Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.382
TREATMENTOF DISTEMPER INMONGRELDOG WITH NEUROLOGICALSIGNS:ACASE REPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Ketut Elok Sukardika + 2 more

Canine distemper virus (CDV) merupakan penyakit virus infeksius yang sangat menular, menyerang sistem pernapasan, gastrointestinal, dan saraf pada anjing. Penulisan artikel ini bertujuan untuk melaporkan kasus CDV pada anjing serta penanganannya. Seekor anjing kacangbernama Jojo,berumurlimabulan, berjenis kelamin jantan, memiliki warnarambutkombinasi cokelat dan putih, berjenis kelamin jantan, dengan bobot badan 5 kgterinfeksi canine distemper virus. Diketahui suhu rektal40 ĚŠC, frekuensi detakjantung 116 kali/menit, frekuensi pulsus 112 kali/menit, frekuensi respirasi 45 kali/menit, dan capillary refill time(CRT) lebih dari duadetik.Anjing kasus memiliki riwayat sakit satu bulan sebelumnya dengan gejala lemas, tidak mau makan dan minum, muntah, diare, batuk, dan hidungmengeluarkan leleran mukopurulen.Anjingkasuskemudian dirawat inap selama enamhari,hasilnya kondisi anjing tampak membaik dan dibawa pulang oleh pemilik.Namun, anjing kembali sakit dengan gejala serupa satubulan pascapengobatan ditambah dengan munculnya gejala kejang-kejang(chorea), paralisis,dan uveitis.Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing mengalami limfopenia, eosinopenia, trombositosis, dan anemia mikrositik. Berdasarkan hasil testkitanjing positif terinfeksi CDV. Terapi yang diberikan berupaterapi cairan dengan ringer laktatdan antibiotik cefotaxime, terapi simtomatis diberikanantikonvulsandiazepam, dan terapi suportif diberikan vitamin B1, B12, dan vitamin C.Selama enamhari pengobatan kondisi hewan terlihatmembaik pada hari ke-2 sampai hari ke-4, tetapi pada hari ke-5 kondisi hewan memburuk danpada hari ke-6 anjing kasus mengalami kematian

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.431
SEVEREINFECTION OFTOXOCARIOSISINADULTCAT: A CASEREPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Putu Kresna Medha + 2 more

Toksokariosisadalahsalah satu penyakit zoonosis parasitikpada kucingyang disebabkan oleh cacing Toxocara sp..Gejala umum toksokariosisyang dialami pada kucing berupa anoreksia, muntah, rambut rontok, dan abdomen yang membesar.Tujuan dari penulisan ini adalah untuk melaporkan kejadian toksokariosis pada kucing serta penanganannya.Kucing kasus merupakan kucing raspersia yang bernama Momo,berumur10 tahun, mengalami diare sejak satu tahun yang lalu sampai sekarang. Menurut pemilik, kucing kasus pernah memakan tikus, ular, dan bajing. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan rambut tampak kusam, kusut, dan kotor, kedua telinga terdapat kotoran hitam, adanya bercak diare di area anus, dan saat dilakukan auskultasi terdapatpeningkatan suara borborygmus. Hasil pemeriksaan feses dengan metode natif, sedimen, dan apung,serta pemeriksaan Egg Per Gram(EPG)pada tinja,ditemukan telur cacing Toxocara sebanyak 17.400butir telur per gram. Hal tersebutmenunjukkan adanya infeksi cacing Toxocara sp.dengan derajat infeksi berat. Oleh karena itu, kucing kasus dapat didiagnosis mengalami toksokariosis.Pengobatan yang diberikan pada kucing kasus adalah pengobatan kausatif berupa antelmintik albendazoledengan dosis 50 mg/kg BBselama 21 hari dan pengobatan suportif probiotik Lacto-B 1g/hari selama tujuh hari. Hasil pemeriksaan feses pascaterapi melalui metode natif, sedimen, apung, maupun EPG menunjukkan kucing kasussudah sembuh dari infeksi cacing. Namun, kucing kasus masih mengalami gejala diarewalau tidak separah sebelum diberikan pengobatankarena efek samping dari pengobatan.Albendazoledipilih dalam pengobatan kasus inidikarenakan obat ini tidak hanya membunuh cacing dewasa, tetapijuga telurnya.

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2023.13.4.368
HERBAL TREATMENT FOR CHRONIC BRONCHOPNEUMONIA IN CAT:A CASE REPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Hagai Deosiddhanta Widagdo + 2 more

Bronkopneumonia merupakan peradangan yang terjadi pada bronkus dan alveoli paru-paru. Bronkopneumonia dianggap sebagai penyakit utama dan dapat terjadi sebagai akibat dari kerusakan paru-paru. Tujuan penulisan ini adalah untuk melaporkan kejadian bronkopneumonia kronis pada kucing serta penanganannya.Hewan kasus merupakan seekor kucing betinapeliharaanbernama Cantik, berumur limatahun, dengan bobotbadan2,7kg.Kucing kasus diperiksa dengan keluhan kesulitan bernapas, napas lambat dan dalam, dan kejadian ini telah berlangsungselamaenam bulan.Kucing terlihat kerapbatuk dengan frekuensi yang cukup sering.Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya suara wheezesatau mengi pada saat auskultasi. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan hematologi rutindengan hasil kucing mengalami trombositopenia, pemeriksaan sitologi dengan sampel yang diambil melalui usap hidungditemukan adanya sel radang, dan pemeriksaan radiografi yang difokuskan pada regiotoraks dengan hasil berupa perubahan opasitas menjadi radiopaquepada organ paru-paru. Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, kucing kasus didiagnosismenderita bronkopneumoniakronis. Pengobatan dilakukan dengan memberikan nebulasi, antiradang methylprednisolone,dan antibiotik doxycyclineselama tujuhhari. Setelah tujuhhari,pengobatan digantimenggunakan obat herbaldengan alasanobat herbal dipercaya memiliki efek samping yang lebih minimal pada hewan berumur tua. Pengobatan digantidengan jamu yang mengandung kencur, daun akar kucing, lengkuas, jahe, bawang putih,minyak hati ikankod yang kaya akan omega 3, suplemen penambah nafsu makan,dan nebulasipada kucingtetap dilanjutkan.Tiga minggupascapengobatan,kucing menunjukkan perbaikan secara klinisyang dilihat dari berkurangnya frekuensi batuk dan cara bernapas yang normal. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan kembali normalnya kadar trombosit dalam darah.

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.344
CHRONIC RHINITIS AND CONJUNCTIVITIS CAUSED BY INFECTION OF ESCHERICHIA COLI AND STAPHYLOCOCCUS SP.IN PETCAT: A CASE REPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Ni Putu Tiara Indriana + 2 more

Rinitis adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran napas atas yaitu mukosa hidungdengan tanda klinis seperti bersin, batuk, demam, kelainan pada frekuensi pernapasan, keluarnya leleran dari rongga hidung, dan diikuti oleh pembengkakan pada limfonodusmandibularis.Rinitis seringkali disertai dengan konjungtivitis, yaitu peradangan pada konjungtiva yang ditandai adanya dilatasi pembuluh darah pada konjungtivayangmengakibatkan hiperemia dan edema disertai keluarnya cairan. Penyebabrinitis dan konjungtivitisdapatberupa agen infeksius ataunon-infeksius. Pemeriksaan dilakukan pada kucingpeliharaan bernama Pussy, berjenis kelamin betina, berumur tigatahun, bobotbadan 3,2 kg dengan keluhan bersin, pilek, mata kotor, dan kesulitan bernapas.Pada pemeriksaan fisikkucing terlihat kesulitan bernapas, ditemukanleleran hidung dan leleran mata mukopurulendisertai konjungtivitis.Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan bahwa kucing kasusmengalami leukositosis, limfositopenia, anemia normositik hipokromik,dan eosinofilia. Pemeriksaan sitologi terhadap leleran hidung dan leleran mata menunjukkan adanya infiltrasi sel neutrofil, sel epitel,dan sel bakteri.Pada pemeriksaan kultur bakteridari sampel leleran hidung dan leleran mata, kucing positif terinfeksi bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus sp..Kucingkasus didiagnosismengalami rinitisdan konjungtivitisolehinfeksibakteri E.colidan Staphylococcus sp..Terapidilakukan dengan pemberianantibiotikamoxicillinclavulanicacid(12,5 mg/kgBB q12h PO), tetes mata yang mengandung antibiotik chloramphenicoldan kortikosteroid dexamethasone(1 tetes pada setiap mata q8h), antihistamin cetirizine HCl(1mg/ekor q24h PO),serta vitamin Livron B-Plex (1 tabletq24h PO).Duaminggu pascaterapi,kucing kasus mengalami perbaikan kondisi yangditandai dengan tidak adanya leleran pada mata dan hidung, tidak bersin,dan konjungtivitis telah sembuh.

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.451
INFECTION OF BOVINE VIRAL DIARRHEA-VIRUSIN CATTLE:A LITERATURE REVIEW
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Made Gede Adi Surya Saputra + 6 more

Bovine viral diarrheavirus(BVDV) adalah Pestivirusdalam keluarga Flaviviridae, yang berkerabat dekat dengan virus classical swine fever dan virus ovine border disease. Terdapat duagenotipe BVDV dan beberapa subgenotipe. Sapi dari segala umur rentan terhadap infeksi BVDV. Infeksi BVDV menimbulkan berbagai manifestasi klinis, diantaranyapenyakit enterik dan penyakit pernapasan pada semua kelas sapi, serta gangguanreproduksi dankelainanpadajanin pada sapi betina yang rentan. Gangguan yang disebabkan olehinfeksi BVDV terbagi menjadi dua genotipe,yaituBVDVtipe 1 dan BVDV tipe 2. Keduanya diidentifikasi sebagai spesies berbeda dalam genus ini, dan setelahklasifikasi lebih lanjutdiklasifikasikansebagai non-sitopatik(NCP) dan sitopatik (CP).Agen BVDVnon-sitopatikdidugamenyebabkaninfeksi akut dan dapat ditularkan melalui berbagai cairan tubuh, termasuk sekresi hidung, urin, susu, air mani, air liur, air mata, dan cairan janin.Namun, eksperimen telah menunjukan bahwa agen BVDVsitopatik juga dapatmenyebabkan infeksi akut. Infeksi akut dapat menyebabkanviremia temporeryang dimulai tiga hari setelah infeksi dan berlangsung hinggaimunitas terhadap BVDV terbentuk.InfeksiBVDV padafetus dapatmenyebabkan imunotoleransidan infeksi persisten (IP).Mucosal disease adalah kelanjutan dari infeksi persisten yang disebabkan olehgalur NCPBVDV, yangdiikuti oleh infeksipostnatalberikutnya oleh galurCPdari virus yang berkerabat dekat atau homolog. Diagnosis BVDV dapat ditegakkan dengan berbagai pemeriksaan antara lain menggunakanenzyme-linked immunosorbent assay(ELISA), antigen-capture enzyme(ACE)-linked immunosorbent assay, dan immunohistochemistry (IHC). Vaksin BVDV dapat diberikan pada sapi sebagai tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi BVDV akut.

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.356
COMBINATION OF TRIMETHOPRIM AND SULFAMETHOXAZOLEASENTERITIS THERAPY DUE TOISOSPORA SP. INFECTION IN FEMALE CATS: A CASE REPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Ade Riskha Pratiwi + 2 more

Kucing merupakan salah satu hewan yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Kucing termasuk salah satu hewan kesayangan yang perlu mendapat perhatian dalam aspekpemeliharaandan pengembangbiakkan.Kendala yang kerap ditemukan pada pemeliharaan kucing adalah rentannya kucing terhadap infeksi parasit. Parasit yang sering ditemukan pada kucing,yaitu Isospora felis, Isospora rivalta,dan Toxoplasma gondii. Kucing yang terinfeksi Isospora spp. umumnya menunjukkan gejala klinis diare, muntah, dehidrasi, hilangnafsu makan,dan penurunan bobot badan. Hewan kasus merupakan seekor kucing betina berumur tiga bulan, berwarna coklat dengan bobot badan 1,1 kg. Kucingdibawa oleh pemiliknya untuk diperiksa dengan keluhan abdomen membesar disertai diare berwarna cokelat yang disertai bercak darah selama seminggu, intensitas diare dapat terjadi lebih dari lima kali sehari. Pemeriksaan fisik secara inspeksi menunjukkanmukosamulut dan anusterlihat merah muda pucat, abdomen terlihat membesar, terdapat sisa kotoran di sekitar anus, saat dipalpasi abdomen mengencang seperti terdapat cairan, dan saat diauskultasi terdengar suara borborygmus. Pada pemeriksaan feses menggunakan metode apung ditemukan ookista Isospora spp..Kucing didiagnosis mengalami koksidiosisdengan infeksi Isospora spp.Terapi yang diberikan berupa pemberian antibiotiktrimethoprim6,5 mg/ kg BB dan sulfamethoxazole35 mg/ kg BB selama lima hari; dan pemberian sirup kaolin-pektin 1 mL/kg BB peroralsetiap 12 jam selama dua hari. Terapi suportif diberikan multivitamin sebanyak satu kalisehari peroralselama lima hari. Evaluasi kondisi hewan kasus pada hari kelima terapi menunjukkan adanya perbaikan kondisi yang ditandai dengan perubahan konsistensi feses dari cairmenjadi padat,serta hewan kasus sudah mau makan dan minum dengan normal. Saat evaluasi feses, tidak ditemukannya ookista sporulasi maupun nonsporulasi sehinggakucing dinyatakan sembuh.

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.440
MONKEYPOX INFECTION IN HUMANS: A LITERATURE REVIEW
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • I Made Bagi Rate + 6 more

Cacar monyet atau monkeypoxmerupakan penyakit zoonosis yang pertama kali diisolasi dari monyet ekor panjangdengan lesi mirip cacar.Cacar monyetdinyatakan sebagai "darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional" oleh Organisasi Kesehatan Dunia(WHO).Beberapa mamalia, seperti tikus, diidentifikasi sebagai reservoir alami viruscacar monyet, sementara primata non-manusia juga dapat terinfeksi dengan manifestasilesi yang mirip seperti manusia yaitu dengan munculnya lesi kulitmakula, papula, vesikel, dan pustulayangberkembang menjadi kerak dan akhirnya mengelupas dengangejala sistemik dan prodromal seperti demam, kelelahan, penurunan nafsu makan,limfadenopati, mialgia, dannyerisakit kepala. Periode inkubasi viruscacar monyetberkisar antara 6-13 hari. Kasus pertamacacar monyetdi Asia Tenggara dilaporkan terjadi di Singapura pada Mei 2019. Penyakit cacar monyet atau monkeypoxbelum pernah ditemukan di Indonesia sejak pertama kali ditemukan pada manusia.Cacar monyet juga dapat ditularkan secara seksual dari laki-laki ke laki-lakisebagaimana terbukti dengan munculnya lesi di sekitar area anal atau genital.Vaksin smallpox memilikiperan dalam pencegahan infeksi monkeypoxakibat reaksi silang imunologis antarvirus dalam satu genus yang sama, dengan perkiraan tingkat keberhasilan 85%. Vaksin yang dipertimbangkan untuk digunakan merupakan vaksin berbasis virus vaccinia. NegaraIndia, melalui Serum Institute of India(SII), aktif mengembangkan vaksin cacar monyet dengan bermitra bersama organisasi internasional, seperti Novavax untuk menciptakan vaksin berbasis mRNA. Upaya ini memperlihatkan kemampuan negara India dalam produksi vaksinyang diperkuat oleh pengalaman dalam menangani penyakit menular seperti COVID-19. Upaya ini adalah bagian dari strategi yang lebih luas yang mencakup peningkatan kemampuan diagnostik dan eksplorasi pengobatan antivirus untuk cacar monyet atau monkeypox.

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.405
TREATMENTOF COINFECTION OF CTENOCEPHALIDES SP., SARCOPTES SCABIEIAND TOXOCARA SP.IN CROSSBREED CAT: A CASE REPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Catur Prasetyo + 2 more

Ctenocephalides sp.dan Sarcoptes scabieimerupakan ektoparasit yang dapat menyerang kulit kucing ditandai dengan gatal, kemerahan pada kulit, dan alopesia pada area gigitan dan dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan lain ataupun dari lingkungan sekitar, sedangkan Toxocara sp.merupakan endoparasit nematoda penyebab penyakit toxocariasis. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi larva T. canispada anjing dan T. catipada kucing yang juga dapat ditemukan pada hewan dan manusia di seluruh dunia. Tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk melaporkan kejadian infeksi ganda (koinfeksi) yang disebabkan ektoparasit dan endoparasit pada seekor kucing peranakan, serta untuk menambah referensi dalam penanganan pada kejadian serupa. Seekor kucing peranakan jantan dengan keluhan mengalami gatal yang ditandai dengan menggaruk bagian telinga, tengkuk, dan dagu sejak satu bulan terakhirserta mengalami permasalahan pada pencernaan yang ditandai dengan diare. Pemeriksaan fisik menemukan adanya lesi alopesia, krusta, eritema, pinjalCtenocephalides sp.pada kulit,dan konsistensi feses seperti pasta berwarna kuning. Hasil pemeriksaan penunjang berupa superficial skin scrapingdan acetate tape preparationditemukan adanya ektoparasit S.scabiei. Pemeriksaan trichogramditemukan adanya patahan rambut irregular. Pemeriksaan feses metode natif ditemukan adanya telur cacing nematoda Toxocara sp..Pemeriksaan hematologi rutin menemukan adanya anemia mikrositiknormokromik.Berdasarkan temuan tersebut maka kucing didiagnosis mengalami koinfeksi parasit Ctenocephalides sp.,S. scabiei, dan Toxocara sp.. Penanganan yang diberikan berupa obat kutu spot-on yang mengandung selamectindan sarolanersecara topikalyang diberikan satu kali dalam 28 hari, obat pereda alergi berupa cetirizine5 mg/ekorselama 5 hari PO,dan multivitamin. Berdasarkan pengamatan selama 28 hari, kondisi kucing mengalami perbaikan secara klinisyang ditunjukkan dengan hilangnya krusta dan kemerahan pada kulit, hilangnya responsmenggaruk, serta tumbuhnya rambut pada area yang mengalami alopesia.

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.419
SCABIES CAUSED BY NOTOEDRES CATI IN CATSANDHISTOPATHOLOGICAL FEATURES OF THE SKIN: A CASE REPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Silvia Dwi Lestari + 2 more

Notoedres catimerupakan tungaupenyebab skabiosisyang sangat menular pada berbagai jenis ras kucing.TungauN.catibersifat zoonosis dengan gejala klinis pada manusia dan kucing berupa gatal-gatal, rambut rontok(alopesia), dan terbentuknya keropeng. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan informasi mengenai dampak infeksi skabiosis pada kucing, berdasarkan gambaran histopatologi kulit dan terapi yang diberikan pada kucing kasus skabiosis.Seekor kucing peliharaanbernama Panther,berumur empattahun,mengalami masalah kulit berupa hiperkeratosis, scale(sisik), alopesia, eritema, sertaerosi pada kepala, kedua telinga, leher,dan punggung. Dari hasil pemeriksaan kerokan kulit,ditemukanadanya tungau N.cati.Pemeriksaan histopatologi dari sampel biopsi kulit menunjukkan adanya hiperkeratosis, erosi epidermal, beberapa terowongan disertai radang denganN. catiyang memiliki eksoskeleton berkitin, dan terlihat banyak agregat sel inflamasi pada stratum korneum.Hasil pemeriksaan hematologi rutin mengindikasikan bahwa kucing tersebutmengalami anemia mikrositik normokromikyang ditandai dengan penurunan jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin.Berdasarkan hasil pemeriksaan, kucing kasus didiagnosis mengalami skabiosisdengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan meliputi ivermectindengan dosis 0,3 mg/kg BB, diphenhydramine HCldengan dosis 1 mg/kg BB, minyak ikan (fish oil), serta dimandikanmenggunakan sabun yang mengandung sulfur satu kali seminggu setelah pemberian ivermectin.Untuk pengobatan luka biopsi kulit, diberikan neomycin sulfatedan bacitracin zinc.Evaluasi pada hari ke-14 menunjukkan berkurangnya hiperkeratosis dan scalepada daerah telinga, kepala, leher, dan punggung dorsal, luka biositelah sembuh, dan rambut mulai tumbuh kembali pada kucing kasus. Injeksiivermectindiulang pada hari ke-14. Pada hari ke-21, kucing kasus tidak lagi menunjukkan gejala gatal dan rambut semakin tumbuh dengan baik

  • Research Article
  • 10.19087/imv.2024.13.4.395
TICK PARALYSISDISORDER IN MONGRELDOGWITH RHIPICEPHALUSSANGUINEUS INFECTION: A CASE REPORT
  • Dec 14, 2024
  • Indonesia Medicus Veterinus
  • Difa Suci Latifah + 2 more

Kelumpuhan akibat caplak atautick paralysisadalah sindrom neurologis yang ditandai dengan ataksia akut yang berkembang menjadi kelumpuhan asendens.Hal ini disebabkan oleh neurotoksin pada saliva dari beberapa spesies caplak.Hewan kasus merupakan anjing kacangbernama Monroe,berjenis kelamin betina,berumur empattahun,dengan bobot badan 14,2 kg, memiliki rambut berwarna putih.Anjingtiba-tiba lemas dan terlihat tidaknyaman saat berjalan dan duduk terutama pada bagian kaki belakang.Hasilpemeriksaan selain sistem sirkulasi dan limfonodusmenunjukkantidaknormal,sertabanyakditemukannyainfeksiektoparasit Rhipicephalus sanguineuspada anjing kasus.Hasil pemeriksaan penunjang pada darah rutin menunjukkan hewan kasus mengalami anemia.Hasil pemeriksaan X-ray tidak menunjukkan adanya kelainan pada ekstremitas.Diagnosis definitif pada anjing kasus dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang tidak menunjukkan terjadinya kelainan anatomi pada ekstremitas kaudal sinistramaupun dextradan tidak adanya fraktur pada ekstremitas kaudal, sehingga dapat disimpulkan bahwa anjing kasus mengalami tick paralysisdengan prognosis infausta.Terapi yang diberikan selama 10 hari dengan pemberianmultivitamin mengandung vitamin B1100 mg, B6 100 mg, B12 5.000 mcg, suplemen penambah darah yang mengandung ferrous gluconate250 mg, manganese sulfate0,2 mg, copper sulfate0,2 mg, vitamin C 50 mg, folic acid1 mg, vitamin B12 7,5 mcg, serta ivermectin1%tetapi tidak menunjukkan perubahan. Tujuan penulisan ini dibuat untuk melaporkan gangguan tick paralysis pada anjing kacang dengan infeksi Rhipicephalus sanguineus.