- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.21162
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Fauzan Azmi Hasti Habibi Samosir + 2 more
Background: The COVID-19 pandemic, especially in the Omicron variant era, has brought major changes to the daily lives of the global community, including policies such as work-from-home (WFH) and limiting social access, and straightforward health services. The combination of prolonged social distancing and chronic psychological stress contributes to the increasing prevalence and worsening of obsessive-compulsive disorder (OCD). Objectives: This research explores the potential role of telemedicine as an interprofessional collaboration platform to support the diagnosis and management of OCD during the Omicron COVID-19 wave in Indonesia. Methods: This research uses a literature review method with the keywords "COVID-19 Omicron variant", "OCD", "COVID-19 pandemic", and "Telemedicine". The effectiveness, feasibility, and user satisfaction of telemedicine services were evaluated, especially concerning OCD management during the pandemic. Discussion: Telemedicine has become an easily accessible, cost-efficient, and widely accessible alternative to medical consultations, replacing conventional face-to-face meetings. Various research findings show that this approach is equivalent in effectiveness to conventional therapy in treating OCD, including the application of Cognitive Behavioral Therapy via long-distance methods. Survey results show high levels of satisfaction across various age groups. Furthermore, telemedicine plays a role in encouraging inter-professional collaboration by integrating various health workers such as psychiatrists, psychologists, nutritionists, religious leaders, pharmacists, and nurses into an integrated and coordinated service model. However, the optimal use of telemedicine still faces challenges, including low public awareness, limited digital literacy, and uneven supporting infrastructure. Conclusion: Telemedicine has shown significant potential as a multidisciplinary healthcare platform in the treatment of OCD, especially in pandemic restrictions. Keywords: COVID-19 Omicron variant, COVID-19 pandemic, mental health, obsessive-compulsive disorder, and telemedicine. Latar Belakang: Pandemi COVID-19 terutama varian Omicron telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat global diantaranya kebijakan seperti work from home (WFH) dan membatasi akses sosial terutama layanan kesehatan secara langsung. Kombinasi dari pembatasan sosial yang berkepanjangan dan stres psikologis kronis berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi serta perburukan obsessive-compulsive disorder (OCD). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi peran telemedisin sebagai platform kolaborasi antarprofesi untuk mendukung diagnosis dan manajemen OCD selama gelombang Omicron COVID-19 di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan kata kunci “COVID-19 varian Omicron”, “OCD”, “Pandemi COVID-19”, dan “Telemedisin”. Efektivitas, kelayakan, dan kepuasan pengguna layanan telemedicine dievaluasi, terutama dalam kaitannya dengan manajemen OCD selama pandemi. Diskusi: Telemedisin telah berkembang menjadi alternatif konsultasi medis yang mudah diakses, efisien secara biaya, dan dapat dijangkau secara luas, menggantikan pertemuan tatap muka konvensional. Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki efektivitas yang setara dengan terapi konvensional dalam penanganan OCD, termasuk dalam penerapan Cognitive Behavioral Therapy melalui metode jarak jauh. Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi di berbagai kelompok usia. Lebih lanjut, telemedisin berperan dalam mendorong kolaborasi antarprofesi dengan mengintegrasikan berbagai tenaga kesehatan seperti psikiater, psikolog, ahli gizi, tokoh agama, apoteker, dan perawat ke dalam model pelayanan yang bersifat terpadu dan terkoordinasi. Namun demikian, pemanfaatan telemedisin secara optimal masih menghadapi tantangan, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat, terbatasnya literasi digital, serta belum meratanya infrastruktur pendukung. Kesimpulan: Telemedisin telah menunjukkan potensi yang signifikan sebagai platform layanan kesehatan multidisiplin dalam penanganan OCD, khususnya di tengah pembatasan akibat pandemi. Kata Kunci: COVID-19 varian Omicron, kesehatan mental, obsessive-compulsive disorder, pandemi COVID-19, dan telemedisin
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.20789
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Rivan Yudha Rambe + 3 more
Background: Based on Globocan data in 2020, there were 68,858 new cases of breast cancer, which accounted for about 16.6% of the 396,914 total new cancer cases in Indonesia. The high incidence of breast cancer in Indonesia is not always accompanied by a complete histopathological and immunohistochemical examination. Breast cancer is rare under the age of 40 and women diagnosed with breast cancer under the age of 40 will have a poor prognosis, more aggressive cancer, high malignancy and high mortality rates. Objective: To find out the description of breast cancer patients under the age of 40 at RSHAM in 2020-2023. Method: The research is a descriptive study with a cross sectional design. The sample of this study is breast cancer patients under the age of 40 at RSHAM in 2020-2023 with total sampling technique. Results and Discussion: The results showed that the most common histopathological type is IDC as many as 34 patients (97.1%). The most immunohistochemical sub-type is luminal B as many as 16 patients (45.7%). The highest BMI is normal as many as 27 patients (77.1%). There is no family history of cancer in 35 patients (100%). The most common cancer stage was stage IV with 17 patients (48.6%) and stage IIIB with 14 patients (40%). The most histological grade is histological grade 2 as many as 19 patients (54.3%). Conclusion: The description of breast cancer patients under the age of 40 at RSHAM in 2020-2023 is the IDC histopathological type, luminal B immunohistochemical sub-type, normal BMI, no family history, stage IV, and histological grade 2. Keywords: Histopathological, Immunohistochemical, Breast Cancer, IDC Latar belakang: Berdasarkan data Globocan tahun 2020, terdapat 68.858 kasus baru kanker payudara, yang menyumbang sekitar 16,6% dari 396.914 total kasus kanker baru di Indonesia. Tingginya kejadian kanker payudara di Indonesia tidak selalu disertai dengan pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia yang lengkap. Kanker payudara jarang terjadi dibawah 40 tahun, dan jika terjadi lebih agresif dan memiliki prognosis yang buruk. Tujuan: Untuk menggambarkan pasien kanker payudara yang berusia dibawah 40 tahun. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien kanker payudara dibawah usia 40 tahun di RSHAM tahun 2020-2023 dengan teknik total sampling. Hasil dan Diskusi: Hasil penelitian menunjukkan, jenis histopatologi terbanyak adalah IDC sebanyak 34 pasien (97,1%). Sub tipe imunohistokimia terbanyak adalah luminal B sebanyak 16 pasien (45,7%). IMT terbanyak adalah normal sebanyak 27 pasien (77,1%). Riwayat keluarga menderita kanker tidak ada sebanyak 35 pasien (100%). Stadium kanker terbanyak adalah stadium IV sebanyak 17 pasien (48,6%) dan stadium IIIB sebanyak 14 pasien (40%). Derajat histologi terbanyak adalah derajat histologi 2 sebanyak 19 pasien (54,3%). Kesimpulan. Gambaran penderita kanker payudara dibawah usia 40 tahun di RSHAM tahun 2020-2023 menunjukkan bahwa jenis histopatologi terbanyak adalah IDC dengan sub tipe terbanyak adalah luminal B. Stadium dan derajat histologi terbanyak adalah stadium IV dan derajat 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kanker payudara pada usia dibawah 40 tahun lebih agresif meskipun tidak memiliki riwayat keluarga. Kata Kunci: Histopatologi, Imunohistokimia, Kanker Payudara, IDC
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.21326
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Shakira + 1 more
Background: Alzheimer’s disease is a multifactorial neurodegenerative disorder. Current synthetic inhibitors often fail to address its complexity. Natural multitarget agents like Moringa oleifera and Curcuma longa may offer safer alternatives. Objective: This study aims to systematically evaluate the bioactive compounds of Moringa oleifera and Curcuma longa as potential multi-target agents against AD using molecular docking, ADME profiling, and toxicity prediction. Methods: This in silico study targeted five Alzheimer-related proteins (BACE1, GSK-3β, AChE, Tau, PKR) retrieved from the PDB and prepared using AutoDock Tools. LC-MS compounds were modeled with Biovia Discovery Studio and docked via PyRx. Toxicity was evaluated using ProTox-3.0. Results: The top 10 compounds showed binding affinities from –7.3 to –10.2 kcal/mol and were “inactive” for hepatotoxicity, neurotoxicity, and cytotoxicity. Turmeric compounds were also non-mutagenic and non-carcinogenic. Conclusion: Moringa oleifera and Curcuma longa demonstrate promising multitarget activity with a favorable safety profile. Bioinformatics enables efficient early screening. Keyword: Alzheimer’s disease, Curcuma longa, Moringa oleifera, multitarget, molecular docking. Latar Belakang: Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif multifaktorial. Inhibitor sintetik saat ini dinilai belum mampu mengatasi kompleksitasnya. Senyawa multitarget alami seperti Moringa oleifera dan Curcuma longa berpotensi lebih aman. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara sistematis senyawa bioaktif Moringa oleifera dan Curcuma longa sebagai agen multi-target potensial terhadap AD menggunakan docking molekuler, profil ADME, dan prediksi toksisitas. Metode: Studi in silico ini menargetkan lima protein Alzheimer (BACE1, GSK-3β, AChE, Tau, PKR) dari PDB yang diproses di AutoDock Tools. Senyawa LC-MS dimodelkan di Biovia Studio dan didocking menggunakan PyRx. Toksisitas dievaluasi via ProTox-3.0. Hasil: Sepuluh senyawa teratas menunjukkan afinitas –7,3 s.d. –10,2 kcal/mol dan “inactive” terhadap hepatotoksisitas, neurotoksisitas, serta sitotoksisitas. Senyawa kunyit juga tidak mutagenik dan tidak karsinogenik. Kesimpulan: Moringa oleifera dan Curcuma longa berpotensi sebagai terapi multitarget Alzheimer yang aman. Bioinformatika mendukung skrining awal yang efisien Kata Kunci: Curcuma longa, Moringa oleifera, multitarget, molecular docking, Penyakit Alzheimer
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.21197
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Ardaniel Euprasia Simarmata + 2 more
Background: Tuberculosis is one of the deadliest infectious diseases in the world. However, the BCG vaccine has shown significant results and remains in use to this day. Objective: This review aims to provide a comprehensive perspective on the resilience of the BCG vaccine over more than a century, as well as its implications for future vaccination strategies. Methods: A narrative review approach was used, employing keywords such as “BCG vaccine,” “tuberculosis immunization,” “trained immunity,” “TB vaccine pipeline,” and “MTBVAC,” “M72/AS01E,” “VPM1002” in databases such as PubMed and Scopus. Conclusion: Considering all scientific, clinical, socio-economic, and systemic factors, it can be concluded that to date, no new TB vaccine candidate has a comprehensive profile that significantly surpasses BCG. Therefore, BCG remains the most viable and reliable intervention in the context of global TB prevention, at least until new vaccines with high efficacy, long-term safety, and readiness for global implementation are successfully developed and thoroughly validated. Keywords: BCG Vaccine, Tuberculosis Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan sakah satu penyakit infeksi yang mematikan di dunia. Namun, vaksin BCG menunjukan hasil signifikan sehingga masih bertahan sampai saat ini. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan memberikan perspektif yang komprehensif mengenai ketahanan vaksin BCG selama lebih dari satu abad, serta implikasinya terhadap strategi vaksinasi di masa depan. Metode: Pendekatan tinjauan naratif digunakan, dengan menggunakan kata kunci seperti “BCG vaccine,” “tuberculosis immunization,” “trained immunity,” “TB vaccine pipeline,” and “MTBVAC,” “M72/AS01E,” “VPM1002” di beberapa basis data seperti PubMed dan Scopus. Kesimpulan: Dengan mempertimbangkan semua faktor ilmiah, klinis, sosial-ekonomi, dan sistemik, dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini belum ada kandidat vaksin TB baru yang memiliki profil komprehensif yang secara signifikan melampaui BCG. Oleh karena itu, BCG tetap menjadi intervensi yang paling layak dan andal dalam konteks pencegahan TB global, setidaknya sampai vaksin-vaksin baru dengan kemanjuran tinggi, keamanan jangka panjang, dan kesiapan untuk diterapkan secara global berhasil dikembangkan dan divalidasi secara menyeluruh. Keyword: Tuberkulosis, Vaksin BCG
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.21122
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Nova Zairina Lubis + 1 more
Background: Seborrheic Dermatitis (SD) is a chronic and recurrent inflammatory skin disease that commonly affects adolescents and adults, with a relatively high prevalence, particularly among immunocompromised individuals. SD has a multifactorial pathophysiology, involving Malassezia spp., skin surface lipids, and immunological dysregulation. This condition can significantly impact patients'quality of life due to frequent relapses, causing symptoms such as itching and redness. Therefore, prompt treatment with various available topical therapies is crucial. Objectives: This study aims to assess the level of knowledge about SD among medical students at the Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara, from the class of 2021 – 2023. Methods: This is a descriptive study using a cross-sectional design, employing a questionnaire distributed via Google Forms and QR codes to students from the specified batches. The sampling technique used was simple random sampling. Results: The results showed that most students had a moderate level of knowledge about SD (50%). A total of 150 respondents (57.7%) had a sufficient understanding of SD treatment options. The majority of respondents were female students, with 176 responses. The age group of 17 to 20 years dominated the sample, accounting for approximately 46.2%. The highest number of respondents came from the 2021 cohort (67.3%). Conclusion: This study concludes that medical students at Universitas Sumatera Utara have a moderate level of knowledge regarding SD and its treatment options. These findings highlight the importance of further education and awareness to enhance students' understanding of the condition. Keyword: level of knowledge, seborrheic dermatitis, treatment selection Latar Belakang: Dermatitis seboroik (DS) adalah penyakit inflamasi kulit kronis dan rekuren yang sering terjadi pada remaja dan dewasa, dengan prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada individu dengan kondisi imunokompromais. DS memiliki patofisiologi multifaktorial, yang meliputi Malassezia spp., lipid permukaan kulit, dan disregulasi imunologis. Penyakit ini dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya karena gejala yang sering kambuh, seperti gatal dan kemerahan. Oleh karena itu, pengobatan segera dengan berbagai pilihan terapi topikal yang tersedia sangat penting. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang DS pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2021-2023. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang (cross-sectional), menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui Google Form dan QR Code kepada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2021-2023. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai DS (50%). Sebanyak 150 responden (57,7%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup terkait pemilihan pengobatan DS. Mayoritas responden adalah mahasiswi perempuan, dengan 176 respons. Kelompok usia 17 hingga 20 tahun mendominasi dengan persentase sekitar 46,2%. Responden terbanyak berasal dari angkatan 2021 (67,3%). Kesimpulan: Studi ini menyimpulkan bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai DS dan pilihan pengobatannya. Temuan ini menekankan pentingnya peningkatan edukasi dan kesadaran untuk memperdalam pemahaman mahasiswa tentang kondisi ini. Keyword: dermatitis seboroik, pemilihan pengobatan, tingkat pengetahuan
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.20761
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Giselle Iona Rachel Tuelah + 3 more
Background: Breast cancer is one of the most common cancers that can cause death in Indonesia. Nottingham grading (grade 1, grade 2, and grade 3) in histopathological examination aims to assess tumor activity and prognosis. Other examination includes immunohistochemistry of biomarkers such as estrogen (ER), progesterone (PR), and HER2 receptors. Breast cancer based on its molecular subtypes is classified into luminal A, luminal B, HER2, and triple-negative. HER2-type breast cancer tends to be more invasive with a poor prognosis and susceptible to recurrence and metastasis. Objectives: This study aims to determine the relationship between histopathological grading and age of patients with HER2-type breast cancer. Methods: This is a non-experimental analytical research with cross-sectional approach using the total sampling technique. Secondary data were taken from medical records of breast cancer inpatients at Adam Malik Hospital (January 2022 - June 2024) and analysed using Fisher’s exact test. There were 492 inpatient cases of breast cancer, of which 195 were performed an immunohistochemistry examination and 61 cases were HER2-type. The study sample included 54 patients with fulfilled inclusion criteria. Results: HER2-type breast cancer identified was 31,3%. The most frequent characteristics included female, age ≥45 years, obese nutritional status, and no family history. Poorly differentiated tumors were the most common (38,9%). Result of Fisher’s exact test showed p=0,044 (p<0,05) and OR=0,134. Conclusion:There is a relationship between histopathological grading and age of patients with HER2-type breast cancer. Keyword: breast cancer, HER2, histopathological grading, immunochemistry, molecular subtypes Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang dapat menyebabkan kematian dan paling sering terjadi di Indonesia. Pemeriksaan histopatologi perlu dilakukan untuk menilai aktivitas tumor dan prognosis. Pemeriksaan lainnya meliputi pemeriksaan imunohistokimia terhadap biomarker seperti reseptor estrogen (ER), progesteron (PR), dan HER2. Kanker payudara tipe HER2 cenderung lebih invasif dengan prognosis yang buruk dan rentan terhadap kekambuhan serta metastasis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara grading histopatologi dengan usia penderita kanker payudara tipe HER2. Metode: Penelitian ini berjenis analitik non-eksperimental dengan pendekatan cross-sectional yang menggunakan teknik total sampling. Data sekunder diambil dari rekam medis pasien rawat inap kanker payudara di RS. Adam Malik (Januari 2022 – Juni 2024) dan dianalisis menggunakan uji Fisher’s exact. Sampel penelitian ini mencakup 54 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Kasus kanker payudara yang teridentifikasi tipe HER2 didapati sebesar 31,3%. Karakteristik yang lebih banyak dijumpai meliputi perempuan, usia ≥45 tahun, status gizi mengalami obesitas, dan tanpa riwayat keluarga. Tumor dengan diferensiasi buruk menjadi derajat yang paling banyak ditemukan (38,9%). Hasil uji Fisher’s exact menunjukkan nilai p=0,044 (p<0,05) dan OR=0,134. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara grading histopatologi dengan usia penderita kanker payudara tipe HER2. Kata Kunci: grading histopatologi, HER2, imunohistokimia, kanker payudara, subtipe molekuler
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.20592
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Asan Petrus + 1 more
Background: Juvenile crime is a critical issue, particularly as children are the nation's future. This study examines the profiles and types of crimes committed by juvenile inmates at the Tanjung Gusta Penitentiary, Medan, in 2024. Methods: Using a descriptive observational approach, data were collected from legal documents and administrative records of 50 juvenile inmates with final court decisions. Results: Results showed that all inmates were male, aged 14–19 years, with education levels ranging from elementary to high school. Sexual violence was the most prevalent offense (52%), followed by theft, narcotics distribution, and assault. Sentences ranged from less than one year to a maximum of ten years, with most inmates receiving 1–3 years. Conclusion: The findings underscore the need for targeted interventions to address socio-economic and educational factors contributing to juvenile delinquency. Further studies and policy enhancements are recommended to prevent juvenile crimes and support their rehabilitation. Keyword: Juvenile Crime, Penitentiary, Tanjung Gusta, Rehabilitation, Youth Offenders Latar Belakang: Kejahatan anak merupakan masalah yang sangat penting, terutama karena anak-anak adalah masa depan bangsa. Studi ini mengkaji profil dan jenis kejahatan yang dilakukan oleh narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, pada tahun 2024. Metode: Dengan menggunakan pendekatan observasional deskriptif, data dikumpulkan dari dokumen hukum dan catatan administratif 50 narapidana anak yang telah memiliki putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua narapidana berjenis kelamin laki-laki, berusia 14-19 tahun, dengan tingkat pendidikan mulai dari SD hingga SMA. Kekerasan seksual adalah pelanggaran yang paling banyak dilakukan (52%), diikuti oleh pencurian, peredaran narkotika, dan penganiayaan. Hukuman berkisar dari kurang dari satu tahun hingga maksimal sepuluh tahun, dengan sebagian besar narapidana menerima hukuman 1-3 tahun. Kesimpulan: Temuan ini menggarisbawahi perlunya intervensi yang ditargetkan untuk mengatasi faktor sosial-ekonomi dan pendidikan yang berkontribusi terhadap kenakalan remaja. Studi lebih lanjut dan peningkatan kebijakan direkomendasikan untuk mencegah kejahatan remaja dan mendukung rehabilitasi mereka. Kata Kunci: Kejahatan Anak, Lembaga Pemasyarakatan, Tanjung Gusta, Rehabilitasi, Pelaku Tindak Pidana Anak
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.20393
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Arya Marganda Simanjuntak + 4 more
Background: Small Island Communities (SIDS) are remote, vulnerable areas with unique challenges like weather changes, limited healthcare access, and limited epidemiological data. Studies on diseases like obesity and depression are limited, and a systematic review is needed to assess current incidence and risk in these communities. Methods: A Systematic review was conducting using search engines. Keywords utilized such as: “Small Island Community [MeSH] OR Small Island Developing States [MeSH]” AND “Incidence OR Prevalence OR Disease”. Each author conducted an independent analysis of each paper based on its title, abstract, and applicability for the PEOS framework. JBI critical appraisal techniques were used to assess the risk of bias in all included research. Results: 18 publications from different nations, such as Indonesia, Jamaica, Solomon Island, and others, were included in the 404.795 articles. All writers then synthesized the articles, which were then examined using JBI. The prevalence of communicable disease infected 99% of community including worm infections, conjunctivitis, malaria, and COVID-19 is particularly high in small island settings in nations like Indonesia, Jamaica, Vanuatu, the Solomon Islands, and Fiji. Risk is enhanced by factors including socioeconomic status and educational attainment. Analysis for non-communicable illnesses affected 27% of community include lung cancer, stress, obesity, stunting, depression, and hypertension. JBI score for all included is 75%, considered moderate risk of bias. Conclusions: Small Island communities face diverse diseases, requiring research and tailored solutions due to economic, environmental, and socio-cultural factors. Keyword: Communicable Disease, Meta-Analysis, Non-Communicable Disease, Small Island Community Latar Belakang: Komunitas Pulau Kecil adalah daerah terpencil dan rentan dengan tantangan yang unik seperti perubahan cuaca, akses layanan kesehatan yang terbatas, dan kurangnya penelitian. Penelitian tentang penyakit seperti obesitas dan depresi masih terbatas, dan tinjauan sistematis diperlukan untuk menilai kejadian dan risiko saat ini di komunitas ini. Tujuan: Menentukan kejadian atau risiko penyakit menular atau tidak menular untuk masyarakat pulau kecil/negara berkembang. Metode: Tinjauan sistematis menggunakan berbagai mesin pencari. Kata kunci yang digunakan seperti: “Komunitas Pulau Kecil [MeSH] ATAU Negara Berkembang Pulau Kecil [MeSH]” DAN “Insiden ATAU Prevalensi ATAU Penyakit”. Semua artikel dianalisis secara independen oleh semua penulis berdasarkan judul, abstrak dan kesesuaian dengan kerangka kerja PEOS. Semua studi yang disertakan dianalisis untuk risiko bias menggunakan alat penilaian kritis Joanna-Briggs Institute (JBI). Hasil: Sebanyak 18 publikasi dari berbagai negara, seperti Indonesia, Jamaika, Solomon Island, dan lainnya, termasuk dalam 404.795 artikel tersebut. Semua penulis kemudian mensintesis artikel-artikel tersebut, yang kemudian diperiksa menggunakan JBI. Prevalensi penyakit menular yang menjangkiti 99% masyarakat termasuk infeksi cacing, konjungtivitis, malaria, dan COVID-19 sangat tinggi di negara-negara kepulauan kecil seperti Indonesia, Jamaika, Vanuatu, Kepulauan Solomon, dan Fiji. Risiko ini diperkuat oleh faktor-faktor termasuk status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan. Analisis untuk penyakit tidak menular yang mempengaruhi 27% masyarakat termasuk kanker paru-paru, stres, obesitas, stunting, depresi, dan hipertensi. Skor JBI untuk semua yang termasuk adalah 75%, dianggap sebagai risiko bias sedang. Kesimpulan: Masyarakat pulau kecil menghadapi beragam penyakit, yang membutuhkan penelitian dan solusi yang disesuaikan dengan faktor ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya. Kata Kunci: Masyarakat Pulau Kecil, Meta Analisis, Penyakit Menular, Penyakit Tidak Menular
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.20715
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Samuel Panjaitan + 3 more
Background: Skull X-rays have long been utilized in the evaluation and management of traumatic brain injury (TBI) primarily for the identification of cranial fractures. However, their role has been challenged by the introduction of advanced neuroimaging techniques. Objectives: This review aims to explore the current significance of skull X-rays in the treatment of TBI, considering the advancements in neuroimaging, especially CT Scan. Methods: A narrative review approach was used, including a comprehensive computerized literature search with MeSH-based keywords “Traumatic Brain Injury” and “Skull X-Ray” across several reputable databases such as Scopus, PubMed, and Web of Science. The search spanned the years 2000 to 2025 and aimed to evaluate the diagnostic utility of skull radiography in TBI, focusing specifically on different age groups, specifically those under and over 2 years of age. Conclusion: Current evidence suggests that skull X-rays have limited sensitivity in detecting intracranial injuries, which are the primary concern in cases of TBI. Therefore, clinical judgment should guide the decision to pursue CT imaging instead of relying solely on skull X-rays. The routine use of skull X-rays in managing TBI is thus discouraged because of their limited diagnostic capabilities and the potential risk of delaying timely and appropriate medical intervention. Keywords: Skull X-rays, Traumatic Brain Injury. Latar Belakang: Rontgen tengkorak telah lama digunakan dalam evaluasi dan manajemen cedera otak traumatis terutama untuk identifikasi fraktur kranial. Namun, peran rontgen tengkorak telah dipertanyakan oleh karena adanya teknik neuroimaging yang lebih canggih. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi relevansi kontemporer dari rontgen tengkorak dalam manajemen cedera kepala traumatis, dengan mempertimbangkan kemajuan dalam neuroimaging, khususnya CT Scan. Metode: Pendekatan tinjauan naratif digunakan, dengan melibatkan pencarian literatur komputerisasi yang menyeluruh menggunakan kata kunci berbasis MeSH “Traumatic Brain Injury” dan “Skull X-Ray” di beberapa basis data terkemuka seperti Scopus, PubMed, dan Web of Science. Pencarian mencakup tahun 2000 hingga 2025 dan bertujuan untuk menilai kegunaan diagnostik rontgen tengkorak dalam cedera kepala traumatis dengan perhatian khusus pada kelompok usia yang berbeda, khususnya mereka yang berusia di bawah dan di atas 2 tahun. Kesimpulan: Bukti saat ini menunjukkan bahwa rontgen tengkorak memiliki sensitivitas terbatas dalam mendeteksi cedera intrakranial yang merupakan perhatian utama dalam kasus cedera kepala traumatis. Oleh karena itu, penilaian klinis harus menjadi dasar keputusan untuk melakukan CT Scan daripada hanya mengandalkan rontgen tengkorak. Oleh karena itu, penerapan rutin rontgen tengkorak dalam manajemen cedera kepala traumatis tidak dianjurkan karena kemampuan diagnostik yang terbatas dan risiko menghambat intervensi medis yang tepat waktu dan sesuai. Kata kunci: Cedera Kepala Traumatis, Rontgen Tengkorak.
- Research Article
- 10.32734/scripta.v7i1.21200
- Aug 13, 2025
- SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
- Mochammad Haikal Alhamdi + 1 more
Background: Benign prostatic hyperplasia (BPH) is a common urologic condition in aging men that often manifests as lower urinary tract symptoms (LUTS). Pharmacological management includes α1-adrenoceptor blockers like tamsulosin and phosphodiesterase type 5 inhibitors (PDE5-Is) like tadalafil. Recent studies suggest combination therapy may offer greater symptom relief. Objective: To compare the efficacy and safety of combination therapy with tamsulosin and tadalafil versus tadalafil monotherapy in patients with BPH-related LUTS. Methods: This literature review included randomized controlled trials and prospective studies published between 2008 and 2022. Databases such as PubMed, MEDLINE, Embase, and Cochrane Library were searched using relevant keywords. Twelve studies met the inclusion criteria and were narratively analyzed. Results: Most studies showed that combination therapy was more effective than monotherapy in improving IPSS scores, Qmax, and sexual function, especially in patients with coexisting erectile dysfunction. Fixed-dose combination therapy also improved patient adherence and satisfaction. While tadalafil monotherapy remained effective, particularly in men with mild-to-moderate symptoms, its effect was less consistent in severe LUTS. Conclusion: Combination therapy of tamsulosin and tadalafil provides superior clinical benefit in managing LUTS/BPH, especially in men with concurrent ED. It is generally well tolerated, but individualized therapy based on symptom severity, prostate size, and comorbidities is essential. Keyword: benign prostatic hyperplasia, combination therapy, LUTS, tadalafil, tamsulosin Latar Belakang: Hiperplasia prostat jinak (BPH) merupakan kondisi urologis yang umum pada pria lanjut usia dan sering menyebabkan gejala saluran kemih bagian bawah (LUTS). Penatalaksanaan farmakologis meliputi penggunaan α1-adrenoceptor blocker seperti tamsulosin dan penyekat fosfodiesterase tipe 5 (PDE5-I) seperti tadalafil. Studi terbaru menunjukkan bahwa terapi kombinasi dapat memberikan perbaikan gejala yang lebih baik. Tujuan: Membandingkan efektivitas dan keamanan terapi kombinasi tamsulosin dan tadalafil dengan monoterapi tadalafil pada pasien dengan LUTS akibat BPH. Metode: Tinjauan pustaka ini mencakup uji klinis terkontrol acak dan studi prospektif yang diterbitkan antara tahun 2008 hingga 2022. Basis data seperti PubMed, MEDLINE, Embase, dan Cochrane Library digunakan dengan kata kunci relevan. Dua belas studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara naratif. Hasil: Sebagian besar studi menunjukkan bahwa terapi kombinasi lebih efektif dibandingkan monoterapi dalam meningkatkan skor IPSS, Qmax, dan fungsi seksual, terutama pada pasien dengan disfungsi ereksi. Terapi kombinasi dosis tetap juga meningkatkan kepatuhan dan kepuasan pasien. Meskipun monoterapi tadalafil tetap efektif, efeknya kurang konsisten pada gejala LUTS yang berat. Kesimpulan: Terapi kombinasi tamsulosin dan tadalafil memberikan manfaat klinis yang lebih baik dalam penanganan LUTS/BPH, khususnya pada pasien dengan disfungsi ereksi. Terapi ini umumnya ditoleransi dengan baik, namun pilihan terapi harus disesuaikan secara individual berdasarkan tingkat keparahan gejala, ukuran prostat, dan komorbiditas. Kata Kunci: hiperplasia prostat jinak, LUTS, tamsulosin, tadalafil, terapi kombinasi