Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 5
  • 10.26740/jpi.v6n2.p1-20
ANALISIS KATA-KATA SERAPAN DARI DIALEK MIN NAN DALAM BAHASA INDONESIA
  • Dec 31, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Yinghan Guo

Bahasa Indonesia adalah sebuah bahasa yang termasuk multibahasa. Kosakata bahasa Indonesia, selain berasal dari bahasa asli yaitu bahasa Melayu (Riau), banyak bahasa dari etnis lainnya yang dipinjam sebagai bagian dalam bahasa Indonesia sehingga memperkaya. Kata semacam itu disebut sebagai bahasa serapan, baik yang berasal dari bahasa-bahasa daerah yang ada di seluruh wilayah Indonesia maupun dari bahasa asing, misalnya bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa asing lainnya. Salah satu bahasa asing yang ikut mewarnai kekayaan kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa daerah dialek Min Nan , yaitu salah satu bahasa daerah di wilayah Tiongkok. Pada saat ini, kata-kata serapan dari dialek Min Nan tidak hanya diintegrasikan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga memiliki dampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Artikel ini mengulas beberapa topik, yaitu: 1) deskripsi proses historis pengenalan kata-kata serapan dalam dialek Min Nan dalam bahasa Indonesia, 2) analisis status perkembangan kosakatadialek Min Nan dalam bahasa Indonesia, 3) deskripsi hubungan antara kosakata dialek Min Nan dengan bahasa Indonesia kontemporer dan perubahannya. Sumber data yang digunakan adalah lima macam kamus. Adapun manfaat yang diperoleh setelah penelitian adalah dapat merangsang minat belajar bagi pelajar bahasa Mandarin di Indonesia, sekaligus sebagai ajang promosi lahirnya suatu sikap saling pengertian sehingga terjalin kerja sama dan persahabatan antara kedua bangsa dan negara.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.26740/jpi.v6n2.p34-41
PENGARUH PENGGUNAAN CLOZE PROCEDURE TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN KALIMAT PADA ANAK TUNARUNGU
  • Dec 31, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Putriana Yuniarti

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan cloze procedure terhadap peningkatan kemampuan menyusun kalimat anak tunarungu kelas IV SLB-B YRTRW Surakarta tahun 2020. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen One-Group Pre-test – post-test Design. Subjek penelitian yang digunakan adalah seluruh siswa kelas IV SLB-B YRTRW Surakarta tahun 2020 yang berjumlah 9 siswa. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik tes. Dalam pelaksanaan analisis data dilakukan dengan statistic non parametric jenis Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil penelitian didapatkan bahwa kemampuan menyusun kalimat anak meningkat signifikan dengan nilai Asymp Sig. (2-tailed) sebesar 0,8%. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh penggunaan cloze procedure terhadap kemampuan menyusun kalimat pada anak tunarungu kelas IV SLB-B YRTRW Surakarta tahun 2020. Kata Kunci : Cloze Procedure, menyusun kalimat, anak tunarungu.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.26740/jpi.v6n2.p23-33
KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA DEBAT DI LIVE STREAMING VIDEO #KupasTuntas
  • Dec 31, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Mulyono Mulyono

ABSTRAK Pada era internet sekarang semua program yang berbasis video dapat diunggah dan diviralkan dalam program video streaming di internet. Karena ada program video streaming, politisi kini dapat dengan mudah muncul di depan umum (publik) melalui internet dan menjadi ‘public figure”. Karena perilaku berbahasanya, mereka sering menjadi sorotan masyarakat. Tulisan ini membahas kesantunan berbahasa para politisi dengan mengangkat tiga masalah, yaitu (1) bagaimana tingkat kesantunan berbahasa para politisi; (2) Bagaimana bentuk satuan verbal yang dipakai para politisi ketika berbahasa; dan (3) Apa saja faktor yang melatarbelakangi pelanggaran dan ketaatan kesantunan berbahasa para politisi? Data diambil dari sepuluh tayangan debat antarpolitisi yang ada dalam program video streaming dalam acara #KupasTuntas. Pemilihan kesepuluh tayangan itu menggunakan teknik acak bertujuan ( purposive random sampling ) dan diperoleh enam orang politisi. Teori yang digunakan untuk menganalisis perilaku berbahasa mereka adalah gabungan Teori Kerja Sama (Grice, 1975) dengan maksim-maksimnya dan Teori Kesantunan (Leech, 1983) dengan maksim-maksimnya. Tingkat kesantunan berbahasa para politisi diukur berdasarkan pelanggaran dan ketaatan dalam menerapkan maksim-maksim tersebut kemudian diukur dan diberi predikat sangat santun, santun, kurang santun, dan tidak santun. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahasa yang dipakai politisi dalam berdebat masih tergolong santun meskipun ada beberapa yang melanggar maksim kesantunan. Beberapa maksim yang sering dilanggar dalam berkomunikasi adalah maksim penerimaan, maksim kebijaksanaan, maksim cara, maksim kerendahhatian, maksim kecocokan, maksim kesimpatian, maksim relevansi, maksim kualitas, dan maksim kemurahhatian. Bentuk satuan verbal yang sering muncul berupa pilihan kata yang sering bermuara pada kekuasaan, bentuk imperatif yang memiliki makna perintah pada lawan tutur untuk melakukan sesuatu, bentuk deklaratif yang berstruktur kompleks dan panjang sehingga sulit dipotong lawan bicara dengan implikasi makna untuk mendominasi komunikasi, bentuk fitur-fitur prosodik berupa tekanan pada kata-kata yang menyerang lawan tutur dan memuji diri atau partai sendiri. Beberapa faktor yang tampak mendorong para politisi untuk melakukan pelanggaran terhadap maksim-maksim kesantunan berbahasa adalah berusaha memaksimalkan kerugian pada lawan tutur (pelanggaran terhadap maksim kebijaksanaan), berusaha meminimalkan penghargaan pada lawan tutur (pelanggaran terhadap maksim penerimaan dan maksim cara). Kata Kunci : kesantunan, maksim, politisi

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.26740/jpi.v6n2.p55-70
SIMULASI PENYIARAN RADIO DAN REPORTASE TELEVISI DALAM PEMBELAJARAN BERBICARA MONOLOGIKA
  • Dec 31, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • R Kunjana Rahardi + 3 more

Abstrak Praktik berbicara kategori monologika dapat dilakukan dengan beragam cara, serta dilakukan dengan mengintegrasi penggunaan media teknologi, informasi, dan komunikasi. Penelitian kualitatif deskriptif dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dan penilaian yang dilakukan dalam praktik berbicara monologika. Penelitian dilakukan bersama pelajar dan guru yang mengikuti perkuliahan pengembangan keterampilan berbicara. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik berbicara monologika dilakukan dengan melakukan praktik simulasi penyiaran radio dan reportase televisi. Penilaian dilakukan dengan menyusun rubrik penilaian kinerja yang disusun berdasarkan aspek-aspek masing-masing praktik kegitan berbicara. Kata kunci: berbicara, monologika, simulasi pembelajaran. Abstract The practice of talking monologic categories can be done in a variety of ways, and is done by integrating the use of media technologies, information, and communication. Qualitative descriptive research is conducted in order to describe the learning and assessment processes conducted in the practice of speaking monologic. Research is conducted with students and teachers who follow the teaching skills development course. Data collection is done with observation and interviews. Data analysis is done with three stages: data reduction, data presentation and withdrawal of conclusions. The results showed that the practice of speaking monologic was done by practicing radio broadcasting simulations and television reportage. The assessment was conducted by drafting a performance assessment section based on the aspects of each speech-related practice. Keyword: talking, monologic, education simulation.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.26740/jpi.v6n2.p42-54
POLITE STRATEGIES IN INTERVIEW VIDEOS OF Asian Boss AND Bondo Wani
  • Dec 31, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Dhyan Purwitarini

The research analyzed the use of positive and negative politeness strategies in the Interview videos of ASIAN BOSS and BONDO WANI. Both of these videos discuss about the sensitive topic in Indonesia. This research applies descriptive qualitative method. Then, the utterances in these two videos transcribed and analyzed descriptively by politeness theory of Brown and Levinson (1978). The data taken contain positive and negative politeness strategies. In collecting the data, the researcher applies some steps: watching the interview videos for several times, taking note the conversation, and observes the conversation that highly applies positive and negative politeness strategies within the interview. The results of the study showed that BONDO WANI with the host is Dono Pradana and the people from Surabaya as the hearer used positive politeness strategies more than ASIAN BOSS and ASIAN BOSS with the interviewer and the interviwees are from Jakarta used negative politeness strategies than BONDO WANI based on Brown and Levinson (1978) theory. There were 107 utterances that can be categorized as negative politeness and positive politeness strategy. There are 37 data from negative politeness that showed by both ASIAN BOSS and BONDO WANI and 70 data from positive politeness strategies applied based on ASIAN BOSS and BONDO WANI. This research is expected can be beneficial to people who intend to understand particularly that even In Indonesia has various tribes with various languages in it.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 1
  • 10.26740/jpi.v6n1.p71-86
HEGEMONI TOKOH NYAI SUKU DALAM NASKAH DRAMA GENERASI TERAKHIR KARYA GEPENG NUGROHO
  • Apr 30, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Mufadila Fibiani + 1 more

This study aims to prove that leaders are not always able to interfere with the personal rights of their members through the hegemony of Nyai Suku in the last generation drama by Gepeng Nugroho. To answer these problems, the Gramshi Hegemony theory is used through a sociological approach. This type of research is qualitative with descriptive form. The data source of this research is the Final Generation drama by Gepeng Nugroho. Data collection techniques are carried out by central study and note it. Data analysis was done by hermeneutic method. The results of this research show that the form of hegemony of Nyai Suku character is in the form of planting new beliefs covertly through the speeches he delivered, habituation through his teachings to communal to answer compactly with sentences that show as if they were strong people, and coercion by giving lashing to its communal members violate the rules.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 3
  • 10.26740/jpi.v6n1.p%p
PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA STAF DESA CISEREH, TANGERANG (KAJIAN PRAGMATIK)
  • Apr 30, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Dwi Septiani + 1 more

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan berbagai bentuk pelanggaran prinsip kerja sama dalam percakapan tiga Staf Desa Cisereh dengan Sekretaris Desa (Sekdes) Cisereh, Tangerang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Bentuk penelitiannya adalah deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa 12 tuturan yang mengandung pelanggaran prinsip kerja sama yang dilakukan oleh staf Desa terhadap Sekretaris Desa. Data-data tersebut diperoleh dari interaksi staf dan Sekretaris Desa secara langsung di kantor Desa Cisereh. Pelanggaran prinsip kerja sama telah mengakibatkan kegagalan komunikasi antara penutur dengan lawan tutur. Standar prinsip kerja sama dalam komunikasi mengacu pada empat jenis maksim, yaitu maksim kualitas, kuantitas, relasi, dan maksim cara. Pada hasil penelitian ini, ditemukan bahwa ada pelanggaran maksim carayang berjumlah 4 data, pelanggaran maksim kualitas yang berjumlah 3 data, pelanggaran maksim kuantitas yang berjumlah 3 data, dan pelanggaran maksim relasi yang berjumlah hanya 2 data. Oleh sebab itu, disimpulkan bahwa pelanggaran prinsip kerja sama yang paling dominan dalam pertuturan antara staf dengan Sekdes adalah prinsip maksim cara.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.26740/jpi.v6n1.p31-50
CAMPUR KODE DALAM ACARA MY TRIP MY ADVENTURE DI TRANS TV
  • Apr 30, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Ainur Rosa Abu Bakar + 2 more

Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi menjadi fenomena menarik dalam masyarakat tutur bahasa Indonesia. Hal itu karena proses komunikasi dalam masyarakat tidak hanya berlangsung dalam satu bahasa melainkan lebih dari satu bahasa dan menyebabkan bahasa-bahasa tersebut dalam keadaan saling mempengaruhi. Hal tersebut disebabkan oleh kontak antar bahasa. terjadinya kontak bahasa sering kali menghasilkan campur kode. Penelitian ini mengkaji fenomena campur kode dalam acara My Trip My Adventure. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini yaitu segmen tutur pembawa acara dan jawaban yang terdapat dalam angket pembawa acara serta angket penonton acara My Trip My Adventure. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat bentuk campur kode yang berupa kata dan frasa. Kata dan frasa yang teridentifikasi campur kode tersebut berasal dari bahasa Inggris, bahasa Minang, bahasa Mandarin, dan bahasa Sunda. Campur kode yang terdapat pada acara My Trip My Adventure sebagian memiliki padanan dan tidak memiliki padanan. Faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode tersebut diantaranya penguasaan bahasa, kepopuleran bahasa, penyesuaian lawan bicara, dan keterbatasan ungkapan. Campur kode tersebut juga menimbulkan persepsi pro dan kontra yang dirasakan oleh penonton acara My Trip My Adventure .

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 5
  • 10.26740/jpi.v6n1.p1-11
DURASI NARATIF PADA NOVEL MERINDU BAGINDA NABI KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY (KAJIAN NARATOLOGI)
  • Apr 30, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Titin Rahayu + 2 more

This study aims to describe the pattern of narrative structure of the novel Merindu Baginda Nabi by Habiburrahman El Shirazy. The narrative structure of the MBN novel is analyzed based on the perspective of Gerard genette's narcissistic theory which focuses the study on one narrative structure, namely the narrative duration. The research method used is a descriptive qualitative approach. Data analysis based on Gerard Genette's theory of naratology uses a hermeneutic technique which includes four stages, namely reading, marking, coding and analyzing. Based on the results of the study found the pattern of the narrative structure of the MBN novel as follows it has two movements, namely a scene and a pause. The scene is a moment when the time of telling is equivalent to the time of the story in the from of dialogue. While the pause is descriptive data which makes the time of the story zero, but it is still within the spatial-temporal scope of the story. Key Words: narrative structure, duration sequence, scene, pause

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 6
  • 10.26740/jpi.v6n1.p51-61
PENGARUH TONTONAN BERBAHASA INGGRIS DALAM MEDIA SOSIAL YOUTUBE PADA PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA ANAK UMUR TUJUH TAHUN
  • Apr 30, 2020
  • Jurnal Pena Indonesia
  • Addinda Fardischa

Pemerolehan sebuah bahasa tidak dengan begitu saja dapat dimiliki dari lahir. Terdapat sebuah proses dan tahapan dalam pemerolehan sebuah bahasa. Bahasa diperoleh karena adanya faktor latihan yang terus menerus. Seseorang yang telah memiliki bahasa ibu memungkinkan untuk memiliki bahasa kedua (B2) yang digunakan sebagai alat komunikasi berdampingan dengan bahasa pertama. Pemerolehan bahasa kedua dapat dieroleh melalui pengaruh dari lingkungan atau kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian ini akan memaparkan bagaimana pengaruh media sosial YouTube memperngaruhi pemerolehan bahasa kedua seorang anak perempuan yang berusia tujuh tahun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penjelasan berupa deskriptif. Hasil yang dari penelitian ini menemukan bahwa kemampuan bahasa kedua berbahasa Inggris yang dimiliki subjek terlihat dari pemahamannya mengenai film yang ia saksikan. Penguasaannya terhadap bahasa kedua juga dapat terlihat pada kemampuan subjek menyebutkan benda-benda disekelilingnya serta mengetahui nama-nama hari dengan menggunakan bahasa Inggris.