- Research Article
3
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.125-129
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Elva Susanty
Infeksi parasit usus merupakan penyakit endemik yang menyebabkan masalah kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia. Diagnosa parasit usus memerlukan teknik pemeriksaan yang sensitif dan biaya murah. Teknik konsentrasi formol eter (formol eter concentration/FEC) merupakan salah satu teknik pemeriksaan dengan sampel feses untuk mendeteksi parasit usus dengan prinsip sedimentasi. Tehnik ini merupakan salah satu tehnik yang ekonomis, mudah dilakukan, dan meningkatkan jumlah penemuan parasit usus karena dapat memisahkan debris dari feses. Tujuan: Mengetahui teknik konsentrasi formol eter dalam mendiagnosa parasit usus. Tinjauan Pustaka: Prevalensi infeksi parasit usus masih cukup tinggi di negara berkembang akibat kurangnya sanitasi dan buruknya higiene, sehingga diperlukan suatu teknik pemeriksaan yang bisa mendeteksi kista protozoa, larva, dan telur cacing. Teknik FEC menggunakan formalin 10% dalam air sebagai penstabil dan eter sebagai pelarut. Teknik FEC tidak merusak organisme dalam sampel feses, dapat mengetahui parasit usus dengan sampel feses sedikit, dan ekonomis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa teknik FEC lebih baik daripada teknik direct wet mount dalam mendiagnosa parasit usus. Simpulan: Teknik FEC merupakan salah satu teknik pemeriksaan yang sensitif dan ekonomis dan dapat digunakan sebagai pilihan untuk mendiagnosa parasit usus.
- Research Article
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.118-124
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Sukamto Sukamto
Infark Miokard Akut (IMA) disebabkan oleh oklusi total pembuluh darah koroner oleh trombus yang memberikan gambaran elevasi segmen-ST pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG). Diagnosis dan tindakan reperfusi segera dibutuhkan untuk menangani kasus IMA. Semakin cepat tindakan reperfusi memberikan hasil yang lebih baik pada pasien. Terdapat beberapa penyebab lain selain IMA yang dapat memberikan gambaran elevasi segmen-ST pada EKG. Sehingga menjadi tantangan buat setiap dokter terutama dokter instalasi gawat darurat (IGD) untuk memiliki kemampuan membedakan gambaran tersebut untuk menghindari pengobatan dan tindakan reperfusi yang tidak sesuai indikasi.
- Research Article
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.60-66
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Zuhirman Zamzami
Batu saluran kencing merupakan masalah dalam bidang urologi yang memerlukan perhatian karena prevalensinya yang terus meningkat. Penelitian ini berujuan untuk mengevaluasi penatalaksanaan terkini penatalaksanaan batu saluran kencing di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif. Penelitiian dilaksanakan di rumahsakit Arifin Achmad Pekanbaru, Semua catatan medis pasien batu saluran kencing periode 2010-2016 direview untuk mendapatkan karakteristik, pola dan penatalaksanaan batu saluran kencing. Terdapat 1418 pasien batu saluran kencing yang ditatalaksana di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dimana yang terbanyak batu ureter (49,1%) dan dikuti oleh batu ginjal (37,5%) serta batu buli (13,4%). Penatalaksanaan batu saluran kencing sebagian besar (72%) dengan tindakan non invasif dan invasif minimal sedangkan 28% dengan tindakan operasi terbuka (invasif). Dapat disimpulkan penatalaksanaan terkini batu saluran kencing di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru sebagian besar adalah tindakan non invasif dan minimal invasif sedangkan tindakan operasi terbuka (invasif) lebih sedikit. Terdapat perbaikan fungsi ginjal secara berbeda bermakna (p < 0,0001, p < 0,002) kadar ureum dan kreatinin sebelum dan sesudah penatalaksanaan batu saluran kencing pada pasien batu saluran kencing dengan gangguan fungsi ginjal (uropati obstruktif).
- Research Article
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.114-117
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Bayu Fajar Pratama
Infeksi akibat Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi kongenital yang terbanyak dan menyebabkan morbiditas yang cukup tinggi pada bayi baru lahir. Infeksi CMV tersebar luas di seluruh dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Infeksi CMV menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan organ-organ pada janin. CMV juga merupakan penyebab terbanyak dari gangguan pendengaran, gangguan perkembangan saraf, dan retardasi mental pada anak. Transmisi CMV dapat terjadi secara horizontal (dari satu orang ke orang yang lain) maupun vertikal (dari ibu ke janin). CMV ditransmisikan secara horizontal terjadi melalui cairan tubuh dan membutuhkan kontak yang dekat dengan cairan tubuh yang telah terkontaminasi CMV. Transmisi CMV terjadi secara vertikal melalui cara in utero, intrapartum, dan postnatal. Sebagian besar anak yang lahir dengan infeksi CMV kongenital tidak menunjukkan gejala (asimptomatik) saat lahir. Anak yang menunjukkan gejala infeksi CMV kongenital saat lahir hanya berkisar antara 7-10%. Gold standard diagnosis infeksi CMV kongenital adalah isolasi atau kultur virus pada anak dalam usia tiga minggu pertama. Tatalaksana anak dengan infeksi CMV kongenital meliputi tatalaksana suportif dan pemberian antivirus. Evaluasi secara berkala dilakukan pada anak untuk mengetahui perkembangan dari perjalanan penyakit infeksi CMV.
- Research Article
1
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.93-98
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Tubagus Odih Rhomdani Wahid
Penyakit Hirschprung adalah suatu kelainan bawaan berupa aganglionosis usus, mulai dari sfingter ani internal ke arah proksimal dengan panjang yang bervariasi, bersifat kosmopolitan, dengan insiden berkisar 1 diantara 2000 sampai 12.000 kelahiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil luaran operasi pulltrough pada Hirsprung dengan skor Klotz periode januari 2010-Desember 2016, meliputi hubungan status gizi dengan hasil luaran dan komplikasi yang timbul. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan deskriptif analitik dengan pengumpulan data secara retrospektif terhadap penderita Hirschprung yang dikerjakan terapi definitif dengan metode operasi pulltrough, data diambil dari rekam medis dan kuisioner di RS Arifin Achmad periode Januari 2010- Desember 2016. Dua puluh sembilan pasien terdapat 16 (55,2 %) pasien laki - laki dan 13 (44,8%) pasien perempuan. Terdapat 21 (72,4%) dengan gizi baik dan 8 (27,6%) dengan gizi kurang. Komplikasi yang terbanyak ditemukan adalah enterokolitis 5(17,2%) diikuti dengan stenosis rectum 1(3,4%). Terdapat hubungan bermakna komplikasi pasca operasi pulltrough dengan evaluasi skoring Klotz dan tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan evaluasi skoring Klotz.
- Research Article
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.67-72
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Taufik Suryadi Ismail + 2 more
Tinggi badan merupakan hal yang penting dalam memprediksikan dan mengidentifikasi individu atau korban tak dikenal akibat kecelakaan pesawat, mutilasi, bencana dan musibah lainya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumus regresi perkiraan tinggi badan berdasarkan panjang jari tengah subjek laki-laki dan perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode cross sectional. Subjek penelitian merupakan mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala berjumlah 287 orang yang diambil dengan metode systematic random sampling. Pengukuran antropometri yang berupa tinggi badan dan panjang jari tengah kanan dan kiri. Data akan dianalisis statistik dengan uji korelasi Pearson dan rumus regresi linier.Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara panjang jari tengah dengan tinggi badan dengan nilai korelasi(r) 0,541-0,668 dan nilai sig = 0,000 (sig.<0,05). Didapatkan formula perkiraan tinggi badan yaitu, Laki-Laki: Tinggi Badan (cm) = 94,217 + 6,736 (panjang jari tengah kanan (cm)) Standar Error(SE) ±7,444; Tinggi Badan (cm) = 98,696 + 6,318 (panjang jari tengah kiri (cm)) SE ±7,701; Perempuan: Tinggi Badan (cm) = 103,153 + 5,299 (panjang jari tengah kanan (cm)) SE ±7,591; Tinggi Badan (cm) = 104,254 + 5,239 (panjang jari tengah kiri (cm)) SE ±7,552. Tinggi badan seseorang dapat ditentukan dengan mengukur panjang jari tengah.
- Research Article
1
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.51-59
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Olivia Makmur + 2 more
Erupsi obat alergi merupakan bentuk reaksi simpang obat tipe B yang terjadi di kulit yang disebabkan oleh penggunaan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pasien erupsi obat alergi di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau pada periode 1 Januari 2011-31 Desember 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Sampel yang digunakan sebanyak 351 sampel yang telah sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pasien erupsi obat alergi paling banyak ditemukan pada perempuan (58,97%) dibandingkan dengan laki-laki. Kelompok usia 41-60 tahun (30,20%) merupakan kelompok usia pasien erupsi obat alergi terbanyak. Penyakit endokrin (10,54%) merupakan penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini dan riwayat alergi makanan ditemukan pada 4 kasus (1,14%). Bentuk erupsi yang paling sering ditemukan adalah eritroderma (23,93%). Obat penyebab erupsi obat alergi yang paling banyak ditemukan adalah antibiotik (21,65%).
- Research Article
1
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.99-105
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Dedi Afandi
Persetujuan Tindakan Kedokteran (PTK) atau informed consent merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh dokter sebelum melakukan tindakan medis. Pelaksanaan PTK yang kurang adekuat atau tidak sesuai dengan prosedur dapat menimbulkan komplain dan atau klaim baik dari pasien maupun keluarga serta dapat menimbulkan masalah hukum bagi dokter. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membahas aspek medikolegal dan tata laksana dalam proses melakukan PTK bagi dokter baik di rumah sakit maupun di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Sejarah, filosofi, definisi, dasar hukum, tujuan, aspek medikolegal dan tata laksana PTK dibahas dan didiskusikan untuk meningkatkan pemahaman proses PTK yang benar. Dengan memahami aspek medikolegal dan tata laksana PTK maka diharapkan akan meminimalisir dan menghindari tuntutan hukum dari pasien.
- Research Article
1
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.106-113
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Yolazenia Yolazenia + 2 more
Banyak dilaporkan kegagalan pengobatan pada rinosinusitis kronis (RSK) disebabkan resistensi terhadap antibiotik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biofilm bakteri berperan penting pada etiologi dan persistensi dari RSK. Penulisan tinjauan pustaka ini adalah untuk mengetahui implikasi biofilm bakteri pada penderita RSK. Rinosinusitis kronis adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung dalam waktu lebih dari 12 minggu. Biofilm adalah suatu struktur komunitas sel-sel bakteri yang ditutupi oleh matriks polimer yang dihasilkan sendiri dan menempel pada permukaan. Berbagai penelitian menunjukkan terdapatnya biofilm bakteri pada mukosa sinonasal penderita RSK dan berhubungan dengan resistensi terhadap pengobatan dengan antibiotika. Berbagai pemeriksaan untuk mendeteksi biofilm yaitu Scanning Electron Microscopy (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), Confocal Scanning Laser Microscopy (CSLM), modifikasi Calgary Biofilm Device Assay, Tube Method dan Congo Red Agar Method. Beberapa terapi potensial untuk mengatasi biofilm pada RSK sedang berkembang.
- Research Article
3
- 10.26891/jkm.v1i2.2018.73-80
- Apr 25, 2018
- Jurnal Kesehatan Melayu
- Esy Maryanti + 2 more
Pedikulosis kapitis dikategorikan sebagai penyakit yang terabaikan dan masih menjadi masalah kesehatan. Infestasi Pediculus humanus capitis dengan mudah ditularkan melalui hubungan langsung antar individu atau benda pribadi yang digunakan bersama. Pedikulosis kapitis memiliki berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya infestasi Pediculus humanus capitis. Penyakit ini menyerang semua usia terutama usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat seperti asrama dan panti asuhan. Gejala klinis yang khas berupa gatal disertai adanya bekas garukan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan infestasi Pediculus humanus capitis pada anak panti asuhan di kota Pekanbaru. Anak panti asuhan yang diperiksa berjumlah 127 orang dari 3 panti asuhan di Pekanbaru. Hasil pemeriksaan didapatkan infestasi Pediculus humanus capitis pada perempuan lebih tinggi (87,1%), infestasi berdasarkan kelompok usia lebih banyak terjadi pada usia 6-12 tahun (65,9%), infestasi Pediculus humanus capitis menurut karakteristik rambut tertinggi pada keriting (81,8%). Anak yang memiliki panjang rambut sebahu adalah 91,3%. Kebiasaan anak yang selalu memakai alat rambut dan tidur bersama memiliki infestasi Pediculus humanus capitis sebesar 57,5% dan infestasi Pediculus humanus capitis untuk anak yang mencuci rambut 3 kali seminggu adalah 58,3%. Jenis kelamin dan karakteristik rambut memiliki hubungan yang signifikan mempengaruhi kejadian pedikulosis kapitis dengan nilai p<0,05.