hortikultura yang kualitas dan produksinya dapat ditingkatkan melalui penerapan sistem hidroponik Dutch bucket disertai penggunaan pupuk KH₂PO₄ dan hormon giberelin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons tanaman tomat khususnya pada produktivitas dan kualitas terkait perlakuan tersebut. Penelitian dilakukan di dalam greenhouse menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi KH₂PO₄ dengan tiga taraf yaitu 0 ppm, 150 ppm, dan 250 ppm, faktor kedua adalah konsentrasi giberelin dengan tiga taraf yaitu 0 ppm, 50 ppm, dan 100 ppm. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan DMRT dengan variabel pengamatan meliputi jumlah bunga, jumlah buah per tanaman, diameter buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman, dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara KH₂PO₄ 150 ppm dan giberelin 50 ppm memberikan hasil terbaik pada variabel bobot per buah sebesar 41,32 g, bobot buah per tanaman sebesar 398,67 g, dan total padatan terlarut sebesar 6,28 °Bx. Selanjutnya, pengaruh faktor tunggal konsentrasi KH₂PO₄ maupun konsentrasi giberelin memberikan pengaruh pada seluruh variabel yang diamati kecuali diameter buah. Penggunaan KH2PO4 150 ppm dan giberelin 50 ppm dapat menjadi rekomendasi terbaik untuk diaplikasikan pada budidaya tomat menggunakan sistem Dutch bucket. Kata kunci: Dutch bucket, giberelin, hidroponik, KH2PO4, tomat

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.45887
Rhizospheric Bacillus spp. as biocontrol agents against maize downy mildew and growth promoters
  • Jul 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Endang Mugiastuti + 4 more

Downy mildew is one of the major patogen limiting maize productivity in Indonesia. Effective mitigation strategies are essential due to the significant yield losses it causes. Biological control is an environmentally viable alternative method of disease management. Bacillus spp. are biological control agent capable of producing metabolic chemicals that can inhibit plant infections, hence holding potential for downy mildew management. This study aimed to evaluate the effectiveness of Bacillus spp. from the maize rhizosphere to manage downy mildew and promote maize plant growth. The research employed a completely randomized block design, consisting of four treatments and six replications. The treatments comprised Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp. BK.R9, fungicides treatment (metalaxyl), and control group for comparison. The observed variables included spore germination, incubation period, disease incidence, disease severity, Area Under Disease Progression Curve (AUDPC), number of leaves, plant height, fresh shoot weight, and fresh root weight. The findings revealed that B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, and Bacillus spp. BK.R9 effectively inhibited downy mildew by decreasing spore germination by 80.55-100%, prolonging the incubation period, and inhibiting disease incidence by 20.37-53.70%, disease severity by 25.64-62.56%, and AUDPC by 22.21-63.37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 can enhance plant growth by augmenting root weight by 122.63% and maize plant weight by 80.26%. ABSTRAK Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama yang menghambat produksi jagung di Indonesia. Upaya pengelolaan penyakit bulai perlu dilakukan mengingat besarnya kehilangan yang ditimbulkan. Pengendalian hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bacillus spp. adalah bakteri yang mampu menghasilkan senyawa metabolik, dapat mengendalikan pathogen tanaman sehingga berpotensi sebagai pengendali penyakit bulai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Bacillus spp. asal rizosfer untuk mengendalikan penyakit bulai dan mengoptimalkan pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan meliputi Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, Bacillus subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9, serta fungisida (metalaksil) dan kontrol sebagai pembanding. Variabel yang diamati meliputi perkecambahan spora, masa inkubasi, kejadian penyakit, intensitas penyakit, AUDPC, jumlah daun, tinggi tanaman, bobot tanaman segar, dan bobot akar segar. Hasil penelitian menunjukkan B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9 mampu menekan penyakit bulai jagung, dengan menurunkan perkecambahan spora 80,55-100 %, menunda masa inkubasi, menurunkan kejadian penyakit sebesar 20,37-53,70 %, intensitas penyakit sebesar 25,64-62,56%, dan AUDPC sebesar 22,21-63,37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 dapat memacu pertumbuhan tanaman, dengan meningkatkan bobot akar sebesar 122,63 % dan bobot tanaman jagung sebesar 80,26%. Kata kunci: Bacillus, jagung, pengendalian hayati, Peronosclerospora maydis, ramah lingkungan

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.44502
Population of P-solubilizer bacteria, available P, P Uptake and chili yield affected by bioameliorants and nutrient
  • Jul 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Betty Natalie Fitriatin + 4 more

The consumption of red chili (Capsicum annum L.) increased annually, requiring higher productivity. However, this is not supported by optimal soil fertility which has a low nutrient content. This research aimed to examine the interaction between bioameliorant dose (B) and nutrient solution application interval (F) on phosphate solubilizing bacteria (PSB), available P, P uptake, fruit weight per plant, and fruit weight per fruit. The research was conducted using a Factorial Randomized Block Design with two factors and three replications (bioamelioran dosage: 0, 3, 6 t ha-1) and nutrient solution application interval: every one, three, and five days. The results showed an interaction effect on fruit weight with the best treatment being a bioameliorant dose of 3 t ha-1 and a nutrient solution interval once a day. The bioameliorant increased available P and the nutrient solution interval had influenced on soil available P and fruit weight per plant. Application of a bioameliorant dose of 3 t ha-1 and nutrient solution interval once a day produced the highest yield of chili. ABSTRAK Konsumsi cabai merah (Capsicum annum L.) meningkat setiap tahunnya, sehingga membutuhkan produktivitas yang lebih tinggi. Namun, hal ini tidak didukung oleh kesuburan tanah yang optimal serta memiliki kandungan nutrisi yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara dosis bioamelioran (B) dan interval pemberian larutan hara (F) terhadap bakteri pelarut fosfat (BPF), P-tersedia, serapan P, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per buah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan (dosis bioamelioran: 0, 3, 6 t ha-1) dan interval pemberian larutan hara: setiap satu, tiga, dan lima hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh interaksi terhadap rerata berat buah, dengan perlakuan terbaik adalah dosis bioamelioran 3 t ha-1 dan interval pemberian larutan hara satu kali sehari. Pemberian bioamelioran mampu meningkatkan P-tersedia. Interval pemberian larutan hara mempengaruhi kandungan P-tersedia tanah dan bobot buah per tanaman. Aplikasi bioamelioran dengan 3 t ha-1 dan interval pemberian larutan hara satu kali sehari menghasilkan hasil cabai merah tertinggi. Kata kunci: Cabai Merah, Mikroba Menguntungkan, Pembenah Tanah, Unsur Hara

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.40002
Trend perubahan cuaca ekstrem dan pengaruhnya terhadap tanaman kedelai di Kabupaten Majalengka Jawa Barat
  • Jul 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Ruminta Roem + 2 more

Recent climate change has led to an increase in extreme weather events which pose a threat to the agricultural sector, including soybean crops that has high nutritional value and is in demand by the public. However, the impact of extreme weather on soybean production remains to be scientifically validated. Therefore, research is needed to determine extreme weather events and their effects on soybean production in Majalengka Regency. The method used in this research was quantitative descriptive by carrying out trend analysis of extreme weather such as maximum rainfall, maximum and minimum temperatures, wet spells, dry spells and maximum wind speed and Pearson correlation analysis of extreme weather and harvest area, productivity and production of soybean. The research was carried out using daily weather element data from 1990 to 2021 obtained from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological, and Geophysics Jatiwangi Majalengka Regency. The data regarding the harvest area, productivity, and production of soybeans were obtained from the Agriculture Service and the Central Bureau of Statistics Majalengka Regency. The research results show that extreme weather in Majalengka Regency has changed with indications of an increase in minimum temperature of 0.6 ⁰C, maximum temperature of 0.12 ⁰C, wet spell for 3 days, dry spell for 1-day, maximum wind speed of 17.6 km/hour, and a decrease in maximum rainfall of 43.7 mm. However, besides the increase in minimum temperature, these extreme weather changes did not affect the decrease in soybean production, productivity, and harvest area, while maximum temperature and wet spell significantly affected the increase in soybean productivity. ABSTRAK Perubahan iklim menyebabkan meningkatnya fenomena cuaca ekstrem yang menjadi ancaman bagi sektor pertanian termasuk pada tanaman kedelai yang memiliki nilai gizi tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, pengaruh cuaca ekstrem terhadap produksi tanaman kedelai masih perlu dibuktikan secara ilmiah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh kejadian cuaca ekstrem terhadap produksi kedelai di Kabupaten Majalengka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan melakukan analisis trend cuaca ekstrem seperti curah hujan maksimum, suhu maksimum dan minimum, wet spell, dry spell, kecepatan angin maksimum, analisis korelasi Pearson antara cuaca ekstrem dengan luas panen, serta produktivitas dan produksi kedelai. Penelitian ini menggunakan data unsur cuaca harian dari tahun 1990 hingga 2021 diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jatiwangi Majalengka. Data luas panen, produktivitas dan produksi tanaman kedelai didapatkan dari Dinas Pertanian dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka. Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi cuaca ekstrem di Kabupaten Majalengka, yang ditandai dengan peningkatan suhu miminum sebesar 0,6 ⁰C, suhu maksimum sebesar 0,12 ⁰C, wet spell selama 3 hari, dry spell selama 1 hari, kecepatan angin maksimum mencapai 17,6 km jam-1, dan penurunan curah hujan maksimum sebesar 43,7 mm. Namun demikian, selain peningkatan suhu minimum, perubahan cuaca ekstrem tersebut tidak berpengaruh terhadap penurunan produksi, produktivitas, dan luas panen kedelai, sedangkan suhu maksimum dan wet spell berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas tanaman kedelai. Kata kunci: Cuaca Ekstrem, Kedelai, Korelasi, Produksi, Tren

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.15575/j.agro.45169
Respon bibit kopi liberika bermikoriza terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut
  • Jul 31, 2025
  • Jurnal AGRO
  • Elis Kartika + 2 more

Drought stress is one of the main limiting factors affecting the growth and nutrient uptake of Liberica coffee seedlings in peat soil media. Therefore, appropriate technologies are needed to address this issue, one of which is the application of biological agents such as mycorrhiza. This study aims to evaluate the response of mycorrhiza-inoculated Liberica coffee seedlings to drought stress in peat soil media. The experiment was conducted using a factorial Split-Plot Design with two treatment factors. The first factor (Main Plot) was drought stress, consisting of five levels: 100%, 80%, 60%, 40%, and 20% of field capacity water availability. The second factor (Sub-Plot) was different mycorrhizal treatments, consisting of four levels: no mycorrhiza inoculation, Glomus sp-1a, Glomus sp-3c, and a combination of Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c. The results showed that mycorrhiza inoculation, particularly the combination of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c, significantly improved the growth and nutrient uptake of Liberica coffee seedlings in peat soil under drought stress conditions. The combination of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c provided optimal growth and nutrient uptake up to a drought stress level of 40%, while its effectiveness tended to decline at higher stress levels. These findings indicate that mycorrhizae play a crucial role in enhancing the drought tolerance of Liberica coffee seedlings in peat soil media. ABSTRAK Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor pembatas utama dalam pertumbuhan dan penyerapan hara bibit kopi liberika pada media tanah gambut. Oleh karena itu diperlukan suatu teknologi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya melalui aplikasi agen hayati berupa mikoriza. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji respons bibit kopi liberika bermikoriza terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Petak Terbagi faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu cekaman kekeringan yang terdiri dari 5 taraf: 100%, 80%, 60%, 40% dan 20% air kapasitas lapang sebagai petak utama, dan berbagai jenis mikoriza yang terdiri dari 4 taraf perlakuan: tanpa inokulasi mikoriza, Glomus sp-1a, Glomus sp-3c, serta kombinasi Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza, khususnya kombinasi Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c, dapat meningkatkan pertumbuhan dan penyerapan hara bibit kopi Liberika pada media tanah gambut di bawah kondisi cekaman kekeringan. Kombinasi mikoriza Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c memberikan peningkatan pertumbuhan dan penyerapan hara yang optimal hingga tingkat cekaman 40%, sementara pada tingkat cekaman yang lebih tinggi efektivitas kombinasi mikoriza cenderung menurun. Temuan ini mengindikasikan bahwa mikoriza berperan dalam meningkatkan ketahanan bibit kopi Liberika terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut. Kata kunci: Adaptasi, Kolonisasi, Nutrisi, Simbiosis