Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4223
Analisis Usaha Tani Cabai Merah di Desa Seberida Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu
  • Nov 25, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Danu Kusuma Wardoyo Danu + 2 more

Cabai merah merupakan salah satu komoditas utama yang menjadi bahan baku penting dalam industri pangan nasional. Seperti halnya jenis usaha lainnya, budidaya cabai merah juga memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi. Saat ini, tanaman cabai merah semakin diminati oleh para petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya biaya, pendapatan, keuntungan, tingkat efisiensi, serta risiko produksi dan harga dari usaha tani cabai merah di Desa Seberida, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode Simple Random Sampling, dengan alasan bahwa wilayah ini merupakan penghasil cabai merah dengan luas panen dan volume produksi terbesar. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 petani.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Total biaya rata-rata yang dikeluarkan sebesar Rp 23.325.050/0,23/MT atau Rp. 99.964.500,00/Ha/MT Sedangkan rata-rata total penerimaan dari usahatani cabai merah mencapai Rp.55.582.500/Grpn/MT atau 238.210.714,00/Ha/MT dan Keuntungan yang diperoleh adalah Rp. 32.257.450/0,23/MT atau Rp. 138.246.214,00/Ha/MT. (2) Tingkat efisiensi usahatani cabai merah per musim adalah 2.38, sehingga dinyatakan layak untuk dijalankan. (3) Risiko produksi pada usahatani cabai merah di Desa Seberida memiliki koefisien variasi (CV) sebesar 0,25. Nilai ini lebih kecil dari 0,5 yang menunjukkan bahwa risiko produksi yang dihadapi petani tergolong rendah. Red chili is one of the main commodities that is an important raw material in the national food industry. Like other types of businesses, red chili cultivation also has a fairly high level of risk. Currently, red chili plants are increasingly in demand by farmers. This study aims to analyze the amount of costs, income, profits, efficiency levels, and production and price risks of red chili farming in Seberida Village, Batang Gansal District, Indragiri Hulu Regency. This study uses observation, interview, and documentation methods. Data collection was carried out using the Simple Random Sampling method, on the grounds that this area is a producer of red chili with the largest harvest area and production volume. The number of samples in this study was 30 farmers. The results of the study showed that (1) The average total cost incurred is Rp. 23,325,050/0.23/MT or Rp. 99,964,500.00/Ha/MT. Meanwhile, the average total income from red chili farming reaches Rp. 55,582,500/Grpn/MT or 238,210,714.00/Ha/MT and the profit obtained is Rp. 32,257,450/0.23/MT or Rp. 138,246,214.00/Ha/MT. (2) The efficiency level of red chili farming per season is 2.38, so it is declared feasible to run. (3) The production risk in red chili farming in Seberida Village has a coefficient of variation (CV) of 0.25. This value is smaller than 0.5, which indicates that the production risk faced by farmers is relatively low.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4741
Kinerja Keuangan dan Kepuasan Anggota Koperasi Sawit (Kopsa) Usaha Manunggal Desa Seresam Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau.
  • Nov 18, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Aris Triyono

Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja keuangan, kepuasan anggota dan upaya meningkatkan kinerja keuangan dan kepuasan anggota Koperasi Sawit (Kopsa) Usaha Manunggal. Metode survey. Sampel sederhana (Simple Random Sampling) yaitu terhadap 41 orang anggota KOPSA. Model analisis yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan adalah Rasio Likuditas, Rasio Solvabilitas dan Rasio Profitabilitas. Untuk menganalisis kepuasan anggota model IPA dan CSI. Hasil, Analisis kinerja keuangan KOPSA Usaha Manunggal dari tahun 2020-2024 menunjukkan kemampuan yang baik dalam membayar kewajiban jangka pendek. Rata-rata current ratio adalah 108,11, quick ratio 104,00, dan cash ratio 0,20. Ini mengindikasikan kemampuan koperasi membayar utang jangka pendek dengan aset lancar. Namun, rasio solvabilitas menunjukkan sebagian besar aset dibiayai utang (Total Asset To Debt Ratio 80,61%), Dept to Equity Ratio 415,96% ini mengindikasikan bahwa untuk setiap satu rupiah modal yang dimiliki oleh anggota (ekuitas), koperasi memiliki lebih dari empat rupiah utang. Dari segi rentabilitas, koperasi mampu menghasilkan laba bersih 1,13% dari aset (ROA) dan 8,47% dari modal sendiri (ROE) Net Profit Margin 10,09%. Hasil IPA mengidentifikasi beberapa atribut dengan prioritas rendah yang perlu diperbaiki, yaitu penampilan pengurus, kelengkapan fasilitas, kemudahan akses informasi, ketepatan waktu pembayaran hasil penjualan, kejujuran pengurus, dan biaya sosial. Nilai CSI mencapai 80,78%, menunjukkan kepuasan yang Puas terhadap kinerja keuangan Koperasi Sawit (KOPSA) Usaha Manunggal. Upaya peningkatan kinerja keuangan dan kepuasan anggota dengan mengurangi jumlah piutang tidak tertagih, penghematan dalam pengalokasian biaya, meningkatkan kualitas produk yang dijual (Tandan Buah Segar-TBS)This study aims to analyze the financial performance, member satisfaction, and efforts to improve the financial performance and satisfaction of members of the Palm Oil Cooperative (Kopsa) Usaha Manunggal. The survey method. Simple Random Sampling, namely 41 KOPSA members. The analytical models used in measuring financial performance are the Liquidity Ratio, Solvency Ratio, and Profitability Ratio. To analyze member satisfaction, the IPA and CSI models were used. Results: Analysis of KOPSA Usaha Manunggal's financial performance from 2020-2024 shows a good ability to pay short-term obligations. The average current ratio is 108.11, quick ratio 104.00, and cash ratio 0.20. This indicates the cooperative's ability to pay short-term debt with current assets. However, the solvency ratio shows that most of the assets are financed by debt (Total Asset To Debt Ratio 80.61%), Dept to Equity Ratio 415.96% indicates that for every one rupiah of capital owned by members (equity), the cooperative has more than four rupiah of debt. In terms of profitability, the cooperative is able to generate a net profit of 1.13% of assets (ROA) and 8.47% of equity (ROE) Net Profit Margin 10.09%. The IPA results identified several low priority attributes that need to be improved, namely the appearance of the management, completeness of facilities, ease of access to information, timeliness of payment of sales proceeds, honesty of management, and social costs. The CSI value reached 80.78%, indicating Satisfaction with the financial performance of the Palm Oil Cooperative (KOPSA) Usaha Manunggal. Efforts to improve financial performance and member satisfaction by reducing the number of uncollectible receivables, saving on cost allocation, and improving the quality of products sold (Fresh Fruit Bunches - FFB).

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4538
Analisis Peran Penyuluh Pertanian Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja Petani Jagung Di Kecamatan Gentuma Raya Kabupaten Gorontalo Utara
  • Nov 13, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Femi Umar + 3 more

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas kerja petani jagung dan untuk mengetahui hubungan antara efektivitas peran penyuluh pertanian dengan produktivitas kerja petani di Kecamatan Gentuma Raya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran penyuluh di Kecamatan Gentuma Raya dinilai cukup efektif, dengan penyuluh memberikan pelatihan, bimbingan teknis, dan informasi mengenai teknik pertanian modern yang dapat meningkatkan produktivitas kerja petani. Namun, meskipun penyuluhan dilakukan dengan baik, masih terdapat kendala seperti terbatasnya akses terhadap teknologi dan biaya tinggi, yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi baru oleh petani. Efektivitas penyuluhan memiliki hubungan positif yang signifikan dengan produktivitas kerja petani, meskipun faktor-faktor lain seperti perubahan cuaca dan ketidaktersediaan sarana produksi juga mempengaruhi hasil pertanian. Oleh karena itu, penyuluhan berkelanjutan sangat penting untuk mengatasi kendala tersebut dan dapat meningkatkan produktivitas kerja petani jagung secara lebih optimal. This study aims to determine the work productivity of corn farmers and to examine the relationship between the effectiveness of agricultural extension workers' roles and the work productivity of farmers in Gentuma Raya District. The study employs a qualitative descriptive method, collecting data through in-depth interviews and field observations. The findings indicate that the role of extension workers in Gentuma Raya District is considered quite effective, with extension workers providing training, technical guidance, and information on modern agricultural techniques that can enhance work productivity among farmers. However, despite effective extension services, there are still challenges such as limited access to technology and high costs, which affect farmers' ability to adopt new technologies. The effectiveness of extension services shows a positive and significant relationship with work productivity, although other factors, such as climatic changes and lack of production resources, also impact agricultural yields. Therefore, continuous extension services are crucial to overcoming these barriers and optimizing the work productivity of corn farmers.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4501
Analisis Usahatani Nanas Madu di Desa Suka Jadi Kecamatan Kuala Cenaku
  • Nov 13, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Kristian Ekosudarmaji + 2 more

Produksi nanas di Kecamatan Kuala Cenaku mencapai 361.421.000 Kwintal pada Tahun 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan dan tingkat efisiensi usahatani nanas madu di Desa Suka Jadi Kecamatan Kuala Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu. Metode analisis yang digunakan adalah analisi biaya produksi, penerimaan, penyusutan alat, pendapatan, pendapatan kerja keluarga, dan analisis kelayakan usahatani. Hasil penelitian ini adalah Pendapatan per hektar per satu kali panen dalam melakukan usahatani nanas madu di Desa Suka Jadi sebesar Rp47.582.948. Hasil analisis kelayakan usahatani pada usahatani nanas madu di Desa Suka Jadi sebesar 3,10 yang artinya setiap biaya yang dikeluarkan oleh petani sebesar Rp1 maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp3,10. Dari hasil analisis ini menunjukkan bahwa biaya lebih kecil dari rata-rata penerimaan sehingga usahatani layak untuk dilanjutkan. The pineapple production in Kuala Cenaku Sub-district reached 361.421.000 quintals in 2022. This study aims to assess the income and efficiency level of honey pineapple farming in Suka Jadi Village, Kuala Cenaku Sub-district, Indragiri Hulu Regency. The analytical methods employed include production cost analysis, revenue calculation, equipment depreciation, net income, family labor income, and farm feasibility analysis. The results indicate that the income per hectare per harvest cycle for honey pineapple farming in Suka Jadi Village amounts to IDR 47,582,948. The farm feasibility analysis yields a value of 3.10, meaning that for every IDR 1 of cost incurred, the farmer receives IDR 3.10 in return. This finding demonstrates that the production costs are lower than the average revenue, thereby confirming that honey pineapple farming is economically viable and feasible to continue.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4693
Interpretive Structural Modelling: Faktor-Faktor Kunci Penyediaan Beras di Kabupaten Penajam Paser Utara
  • Nov 6, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Aswan Adi + 2 more

Kajian faktor-faktor kunci ditujukan untuk mengetahui faktor apa yang paling berpengaruh terhadap penyediaan beras, yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan penyusunan kebijakan untuk meningkatkan ketersediaan beras di Kabupaten Penajam Paser Utara (Kab. PPU). Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN), menyebabkan peningkatan jumlah penduduk secara signifikan dan mempengaruhi neraca ketersediaan beras di Kab. PPU. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis Interpretive Structural Modelling (ISM) dengan melihat daya dorong (DP) dan ketergantungan (D) pada setiap sub elemen (faktor). Hasil analisis terdapat 14 sub elemen yang tersebar kedalam posisi independent, linkage, dan dependent, dimana setiap posisi menggambarkan peran dan pengaruh terhadap ketersediaan beras di Kab. PPU. Kesimpulannya yaitu faktor kunci pada sektor penyediaan beras (rata-rata DP=0,89 dan D=0,43) meliputi perluasan lahan, kelembagaan petani, penyuluhan, dan penekanan konversi. Implikasi kebijakan yang dapat dilakukan meliputi perluasan lahan melalui program cetak sawah di daerah yang berpotensi, penguatan kelembagaan dalam menekan konversi lahan, dan efektifitas kegiatan penyuluhan. The study of key factors is aimed at finding out what factors have the most influence on the availability of rice, which can be used as a consideration for policy formulation to increase the availability of rice in Penajam Paser Utara (PPU). The relocation of the new Nusantara Capital City (IKN) has caused a significant increase in the number of people and affected the balance of rice availability in PPU. The analysis method used is Interpretive Structural Modelling (ISM) analysis by looking at the driver power (DP) and the level of dependence (D) on each variable (factor). The results of the analysis have 14 sub elements (factors) spread into independent, linkage, and dependent positions, where each position will describe the role and influence given to the availability of rice in PPU. In conclusion, the key factors in the rice supply sector (average DP=0.89 and D=0.43) include land expansion, farmer institutions, counseling, and conversion emphasis. Policy implications include land expansion through paddy field printing programs in potential areas, institutional strengthening to reduce land conversion, and effectiveness of extension activities.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4207
Analisis Efisiensi Penggunaan Modal dan Profitabilitas Usaha Keripik Singkong Cutella Presto di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember
  • Nov 6, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Fara Adelia + 2 more

Keripik singkong merupakan salah satu produk olahan yang cukup diminati dan berkembang melalui agroindustri rumah tangga, salah satunya adalah Cutella Presto di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Sebagai usaha berskala rumah tangga, Efisiensi penggunaan modal menjadi aspek penting untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing usaha. Cutella Presto menghadapi tantangan dalam pengelolaan modal yang terbatas sehingga penting bagi penelitian ini untuk dilakukan sehingga membantu keputusan bisnis Usaha Keripik Singkong Cutella Presto. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi penggunaan modal pada usaha keripik singkong Cutella Presto.. Data untuk penelitian ini meliputi biaya, pendapatan, R/C ratio dan B/C ratio diperoleh dari wawancara dengan pemilik usaha pada Bulan April Tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp 64.997.082 dan pendapatan sebesar Rp 86.202.918/ bulan, Usaha ini mengeluarkan biaya penyusutan untuk alat sebesar Rp 127.082/bulan. R/C ratio yaitu sebesar 2,23, B/C ratio yaitu sebesar -0,5 dan profit rate sebesar 132%. Adapun banyaknya unit dan harga untuk mencapai titik BEP adalah 453 kemasan dan Rp 6.359.649. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa usaha keripik singkong Cutella Presto layak diusahakan jangka panjang karena nilai R/C lebih dari 1. Cassava chips are one of the processed products that are quite in demand and developed through household agro-industry, one of which is Cutella Presto in Kaliwates District, Jember Regency. This agro-industry processes local cassava into ready-to-eat chips with various flavors and utilizes the pressure cooker technique in its production process. As a household-scale business, Cutella Presto faces challenges in managing limited capital. Efficient use of capital is an important aspect to ensure the sustainability and competitiveness of the business. This study aims to analyze the level of capital efficiency in the Cutella Presto cassava chips business. The research method used is qualitative descriptive with data analysis including costs, income, R/C ratio and B/C ratio. The results of the study showed that the total cost is Rp 64,997,082, revenue is Rp 86,202,918 per month, the R/C ratio is 2.23, the B/C ratio is -0.5, and the profit rate is 132%. The number of units and the price to reach the BEP point is 453 packages and Rp 6,359,649. Based on the results of the study, it was concluded that the Cutella Presto cassava chips business was feasible to be run in the long term because the R/C value was more than 1

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4119
Ketahanan Pangan Pada Masyarakat Petani Padi di Desa Karya Sakti Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara
  • Nov 3, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Dewi Ayu Hidayati + 3 more

Tanaman pangan padi merupakan salah satu potensi paling besar di Desa Karya Sakti Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara dimana desa ini hampir surplus hasil panen padi setiap tahunnya Namun faktanya, walaupun potensi padi berlimpah namun ketahanan pangannya masih rendah. Ada beberapa aspek permasalahan strategis dalam membangun ketahanan pangan yaitu produksi yang berkaitan dengan ketersediaan pangan, distribusi yang berkaitan dengan keterjangkauan pangan serta konsumsi yang berkaitan dengan pemanfaatan pangan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimanakah ketahanan pangan masyarakat petani padi di Desa Karya Sakti Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara dilihat dari produksi, distribusi dan konsumsi. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi serta dokumentasi. Analisis Data dengan melakukan reduksi, penyajian data dan kesimpulan. Sedangkan teknik keabsahan data dengan melakukan triangulasi sumber, teknik/metode dan waktu.Jumlah informan sebanyak 6 orang petani padi yang penentuannya dilakukan secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun produksi padi besar tetapi ketahanan pangan baik produksi (ketersediaan pangan), distribusi (keterjangkauan pangan) dan konsumsi (pemanfaatan pangan) rendah. Hal tersebut disebabkan karena ada beberapa kendala yang dialami yaitu fasilitas pengolahan hasil panen yang belum memadai, ketergantungan pada tengkulak, pinjaman modal ke bank dan kemiskinan. Rice food crops are one of the greatest potentials in Karya Sakti Village, Abung District, Surakarta, North Lampung Regency, where this village almost has a surplus of rice harvests every year. However, in fact, even though the potential for rice is abundant, food security is still low. There are several aspects of strategic problems in building food security, namely production related to food availability, distribution related to food affordability, and consumption related to food utilization. Therefore, this study aims to analyze in depth how the food security of rice farming communities in Karya Sakti Village, Agung District, Surakarta, North Lampung Regency is seen from production, distribution and consumption. The method used is qualitative with data collection techniques through in-depth interviews, observation and documentation. Data analysis by reducing, presenting data, and concluding. While the data validity technique is by triangulating sources, techniques/methods and time. The number of informants is 5 rice farmers whose determination is done purposively. The results of the study indicate that although rice production is large, food security, both production (food availability), distribution (food affordability) and consumption (food utilization) is low. This is due to several obstacles experienced, namely limited subsidized fertilizer, inadequate harvest processing facilities, dependence on middlemen, capital loans to banks and poverty.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.3269
Analisis Kelayakan Finansial Usaha Penggilingan Padi Berjalan di Desa Sidobinangun Kecamatan Tanalili Kabupaten Luwu Utara
  • Nov 3, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Nur Aisyah Rusman + 2 more

Usaha penggilingan padi berjalan memberikan kemudahan bagi petani karena tidak perlu membawa padi ke lokasi penggilingan yang jauh, sehingga menghemat waktu dan biaya transportasi. Akan tetapi, terdapat beberapa permasalahan dalam usaha penggilingan padi yaitu memerlukan investasi besar untuk membeli mesin penggilingan dan kendaraan, memerlukan perawatan rutin dan dapat menghadapi kerusakan yang mempengaruhi operasi. Tujuan penelitian untuk menganalisis pendapatan dan kelayakan financial usaha penggilingan padi berjalan di Desa Sidobinangun Kecamatan Tanah Lili Kabupaten Luwu Utara. Hasil penelitian diperoleh total rata-rata biaya variabel dan tetap yang dikeluarkan oleh setiap pemiliik usaha penggilingan padi berjalan adalah sebesar Rp.61.166.611/Tahun. Total penerimaan beras dan bekatul rata-rata adalah sebesar Rp.94.069.111/Tahun. Penerimaan tersebut terdiri dari hasil penjualan beras sebesar Rp.86.974.444/Tahun dengan rata-rata produksi sebesar Rp.8.697. Kemudian rata-rata hasil penjualan bekatul adalah sebesar Rp.7.094.667/Tahun dengan rata-rata produksi bekatul sebesar Rp.1.182/Tahun. Total ratarata pendapatan yang diperoleh oleh setiap pemilik usaha penggilingan padi adalah sebesar Rp.32.902.500. Hasil analisis kelayakan adalah pada usaha penggilingan padi diperoleh bahwa nilai R/C ratio adalah 1.54. Berdasarkan kriteria kelayakan usaha penggilingan padi keliling dengan perhitungan R/C > 1 maka usaha penggilingan padi layak untuk semua di usahakan. Running a rice mill provides convenience for farmers as there is no need to carry paddy to distant milling locations, thus saving time and transportation costs. However, there are several problems in the rice milling business, namely requiring large investments to buy milling machines and vehicles, requiring regular maintenance and can face damage that affects operations. The purpose of the study was to analyze the income and financial feasibility of the rice milling business in Sidobinangun Village, Tanah Lili District, North Luwu Regency. The results obtained the average total variable and fixed costs incurred by each owner of the rice milling business running is Rp.61,166,611 / year. The total revenue of rice and rice bran on average is Rp.94,069,111/year. The revenue consists of rice sales of Rp.86,974,444/year with an average production of Rp.8,697. Then the average sales of rice bran is Rp.7,094,667/year with an average production of rice bran of Rp.1,182/year. The total average income earned by each rice milling business owner is Rp.32,902,500. The results of the feasibility analysis are on the rice milling business obtained that the R / C ratio value is 1.54. Based on the criteria for the feasibility of a mobile rice milling business with the calculation of R / C> 1 then the rice milling business is feasible for all in business.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.3667
Analisis Kelayakan Usahatani Bawang Merah (Studi Kasus Petani Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk)
  • Nov 3, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Fitri Krismiratsih + 1 more

Kegiatan budidaya tanaman bawang merah merupakan salah satu usaha yang banyak dilakukan oleh petani di Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Hal ini dikarenakan bawang merah merupakan salah satukomoditas yang secara ekonomis memberikan keuntungan. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui kelayakan usaha di tingkat petani dengan melihat nilai R/C. Penelitian dilakukan di Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk dalam waktu 2 bulan, yakni Oktober sampai dengan November 2022 dengan jumlah responden sebanyak 30 petani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan dekriptif dan pengambilan data dilakukan menggunakan purposive sampling. Alat analisis menggunakan perhitungan penerimaan, keuntungan, dan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya petani bawang merah sebesar Rp23.568.610,33; rata-rata penerimaan petani dengan produksi mencapai 2.770 Kg sebesar Rp33.240.000,00; dan keuntungan petani sebesar Rp9.671.389,33. Hasil perhitungan rata-rata R/C petani bawang merah ialah 1,4. Usaha budidaya bawang merah dinilai layak dan menguntungkan untuk dijalankan dalam usaha tani di Kabupaten Nganjuk Shallot cultivation is one of the many business carried out by Farmers in Rejoso District, Nganjuk Regency. Because shallots is one of the commodities that economical profitable. The purpose of this research was to know R/C analysis in onion farmer’s onion. It was in Rejoso Nganjuk Regency. It done among 2 month, October until November 2022. It needed 30 farmers. Method used descriptive and It used purposive sampling. Analysis that was used to counting of appropriateness was income, profit and R/C ratio. The result showed average of production Rp23.568.610,33; production onion 2.770 Kg, average total income Rp33.240.000,00; and the profit as Rp9.671.389,33. R/C of this research was 1,4. Business of onion has a good value of R/C

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.32520/agribisnis.v14i2.4139
Karakteristik Demografi Konsumen Kafe Kopi di Kota Padang
  • Nov 3, 2025
  • JURNAL AGRIBISNIS
  • Nova Sillia + 5 more

Pertumbuhan industri kafe kopi di Kota Padang mengalami peningkatan seiring dengan tren konsumsi kopi yang semakin populer, khususnya di kalangan generasi muda. Kondisi ini menuntut pelaku usaha kafe untuk memahami karakteristikkonsumennya untuk meningkatkan daya saing dan memepertahankan eksistensi usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik demografi konsumen kafe kopi di Kota Padang serta merumuskan strategi pemasaran yang sesuai untuk pengembangan usaha kafe kopi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 109 responden yang aktif mengunjungi kafe minimal satu kali dalam sebulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara deskriptif menggunakan bantuan perangkat lunak statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen adalah perempuan, berusia 26–35 tahun, berstatus pelajar/mahasiswa, memiliki pendidikan tinggi, dan berpendapatan di bawah Rp3.000.000. Temuan ini menunjukkan bahwa kafe kopi tidak hanya menjadi tempat konsumsi, tetapi juga ruang sosial dan gaya hidup. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang disarankan mencakup penyesuaian harga, penyediaan fasilitas yang mendukung produktivitas, serta pendekatan digital yang komunikatif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan layanan dan strategi pemasaran yang lebih efektif bagi pelaku usaha kafe di Kota Padang. The growth of the coffee shop industry in Padang City has increased in line with the rising trend of coffee consumption, particularly among younger generations. This condition requires cafe business actors to understand the characteristics of their consumers to increase competitiveness and maintain the existence of their business. This study aims to analyze the demographic characteristics of coffee shop consumers in Padang City and to formulate appropriate marketing strategies for coffee shop business development. A quantitative approach was employed through a survey method involving 109 respondents who actively visited coffee shops at least once a month. Data were collected via questionnaires and analyzed descriptively using statistical software. The results show that most consumers are female, aged 26–35, students, with higher education backgrounds, and earn less than IDR 3,000,000 per month. These findings indicate that coffee shops serve not only as places for coffee consumption but also as social and lifestyle spaces. Therefore, the recommended marketing strategies include competitive pricing, providing facilities that support productivity, and adopting a communicative digital marketing approach. This study is expected to serve as a reference for developing more effective services and marketing strategies for coffee shop entrepreneurs in Padang City