- Research Article
- 10.26874/kjif.v8i2.278
- Dec 30, 2023
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Desi Sagita + 3 more
Enzim bromelin adalah enzim proteolitik yang memiliki kemampuan menghidrolisis protein sehingga bisa berperan sebagai antibakteri. Enzim bromelin dapat diisolasi dari kulit, buah, bonggol Nanas (Ananas comosus (L.) Merr ). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi enzim bromelin dari kulit dan bonggol buah Nanas dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Bromelin diisolasi dengan cara ekstraksi dengan buffer pospat, dipurifikasi dengan ammonium sulfat 60%. Uji aktivitas antibakteri enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas terhadap bakteri Staphylococcus aureus dilakukan secara invitro menggunakan difusi cakram dengan mengukur zona hambat. Konsentrasi enzim bromelin yang digunakan adalah 1 %, 2%, 3% dan 4% dengan antibiotik kloramfenikol sebagai kontrol positif. Enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas pada konsentrasi 4% menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan zona hambat masing masing 19,23 mm dan 18,30 mm. Konsentrasi hambat minimum enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas adalah 1% dengan zona hambat masing-masing 11,45 mm dan 12,24 mm. Enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas memberikan aktivitas yang sama dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Kata kunci : Bromelin; Kosentrasi Hambat Minumum; Presipitasi Amonium Sulfat. ABSTRACT The Bromelains are proteolytic enzymes that have the ability to hydrolyze proteins so they can act as antibacterial. Bromelain enzymes can be isolated from the peel, fruit, and stem of pineapple (Ananas comosus (L.) Merr). The purpose of this study was to obtain the concentration of bromelain enzymes from the peel and stem of Pineapple in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus. Bromelain was isolated by extraction with phosphate buffer, purified with 60% of ammonium sulfate. Antibacterial activity tests of bromelain enzymes from the peel and stem of pineapple against Staphylococcus aureus were carried out in vitro using disc diffusion by measuring clear zones. The bromelain enzyme concentration used was 1%, 2%, 3% and 4% with chloramphenicol antibiotics as a positive control. The results showed that bromelain enzymes from peel and stem of pineapple at 4% concentration inhibited the growth of Staphylococcus aureus with inhibition zones of 19.23 mm and 18.30 mm respectively. The minimum inhibitory concentration of bromelain enzymes from peel and stem of pineapple was 1% with inhibition zones of 11.45 mm and 12.24 mm respectively. Bromelain enzymes from the peel and stem of pineapple provide the same activity in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria. Keywords : Bromelain; minimum inhibition concentration; ammonium sulfate precipitation
- Research Article
10
- 10.26874/kjif.v5i1.86
- Aug 28, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Mira Andam Dewi + 2 more
ABSTRAK Bakteri yang resisten terhadap antibiotik menimbulkan ancaman serius, sehingga diperlukan obat alternatif untuk mengganti dengan beralih ke bahan alam yang ketersediaannya melimpah di Indonesia, salah satunya adalah madu. Madu “Manuka” dilaporkan efektif mengatasi infeksi kulit yang sudah resisten terhadap antibiotik serta efektif untuk gangguan pencernaan, sehingga fakta tersebut telah mendorong dilakukannya penelitian untuk menguji dan membuktikan efek antibakteri madu jenis lainnya. Pada penelitian ini, enam madu asli lebah, asal Indonesia diuji aktivitas antibakterinya terhadap strain Staphylococcus aureus mewakili golongan bakteri Gram positif dan strain Escherichia coli mewakili golongan bakteri Gram negatif. Diawali pengumpulan dan penyiapan enam sampel madu uji, kemudian diuji secara organoleptik dan uji fisikokimia untuk menentukan mutu dari madu, meliputi uji aktivitas enzim diastase, hidroksimetilfurfural (HMF) dan kadar air yang dilakukan untuk menguji apakah madu yang diuji asli asal lebah dan dalam kualitas yang baik. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakteri madu asli lebah tersebut terhadap bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan yang diwakili oleh Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri Gram positif dan bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan yang diwakili oleh Escherichia coli yang merupakan bakteri Gram negatif, menggunakan metode difusi agar perforasi. Uji organoleptik yang dilakukan terhadap enam sampel madu asli lebah, asal Indonesia (S1, S2, S3, S4, S5, S6) memberikan hasil yang memenuhi persyaratan mutu madu yang baik. Hasil pengujian enzim diastase dan uji kadar air memenuhi persyaratan SNI 3545:2013 tentang madu. Hasil uji HMF tidak memenuhi syarat, pada sampel S1 dan S6 karena HMF melebihi kadar yang dipersyaratkan. Sampel S1 dan S6 memberikan kadar HMF berturut-turut 62,22 mg/kg dan 50,97 mg/kg, sehingga tidak memenuhi persyaratan kadar HMF maksimum 50% b/b. Uji aktivitas antibakteri madu dengan konsentrasi 100% terhadap bakteri Staphylococcus aureus memberikan diameter hambat 21,33 mm pada sampel S4, menunjukkan kategori antibakteri sangat kuat, karena masuk dalam kisaran 20-35 mm, sedangkan pengujian terhadap bakteri Escherichia coli pada sampel S4 memberikan diameter hambat 19,67 mm termasuk kategori antibakteri kuat karena masuk dalam kisaran 10-20 mm. Kata kunci : Madu, uji aktivitas antibakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, metode difusi agar perforasi, HMF
- Research Article
8
- 10.26874/kjif.v5i1.81
- Aug 28, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Atia Nurul Sidiqa + 1 more
ABSTRAK Periodontitis merupakan penyakit jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh bakteri patogen yang terdapat dalam plak gigi. Eliminasi bakteri plak dapat dilakukan secara mekanis, ataupun dikombinasikan dengan bahan kemoterapeutik yang pemberiannya dapat secara lokal maupun sistemik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gel daun sirih merah ( Piper crocatum ) sebagai terapi tambahan dari skeling dan penghalusan akar pada perawatan periodontitis kronis. Penelitian ini bersifat randomized controlled trial, single blind, split mouth dengan metode sebelum dan sesudah perawatan. Delapan belas orang penderita periodontitis kronis, berusia 30-62 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan membagi rahang subyek menjadi 2 sisi, yaitu sisi uji dan sisi kontrol. Kedua sisi diberikan perawatan skeling dan penghalusan akar, dengan sisi uji diberi tambahan aplikasi topikal gel daun sirih merah. Evaluasi parameter klinis (kedalaman poket dan perdarahan gingiva) dilakukan 1 bulan paska perawatan. Data dianalisa secara statistik menggunakan uji t berpasangan untuk perbandingan sebelum dan sesudah perawatan pada masing-masing sisi, serta uji t tidak berpasangan untuk membandingkan sisi uji dan sisi kontrol. Terdapat perbaikan seluruh parameter klinis di semua permukaan pada kedua sisi dengan permukaan distobukal sisi uji menunjukkan rata-rata perbaikan paling besar, yaitu masing-masing sebesar 43,7% periodontal probe depth (PPD) dan 92,3% bleeding on probing (BOP). Kesimpulanna bahwa aplikasi topikal gel daun sirih merah pada penderita periodontitis kronis dapat mengurangi kedalaman poket dan perdarahan gingiva. Kata Kunci: gel daun sirih merah; periodontitis kronis; skeling; penghalusan akar. ABSTRACT Periodontitis is a disease of the supporting tissues of the teeth caused by pathogenic bacterial plaque. Elimination of bacterial plaque can be done mechanically, or in combination with chemotherapeutic agents that can use locally or systemically. The purpose of this study was to determine the effect of red betel leaf (Piper crocatum) gel as adjunctive therapy of scaling and root planing in the treatment of chronic periodontitis. This study is a randomized control trial, single-blind, split mouth method before and after treatment. Eighty patients with chronic periodontitis, aged 30-62 years participated in the study. The study was conducted by dividing the subjects into 2 sides of the jaw, test side and control side. Both sides were treated scaling and root planing, with the test side given an additional topical application of red betel leaf gel. Evaluation of clinical parameters (pocket depth and gingival bleeding) was performed 1 month after treatment. The data were statistically analyzed using the paired t test for comparison before and after treatment on each side, and the unpaired t test to compare the test side and the control side. There is an improvement of all parameters in both two side whereas distobuccal test side shows average greatest improvement for all clinical parameters, each 43,7% (PPD) and 92,3% (BOP). Topical application of red betel leaf gel in patients with chronic periodontitis can reduced pocket depth, increasing the epithelial attachment, and reduces gingival bleeding. Keywords: Red betel leaf gel, topical applications, scaling and root planing, chronic periodontitis.
- Research Article
3
- 10.26874/kjif.v5i1.83
- Aug 28, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Ririn Puspadewi + 2 more
ABSTRAK Kegunaan asam sitrat dalam industri makanan, minuman dan farmasi sangat besar salah satunya adalah sebagai pengawet. Beberapa mikroorganisme diketahui dapat menghasilkan asam sitrat melalui proses fermentasi, diantaranya adalah Aspergillus wentii dengan memanfaatkan glukosa yang berasal dari karbohidrat sebagai bahan utama. Berdasarkan hal ini maka telah dilakukan penelitian untuk melihat kemampuan Aspergillus wentii dalam menghasilkan asam sitrat dengan menggunakan kulit singkong sebagai sumber karbohidrat. Hasil fermentasi antara Aspergillus wentii dan kulit singkong dilakukan uji keberadaan asam sitrat secara reaksi kimia. Untuk mengetahui jumlah asam sitrat yang dihasilkan digunakan spektrofotometer UV-Vis. Analisis kualitatif menunjukan bahwa supernatan hasil fermentasi mengandung asam sitrat. Secara kuantitatif asam sitrat dapat dihasilkan pada masa inkubasi selama enam hari sebesar 0,312 % b/v. Kata Kunci : Asam sitrat, Aspergillus wentii , fermentasi, kulit singkong. ABSTRACT The usef of citric acid in the food, beverage and pharmaceutical industries is wide, one of them is as a preservative. Some microorganisms are known to produce citric acid through the fermentation process, such as Aspergillus wentii. Aspergillus wentii uses carbohydrate as glucose source in fermantation.This research is conducted toevaluate the ability of Aspergillus wentii to produced citric acid using cassavaskin as carbohydrate. The level of citric acid is tested using UV-Vis spectrophotometer. The result showed that citric acid is found in supernatant. Optimal incubation of fermentationis in six days and the level of citricacid is 0,312 % b/v Keywords : citric acid, Aspergillus wentii, fermentation, cassava skin
- Research Article
- 10.26874/kjif.v5i1.88
- Aug 28, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Faizal Hermanto + 1 more
ABSTRAK Indonesia merupakan salah satu daerah endemik malaria. Resistensi obat malaria menjadi salah satu masalah dalam pengobatan malaria, oleh karen itu diperlukan pencarian obat malaria baru. Kulit kayu akway (Drimys piperita Hook. f) secara empiris digunakan oleh Suku Sogb Manokwari Papua sebagai antimalaria dan afrodisiaka. Penelitian ini diawali dengan proses pembuatan ekstrak air kulit kayu akway dengan metode perebusan menggunakan pelarut air suling. Pengujian aktivitas antimalaria menggunakan Plasmodium falciparum 3D7 secara in vitro. Ekstrak air kulit kayu akway menunjukan aktivitas antimalaria yang baik dengan nilai IC 50 sebesar 0,013 µg/mL. Kata kunci : Akway, Drimys piperita Hook. f., Antimalaria, Plasmodium falciparum ABSTRACT Indonesia is one of malaria endemic areas. Malaria drug resistance is one of the problems in malaria treatment, therefore it is necessary to search for new malaria drugs. Drimys piperita stem bark is empirically used by the Sogb tribe, Manokwari Papua as antimalarial and aphrodisiac. This research begins made water extract of Drimys piperita stem bark by boiling method using distilled water as solvent. Testing of antimalarial activity using Plasmodium falciparum 3D7 in vitro. water extract of Drimys piperita stem bark showed good antimalarial activity with IC 50 value of 0,013 μg / mL. Keywords : Drimys piperita stem bark, Antimalarial, Plasmodium falciparum
- Research Article
5
- 10.26874/kjif.v5i1.87
- Aug 28, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Vina Septiani + 2 more
ABSTRAK Penggunaan antibiotik dengan intensitas yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, menjadi potensi besar bagi pengembangan obat-obatan dari tanaman, termasuk tanaman yang berkhasiat sebagai antimikroba. Salah satu tanaman tersebut adalah karuk (Piper sarmentosum Roxb.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak etanol daun karuk (Piper sarmentosum Roxb.) terhadap Streptococcus mutans dan Candida albicans. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian aktivitas antimikroba menggunakan metode difusi agar perforasi dan metode mikrodilusi. Hasil menunjukkan dari 3 konsentrasi ekstrak uji, konsentrasi ekstrak etanol daun karuk 80% menghasilkan diameter hambat terbesar terhadap Streptococcus mutans dan Candida albicans yaitu 19,87 mm dan 15,13 mm. Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol daun karuk terhadap Streptococcus mutans sebesar 4096 µg/mL, sedangkan KHM tetrasiklin sebesar 256 µg/mL. Nilai KHM ekstrak etanol daun karuk terhadap Candida albicans sebesar 4096 µg/mL, sedangkan KHM ketokonazol sebesar 100 µg/mL. Kata kunci : Antimikroba, Daun Karuk (Piper sarmentosum Roxb.), Streptococcus mutans, Candida albicans ABSTRACT The use of antibiotics with relatively high intensity raises variety of problems and is a global threat to health, especially of bacterial resistance to antibiotics. Indonesia is rich in biodiversity, being a huge potential for development of medicines from plants, including plants that are useful as antimicrobials. One of that plants is karuk (Piper sarmentosum Roxb.). The aim of this research was to study antimicrobial activity of ethanolic extract from karuk leaf against Streptococcus mutans dan Candida albicans. Extraction was done by maceration method using ethanol 96% as solvent. Antimicrobial activity test was done by agar diffusion method and microdilution method. The result showed that among 3 concentration of testesd extract, extract concentrations 80% produce the biggest inhibition diameter 19,87 mm and 15,13 mm. The minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanolic extract from karuk leaf against Streptococcus mutans was 4096 µg/mL, while MIC of tetracycline was 8 µg/mL. MIC value of ethanolic extract from karuk leaf against Candida albicans was 4096 µg/mL, while MIC of ketokonazole was 100 µg/mL. Keywords : Antimicrobial, Karuk Leaf (Piper sarmentosum Roxb.), Streptococcus mutans, Candida albicans
- Research Article
- 10.26874/kjif.v5i1.84
- Aug 28, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Oskar Skarayadi + 2 more
ABSTRAK Hipertensi merupakan tantangan besar di Indonesia. Di Kota Bandung hipertensi merupakan penyebab kematian terbanyak yaitu sebesar 23% sesuai data dari Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2014 Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. Hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada pengukuran berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya medik langsung dan menganalisis obat antihipertensi yang cost-effective bagi pasien hipertensi rawat jalan di Puskesmas Puter pada Bulan Oktober sampai Desember 2016 Penelitian ini merupakan jenis penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif. Data yang diambil merupakan data retrospektif yang dilakukan di Puskesmas Puter berdasarkan data rekam medis pasien rawat jalan. Data yang diambil untuk analisis efektifitas biaya adalah data efektifitas terapi antihipertensi dan biaya medik langsung.Metode yang digunakan yaitu metode Cost-effectiveness analysis (CEA). Efektivitas pengobatan pasien lansia umum adalah 50% dan pasien lansia prolanis adalah 96.67%. Didapatkan nilai ACER pasien lansia umum adalah Rp.60 dan nilai ACER dari pasien lansia prolanis adalah Rp.632,7, sedangkan nilai ICERnya Rp. 124.965 Kata kunci : Hipertensi, antihipertensi oral, efektivitas-biaya, UPT Puskesmas Puter
- Research Article
17
- 10.26874/kjif.v5i1.116
- Aug 28, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Made Pasek Narendra + 3 more
ABSTRAK Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian yang tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan yang berbeda akan memberikan dampak yang sangat berarti bagi suatu apotek. Salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pelayanan kefarmasian di apotek adalah dengan studi kepuasan pelanggan.Kepuasan tercapai apabila jasa dan produk yang dipilih dapat memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui atribut dari seluruh dimensi kualitas pelayanan dan memilih yang mana yang akan diprioritaskan untuk memperbaiki layanan di Apotek Kimia Farma Gatot Subroto Bandung. Penelitian menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan sampel secara purposive sampling terhadap 50 orang pasien yang membeli resep dan Upaya pengobatan Diri Sendiri (UPDS) di Apotek Kimia Farma Gatot Subroto Bandung. Skala Likert digunakan sebagai instrumen penelitiaan.Tingkat kepuasan pelanggan diukur menggunakan model SERVQUAL ( Service Quality ) terhadap 5 dimensi kualitas layanan yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. Dimensi yang memiliki tingkat kepuasan tertinggi adalah dimensi responsiveness (kesenjangan -0,244 atau tingkat kepuasan 94,58 %); atribut yang memiliki tingkat kepuasan tertinggi adalah karyawan mengucapkan selamat datang di Apotek Kimia Farma saat konsumen memasuki apotek (kesenjangan -0,092 atau tingkat kepuasan (97,87 %). Dimensi assurance merupakan dimensi yang paling memerlukan perbaikan karena tingkat kesesuaiannya terendah diantara yang lain yaitu 88,045 % dengan nilai kesenjagan -0,552. Dari seluruh dimensi atribut yang menjadi prioritas utama yang perlu diperbaiki adalah pada dimensi 4 assurance yaitu obat yang dibutuhkan oleh konsumen selalu tersedia di apotek dengan gap (-1,000) dan tingkat kesesuaian 78,11%). Atribut yang terpetakan pada diagram Kartesius terbanyak adalah pada kuadran II yang menunjukkan kualitas layanan Apotek Kimia Farma Gatot Subroto menunjukkan cukup baik. Kata kunci : Apotek, dimensi kualitas layanan, kepuasan pelanggan
- Journal Issue
9
- 10.26874/kjif.v5i1
- Jun 23, 2017
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Research Article
- 10.26874/kjif.v4i2.63
- Dec 28, 2016
- Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
- Yenni Karlina + 2 more
ABSTRAK Pada penelitian ini telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa aktif antijamur dari ekstrak n-heksan, etil asetat ,methanol dan minyak atsiri tanaman obat daun cengkeh ( Syzygium aromaticum (L.) Merrill and Perry), terhadap pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum Schlecht. Uji aktivitas antijamur menggunakan metode difusi agar dengan menghitung prosentase penghambatan pertumbuhan radial miselium jamur pada hari ke tujuh. Konsentrasi ekstrak yang digunakan untuk uji aktivitas antijamur, yaitu 2,5%, 5%, dan 10%. Ekstrak n-heksan dan minyak atsiri daun cengkeh memiliki aktivitas antijamur tinggi, yaitu 76-100%. Selanjutnya, ekstrak n-heksan difraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum, kromatografi kolom dan kromatotron. Identifikasi senyawa dianalisis dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM). Pada ekstrak n-heksan yang didapatkan 2 subfraksi. Subfraksi 1 memiliki aktivitas antijamur 32,72% pada konsentrasi 5% dan subfraksi 2 dengan aktivitasnya 90,90% pada konsentrasi 2,5%. Data KG-SM menunjukkan kandungan utama subfraksi 1 adanya senyawa karyofilen (BM 204) dan subfraksi 2 eugenol (BM 164). Kata kunci : Antijamur, Fusarium oxysporium, tanaman obat ABSTRACT This research has been performed, the isolation and identification the antifungal activity of extracts of n-hexane, ethyl acetate, methanol and essential oils from medicinal plant cloves (Syzygium aromaticum (L.) Merrill and Perry), against the growth of the fungus Fusarium oxysporum Schlecht. Antifungal activity test, using the jelly diffusion method by calculating the percentage inhibition of radial growth of fungal mycelium on the seventh day. Concentration of extract used to test the antifungal activity was 2.5%, 5% and 10%. N-hexane extracts and essential oils of clove leaf has a high antifungal activity, which is 76-100%. Further, n-hexane extract was fractionated using vacuum liquid chromatography, chromatography columns and ch romatotron . Identification of the compound w as analyzed by Thin Layer Chromatography (TLC) and Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS). In the n-hexane extract obtained 2 subfractions. Subfraction 1 ha s antifungal activity of 32.72% at concentration of 5% and subfraction 2 has antifungal activity of 90.90% at concentration of 2,5% . GC-MS data show s that the major component of subfraction 1 was caryophyllene (M = 204) and subfraction 2 was eugenol (M =164). Keywords : Antifungal, Fusarium oxysporium, medicinal plant cloves.