Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.393
Utilisasi dan Efisiensi Truk Angkut Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit: Dalam Pengelolaan Perusahaan Swasta dan Pengelolaan Kontraktor Angkutan Masyarakat
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Bagas Anugrah Herviandinata + 2 more

Transportasi Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit merupakan faktor penting dalam dalam menjaga kuantitas dan mutu TBS sebagai bahan Crude Palm Oil (CPO). Pengelolaan sistem transportasi yang baik diperlukan untuk meminimalkan waktu, dan menekan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi operasional truk angkut TBS, baik yang dikelola oleh perusahaan kelapa sawit swasta maupun oleh kontraktor angkutan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analisis kuantitatif komparatif untuk mengetahui perbedaan parameter kinerja dan efisiensi antara dua kelompok data, dengan analisis statistik Uji-T. Hasil penelitian memperlihatkan siklus pengangkutan yang dikelola perusahaan swasta lebih pendek dibandingkan yang dikelola kontraktor masyarakat (1,3 jam dibanding 3,2 jam), atau utilisasi truk lebih rendah. Sedangkan produktivitas dump truk angkutan perusahaan swasta 19.641,05 ton/haridibandingkan yang dikelola kontraktor sebesar 7.061,25 ton/hari. Dari biaya angkut TBS/kg, sistem angkut TBS di perusahaan lebih efisien dibandingkan dengan di kebun masyarakat, yakni Rp 15,8/kg dibandingkan dengan Rp 53,4/kg.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.450
Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Cair Terhadap Kandungan Klorofil, Serat Kasar dan Vitamin C pada Tanaman Pakcoy secara Hidroponik
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Rizki Nia Sukri Nasution + 2 more

Pakcoy menjadi salah satu tanaman yang banyak disukai oleh masyarakat_khususnya di Indonesia karna mengandung banyak manfaat dan vitamin yang tinggi. Nutrisi merupakan kunci utama dalam budidaya hidroponik. Pemupukan dapat dilakukan melalui daun. pemupukan harus diimbangi dengan dosis yang tepat agar memberikan hasil yang maksimal, kandungan nutrisi yang terkandung pada pupuk cair dapat memengaruhi kandungan klorofil yang dapat memengaruhi kandungan serat kasar tanaman dan juga vitamin C pada tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi serta jenis dan dosis terbaik pada klorofil total, kandungan serat kasar serta vitamin C pada tanaman pakcoy Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2024 di Green House Arif Hydrofarm Kota Padang, Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian, dan Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil tTanaman Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Petak Terbagi (RPT) factorial. Faktor pertama yaitu atas 5 jenis pupuk (Good Grow, Gandasil, Ferti Grow, Yield More dan NPK Vertine) dan faktor kedua yaitu 4 dosis pupuk (0 ml/L, 5 ml/L, 10 ml/L dan 15 ml/L.). Data dianalisis dengan uji F pada taraf 5%, jika F hitung lebih besar dari pada F table, maka dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range’s Test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil yang didapatkan terdapat interaksi pemberian jenis pupuk dan dosis pupuk cair pada klorofil total daun tanaman pakcoy. Pemberian pupuk cair Good Grow memberikan terbaik terhadap klorofil daun dan peningkatan serat kasar serta Vitamin C yang dibudidayakan pada sistem NFT dengan AB Mix 700 ppm. Dosis 15 ml/L memberikan pengaruh terbaik terhadap klorofil total daun dan peningkatan serat kasar serta vitamin C tanaman Pakcoy yang dibudidayakan pada sistem NFT dengan AB Mix 700 ppm. terdapat interakasi pada kandungan klorofil total, dan adanya peningkatan kandungan serat kasar dan kandungan Vitamin C pada pemberian pupuk Grow Good dengan dosis 15 ml/L.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.498
Pengaruh Waktu dan Metode Fermentasi Terhadap Kandungan C, N, P, K dalam Pupuk Organik Cair dari Limbah Air Kelapa Tua, Limbah Buah-Buahan dan Molase
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Dionisia Hariani Nada + 2 more

Salah satu isu krusial yang dihadapi sektor pertanian saat ini adalah meminimalisasi dampak lingkungan tanpa memengaruhi hasil pertanian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penggunaan pupuk organik cair (POC). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu dan metode fermentasi terhadap kandungan unsur hara yaitu karbon, nitrogen, fosfor dan kalium (CNPK) dalam POC dari limbah air kelapa tua, limbah kulit buah-buahan yaitu pisang kepok, nanas dan semangka, serta molase. Metode fermentasi yang digunakan yaitu aerob dan anaerob, dengan waktu fermentasi selama 21 hari. POC yang diperoleh dari hasil fermentasi menggunakan kedua metode tersebut diamati parameter fisiknya berupa aroma dan warna, sedangkan untuk parameter kimianya akan diukur pH, kandungan C-organik, nitrogen, fosfor dan kalium. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan standar pupuk organik berdasarkan Indonesian Standards No. 261/KPTS/SR.310/M/4/2019. Hasil yang diperoleh menunjukkan beberapa parameter yaitu aroma, warna, kadar C-organik dan kadar nitrogen telah memenuhi standar yang berlaku, sedangkan nilai pH, kadar fosfor dan kalium belum memenuhi standar yang berlaku. Rata-rata hasil yang diperoleh memperlihatkan metode fermentasi POC secara aerob memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan metode fermentasi secara anaerob.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.476
Review Media Tanam dan Hasil Jamur Tiram putih (Pleurotus ostreotus)
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Nanda Audia Pratiwi + 3 more

Topik literatur review ini mengulas mengenai beberapa jenis bahan pembuat media tanam jamur tiram. Ulasan dalam literatur review ini diambil dari artikel dengan topik yang sesuai dengan topik tersebut. Terdapat banyak jenis bahan media tanam yang digunakan oleh petani sebagai media budidaya jamur tiram, dan tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan dari masing-masing bahan. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan rekomendasi rancangan bahan media tanam yang tepat dalam kegiatan budidaya jamur tiram konvesional agar dapat menghasilkan produksi yang optimal dan dapat dipergunakan untuk menentukan topik utama peninjauan literatur di masa mendatang. 30 naskah artikel yang dikaji dari tahun 2015 hingga 2024 diperoleh dari jurnal yang terdaftar pada SINTA dan laman penyedia artikel ilmiah Google Scholar. Spesifikasi ulasan dibuat berdasarkan literature review. Hasil literatur review ini diperoleh bahwa dari beberapa jenis bahan yang digunakan sebagai media tanam seperti serbuk kayu, jerami, eceng gondok, sekam, sabut kelapa, ampas tahu, daun durian, dan pelepah sawit bagi jamur tiram diperoleh hasil analisis bahwa bahan yang paling tepat dengan hasil yang optimal bagi produktivitas jamur tiram yaitu bahan pelepah sawit komposisi 100% yang mampu menghasilkan jamur tiram sebanyak 650 g/ baglognya. Selain itu, penggunaan kombinasi serbuk kayu 85% + sekam padi 15% memiliki hasil yang cukup optimal yaitu 493,98 g/ baglog. Hal ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi ataupun ketersediaan sumberdaya di sekitar agar dapat dimanfaatkan dan menghindari pencemaran lingkungan.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.447
Analisis Pengaruh Penambahan Senyawa Oksidator KMnO4 Terhadap Kualitas Briket Campuran (Daun Jati dan Arang Bonggol Jagung)
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Dwi Sukowati + 2 more

Briket campuran (daun jati dan arang bonggol jagung) dapat menjadi bahan bakar alternatif yang mendukung terwujudnya program Green Economy yaitu pengurangan limbah. Selain menggunakan limbah, penambahan bahan kimia juga dapat dilakukan untuk mencari formulasi briket berkualitas baik. Salah satu jenis oksidator yang dapat dipakai sebagai zat aditif pada briket adalah KMnO4. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas briket melalui perlakuan penambahan oksidator KMnO4 pada briket berbahan dasar campuran daun jati dan arang bonggol jagung. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Variabel bebasnya adalah briket campuran (daun jati dan arang bonggol jagung) yang ditambah KMnO4 dengan konsentrasi 0%, 5%, 10%,15%. Untuk perbandingan kompisisi daun jati dan arang bonggol jagung sebesar 2:1. Untuk variabel terikat penelitiannya adalah kualitas briket yang meliputi: waktu pertama api menyala, lama nyala briket hingga menjadi abu, nilai kalor, kadar abu, volatile, dan kadar air. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Semakin besar konsetrat senyawa oksidator KMnO4, maka waktu yang dibutuhkan briket untuk menyala semakin singkat; (2) Semakin tinggi konsetrat senyawa oksidator KMnO4, maka lama pembakaran briket menjadi abu semakin singkat; (3) Briket campuran (daun jati dan arang bonggol jagung) dengan penambahan oksidator KMnO4 dengan semua perlakuan belum memenuhi standar SNI No. 1/6235/2000, karena memiliki nilai kalor < 5000 Kal/gram, tetapi telah memenuhi standar kualitas briket padaPeraturan Menteri ESDM No. 47/2006 yaitu > 4400 Kal/gr pada BK0 dan BK 5; (4) Semakin besar konsentrat oksidator KMnO4 pada perlakuan pembuatan briket camnpuran (daun jati dan arang bonggol jagung), maka kadar airnya semakin rendah; (5) Semakin banyak penambahan senyawa oksidator KMnO4, maka semakin tinggi kadar abu yang dihasilkan. (6). Semakin tinggi konsentrat oksidator KMnO4, semakin menurun kadar volatile briket. Namun, kadar volatil semua briket yang dibuat belum memenuhi standar nasional karena lebih dari 15%.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.508
Hubungan Modal Sosial, Modal Insani, dan Orientasi Kewirausahaan dalam Mendukung Ketahanan Bisnis pada Industri Kopi Bubuk di Kabupaten Tanah Datar
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Lora Triana + 3 more

Peningkatan produksi kopi, menjadi peluang terhadap perkembangan industri pengolahan kopi di Indonesia. Industri harus memiliki kemampuan bertahan, karena dihadapkan pada gangguan secara internal dan eksternal yang akan mengancam keberlanjutan industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan bisnis pada sentra kopi bubuk lokal di Nagari Koto Tuo, Kabupaten Tanah Datar, dengan mendeskripsikan hubungan modal sosial, modal insani, dan orientasi kewirausahaan terhadap ketahanan bisnis. Nagari Koto Tuo dipilih sebagai wilayah penelitian karena 75% masyarakat Nagari Koto Tuo merupakan pelaku usaha kopi bubuk. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode survei. Teknik pengambilan sampel adalah simple random sampling, Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 139 pelaku usaha kopi bubuk di Nagari Koto Tuo. Variabel penelitian yaitu modal sosial (X1), modal insani (X2), orientasi kewirausahaan (X3), dan ketahanan bisnis (Y). Setiap variabel penelitian diinterpretasikan secara statistik deskriptif berdasarkan nilai masing-masing variabel dan menggunakan uji Korelasi Pearson Product Moment untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memiliki nilai variabel 72%, modal insani memiliki nilai variabel 87%, orientasi kewirausahaan memiliki nilai variabel 53%, dan ketahanan bisnis memiliki nilai variabel 71% dari hasil 100% yang diharapkan. Selanjutnya hasil uji Korelasi Pearson Product Moment menunjukkan modal insani berhubungan positif dengan ketahanan bisnis dan kategori hubungan sangat rendah, orientasi kewirausahaan berhubungan positif dengan ketahanan bisnis dan kategori hubungan kuat, sedangkan modal sosial berhubungan negatif dengan ketahanan bisnis dan kategori hubungan sangat rendah. Dalam hal ini, pelaku usaha harus lebih maksimal dalam meningkatkan modal insani yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman serta orientasi kewirausahaan yang meliputi inovatif, proaktif, dan berani mengambil resiko.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.491
Analisis Strategi Pengembangan Minapadi di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Ika Sari Tondang + 2 more

Minapadi merupakan salah satu cara budidaya yang memadukan antara usaha pertanian dan perikanan. Budidaya minapadi berpotensi meningkatkan produktivitas lahan, kesejahteraan petani serta mendukung ketahanan pangan. Desa Pandan Ajeng, Kecamatan Tumpang merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Malang yang memiliki potensi besar untuk pengembangan sistem minapadi. Wilayah ini memiliki kondisi agroekologi yang sesuai, dengan ketersediaan sumber daya air yang memadai dan dukungan dari berbagai pihak dalam pengembangannya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui strategi pengembangan usahatani minapadi di Kecamatan Tumpang. Penelitian ini dilakukan di Desa Pandan Ajeng, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang pada bulan Juli-Agustus 2024. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ketua dan sekretaris kelompok tani, penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan kepala desa. Pihak-pihak ini merupakan informan kunci yang mengetahui pengelolaan minapadi. Metode penelitian dengan menggunakan analisis SWOT dan QSPM. Analisis kondisi internal dan eksternal dilakukan dengan metode wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok Tani Mina Subur Makmur berada pada kuadran strategi pertumbuhan agresif (Growth Oriented Strategy) dan perusahaan menerapkan strategi S-O (Strength-Opportunity) yang terdiri atas tiga strategi yaitu memperluas areal tanam mina padi, meningkatkan mutu beras dan ikan nila dalam rangka memperluas pangsa pasar, mengoptimalkan produksi padi dan ikan nila. Setelah dilakukan analisis QSPM ditemukan rekomendasi alternatif strategi prioritas adalah memperluas areal tanam minapadi. Peluasan areal tanam padi diharapkan dapat memaksimalkan jumlah produksi yang dihasilkan serta mampu memenuhi permintaan beras dan ikan yang semakin meningkat agar mendorong meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.453
Waktu Tanam Berbasis Iklim dan Kondisi Tanah Lahan Penanaman Padi Gogo Wilayah Laeya, Kabupaten Konawe Selatan Periode El Nino
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Rachmi Hariaty Hasan + 5 more

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu Provinsi yang memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman padi gogo. Jenis padi ini memiliki aroma yang khas dan dapat dijadikan pangan alternatif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, kurangnya sistem informasi terkait tanah dan iklim menjadi faktor pembatas dalam memaksimalkan produktivitasnya. Variabilitas iklim (El Nino dan La Nina) menyebabkan pergeseran waktu tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu tanam yang tepat pada tahun-tahun terjadinya fenomena El Nino dengan melibatkan potensi tanah berbasis analisis tekstur dan kadar bahan organiknya. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode tanah terganggu sebanyak 3 kali ulangan setiap unit lahan, lalu dikompositkan dan mengambil 250 g tanah yang selanjutnya akan di bawa ke Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo. Hasil analisis nilai SOI yang diperoleh pada masing-masing bulan dalam 18 tahun menunjukkan bahwa terjadi 4 kali siklus El Nino di Indonesia, khususnya wilayah Laeya, dengan perulangan 1-8 tahun dalam 22 tahun pengamatan. Tekstur tanah pada wilayah pengembangan padi gogo adalah lempung. Kadar bahan organik tertinggi berada pada unit lahan 30, 7 dan 5 dengan kadar C-Organik berbanding lurus dengan BO. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa penanaman dapat dilakukan mulai Februari – Juni. Informasi iklim dan tanah dapat menjadi mitigasi yang baik guna meningkatkan produktivitas padi gogo.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.481
Pengaruh Jarak Tanam dan Sistem Jajar Legowo terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) di Lahan Rawa Pasang Surut
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Ricke Windi Resti + 2 more

Semakin terbatasnya jumlah lahan mendorong petani untuk tetap membudidayakan padi di lahan rawa. Oleh karena itu, petani dapat memodifikasi praktik budidaya dengan menerapkan sistem jajar legowo (jarwo) dan mengubah jarak tanam guna mengatasi masalah serta meningkatkan hasil panen padi. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh dari sistem jajar legowo dan jarak tanam pada pertumbuhan dan hasil tanaman padi di lahan rawa pasang surut. Penelitian dilakukan di Desa Mayangan, Kabupaten Jember mulai Juli sampai dengan November 2023. Penelitian menggunakan Rancangan Split Plot dengan sistem jajar legowo sebagai petak utama (main plot) terdiri dari 3 level: A1 (dua:satu), A2 (tiga:satu) dan A3 (empat:satu) sedangkan untuk anak petak (sub plot) adalah jarak tanam B1 (30cm x 20cm), B2 (30cm x 25cm) dan B3 (30cm x 30cm). Terdapat sembilan kombinasi dengan setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga seluruhnya 27 unit. Fase vegetatif dan generatif, hasil panen, laju pertumbuhan tanaman, dan kandungan N gabah merupakan beberapa variabel yang diamati. Uji Duncan digunakan untuk menilai data pada tingkat 5%. Jumlah tanaman per petak dan bobot gabah kering per petak ternyata dipengaruhi secara signifikan oleh interaksi sistem tanam jarwo (jajar legowo) dan perlakuan jarak tanam. Variabel tinggi tanaman, jumlah tanaman per rumpun, jumlah tanaman per petak, bobot gabah basah per tanaman, bobot gabah kering per rumpun, dan laju pertumbuhan tanaman semuanya dipengaruhi secara berbeda nyata oleh perlakuan jarak tanam. Bobot gabah kering per petak dan jumlah tanaman per petak dipengaruhi sangat nyata oleh perlakuan sistem jajar legowo.

  • Research Article
  • 10.55043/agroteknika.v8i1.444
Mesin Penyangrai Biji Kopi Portabel dengan Tuas Pengaduk Vertikal
  • Mar 25, 2025
  • Agroteknika
  • Yefsi Malrianti + 7 more

Pengolahan biji kopi perlu memperhatikan berbagai aspek yang dapat menjaga kualitas biji kopi, seperti penyangraian. Aroma dan citarasa kopi yang baik dapat dihasilkan melalui tahapan penyangraian dengan menggunakan suhu yang tepat pada setiap tingkat penyangraian. Pengendalian suhu yang presisi dan konsistensi dalam proses penyangraian menjadi kunci untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi yang sesuai dengan preferensi konsumen. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen design. Penelitian ini bertujuan untuk membuat mesin sangrai kopi portabel yang mudah digunakan dan dibawa ke berbagai tempat. Mesin sangrai kopi portable memiliki dimensi yang meliputi panjang mesin 88 cm, lebar mesin 70 cm, dan tinggi mesin 146 cm. Uji kinerja yang dilakukan meliputi kapasitas mesin, kecepatan putar alat, kadar air, dan laju pengeringan. Kapasitas untuk produk light, medium, dan dark secara berturut-turut adalah sebesar 2 kg/jam, 1,33 kg/jam, dan 1 kg/jam. Mesin penyangrai kopi digerakkan oleh motor listrik berkekuatan 1 HP dengan putaran 1.400 RPM. Tuas pengaduk memiliki kecepatan putar 17,5 RPM, yang diperoleh dari pengurangan putaran dari motor listrik, dengan perbandingan pulley 4:8, dan peredam kecepatan 1:40. Kadar air untuk produk light, medium dan dark diperoleh sebesar 7%, 5%, dan 2%. Laju pengeringan produk light, medium dan dark diperoleh sebesar 1 %, 4 % dan 6 %. Hasil analisis ekonomi mesin sangrai kopi menunjukkan biaya tetap sebesar Rp. 1.502.989,2/tahun. Terdapat tiga biaya tidak tetap pada mesin ini yaitu produk light, produk medium, dan produk dark sebesar Rp. 17.297,5. Biaya pokok untuk produk light sebesar Rp. 25.118,43/jam, produk medium sebesar Rp. 27.839,6/jam, dan produk dark sebesar Rp. 32.434,48/jam. Sementara itu, BEP untuk produk light sebesar 336,8 kg/tahun, produk medium sebesar 245,30 kg/tahun, dan produk dark sebesar 208,56 kg/tahun.