- Research Article
- 10.26714/medart.6.2.2024.50-55
- Dec 29, 2024
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Navila Arfianti Niswata + 3 more
Latar Belakang: Penularan virus hepatitis B (VHB) secara vertikal masih menjadi faktor utama dari penularan penyakit hepatitis B di negara dengan tingkat endemisitas infeksi tinggi termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) ibu hamil tahun 2022 di Provinsi Jawa Timur, prevalensi dari hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Gresik adalah 3,24% yang termasuk dalam prevalensi HBsAg 5 tertinggi di Provinsi Jawa Timur. Pada tahun 2023, diketahui 22 ibu hamil dengan hasil pemeriksaan positif HBsAg di Puskesmas Wringinanom, Gresik. Skrining pada ibu hamil adalah cara terbaik untuk mencegah virus hepatitis B menyebar dari ibu ke bayi. Sehingga tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil di Puskesmas Wringinanom Gresik.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan sampel penelitian adalah data primer dari pemeriksaan sampel serum darah pasien ibu hamil dari trimester pertama, kedua, dan ketiga yang berkunjung ke Puskesmas Wringin-anom Gresik untuk melakukan pemeriksaan ANC terpadu (Antenatal Care) dan melakukan pemeriksaan HBsAg. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 30 orang ibu hamil. Metode yang digunakan adalah imunokromatografi dengan strip HBsAg rapid test dengan analisa data menggunakan uji distribusi frekuensi.Hasil: Ibu hamil dengan hasil pemeriksaan positif HBsAg adalah sebanyak 3 orang (10%) dan hasil pemeriksaan negatif HBsAg adalah 27 orang (90%). Ibu hamil dengan positif HBsAg berdasarkan karakteristik ditemukan 67% pada ibu hamil dengan interval umur 26-35 tahun dan pada trimester I. Ditemukan 33% pada interval umur 36-45 tahun dan pada trimester III. Serta ditemukan 100% pada ibu multigravida.Kesimpulan:Terdapat 10% pemeriksaan HBsAg dinyatakan positif pada Ibu hamil di Wilayah Puskesmas Wringinanom Gresik.
- Research Article
- 10.26714/medart.6.2.2024.43-49
- Dec 6, 2024
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Desy Armalina + 2 more
Background: Histological processing encompasses the steps of acquiring fresh tissue, preserving it through fixation to maintain its natural appearance, slicing it into thin sections, placing the sections on glass slides, and subsequently staining them. This enables the observation of various histological components within the tissue using a microscope. The objective of this study was to ascertain the microscopic characteristics of heparin preparations and the kidneys of mice (Mus musculus) through fixation using a formalin buffer solution.Method: This kind of research encompasses experimental research. The study employed a purposive sample methodology in its research design. This study concludes that preparations containing images provide a representative depic-tion of the cell nucleus, cytoplasm, and exhibit consistent coloration with different cutting thicknesses. The standard thickness for cutting the mice hepatic tissue using a microtome is 5 ÎĽm.Result: This thickness yields good microscopic results overall, with 25 field views from 5 preparations. The percentage of high-quality microscopic images obtained at this thickness is 100%. The statistical analysis revealed significant differences (p<0.05) between the 2 ÎĽm and 5 ÎĽm groups, as well as between the 5 ÎĽm and 8 ÎĽm groups. There was no statistically significant difference (p>0.05) observed between the 2 ÎĽm and 8 ÎĽm groups in terms of many aspects including structural, nucleolus, cytoplasm, color uniformity, and total structure scores.Conclusion: The optimum thickness in this research was 5 ÎĽm. Additional investigation is required to examine the microscopic characteristics of tissue samples by varying the duration of staining on the samples.
- Research Article
- 10.26714/medart.6.1.2024.19-26
- Jul 3, 2024
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Kamila Zalfa Adisty Yasmin + 2 more
Latar Belakang: Karies disebabkan oleh demineralisasi pada jaringan gigi yang mempermudah invasi mikroorganisme seperti Streptococcus mutans. Karies dapat dikontrol dengan obat kumur. Untuk meningkatkan keamanan, dapat digunakan bahan alam sebagai zat untuk obat kumur, seperti melon yang telah diteliti memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji melon (Cucumis melo L.) dalam menghambat S. mutans.Metode: Biji melon dipersiapkan untuk ekstraksi dengan pelarut etanol meng-gunakan metode maserasi. Uji kualitatif fitokimia dilakukan untuk me-ngetahui kandungan senyawa aktif antibakteri. Uji daya hambat antibakteri dari ekstrak biji melon dilakukan dengan metode difusi cakram, dan untuk penentukan kadar hambat minimal dilakukan dengan metode mikrodilusi. Konsentrasi ekstrak etanol biji melon yang digunakan adalah 100; 50; 25; 12,5 dan 6,25 µg/mL. Ampisilin digunakan sebagai kontrol obat dan aquades sebagai kontrol negatif.Hasil: Hasil pemeriksaan fitokimia mendeteksi adanya senyawa flavonoid, saponin, dan alkaloid dari ekstrak etanol biji melon. Ekstrak etanol biji melon konsentrasi 100 dan 50 µg/mL dapat menghambat pertumbuhan S. mutans dengan kategori hambatan sedang (zona hambat secara berurutan 19,9 mm, 16,7 mm). Hambatan dari ekstrak lebih kecil dibandingkan kontrol positif ampisilin yang mencapai 21,2 mm (kategori kuat). Untuk nilai kadar hambat minimal ekstrak etanol biji melon dapat ditentukan sebesar 12,5 µg/mL. Kesimpulan: Aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji melon dapat dipengaruhi adanya senyawa aktif dari golongan flavonoid, saponin, dan alkaloid. Ekstrak etanol biji melon (Cucumis melo L.) memiliki potensi dikembangkan sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab karies gigi S. mutans.
- Research Article
- 10.26714/medart.6.1.2024.35-42
- Jun 29, 2024
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Abd Hafidh Alamri + 2 more
Latar belakang: Mental hygiene menjadi salah satu dari 10 faktor perilaku yang berisiko terhadap kesehatan remaja diantaranya cemas, gangguan emosi seperti kesepian, kekhawatiran berlebihan bahkan pikiran untuk bunuh diri. Mental hygiene dipengaruhi oleh interaksi antara faktor risiko dan faktor pro tektif, salah satunya yaitu parenting style. Pentingnya parenting style adalah metode pola asuh orang tua yang dapat memberikan landasan bagi pembentukan kepribadian, perilaku, moral, watak dan pendidikan bagi anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan parenting style dengan kualitas mental hygiene anak usia sekolah di SMAN 3 Gorontalo.Metode: Penelitian observasional analitik mempergunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu anak usia sekolah di SMAN 3 Gorontalo. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan propotional sampling. Instrumen pada penelitian ini mempergunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan Parenting Style Dimensions Questionaire (PSDQ). Data diuji menggunakan analisis rank spearman dengan bantuan software komputer. Penelitian ini menggunakan Ethical Clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) FK Unimus dengan nomor 065/EC/KEPK-FK/UNIMUS/2023Hasil: Jumlah sampel pada penelitian ini berjumlah 216 responden. Mayoritas responden penelitian yaitu berusia 17 tahun sebanyak 140 responden (64,8%), berjenis kelamin perempuan berjumlah 121 responden (56,0%) dan anak pertama berjumlah 91 responden (42,1%). Mayoritas responden memiliki parenting style demokratis sebanyak 146 responden (67,6%) dan kualitas mental hygiene normal sebanyak 106 responden (49,1%). Hasil uji bivariat antara parenting style dengan mental hygiene didapat p value 0,000 dan koefisien korelasi (r) sebesar -0,659 artinya hubungan kuat dan linier negatif, menunjukkan bahwa semakin tinggi skor parenting style, semakin rendah tingkat masalah mental hygiene pada responden.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara parenting style dengan kualitas mental hygiene anak usia sekolah di SMAN 3 Gorontalo.
- Research Article
- 10.26714/medart.6.1.2024.28-34
- Jun 28, 2024
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Teuku Yocana Luthfi Firdaus + 2 more
Latar Belakang: COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) yaitu gangguan infeksi sistem respirasi. Gangguan ini disebabkan oleh Severe Acute Res-piratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Ada bermacam faktor risiko yang dikaitkan dengan infeksi penyakit ini seperti penyakit penyerta, kategori lansia, jenis kelamin laki-laki dan juga seorang perokok aktif. Selain itu, pasien anemia yang mengalami penurunan kadar hemoglobin juga di-kaitkan dengan derajat keparahan terhadap pasien terkonfirmasi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hu-bungan kadar hemoglobin (Hb) dengan derajat keparahan COVID-19 pada pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum (RSU) Cut Meutia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.Metode: Studi retrospektif, observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel memakai teknik simple random sampling. Pengambilan sampel menggunakan rumus slovin. Instrumen penelitian merupakan data sekunder (rekam medis) pasien COVID-19 yang menjalani rawat inap di RSU Cut Meutia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Analisis menggunakan uji Pearson Chi-Square dengan nilai p<0,05.Hasil: dari 211 pasien mayoritas berusia 46-65 tahun (54,0%), berjenis kelamin laki-laki (50,7%), dan memiliki kadar Hb ≥12 gr/dL (55,9%). Hasil analisis bivariat didapatkan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan derajat keparahan pasien COVID-19 yang menjalani rawat inap di RSU Cut Meutia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.Kesimpulan: Kadar hemoglobin tidak berhubungan dengan derajat ke-parahan pasien COVID-19 yang menjalani rawat inap di RSU Cut Meutia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
- Research Article
- 10.26714/medart.6.1.2024.10-18
- Jun 27, 2024
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Amalia An Nidha + 2 more
Latar Belakang: Reaksi Kusta adalah suatu episode hipersensitivitas akut yang dapat terjadi sebelum, saat, atau setelah pengobatan. Beberapa kasus, reaksi kusta yang parah dapat mengancam jiwa pasien. Interleukin-6 (IL-6) adalah sitokin multifungsi terlibat dalam regulasi respon imun, peradangan, reaksi fase akut, dan pertumbuhan hematopoietik. Pada reaksi kusta IL-6 menginduksi respon inflamasi akut saat disintesis di lokasi infeksi oleh sel-sel inflamasi. Moringa oleifera diketahui memiliki senyawa bioaktif yang me-miliki fungsi biologis salah satunya anti-inflamasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek dari ekstrak Moringa oleifera sebagai terapi Adjuvan dalam menurunkan kadar IL-6 pada pasien dengan Reaksi Kusta Tipe 1Metode: Penelitian ini menggunakan studi eksperimental dengan desain pre and post randomized single blinded controlled trial. Sampel pada penelitian ini adalah pasien kusta dengan reaksi tipe 1 yang berkunjung ke Poliklinik Kulit atau dirawat di RSUD dr. Rehatta Provinsi Jawa Tengah pada bulan Desember 2023-April 2024 dengan jumlah 22 subjek yang dibagi kedalam dua kelompok yaitu kontrol dan perlakuan. Subjek pada kelompok perlakuan mendapatkan terapi Prednison dan ekstrak Moringa oleifera 2gr/hari. Sedang-kan pada kelompok kontrol hanya mendapatkan terapi Prednison yang dilakukan selama 1 bulan. Kadar IL-6 pretest dan postest dilakukan meng-gunakan metode sandwich Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).Hasil: Analisis perbedaan kadar serum IL-6 pretest dan postest dengan uji Wilcoxon pada kelompok perlakuan didapatkan nilai p=0,155 dan kontrol p=0,110. Sedangkan perbedaan antar kelompok perlakuan dan kontrol dengan uji Mann Whitney menunjukkan nilai p=0,412 pada postest. Sehingga dapat dilihat bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p>0,05) antara pretest dan postest serta perbandingan antar kelompok.Kesimpulan: Pemberian terapi adjuvan ekstrak Moringa oleifera 2gr/hr tidak berpengaruh terhadap penurunan kadar IL-6 pada pasien reaksi kusta tipe 1.
- Research Article
- 10.26714/medart.6.1.2024.1-9
- May 8, 2024
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Ika Pawitra Miranti + 3 more
Latar Belakang: Sekitar 30-50% karsinoma payudara positif terhadap virus Epstein-Barr (EBV). Studi melaporkan bahwa karsinoma payudara positif EBV cenderung lebih agresif. Infeksi EBV dapat dibuktikan salah satunya melalui pemeriksaan LMP1. Sejauh ini studi tentang infeksi EBV terhadap karakteristik klinikopatologis karsinoma payudara di negara-negara Asia termasuk Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan ekspresi LMP1 dengan karakteristik klinikopatologis karsinoma payudara invasif.Metode: Penelitian cross-sectional menggunakan 64 sampel blok parafin dari pasien karsinoma payudara invasif di RSUP Dr. Kariadi periode Juni-September 2019. Ekspresi LMP1 dinilai dengan immunostaining. Data klinikopatologis berupa usia, ukuran tumor, grade, ekspresi ER, PR, HER2, Ki67, subtipe molekuler dan keterlibatan KGB aksila. Analisis menggunakan uji korelasi dan SPSS 17.Hasil: Dari 64 kasus karsinoma payudara invasif, sebagian besar berusia >50 tahun (59,4%), ukuran T2 (45,3%), grade 2 (70,3%), ekspresi ER positif (62,5%), ekspresi PR negatif (56,3%), ekspresi HER2 negatif (64,1%), indeks Ki67 > 20% (75%), subtipe molekuler Luminal B-like (HER2 negative) (31,3%) dan metastasis KGB N1 (35,9%). Ekspresi hanya berkorelasi dengan metastasis KGB (p=0.01), bermakna karsinoma payudara invasif dengan LMP1 positif menunjukkan semakin tinggi risiko keterlibatan KGB.Kesimpulan: Ekspresi LMP1 berkorelasi dengan tingkat metastasis KGB.
- Research Article
- 10.26714/medart.5.2.2023.66-75
- Dec 30, 2023
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Hidayat Fauziansyah + 2 more
Latar Belakang: Rokok dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan terhadap perokok dan perokok pasif. Asap rokok memiliki kandungan yang menimbulkan ancaman, termasuk karbonmonoksida, tar, nikotin, radikal bebas, dan eugenol. Akibat dari kandungan berbahaya tersebut, dapat mempengaruhi komponen-komponen darah seperti, eritrosit dan trombosit. Efek yang disebabkan oleh paparan asap rokok dapat dicegah dengan pola hidup sehat atau menggunakan tanaman herbal untuk perawatan obat. Menggunakan bahan alami seperti daun salam adalah salah satunya. Tujuan penelitian adalah untuk memastikan bagaimana ekstrak daun salam mempengaruhi jumlah eritrosit, trombosit, dan masa perdarahan akibat paparan asap rokok.Metode: 20 tikus putih jantan digunakan dalam penelitian ini, dengan memakai rancangan acak lengkap dan 5 perlakuan kelompok. Kelompok negatif tanpa perlakuan selama 30 hari. kontrol positif diberikan 3 batang paparan asap rokok selama 30 hari, kelompok perlakuan 1,2, & 3 dipaparkan asap rokok (3 batang) dan ekstrak daun salam selama 30 hari (P1=62,5; P2=125; P3=250mg/kg BB). Tahapan dalam penelitian ini meliputi skrining fitokimia, pengamatan jumlah eritrosit, trombosit dan masa perdarahan. Pengamatan eritrosit dan trombosit menggunakan hematology analyzer sedangkan pengamatan masa perdarahan menggunakan metode tail bleeding. Uji Duncan dan Anova satu arah digunakan untuk menganalisis data.Hasil: Ekstrak daun salam memiliki efek pada jumlah eritrosit dengan nilai p=0,046. Ekstrak daun salam berpengaruh terhadap jumlah trombosit dengan nilai p=0,002. Ekstrak daun salam berpengaruh terhadap waktu masa perdarahan dengan nilai p=0,005.Kesimpulan: Dosis ekstrak daun salam yang optimal memperbaiki jumlah eritrosit, trombosit dan masa perdarahan adalah pada kelompok perlakuan 3 (P3) dosis 250 mg/kg BB.
- Research Article
- 10.26714/medart.5.2.2023.57-65
- Dec 28, 2023
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Risky Ika Riani + 2 more
Latar Belakang: Peningkatan prevalensi kanker Indonesia meningkat pesat tiap tahunnya. albumin dan hemoglobin merupakan prediktor status gizi yang mudah dan cepat menilai status gizi pasien kanker. Namun seringkali kepatuhan diit terabaikan sehingga turunnya kadar albumin terjadi dan berakibat malnutrisi dan penurunan kualitas hidup. Penanganan terapi yang komperhensif seperti pengobatan dengan kemoterapi, radioterapi serta terapi gizi sangat dibutuhkan untuk mencegah perburukan. Dibutuhkan suatu solusi dalam meningkatkan kepatuhan salah satunya dengan menerapkan aplikasi pengingat diit semacam aplikasi telenutrisi kanker yang dapat diinstal ke ponsel pasien. Penelitian ini bertujuan untuk manganalisa hubungan pemberian aplikasi telenutrisi kanker terhadap albumin dan hemoglobin pada pasien kanker.Metode: Studi menggunakan penelitian kuantitatif dengan Quasi Eksperiment Control Group Design, rancangan menggunakan pre-test and post-test group design dengan kelompok kontrol tanpa randomisasi. Jarak pengukuran data pre dan post perlakuan adalah 30 hari.Hasil: Aplikasi telenutrisi kanker dalam bentuk pengingat diit mempunyai hubungan positif dalam meningkatkan albumin (p<0,001) dan hemoglobin pa- sien kanker (p<0,001). Kesimpulan: Pemberian aplikasi telenutrisi kanker berupa pengingat diit berhubungan dengan peningkatan albumin dan hemoglobin pasien kanker. Di- harapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar penerapan inovasi tek- nologi informasi dalam meningkatkan praktek menajemen pelayanan kanker di Rumah Sakit.
- Research Article
- 10.26714/medart.5.2.2023.51-56
- Dec 28, 2023
- Medica Arteriana (Med-Art)
- Hema Dewi Anggraheny
Latar Belakang : Kesulitan makan merupakan keadaan dimana anak tidak mampu untuk makan dan menolak makanan tertentu. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi kejadian kesulitan makan pada anak yaitu masalah kesehatan pada anak dan faktor nutrisi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor nutrisi meliputi riwayat pemberian MPASI, pola penerapan Basic Feeding Rules (BFR) terhadap kesulitan makan pada anak.Metode Penelitian : Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Banyumanik dengan jumlah responden sebanyak 39 orang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel secara purposif sampling. Kuesioner pemberian MPASI, penerapan BFR dan kesulitan makan menggunakan kuesioner yang pernah digunakan pada penelitian sebelumnya. Analisis menggunakan uji statistika chi-square.Hasil : Mayoritas anak berjenis kelamin laki-laki (53,8%), pendidikan ibu SMU/SMK (46,2%), ibu tidak bekerja (66,7%), pemberian MPASI tidak sesuai pedoman (56,4%), penerapan BFR sedang (46,2%), serta mengalami kesulitan makan (82,1%). Terdapat hubungan signifikan antara riwayat pemberian MPASI (p=0,030) dan penerapan BFR (p=0,000) terhadap kejadian kesulitan makan anak usia 24-36 bulan.Kesimpulan: Pemberian MPASI yang sesuai dan penerapan BFR yang tepat dapat membantu anak dalam proses belajar makan serta membiasakan kebiasaan makan yang baik pada anak sehingga mencegah kesulitan makan pada anak.