- Research Article
- 10.15851/jap.v12n.23869
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Andi Hermawan + 1 more
Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal (HP) memiliki peningkatan risiko yang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilan hemodinamik, gagal jantung, sepsis pascaoperasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakan kehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baik dan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensi pulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk mencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia berat dan kemungkinan besar menderita HP. Teknik yang digunakan dengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 m. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukan intubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami serangan jantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masuk ICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasien hipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pascaoperasi untuk memantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian.
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n3.3889
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Muh Rezah Rahim + 5 more
Functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Prosedur ini tetap menimbulkan rasa nyeri pascaoperasi, walaupun tindakan bersifat minimal invasif. Parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Penelitian ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL yang dilakukan di RSUlP Wahidin Suldirohulsodo dan rumah sakit jejaring antara bulan Agustus 2023 hingga Februari 2024. Desain penelitian adalah uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p>0,05) dan juga RNL (p>0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi.
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n3.4010
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Alfindy Maulana Pohan + 3 more
Keluhan batuk sering muncul pada pasien yang menjalani bronkoskopi akibat adanya trauma mekanik pada dinding saluran napas. Lidokain digunakan pada bronkoskopi untuk menekan refleks batuk. Penelitian ini bertujuan menilai efek lidokain yang diberikan secara nebulisasi dan spray terhadap refleks batuk pada pasien bronkoskopi. Desain penelitian randomized control trial dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik bulan Agustus sampai dengan September 2023 pada pasien bronkoskopi dengan sedasi. Sampel yang diperoleh 36 pasien yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat spray Lidokain 10% dan kelompok yang mendapatkan nebulisasi lidokain 2%. Variabel yang diteliti adalah derajat batuk. Analisis statistik yang digunakan adalah mann whitney. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan derajat batuk yang bermakna pada pada menit ke-15, menit ke-30 dan postperlakuan (p<0,05). Pada kelompok nebulisasi Lidokain 2% derajat batuk lebih rendah dibanding dengan pada kelompok spray Lidokain 10%. Simpulan: Pemberian nebulisasi lidokain 2% lebih efektif menekan derajat batuk dibanding dengan spray lidokain 10% pada tindakan bronkoskopi dengan sedasi.
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n3.3838
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Tinni T Maskoen + 2 more
Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) penting dilakukan pada beberapa pembedahan dan pada pasien di ruang rawat intensif (ICU). Pemasangan NGT menjadi sulit pada pasien terintubasi dan paling sering tertahan pada sinus priformis, kartilago aritenoid, dan esofagus yang tertekan oleh balon ETT. Manuver reverse Sellick merupakan teknik yang dilakukan dengan cara menggenggam kartilago krikoid lalu diangkat ke arah anterior dan manuver fleksi leher merupakan suatu cara menekukkan leher pasien semaksimal mungkin pada saat memasang NGT. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial single blind study. Penelitian telah dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) terhadap 94 subjek. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi Square dan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Hasil uji statistik perbandingan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 85,1% dan 74,5% dengan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499±1,571 detik dan 20,5,06±3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p<0,05; Tabel 2). Simpulan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick memiliki angka keberhasilan yang tidak berbeda signifikan dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher. Durasi pemasangan dari kelompok manuver reverse Sellick lebih singkat dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher.
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n3.3826
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Bramantyo Pamugar + 2 more
Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan potong lintang pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement (LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU.
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n3.3962
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Ilman Hakim Arifin + 2 more
Komplikasi intubasi dengan pipa endotrakeal (ETT) yang paling sering adalah nyeri tenggorok pascaoperasi/postoperative sore throat (POST). Insidensi POST berkisar 14,4%−50%. Penggunaan metode farmakologi terbukti menurunkan angka kejadian POST melalui efek analgesia dan anti-inflamasi. Salah satu obat yang sering digunakan untuk pencegahan POST adalah nebulisasi lidokain. Nebulisasi steroid juga efektif karena dapat mengurangi inflamasi, edema, transudasi cairan, dan juga derajat nyeri. Penelitian ini membandingkan antara nebulisasi preoperasi dengan lidokain dan nebulisasi preoperasi dengan lidokain dengan budesonide. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung antara bulan Oktober–Desember 2023 yang menggunakan analitik komparatif eksperimental, dengan rancangan double blind randomized controlled trial terhadap dua kelompok penelitian. pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara consecutive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dan normalitas data menggunakan Uji Shapiro wilk. Hasil penelitian karakteristik umum subjek penelitian didapatkan data terdistribusi normal. Pada Jam ke-1, 2, 4 didapatkan skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p>0,05 atau tidak signifikan, pada jam ke-6, 12, 24 skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p<0,05 atau signifikan. Simpulan yang didapatkan adalah skala nyeri tenggorok pascaoperasi pada pemberian nebulisasi lidokain dan budesonid preoperasi lebih kecil dibanding dengan nebulisasi lidokain saja.
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n3.3628
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Samawi Husein Ramud + 3 more
Data WHO menunjukkan bahwa 30–40% pasien kanker mengalami nyeri sedang atau berat. Empat kelas obat antidepresan dapat dipakai dalam pengobatan nyeri neuropatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan fluoksetin 20 mg dengan amitriptilin 12,5 mg sebagai adjuvant kombinasi parasetamol 1000 mg dalam mengurangi gejala nyeri pada pasien nyeri kanker. Penelitian dilaksanakan sejak Juli–September 2023 di klinik nyeri Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar. Sebanyak 40 subjek dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok A (n=20) mendapat fluoksetin, morfin dan parasetamol, sedangkan kelompok B (n=20) mendapat amitriptilin, morfin dan parasetamol. Skor nyeri pada subjek diukur dengan menggunakan PainDETECT. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Data bivariat dianalisis dengan uji Chi-Square, T-Test Independent, T-Test Paired dan Mann-Whitney. Terdapat penurunan skor numeric rating scale dan PainDETECT yang signifikan antara sebelum dan setelah pemberian fluoksetin maupun amitriptilin dengan nilai p<0,05. Kelompok fluoksetin maupun amitriptilin dapat menurunkan skor numeric rating scale dan PainDETECT secara statistik, akan tetapi tidak bermakna secara klinis.
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n3.3779
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Dedi Tanto + 2 more
Indeks resistriksi renal/renal resistive index (RRI) merupakan pemeriksaan ultrasonografi non invasif untuk menilai renovascular dan dapat dilakukan dengan prinsip point-of-care testing (POCT) RRI merefleksikan perubahan aliran darah arteri intrarenalis, yang dapat terganggu pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, yang tercermin dalam peningkatan nilai kreatinin serum. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain potong lintang, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara RRI dan nilai kreatinin serum pada pasien sakit kritis di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, dari Mei hingga Agustus 2023. Sebanyak 51 pasien berusia 18–65 tahun menjalani pemeriksaan RRI dan kreatinin serum pada 24 jam pertama dan kedua setelah masuk ICU. Analisis korelasi menunjukkan nilai R sebesar 0,538, koefisien determinasi (r²) sebesar 0,298, dan nilai p<0,001. Hasil ini menunjukkan korelasi positif moderat antara RRI dan nilai kreatinin serum.
- Journal Issue
- 10.15851/jap.v12.n3
- Dec 31, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Research Article
- 10.15851/jap.v12n2.3740
- Aug 29, 2024
- Jurnal Anestesi Perioperatif
- Muhammad Ikhwan Ikhwan Nur + 2 more
ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret–Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor APACHE II, sementara utilisasi sumber daya ICU dinilai dengan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28 harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp6.657.925,00. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r=0,538; r2=0,289; p ≤0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r=0,502;r2=0,253; p≤0,001. Derajat keparahan berdasarkan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.