- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.21129
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Muhammad Irfan Zain + 2 more
This study aims to develop a Ushul Fiqh textbook based on mind mapping to enhance the understanding of SMP/MTs students on the concepts in the field of Ushul Fiqh. The book Mabadi’e Awwaliyyah fi Ushul al-Fiqh is often considered difficult and less engaging for students at this level. Traditional methods, such as lectures and memorization, are not sufficient to help students grasp the complex material. Therefore, a visual approach using mind mapping is proposed to facilitate students' understanding of the relationships between concepts in Ushul Fiqh. This research uses a qualitative method with a library research approach, where primary data is obtained from Mabadi’e Awwaliyyah and related literature. The findings show that the use of mind mapping can visualize Ushul Fiqh concepts in a more systematic and engaging manner. This visualization not only accelerates comprehension but also increases student involvement in the learning process. This research is expected to contribute to the development of more effective teaching methods for Ushul Fiqh, aligned with the cognitive development of SMP/MTs students. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar Ushul Fiqh berbasis mind mapping untuk meningkatkan pemahaman siswa SMP/MTs terhadap konsep-konsep dalam ilmu Ushul Fiqh. Kitab Mabadi’e Awwaliyyah fi Ushul al-Fiqh sering dianggap sulit dan kurang menarik bagi siswa di tingkat ini. Metode tradisional seperti ceramah dan hafalan tidak cukup efektif dalam membantu siswa memahami materi yang kompleks. Oleh karena itu, pendekatan visual menggunakan mind mapping diusulkan untuk memudahkan pemahaman siswa terhadap relasi antar konsep dalam Ushul Fiqh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, di mana data utama diperoleh dari kitab Mabadi’e Awwaliyyah dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mind mapping dapat memvisualisasikan konsep-konsep Ushul Fiqh dengan cara yang lebih sistematis dan menarik. Visualisasi ini tidak hanya mempercepat pemahaman, tetapi juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan metode ajar Ushul Fiqh yang lebih efektif dan sesuai dengan perkembangan kognitif siswa SMP/MTs.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.19125
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Muhammad Jihad + 2 more
The concept of Islamic education with its characteristics that are comprehensive, complete, balanced between mind, body, and spirit will give birth to a generation that can carry out its mandate as a servant of Allah as well as its role as a caliph to prosper the earth and bring goodness and emprovemen. However, it is found that some graduates of Islamic educational institutions do not show the performance that should be in the form of harmony between knowledge and deeds. The reason is that the aspect of ruhiyah that encourage the emergence of motivation and awareness to do has not received the proper touch in the implementation of education. This ruhiyah crisis encouraged an Islamic figure Said Hawwa to write the book Tarbiyatuna Ruhiyyah. Based on this background, this research aims to analyze tarbiyah ruhiyah Said Hawwa and rearrange it within the framework of four curriculum components including objectives, materials, methods, and evaluation. The research method used is a qualitative method with a literature study approach. The results of the study describe the nature of tarbiyah ruhiyah perspective Said Hawwa, then the urgency, principles, objectives, material, method and evaluation. The concept of tarbiyah ruhiyah which has been compiled in curriculum format is recommended to be a guide in organizing the tarbiyah ruhiyah process in Islamic educational institutions. Abstrak Konsep pendidikan Islam dengan ciri khasnya yang komprehensif, lengkap, seimbang antara akal, jasad, dan ruh akan melahirkan generasi yang bisa menjalankan amanah sebagai hamba Allah Swt sekaligus perannya sebagai khalifah yang akan memakmurkan bumi dan membawa perbaikan serta kebaikan. Namun, ditemukan fakta bahwa sebagian lulusan lembaga pendidikan Islam tidak menunjukkan performa yang seharusnya berupa keselarasan antara ilmu dan amal. Penyebabnya adalah aspek ruhiyah yang mendorong munculnya motivasi dan kesadaran untuk beramal belum mendapat sentuhan yang seharusnya dalam penyelenggaraan pendidikan. Krisis ruhiyah ini mendorong seorang tokoh Islam Said Hawwa menulis kitab Tarbiyatuna Al-Ruhiyah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tarbiyah ruhiyah Said Hawwa dan menyusunnya kembali dalam bingkai empat unsur kurikulum meliputi tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian memaparkan tentang hakikat tarbiyah ruhiyah perspektif Said Hawwa, kemudian urgensinya, prinsipnya, tujuannya, materinya, metodenya dan evaluasinya. Konsep tarbiyah ruhiyah yang telah disusun dalam format kurikulum direkomendasikan menjadi panduan dalam penyelenggaraan proses tarbiyah ruhiyah di lembaga pendidikan Islam.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.21130
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Afirul Firman Syadani + 2 more
Juvenile delinquency is behavior that goes against accepted social norms. The inability of adolescents to navigate physical and psychological development leads to behavior that contradicts these standards. Therefore, additional supervision is needed from parents, schools, and the community as a whole to prevent adolescents from easily falling into juvenile crime. The purpose of this study was to determine the facts regarding the state of juvenile delinquency at SMA Negeri 2 Tambun, Bekasi Regency. Furthermore, it was necessary to study the tactics and efforts used by teachers to address juvenile delinquency within the school environment. The method used in this study was a qualitative approach. According to information from various teachers and previous research findings, SMA Negeri 2 Tambun can effectively address juvenile delinquency. However, the parties still need to exercise greater oversight, as the school often lacks clarity about which children are violating the rules. Furthermore, several students reported that they frequently discuss school issues with their guidance counselors, such as learning challenges or the next level they will achieve. This effort aims to reduce inappropriate behavior at school and at home. Abstrak Perilaku kenakalan remaja adalah salah satu yang bertentangan dengan adat istiadat sosial yang diterima. Ketidakmampuan remaja melewati pertumbuhan fisik dan psikis inilah yang menyebabkan munculnya perilaku yang bertentangan dengan standar tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan tambahan dari orang tua, sekolah, dan masyarakat secara keseluruhan, agar remaja tidak dapat terjebak dengan cukup mudah ke dalam kejahatan remaja. Tujuan dari penelitian ini untuk menemukan fakta mengenai bagaimana kondisi kenakalan remaja yang ada di SMA Negeri 2 Tambun Kabupaten Bekasi. Selain itu, perlu dipelajari tentang taktik serta upaya yang digunakan oleh para pengajar dalam menghadapi kegiatan kenakalan remaja yang terjadi di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan pendekatan kualitatif. Menurut informasi dari berbagai pengajar dan temuan penelitian sebelumnya, SMA Negeri 2 Tambun dapat secara efektif mengatasi kenakalan remaja. Namun, para pihak masih perlu melakukan kontrol yang lebih, karena sekolah sering kali tidak begitu jelas anak mana yang melanggar peraturan. Selain itu, sejumlah informasi dari siswa menyatakan bahwa mereka sering mendiskusikan masalah di sekolah dengan guru bimbingan konseling, seperti tantangan belajar atau tingkatan yang akan dicapai selanjutnya, upaya tersebut guna mengurangi perilaku yang tidak baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.20000
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Suci Dwi Kurniasih + 2 more
This study is motivated by the lack of maximum differences in the application of supervision and coaching in improving the quality of Qur'an learning in educational institutions SDS Tisa Islamic School, which uses the Ummi method in the Cikarang area. Coaching-based supervision is seen as a more effective approach because it emphasizes assistance that is dialogical, reflective, and sustainable. Through coaching, teachers are encouraged to develop their competence independently but still under systematic and directed guidance. The purpose of this study is to analyze the role of coaching-based supervision in Qur'anic learning and identify its impact on improving learning quality. This study also aims to find out how the application of coaching in the context of the Ummi method. The benefit of this research is that it contributes to the development of effective supervision strategies, as well as being a reference for managers of Islamic education institutions who apply similar methods. This research uses a qualitative approach with a case study type. Data collection techniques were conducted through observation, in-depth interviews, and documentation. The results showed that coaching-based supervision significantly improved teachers' competence, work motivation, and the quality of planning and evaluation of Al-Qur'an learning at SDS Tisa Islamic School. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum maksimalnya perbedaan penerapan antara supervisi dan coaching dalam meningkatkan mutu pembelajaran Al-Qur’an di lembaga pendidikan SDS Tisa Islamic School, yang menggunakan metode Ummi di wilayah Cikarang. Supervisi berbasis coaching dipandang sebagai pendekatan yang lebih efektif karena menekankan pada pendampingan yang bersifat dialogis, reflektif, dan berkelanjutan. Melalui coaching, guru didorong untuk mengembangkan kompetensinya secara mandiri namun tetap dalam bimbingan yang sistematis dan terarah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran supervisi berbasis coaching dalam pembelajaran Al-Qur’an serta mengidentifikasi dampaknya terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan coaching dalam konteks metode Ummi. Adapun manfaat penelitian ini adalah memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi supervisi yang efektif, sekaligus menjadi rujukan bagi pengelola lembaga pendidikan Islam yang menerapkan metode serupa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi berbasis coaching secara signifikan meningkatkan kompetensi guru, motivasi kerja, serta kualitas perencanaan dan evaluasi pembelajaran Al-Qur’an di SDS Tisa Islamic School.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.20089
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Ariesi Apriyanti + 2 more
Early and middle adulthood is a complex and crucial developmental phase in an individual's life. Islamic Religious Education (PAI) has a strategic role in shaping character and equipping individuals with religious values that can be a provision to face psychological, social, and spiritual challenges. This study aims to examine the contribution of PAI in supporting individual development in early and middle adulthood. The method used is a literature study with a descriptive qualitative approach, referring to relevant classical and contemporary literature. The results showed that PAI plays a role in character building through the internalisation of noble morals as affirmed by Al-Ghazali, as well as supporting spiritual intelligence as described by Nasr. PAI also improves the quality of social relationships in line with Levinson's developmental theory, and assists individuals in stress and emotion management through religious practices as described by Yusuf. In addition, Islamic work values support the development of a productive and meaningful work ethic. These findings indicate the need to strengthen the implementation of PAI as a whole in the education system as well as the support of the social and family environment in shaping a religious and mature personality. Abstrak Masa dewasa dini dan madya merupakan fase perkembangan yang kompleks dan krusial dalam kehidupan individu. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan membekali individu dengan nilai-nilai keagamaan yang dapat menjadi bekal menghadapi tantangan psikologis, sosial, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontribusi PAI dalam mendukung perkembangan individu pada masa dewasa dini dan madya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, mengacu pada literatur klasik dan kontemporer yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa PAI berperan dalam pembentukan karakter melalui internalisasi akhlak mulia sebagaimana ditegaskan oleh Al-Ghazali, serta mendukung kecerdasan spiritual sebagaimana diuraikan oleh Nasr. PAI juga meningkatkan kualitas hubungan sosial sejalan dengan teori perkembangan Levinson, dan membantu individu dalam manajemen stres serta emosi melalui praktik keagamaan sebagaimana dijelaskan oleh Yusuf. Selain itu, nilai-nilai kerja Islami mendukung pengembangan etos kerja yang produktif dan bermakna. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan implementasi PAI secara menyeluruh dalam sistem pendidikan serta dukungan lingkungan sosial dan keluarga dalam membentuk kepribadian religius dan matang.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.20424
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Latifah Musfirotun + 2 more
Responsibility is a core element in the formation of student character, particularly in vocational schools that emphasize discipline and integrity. This study aims to determine the extent to which the personality competence of Islamic Education (PAI) teachers influences students' sense of responsibility at SMKN 1 Bawen. A quantitative approach was employed using a correlational survey method, involving a randomly selected sample of 100 tenth-grade students. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Spearman Rank correlation technique. The final analysis revealed a positive and significant relationship between the personality competence of PAI teachers and students’ sense of responsibility, with a correlation coefficient of 0.515 and a significance level of 0.000 (p < 0.01). These findings suggest that strong personal qualities in teachers, such as honesty and exemplary behavior, play a vital role in fostering students’ sense of responsibility. Therefore, character development among students can be effectively initiated by enhancing the personal competence of teachers. Abstrak Sikap tanggung jawab merupakan elemen utama saat pembentukan karakter siswa, khususnya di sekolah kejuruan yang menuntut kedisiplinan dan integritas. Penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kompetensi kepribadian guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pada tanggung jawab siswa di SMKN 1 Bawen. Penelitian ini memakai pendekatan kuantitatif dengan metode survei korelasional, dengan jumlah siswa yang terlibat sebanyak 100 siswa kelas X yang telah dipilih secara acak. Data didapat dari kuesioner dan dianalisis dengan teknik korelasi Spearman Rank. Hasil akhir analisis memaparkan ada hubungan positif dan signifikan pada kompetensi kepribadian guru PAI dan sikap tanggung jawab siswa, dengan angka nilai koefisien korelasi sebesar 0,515 dan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,01). Pada temuan ini telah ditarik kesimpulan bahwa kualitas pribadi guru yang baik, seperti kejujuran dan keteladanan, memiliki peran penting dalam mendorong tumbuhnya rasa tanggung jawab pada siswa. Oleh karena itu, penguatan karakter siswa dapat dimulai dengan peningkatan kualitas kepribadian guru.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.20966
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Sitirahma Bahrin
The career problem often faced by junior high school students in salafiyah pesantren is the lack of insight and ideas about the steps to be taken in the future. This study aims to develop a structured, systematic, and sustainable career insight and readiness guidance program for junior high school students. The method used is Research and Development (R&D) with the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). The needs analysis showed that 74% of students experienced career problems and 100% of boarding school managers stated the need for a career guidance program. The program was developed by adapting the Super measurement tool and referring to Permendikbud No. 111 of 2014, with materials such as recognizing self-potential, strengths and weaknesses, and readiness for success. Expert validation results showed a high level of feasibility: experts in Islamic Religious Education (84.6%), guidance and counseling (77.7%), and Indonesian language (92.5%). Practitioner tests in five pesantren obtained percentages between 81% and 95%, with the average in the “feasible” category. Thus, this guidance program is declared feasible to use as a supporting instrument for the career readiness of junior high school students in salafiyah pesantren, and contributes to the development of career guidance services based on Islamic education. Abstrak Permasalahan karier yang sering dihadapi siswa sekolah menengah pertama di pesantren salafiyah adalah kurangnya wawasan dan gagasan mengenai langkah yang harus ditempuh di masa depan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan program bimbingan wawasan dan kesiapan karier yang terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan untuk santri usia sekolah menengah pertama. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Analisis kebutuhan menunjukkan bahwa 74% siswa mengalami permasalahan karier dan 100% pengelola pondok menyatakan perlunya program bimbingan karier. Program disusun dengan mengadaptasi alat ukur Super dan mengacu pada Permendikbud No. 111 Tahun 2014, dengan materi seperti mengenal potensi diri, kelebihan dan kekurangan, serta kesiapan menuju kesuksesan. Hasil validasi ahli menunjukkan tingkat kelayakan yang tinggi: ahli Pendidikan Agama Islam (84,6%), bimbingan dan konseling (77,7%), dan bahasa Indonesia (92,5%). Uji praktisi di lima pesantren memperoleh persentase antara 81% hingga 95%, dengan rata-rata dalam kategori “layak”. Dengan demikian, program bimbingan ini dinyatakan layak digunakan sebagai instrumen pendukung kesiapan karier santri SMP di pesantren salafiyah, serta berkontribusi pada pengembangan layanan bimbingan karier berbasis pendidikan Islam.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.17534
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Nadya Naqiawardah + 1 more
New santri in pesantren often face challenges such as difficulty adapting to the environment, lack of motivation to learn, and adjusting to rules, routines, and social interactions. This study aims to analyze, design, and test the feasibility of a social responsibility awareness guidance program for new junior high school students. The research used the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model. The results of the analysis show that 100% of new santri experience adaptation problems, 90% do not understand their responsibilities, while only 60% of pesantren have related guidance programs. The program is systematically arranged based on Permendikbud No. 111 of 2014 with social responsibility awareness material according to Abdus Salam Zahran's theory, including the rights of Allah SWT, the rights of self, and the rights of others (environment). Validation from experts in Islamic religious education, Indonesian language, and counseling guidance showed an average feasibility of 93% with the category “Very Feasible”. Meanwhile, the assessment of pesantren practitioners resulted in an average of 86% with the same category. These results prove that the social responsibility awareness guidance program for new junior high school students is very feasible to implement as a solution to help students adapt and form responsible religious characters. Abstrak Santri baru di pesantren sering menghadapi tantangan seperti kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, kurangnya motivasi belajar, serta menyesuaikan diri dengan tata tertib, rutinitas, dan interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, merancang, dan menguji kelayakan program bimbingan kesadaran tanggung jawab sosial bagi santri baru tingkat SMP. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Hasil analisis menunjukkan 100% santri baru mengalami masalah adaptasi, 90% belum memahami tanggung jawab mereka, sementara hanya 60% pesantren yang memiliki program bimbingan terkait. Program disusun secara sistematis berdasarkan Permendikbud No. 111 Tahun 2014 dengan materi kesadaran tanggung jawab sosial menurut teori Abdus Salam Zahran, mencakup hak Allah Swt., hak diri, dan hak orang lain (lingkungan). Validasi dari ahli pendidikan agama Islam, bahasa Indonesia, serta bimbingan konseling menunjukkan rata-rata kelayakan 93% dengan kategori “Sangat Layak”. Sementara itu, penilaian praktisi pesantren menghasilkan rata-rata 86% dengan kategori yang sama. Hasil ini membuktikan bahwa program bimbingan kesadaran tanggung jawab sosial santri baru tingkat SMP sangat layak diterapkan sebagai solusi untuk membantu santri beradaptasi dan membentuk karakter religius yang bertanggung jawab.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.19816
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- Jamilatus Zahroh + 1 more
The era of globalization brings complex challenges that require generations of students to develop independence holistically. This research aims to examine the concept of student independence from the educational perspective of Kiai As'ad Syamsul Arifin and its relevance in the midst of contemporary global dynamics. This study uses a qualitative research method of field approach with phenomenological design, this study critically analyzes various primary and secondary sources including interviews with several teachers and students at the Salafiyah Syafi'yah Sukorejo Islamic Boarding School, works by Kiai As'ad, Islamic boarding school documents, scientific articles, and references related to Islamic boarding school education. The findings of the study revealed that Kiai As'ad built the concept of student independence through three main pillars: character building, example of ulama (qudwah hasanah), and mastery of applied science. Values such as spiritual independence, life skills, and adaptability are important foundations in facing the changing times. The analysis shows that although this concept develops in the traditional context of pesantren, its basic principles remain relevant to modern challenges such as digital disruption and multiculturalism. This study concludes that the Kiai As'ad educational model offers an integrative framework that combines moral toughness with global competence, while maintaining Islamic identity. The implications of this study recommend strengthening the pesantren curriculum that combines traditional values with the development of 21st century skills such as digital literacy, entrepreneurship, and critical thinking, without eroding the basic character of Islamic Boarding School education. Abstrak Era globalisasi membawa tantangan kompleks yang menuntut generasi santri untuk mengembangkan kemandirian secara holistik. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep kemandirian santri dalam perspektif pendidikan Kiai As’ad Syamsul Arifin serta relevansinya di tengah dinamika global kontemporer. Menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan lapangan dengan desain fenomenologi, studi ini menganalisis secara kritis berbagai sumber primer dan sekunder meliputi wawancara kepada beberapa guru dan santri di Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukorejo, karya-karya Kiai As’ad, dokumen pesantren, artikel ilmiah, dan referensi terkait pendidikan pesantren. Temuan penelitian mengungkap bahwa Kiai As’ad membangun konsep kemandirian santri melalui tiga pilar utama: pendidikan akhlak (character building), keteladanan ulama (qudwah hasanah), dan penguasaan ilmu terapan. Nilai-nilai seperti kemandirian spiritual, kecakapan hidup (life skills), dan adaptabilitas menjadi fondasi penting dalam menghadapi perubahan zaman. Analisis menunjukkan bahwa meskipun konsep ini berkembang dalam konteks tradisional pesantren, prinsip-prinsip dasarnya tetap relevan dengan tantangan modern seperti disrupsi digital dan multikulturalisme. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model pendidikan Kiai As’ad menawarkan kerangka integratif yang memadukan ketangguhan moral dengan kompetensi global, sekaligus menjaga identitas keislaman. Implikasi penelitian ini merekomendasikan penguatan kurikulum pesantren yang memadukan nilai-nilai tradisional dengan pengembangan keterampilan abad 21 seperti literasi digital, kewirausahaan, dan pemikiran kritis, tanpa mengikis karakter dasar pendidikan pesantren.
- Research Article
- 10.32832/tawazun.v18i2.17510
- Aug 31, 2025
- Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
- M Fahmi Suhaemi + 2 more
Religious character building is one of the main focuses of education in Indonesia, especially at the madrasah level, because there are still many students who face challenges in the form of a lack of self-awareness and a tendency towards negative behavior such as bullying. This study aims to analyze the role of extracurricular activities in improving students' religious character at Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Falah Bogor City. The research used a descriptive qualitative method with data collection techniques through observation, interviews, and document analysis, and involved students and extracurricular advisors as research subjects. The results showed that extracurricular activities, especially scouting, contribute significantly to the formation of students' religious character. These activities not only deepen understanding of religious values, but also train social skills, foster discipline, increase involvement, and strengthen awareness of spiritual responsibility. Thus, extracurricular activities have proven to be an effective means in forming individuals with noble character and religious personality. This study concludes that strengthening extracurricular programs based on religious values needs to be continuously developed by educational institutions as a strategy in building students' overall character. Abstrak Pembentukan karakter religius merupakan salah satu fokus utama pendidikan di Indonesia, khususnya pada jenjang madrasah, karena masih banyak siswa yang menghadapi tantangan berupa kurangnya kesadaran diri dan kecenderungan terhadap perilaku negatif seperti bullying. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan karakter religius siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Falah Kota Bogor. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen, serta melibatkan siswa dan pembimbing ekstrakurikuler sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler, khususnya pramuka, berkontribusi signifikan dalam pembentukan karakter religius siswa. Kegiatan tersebut tidak hanya memperdalam pemahaman nilai-nilai agama, tetapi juga melatih keterampilan sosial, menumbuhkan kedisiplinan, meningkatkan keterlibatan, serta memperkuat kesadaran akan tanggung jawab spiritual. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler terbukti menjadi sarana efektif dalam membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan berkepribadian religius. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan program ekstrakurikuler berbasis nilai religius perlu terus dikembangkan oleh lembaga pendidikan sebagai strategi dalam membangun karakter siswa secara menyeluruh.