Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 2
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.1238
Model Pembelajaran Means-Ends Analysis dalam Menumbuhkembangkan Kemampuan Problem Solving dan Productive Disposition
  • Oct 29, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Andi Aras

Abstract:The problem solving and productive disposition ability of students is still low due to the inaccuracy of the learning model used by teachers in learning mathematics. This study aims to determine the effectiveness of the Means-Ends Analysis (MEA) learning model in developing students' problem solving and productive disposition abilities. This type of research is pre-experimental research with One-Group Pretest-Posttest Design. The data analyzed are the results of students' mathematical problem solving and productive disposition data of students after learning using the Means-Ends Analysis (MEA) learning model. From the results of this study, it can be seen that the Means-Ends Analysis (MEA) learning model is effective in developing students' problem solving and productive disposition abilities with the effectiveness criteria: (1) The results of students' problem-solving abilities are categorized to be effective both descriptively and inferentially in terms of posttest scores, normalized gain, and classical completeness. (2) The productive disposition of students is categorized effectively both descriptively and inferentially in terms of the score of productive disposition and increase in productive disposition. Abstrak:Rendahnya kemampuan problem solving dan productive disposition peserta didik disebabkan oleh ketidaktepatan model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan mengetahui keefektifan model pembelajaran Means-Ends Analysis (MEA) dalam menumbuhkembangkan kemampuan problem solving dan productive disposition peserta didik. Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-experimental dengan desain One-Group Pretest-Posttest Design. Data yang dianalisis adalah hasil problem solving dan productive disposition peserta didik setelah pembelajaran matematika dengan menggunakan Means-Ends Analysis (MEA). Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa Means-Ends Analysis (MEA) efektif dalam menumbuhkembangkan kemampuan problem solving dan productive disposition peserta didik dengan kriteria keefektifan: (1) Hasil kemampuan problem solving peserta didik dikategorikan efektif baik secara deskriptif maupun secara inferensial yang ditinjau dari: skor posttest, gain ternormalisasi, dan ketuntasan klasikal. (2) Productive disposition peserta didik dikategorikan efektif baik secara deskriptif maupun secara inferensial yang ditinjau dari: skor productive disposition dan peningkatan productive disposition.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 1
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.1542
Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Masalah dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Aljabar
  • Oct 27, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Basri Basri + 4 more

Abstract:Lembar Kerja Peserta Didik (LPKD) can help students understand the concept of material, both theoretically and in real events that often occur in everyday life. This study tries to determine the development process and quality of LKPD to improve students' understanding the concepts of algebra. The development research used refers to the Plomps model, which includes 4 phases: (a) the initial investigation, (b) the design, (c) the realization, and (d) the test, evaluation, and revision. The product assessment instrument used was the LKPD validation sheet, the LKPD observance sheet, student and teacher response questionnaires, student and teacher activity observation sheets, and tests of students' ability to understand mathematical concepts. The LKPD that was designed and tested on grade VII students at one of the schools in Soppeng had met the criteria of being valid, effective, and practical.Abstrak:Lembar Kerja Peserta Didik (LPKD) berbasis masalah dapat membantu peserta didik memahami konsep materi, baik secara teori maupun dalam peristiwa nyata yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini mencoba mengetahui proses pengembangan dan kualitas LKPD matematika berbasis masalah untuk meningkatkan pemahaman konsep aljabar peserta didik. Penelitian pengembangan yang digunakan mengacu pada model pengembangan Plomp, yang meliputi 4 fase, yaitu: (a) fase investigasi awal, (b) fase desain, (c) fase realisasi, dan (d) fase tes, evaluasi, dan revisi. Instrumen penilaian produk yang digunakan adalah lembar validasi LKPD, lembar pengamatan keterlaksaan LKPD, angket respon peserta didik dan guru, lembar pengamatan aktivitas peserta didik dan guru, dan tes kemampuan pemahaman konsep matematika peserta didik. LKPD yang didesain dan diujicobakan kepada siswa kelas VII di salah satu sekolah di Soppeng telah memenuhi kriteria valid, efektif dan praktis.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.1234
Analisis Kemampuan Representasi Matematis Siswa dengan Model Group Investigation Pada Materi Turunan
  • Oct 24, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Putri Sucita Sari + 2 more

Abstract:The mathematical representation ability of students at a Senior High School in Singkawang is still low. This is due to the habit of students receiving direct learning and passive activities. This article tries to find out the differences in mathematical representation abilities between students who are given the Group Investigation (GI) learning model and students who are given the direct learning model and describe the mathematical representation abilities of students in terms of learning activities with the GI learning model. The results showed that there were differences in the increase in the mathematical representation ability of students who were given the GI learning model and those who were given the direct learning model. The active mathematical representation ability of students is in the high category, while students with moderate and passive activities have moderate representation skills. Abstrak:Kemampuan representasi matematis siswa di salah satu SMA Negeri di Singkawang masih rendah. Hal ini dikarenakan kebiasaan siswa menerima pembelajaran langsung dan aktivitas yang pasif. Artikel ini mencoba mengetahui perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang diberikan model pembelajaran Group Investigation (GI) dengan siswa yang diberikan model pembelajaran langsung serta mendeskripsikan kemampuan representasi matematis siswa ditinjau dari aktivitas belajar dengan model pembelajaran GI. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang diberikan model pembelajaran GI dengan siswa yang diberikan model pembelajaran langsung. Kemampuan representasi matematis siswa yang aktif berada pada kategori tinggi, sedangkan siswa degan aktivitas sedang dan pasif memiliki kemampuan representasi sedang.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.1544
Pengembangan Lembar Kerja Geometri Transformasi Sebagai Asesmen Kemampuan Kognitif Mahasiswa berdasarkan RECCE-MODEL
  • Oct 23, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Emma Aidha Yasmine + 2 more

Abstract:The application of real-life problems to Students’ Worksheet in learning transformation geometry makes learning meaningful. This is done in this study by developing Students’ Worksheet using a RECCE-MODEL framework. This research uses research and development type. The 3D model used in this study contains three stages, namely the understanding stage, the manufacturing stage, and the development stage. This study uses a student response questionnaire sheet, validation sheet, and the results of students’ worksheet work as research instruments. From the research results, the students’ worksheet developed was declared valid with a percentage of 79%, practical with a percentage of 85%, and effective by grouping students' cognitive abilities based on the RECCE-MODEL. Thus, it can be concluded that the transformation geometry worksheet developed can measure the cognitive abilities of students. Abstrak:Penerapan LKM geometri transformasi dalam kehidupan nyata menjadikan pembelajaran matematika lebih bermakna. Hal ini dilakukan pada penelitian ini dengan mengembangkan LKM menggunakan kerangka berpikir RECCE-MODEL. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model 3D yaitu Define (tahap pengertian), Design (tahap pembuatan), dan Develop (tahap pengembangan). Penelitian ini menggunakan lembar angket respon mahasiswa, lembar validasi, dan hasil pengerjaan LKM sebagai instrumen penelitian. Dari hasil penelitian, LKM yang dikembangkan dinyatakan valid dengan persentase 79%, praktis dengan persentase 85%, dan efektif dengan pengelompokkan kemampuan kognitif mahasiswa berdasarkan RECCE-MODEL. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lembar kerja geometri transformasi yang dikembangkan dapat mengukur kemampuan kognitif mahasiswa.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 1
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.1519
Profil Pengetahuan Guru Sekolah Dasar tentang Higher Order Thinking Skill dalam Pembelajaran Matematika
  • Oct 17, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Rafiq Badjeber + 3 more

Abstract:Higher-order thinking skills are the abilities needed in preparing students to face global challenges in the 21st century. This research aims to describe the profile of elementary school teacher knowledge about higher-order thinking skills in mathematics learning. The research is a descriptive study with a qualitative approach. The subjects in this research consisted of 3 elementary school teachers in Palu. Data collection was carried out through questionnaires and interviews. The results indicate that not all teachers can interpret higher-order thinking skills well. The teacher's knowledge about the implementation of mathematics learning which is oriented higher-order thinking skills is also still low.Abstrak:Higher order thinking skill merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan global. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pengetahuan guru SD tentang higher order thinking skill dalam pembelajaran matematika. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 3 orang guru Sekolah Dasar yang berada di kota Palu. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa tidak semua guru mengetahui makna higher order thinking skill dengan baik. Pengetahuan guru tentang implementasi pembelajaran matematika yang berorientasi higher order thinking skill juga masih rendah.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.1177
Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Kemampuan Spasial Matematis
  • Oct 10, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Citra Utami

Abstract:The mistake in solving the problems are important to know. One of the most important skills, especially in the field of geometry, is mathematical spatial ability. Therefore, this study aims to determine the form of student mistakes in solving mathematical spatial ability questions. This research is descriptive qualitative. The instrument used was a test of students' mathematical spatial abilities. The subjects in this study were students of class XA who attended one of the Madrasa Aliyah Swasta in Singkawang, totaling 30 people. The results showed that the form of the mistake made by students in solving problems included: 1) misconceptions consisted of errors in determining the position of the image, errors in drawing, errors in determining the formula for the distance from the point to the line, and errors in determining the formula for the distance from the point to the field; and 2) operating errors consist of errors in the calculation process.Abstrak:Kesalahan dalam menyelesaikan soal merupakan suatu informasi yang penting untuk diketahui. Salah satu kemampuan yang penting dikuasai khususnya pada bidang geometri adalah kemampuan spasial matematis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal kemampuan spasial matematis. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan spasial matematis siswa. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XA yang bersekolah di salah satu Madrasa Aliyah Swasta di Singkawang yang berjumlah 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal meliputi: 1) kesalahan konsep terdiri dari kesalahan dalam menentukan posisi gambar, kesalahan dalam menggambar, kesalahan dalam menentukan rumus jarak titik ke garis, dan kesalahan dalam menentukan rumus jarak titik ke bidang; dan 2) kesalahan operasi terdiri dari kesalahan dalam melakukan proses perhitungan.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 4
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.1002
Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Koordinat Cartesius Menurut Teori Kastolan
  • Oct 3, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Ihda Mutimmatul Fitriyah + 4 more

Abstract:Kastolan's theory divides 3 types of errors, namely conceptual, computational, and procedural errors. This study aims to analyze students' errors in solving Cartesian coordinate problems according to Kastolan's theory based on mathematical abilities. The subjects were 9 students of class 8E in a school in Surabaya. The method is descriptive qualitative with a test instrument and interviews. The results showed that conceptual errors were the most common mistakes with 12 answers or 54.5%. The remaining 6 answers or 27.3% procedural errors and 4 answers or 18.2% calculation errors. The conceptual errors of subjects with high, medium, and low mathematical abilities are wrong in determining formulas, theorems, or definitions to answer a problem, errors in using formulas and theorems, or inappropriate definitions. In the calculation error, the subject made an error in calculating the value of arithmetic operation and the placement of the constants-variables. Whereas for procedural errors the subject did not work on the problem in systematic steps.Abstrak:Teori Kastolan membagi 3 jenis kesalahan yaitu kesalahan konseptual, hitung dan prosedural. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita koordinat Cartesius menurut teori Kastolan berdasarkan kemampuan matematika. Subjek penelitian ini adalah 9 orang siswa kelas 8E pada salah satu Sekolah di Surabaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan instrumen tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan konseptual merupakan kesalahan yang paling banyak dilakukan yaitu sebanyak 12 jawaban atau 54,5%. Sisanya 6 jawaban atau 27,3% kesalahan prosedur dan 4 jawaban atau 18,2% kesalahan hitung. Pada kesalahan konseptual subjek dengan berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah, salah dalam menentukan rumus, teorema atau definisi. Untuk menjawab suatu masalah, kesalahan penggunaan rumus dan teorema atau definisi yang tidak sesuai. Pada kesalahan hitung subjek melakukan kesalahan dalam menghitung nilai suatu operasi hitung dan penempatan konstanta-variabel. Sedangkan untuk kesalahan prosedural subjek tidak mengerjakan soal dengan langkah-langkah yang sistematis.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24256/jpmipa.v8i2.857
Content Analysis tentang Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Open Ended untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa Dalam Belajar Matematika
  • Oct 3, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Nurhayati Nurhayati

Abstract:This article presents the results of content analysis of 19 books and 18 journals grouped according to the topic of collaborative learning, open-ended approach, and students’ self confidence in learning mathematics. From this analysis, it is found that collaborative learning is highly recommended. The tasks given should use open-ended problems and intensively use various approaches. In the world of education, the students should be given the freedom to exchange ideas with other friends, while the teacher just acts as a facilitator, not as an expert. By learning that way, it is expected that the students can demonstrate clearly when they have to work individually and when they have to work collaboratively; this can indirectly increase the students' self confidence.Abstrak:Artikel ini menyajikan hasil analisis content terhadap 19 buku dan 18 jurnal yang dikelompokkan sesuai dengan topik pembelajaran kolaboratif, pendekatan open-ended, dan kepercayaan diri siswa dalam belajar matematika. Dari analisis tersebut diperoleh bahwa pembelajaran kolaboratif sangat disarankan untuk digunakan. Tugas-tugas yang diberikan seharusnya menggunakan permasalahan open-ended dan secara intensif menggunakan berbagai macam pendekatan. Dalam dunia pendidikan sebaiknya siswa diberikan kebebasan untuk bertukar pikiran dengan teman lainnya sedangkan guru cukup berperan sebagai fasilitator bukan sebagai seorang ahli. Dengan pembelajaran yang seperti ini, harapannya mereka bisa mendemonstrasikan dengan jelas kapan mereka bekerja sendiri dan kapan mereka bekerja bersama-sama, hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.24256/jpmipa.v8i1.975
Tipe Justifikasi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Matematika
  • Apr 11, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Muhammad Ilman Nafi'an

Abstract:This study aims to describe the Justification Type of Islamic primary school students in Learning There are three cognitive processes that occur in learning mathematics, namely (1) The process of acquiring new information (2) The process of transforming information received (3) Testing the relevance and accuracy of knowledge, The research approach used in this study is qualitative research. This study involved grade 5 Islamic primary school al Bahjah Tulungagung Students as research subjects. The instruments in this study were of two kinds, namely the main instrument and the assistive instrument. The main instrument is the researcher himself, while there are 2 (two) types of assistive instruments, namely: Mathematics Test and interview guidelines. The results of this study are descriptions of each type of justification, at the Assumption (2) Vague / broad statement stage. (3) Rule, (4) Procedural description. (5) Own explanation. In this study, one type of justification was found, namely the experiential connection.Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tipe Justifikasi pada siswa SD dalam Pembelajaran Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu (1) Proses perolehan informasi baru (2) Proses mentransformasikan informasi yang diterima (3) Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan, Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini melibatkan 5 Siswa SD Islam Al Bahjah Tulungagung sebagai subjek penelitian. Instrumen dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu instrumen utama dan instrumen bantu. Instrumen utama adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen bantu ada 2 (dua) macam, yaitu: Tes Matematika dan pedoman wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah deskripsi dari masing-masing tipe justifikasi, pada tahap Assumption (2) Vague/broad statement. (3) Rule, (4) Procedural description. (5) Own explanation. Dalam penelitian ini ditemukan satu tipe justifikasi yaitu eksperience connection.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 2
  • 10.24256/jpmipa.v8i1.800
Analisis Kemampuan Siswa dalam Pembuktian Kesebangunan Dua Segitiga
  • Apr 11, 2020
  • Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • Yayan Eryk Setiawan

Abstract:Mathematics learning in junior high is inseparable from proof, including of congruence of two triangles. This study analyzes the ability to prove the similarity of two triangles. The procedure used (1) grouped the answers of 51 students based on categories of able, underprivileged and unable, (2) analyzing the ability of evidence-based basic mathematical knowledge, representation of evidence, and assumptions used. The result (1). students who can prove have basic knowledge of the Pythagoras theorem, algebra operations, and the principle of equality, the representations used are symbolic and formal evidence, the assumptions used are logical. (2) Students who are unable to prove to have basic knowledge of congruence, comparison, and the principle of equality, the representation used is visual and formal evidence, the assumptions used are logical. (3) Students who have not been able to prove to have the basic knowledge that is not relevant in supporting evidence, the representation used is symbolic evidence but is wrong in algebraic manipulation and informal evidence, students' assumptions are lacking or illogical.Abstrak:Pembelajaran matematika di SMP tidak terlepas dari pembuktian termasuk kesebangunan dua segitiga. Penelitian ini menganalisis kemampuan siswa dalam membuktikan kesebangunan dua segitiga. Prosedur yang digunakan (1) mengelompokkan jawaban 51 siswa berdasarkan kategori mampu, kurang mampu dan belum mampu, (2) menganalisis kemampuan pembuktian berdasarkan pengetahuan matematis dasar, representasi bukti, serta asumsi yang digunakan. Diperoleh hasil bahwa (1). siswa yang mampu membuktikan memiliki pengetahuan dasar teorema Pythagoras, operasi aljabar, dan prinsip kesetaraan, representasi yang digunakan berupa bukti simbolis dan formal, asumsi yang digunakan adalah logis. (2) Siswa yang kurang mampu membuktikan memiliki pengetahuan dasar kesebangunan, perbandingan, dan prinsip kesetaraan, representasi yang digunakan adalah bukti visual dan formal, asumsi yang digunakan adalah logis. (3) Siswa yang belum mampu membuktikan memiliki pengetahuan dasar yang tidak relevan dalam mendukung pembuktian, representasi yang digunakan adalah bukti simbolis, tetapi salah dalam manipulasi aljabar dan bukti tidak formal, asumsi siswa kurang atau tidak logis.