Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Open Access Icon
  • Front Matter
  • 10.24817/jkk.v43i2.7432
Preface JKK Vol. 43 No.2 Oktober 2021
  • Oct 30, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Jkk Editor

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24817/jkk.v43i2.7431
Cover Vol.43 No.2 Oktober 2021
  • Oct 30, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Jkk Editor

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24817/jkk.v43i2.7433
Indeks JKK Vol.43 No.2 Oktober 2021
  • Oct 30, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Jkk Editor

  • Open Access Icon
  • Journal Issue
  • 10.24817/jkk.v43i2
  • Oct 30, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24817/jkk.v43i2.7184
PENGARUH INTERKALASI MIKRO MONTMORILLONIT DENGAN MIKRO KITOSAN SEBAGAI ADSORBEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU MINYAK NILAM
  • Oct 29, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Febri Susanti + 2 more

Telah dilakukan interkalasi Mikro MMT dengan Mikro kitosan sebagai adsorben untuk meningkatkan mutu minyak nilam. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi Mikro MMT dari bentoit dan menginterkalasinya pada mikro kitosan untuk membuat suatu adsorben serta melihat peningkatan mutu minyak nilam dengan penambahan adsorben Mikro MMT dengan Mikro kitosan. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan adanya peningkatan basal spacing dari 7,9497 Ă… menjadi 8,3537 Ă… setelah diinterkalasi dengan Nanokitosan ke dalam interlayer Mikro MMT, hal ini mendanakan bahwa Mikro kitosan telah berhasil terinterkalasi ke dalam interlayer Mikro MMT. Pengujian minyak nilam menggunakan GC-MS menunjukkan adsorben Mikro MMT terinterkalasi dengan Mikro kitosan mengalami penurunan persen area PA sebesar 6,98% dari 39,33% menjadi 32,35%. Perbdaningan pada minyak nilam murni dengan adsorben Mikro MMT dan Mikro kitosan mengalami peningkatan sebesar 2,05%, dimana persen area PA pada minyak nilam murni adalah 30,30% sedangkan persen area PA pada interkalasi Mikro MMT dan Mikro kitosan yaitu sebesar 32,35%. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa adsorben Mikro MMT dan Mikro kitosan dapat meningkatkan mutu minyak nilam.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 3
  • 10.24817/jkk.v43i2.6980
RAPID SCREENING OF ANTIBACTERIAL AND ANTIOXIDANT METABOLITES FROM ENDOPHYTIC FUNGI ISOLATED FROM Papuacedrus papuana BY TLC-BIOAUTOGRAPHY
  • Oct 28, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Praptiwi Praptiwi + 6 more

Papuacedrus papuana is a rare plant that grows in highland of Papua. The in vitro antibacterial activity and antioxidant capacity of 17 endophytic fungal extracts isolated from P. papuana stem were investigated by TLC-bioautography. The antibacterial activity was assessed against Staphylococcus aureus InaCC B4 and Escherichia coli InaCC B5. The antioxidant capacity was assessed by DPPH radical scavenging assay. All of 17 endophytic fungi were grouped into 7 taxa based on their morphological traits. The results showed that 11 fungal extracts were active against S. aureus InaCC B4, 15 fungal extracts were active against E. coli InaCC B5 and 6 extracts had antioxidant activity. Further analysis of active extracts by eluted TLC-bioautography showed that there are several compounds responsible for antibacterial or antioxidant activity in one extract. The results showed that there is a diversity of endophytic fungi inhabited P. papuana stem and these endophytic fungi might be used as a good source of novel antibacterial or antioxidant.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24817/jkk.v43i2.7137
GREEN DEKORASI Au/ZnO NANOKOMPOSIT MELALUI MEDIA EKSTRAK DAUN GAHARU (Aquilaria malaccenensis L.) DAN PENENTUAN NILAI SUN PROTECTION FACTOR
  • Oct 28, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Aditya Ayuwulanda + 3 more

Tujuan penelitian ini adalah mensintesis nanokomposit Au/ZnO melalui media green synthesis dengan memanfaatkan ekstrak daun gaharu ( Aquilaria malaccenensis L ). Ekstrak daun gaharu berfungsi sebagai bioreduktor alami dan capping agent dalam pembentukan nanokomposit Au/ZnO. Kehadiran koloid Au pada permukaan ZnO dapat merubah nilai celah pita, struktur kristal, ukuran partikel, dan nilai sun protection factor (SPF) ZnO. Au/ZnO nanokomposit memiliki nilai celah pita sebesar 3,0 eV dan hasil karakterisasi X-ray diffraction (XRD) menunjukkan puncak kristalinitas pada 2: 33,6 o ; 35,1 o ; 36,3 o ; 46,6 o ; 54,7 o ; 59,7 o ; 64,3 o ; dan 66,2 o dengan rata-rata ukuran kristalit sebesar 37 nm. Gugus fungsi yang terkandung dalam ekstrak daun gaharu adalah O-H (3300 cm -1 ) berfungsi sebagai bioreduktor ion Au 3+ menjadi Au 0 , C=C (1620 cm -1 ), dan C-N (1350 cm -1 ) berfungsi sebagai sumber basa dalam pembentukan Zn(OH) 2 menjadi ZnO. Vibrasi Au-Zn-O terlihat pada bilangan gelombang 498 cm -1 . Nilai SPF pada Au/ZnO nanokomposit sebesar 18,28. Dari data karakterisasi menunjukkan bahwa media ekstrak daun gaharu dapat digunakan sebagai bioreduktor alami, sumber basa, dan capping agent dalam dekorasi Au pada permukaan ZnO (Au/ZnO) nanokomposit.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24817/jkk.v43i2.6516
SINTESIS MAGNETIT DARI LIMBAH TAMBANG BAUKSIT MENGGUNAKAN TEMPLAT CETYLTRIMETHYLAMMONIUMBROMIDE
  • Oct 27, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Syaila Nurhayati + 2 more

Red mud dari tailing bauksit memiliki komposisi unsur besi cukup tinggi, yang memungkinkannya dijadikan bahan dasar sintesis magnetit. Pada penelitian ini dilakukan sintesis magnetit dari red mud dengan metode kopresipitasi menggunakan reagen pengendap NH 4 OH. Untuk mengontrol distribusi ukuran partikel yang dihasilkan, digunakan templat cetyltrimethylammoniumbromide ( CTAB ) dengan konsentrasi 0, 1 dan 2 mM. Karakterisasi magnetit hasil sintesis dilakukan menggunakan metode spektrofotometri inframerah (FTIR), difraksi sinar-X (XRD), pemindaian dengan mikroskop elektron (SEM), dan analisis ukuran partikel (PSA). Hasil penelitian memperlihatkan keberhasilan sintesis magnetit, yang dikonfirmasi melalui spektrum FTIR dan XRD. Vibrasi gugus Fe-O oktahedral dan tetrahedral dari magnetit (Fe 3 O 4 ) dikarakterisasi melalui bilangan gelombang sekitar 420 cm -1 dan 550 cm -1 pada spektrum FTIR, yang didukung oleh data XRD pada nilai 2q = 30,29 ; 36,15 dan 63,55, masing-masing untuk bidang kristal (220), (311) dan (440) dari kristal magnetit. Hasil PSA menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi CTAB menurunkan rata-rata ukuran partikel dan nilai indeks polidispersi (PI) partikel magnetit. Hal tersebut mengindikasikan terjadinya peningkatan homogenitas dispersi partikel dalam larutan. Namun, nilai PI yang dihasilkan masih relatif tinggi (>1,68) yang diperkirakan akibat terjadinya aglomerasi. Hal tersebut dikonfirmasi melalui hasil SEM yang memperlihatkan aglomerasi pada morfologi permukaan magnetit.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 5
  • 10.24817/jkk.v43i2.6718
PEMBUATAN BIOFOAM BERBAHAN DASAR AMPAS TEBU DAN WHEY
  • Oct 27, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Linda Hevira + 2 more

Biofoam merupakan kemasan alternatif pengganti styrofoam berbahan dasar pati dengan tambahan serat untuk memperkuat struktur fisis mekanis. Biofoam dirancang sebagai alternatif kemasan makanan yang dapat didegradasi karena bahan baku pembuatannya bersumber dari bahan nabati yang mudah diuraikan oleh mikroba di dalam tanah, sehingga menjadikannya kemasan yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengetahui properti biofoam yang dihasilkan dari limbah pengolahan keju yaitu whey sebagai protein dan ampas tebu sebagai reinforce struktur. Tahapan dalam penelitian ini terdiri dari pembuatan Bioform menggunakan metoda baking process , kemudian dilanjutkan dengan karakterisasi bioform yang dihasilkan. Pembuatan biofoam terdiri dari 5 formula dimana berat whey untuk setiap formula divariasikan dan formula terbaik yang dihasilkan dilanjutkan dengan menambahkan variasi PVA ( polivinil alcohol ) untuk menghasilkan sifat elastis pada bioform . B iofoam yang dihasilkan memiliki permukaan sedikit kasar, warna beragam seperti putih kecoklatan, putih dan putih pucat serta aroma susu. Uji daya serap air dengan hasil 0,045%-0,11%, uji biodegrability dengan formula II + PVA 2% dan 3% yang terurai sempurna dalam waktu 3 minggu dan formula II yang hampir terurai sempurna, uji foto optik yang memperlihatkan permukaan rata dan ketebalan 0,2 - 0,3 mm.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 1
  • 10.24817/jkk.v43i2.7133
KARAKTERISASI LABEL KOLORIMETRIK DARI KARAGENAN/NANOFIBER SELULOSA DAN EKSTRAK UBI UNGU UNTUK INDIKATOR KERUSAKAN PANGAN
  • Oct 27, 2021
  • Jurnal Kimia dan Kemasan
  • Bunda Amalia + 3 more

Pada peneltian ini digunakan sumber antosianin dari ekstrak ubi jalar ungu ( Ipomoea batatas) (EUU) dengan matriks karagenan dan nano fiber selulosa (NFC) dari serat daun nanas ( Ananas comosus ) . Bahan yang digunakan merupakan bahan alam yang dapat diperbaharui dan digunakan pada industri pangan. Salah satunya adalah industri kemasan untuk digunakan sebagai kemasan aktif dan kemasan pintar, yang dapat digunakan untuk memonitor dan menginformasikan kepada konsumen terkait kondisi pangan secara langsung. Untuk mempersiapkan label indikator ini, matrik karagenan/NFC ditambahkan ekstrak zat warna dari ubi ungu dengan beberapa konsenstrasi (0%,1%,3%,5% v/v), kemudian dibentuk film dengan menggunakan metode casting . Beberapa karakterisasi dilakukan antara lain, uji stabilitas zat warna terhadap pH, morfologi sifat mekanik dan respon warna label indikator terhadap kerusakan pangan. Hasil yang didapatkan menunjukan label indicator tersebut sensitive terhadap perubahan pH. Perubahan warna label yaitu dari warna pink menjadi bening kehijauan. Dari hasil uji sifat mekanik label yang memilik nilai kuat tarik paling tinggi adalah label dengan penambahan ekstrak 1% yaitu sebesar 3,01 Mpa, sedangkan untuk label dengan penambahan ekstrak diatas 1% sifat mekaniknya cenderung menurun. Begitu juga dengan hasil elongasi dan WVTR, penambahan ekstrak menyebabkan label cenderung bersifat hidrofil, dan hal ini dibutuhkan dalam mekanisme perubahan warna label. Dari hasil ini mengindikasaikan bahwa penambahan EUU ke dalam matrik karagenan/NFC memiliki potensi untuk dijadikan idikator kolorimetrik deteksi kerusakan pangan.