- Research Article
7
- 10.30595/jrst.v1i2.1417
- Dec 31, 2017
- JRST: JURNAL RISET SAINS DAN TEKNOLOGI
- Teguh Marhendi + 1 more
ABSTRAKSalah satu faktor penentu dalam analisis erosi lahan adalah faktor panjang kelerengan lahan daerah aliran sungai. Perubahan panjang kelerengan, akan memberikan dampak terhadap besaran erosi lahan tersebut.Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji pengaruh panjang kelerengan lahan terhadap penentuan awal erosi lahan yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Merawu. Kajian diawali dengan penyusunan peta jenis-jenis tanah sesuai dengan kondisi setempat dan tanaguna lahannya untuk menentukan panjang kelerengan lahan. Kajian selanjutnya adalah menentukan besaran erosi lahan dengan formula USLE. Analisis dilakukan menggunakan data peta satuan lahan dan tataguna lahan untuk menentukan faktor C dan K, sedangkan data hujan menggunakan data tahun 1988 sampai dengan 2008.Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi kelerengan lahan memberikan pengaruh terhadap penentuan awal erosi lahan pada lokasi penelitian. Berubahnya satuan lahan dan kelerengan lahan akan memberikan perubahan tehadap besaran erosi lahan Kata kunci: DAS Merawu, Karakteristik tanah, erosi lahan ABSTRACTThe soil characteristic is a determinan factor to erosion analysis. The changes of slope length was impact to amount of erosion.The research aim to study influence of a slope length at erosion analysis. Pre- eliminary study was preparation the maps of soil kinds appropriate landuse to slope length analysis and then determination the amount of erosion by USLE formulation. The C and K factor was determination with soil maps and landuse and rainfall data at 1988 to 2008. The result of research shown that the slope length was influence to changes the amount of erosion Keyword: Merawu Basin, The slope length, erosion
- Research Article
- 10.30595/jrst.v1i2.1702
- Dec 31, 2017
- JRST: JURNAL RISET SAINS DAN TEKNOLOGI
- Martina Kurnia Rohmah
AbstrakNanosecond Pulsed Electric Fields (NsPEFs) merupakan teknologi bioelektrik yang berkembang dari teknologi elektroporasi. NsPEFs diberikan dengan intensitas tinggi namun dalam waktu yang sangat singkat yaitu 1 - 300 nanosekon. NsPEFs terbukti memiliki sejumlah efek biologis dan telah banyak dikembangkan dalam berbagai terapi salah satunya pada terapi kanker. Pada kanker serviks, protein HPV dapat menekan sejumlah ekspresi supresor tumor salah satunya yaitu gen Socs3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jumlah tembakan NsPEFs pada ekspresi gen Socs3. Sel HeLa S3 dikultur pada medium α-MEM dengan serum FBS 10%. Sebesar 20 kV/cm dalam durasi 80 ns NsPEFs dipapar pada suspensi sel dalam 4 mm cuvette. Gelombang NsPEFs dideteksi oleh probe bervoltase tinggi pada Oscilloscope. NsPEFs diberikan pada 0, 5, 10, 20, 30, 40, 0, dan 60 kali tembakan. Analisis ekspresi gen dilakukan dengan dua metode yaitu kuantitatif menggunakan Real time PCR dan kualitatif dengan RT-PCR. Data kuantitatif dianalisis secara statistik menggunakan Kolmogorf-Smirnov, Anova dan HSD Tukey (p<0.05). Hasil studi ini membuktikan bahwa paparan NsPEFs berpengaruh secara signifikan pada ekspresi gen Socs3 (p=0.000). Jumlah tembakan optimal 20 dan 30 kali dapat meningkatkan ekspresi gen Socs3 berturut-turut sebanyak = 2.779 dan = 3.105 kali. Ekspresi gen Socs3 akan menurun pada tembakan di atas 30 tembakan. Kata Kunci: NsPEFs, tembakan, ekspresi, Socs3 AbstractNanosecond Pulsed Electric Fields (NsPEFs) is bioelectric that was developed by electroporation technology. NsPEFs use high intensity in short time exposure (1 – 300 nanosecond). NsPEFs have biological effect and was developed in cancer therapy. In cervical cancer, viral protein of HPV depresses some tumor suppressors like Socs3 gene. This research aims to investigate the effect of short variation in Socs3 gene expression. HeLa S3 cells were cultured in α-MEM with FBS 10%. NsPEFs as much as 20 kV/cm and 80 nano seconds was exposure over HeLa S3 cell in 4 mm cuvette. Wave of NsPEFs was detected by high voltage probe in oscilloscope. NsPEFs was exposure at 0 (control), 5, 10, 20, 30, 40, 50, and 60 shots. Socs3 gene expression was analyzed using real time PCR and RT-PCR. Quantitative data was analyzed by Kolmogorov-Smirnov, Anova, and HSD Tuker (p<0.05). This research show that NsPEFs is significantly increase Socs3 gene expression (p=0.000). The optimal shot 20 and 30 shots increase Socs3 gene expression subsequently = 2.779 and = 3.105 times. This expression decrease in higher than 30 shots of NsPEFs exposure. Keywords: NsPEFs, shot, expression, Socs3
- Research Article
4
- 10.30595/jrst.v1i2.1442
- Dec 31, 2017
- JRST: JURNAL RISET SAINS DAN TEKNOLOGI
- Sumardiyono Sumardiyono + 4 more
ABSTRAK Myalgia atau nyeri otot termasuk salah satu keluhan sakit yang cukup sering diderita manusia. Lansia juga sering mengeluhkan adanya myalgia. Proses menua mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi dari organ-organ pada lansia, diantaranya penurunan fungsi muskuloskeletal, dan penurunan massa otot yang dapat menyebabkan gangguan pada otot. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan kejadian myalgia pada lansia pasien rawat jalan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan di Puskesmas Matesih Kabupaten Karanganyar dengan sampel para pasien rawat jalan tanggal 1-31 Mei 2016. Sampel dipilih secara simple random sampling sebanyak 97 sampel. Data sekunder berupa umur diambil dari rekam medik pasien. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Chi Square. Kejadian myalgia pada pasien rawat jalan lansia (48,6%) lebih sedikit dibandingkan pasien rawat jalan bukan lansia (51,4%). Tidak terdapat hubungan signifikan antara kejadian myalgia dengan lansia pada pasien rawat jalan di Puskesmas Matesih Karanganyar (p>0,05). Kata kunci: Myalgia, Lansia ABSTRACTMyalgia or fatigue is one of the most common disease affects humans. Elderly are also often complain of myalgia. Aging process resulted in a decreasing organ function, including musculoskeletal function, and muscle mass, which may cause abnormality to the muscle. This research aims to know the relationship between myalgia disease with elderly in outpatients. This research was an observational analytic research with cross sectinal approach. This research was done at the health center Matesih Karanganyar with a sample of outpatients in May 30–June 1, 2016. The sample was selected by simple random sampling as many as 97 samples. Secondary data are taken from the patient’s medical record. Data was analyzed by Chi Square Test. The incidence of myalgia at the health center Matesih Karanganyar in elderly outpatient (48.6%) less than the younger outpatient (51.4%). There was no significant relationship between the incidence of myalgia with the elderly in outpatients at Matesih health centre in Karanganyar district (p> 0.05). Keywords: Myalgia, Elderly
- Journal Issue
- 10.30595/jrst.v1i2
- Dec 31, 2017
- JRST: JURNAL RISET SAINS DAN TEKNOLOGI
JRST (Jurnal Riset Sains dan Teknologi) adalah jurnal peer reviewed dan Open-Acces. JRST merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto. JRST mengundang para peneliti, dosen, dan praktisi di seluruh dunia untuk bertukar dan memajukan keilmuan di bidang sains dan teknologi yang meliputi bidang Matematika, Kimia, Biologi, Teknologi Rekayasa dan Keteknikan, Farmasi, Geografi, Komputer dan Teknologi Informasi.
- Research Article
5
- 10.30595/jrst.v1i2.1671
- Sep 19, 2017
- JRST: JURNAL RISET SAINS DAN TEKNOLOGI
- Ernanin Dyah Wijayanti + 1 more
Abstrak Ketombe merupakan salah satu masalah rambut yang disebabkan oleh fungi Malassezia furfur sehingga untuk pengendaliannya diperlukan agen antifungi. Beberapa tumbuhan telah digunakan secara empiris untuk terapi antiketombe antara lain: inggu (Ruta angustifolia), bambu tali (Gigantochloa apus), johar (Senna siamea), jintan hitam (Nigella sativa), apukat (Persea americana), dadap serep (Erythrina lithosprema), nagasari (Palaquium rostratum), pisang (Musa paradisiaca), sidaguri (Sida rhombifolia), tomat (Solanum lycopersicum), kethuk (Alocasia macrorrhiza) dan komak (Dolichos lablab). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan aktivitas antifungi ekstrak etanol tumbuhan uji dan menentukan nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimumnya (KBM). Masing-masing simplisia tumbuhan uji diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% selama 5 hari. Pengujian aktivitas antifungi terhadap Malassezia furfur menggunakan metode difusi sumuran, yang dilanjutkan dengan penentuan KHM dan KBM dengan metode dilusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ekstrak etanol tumbuhan uji memiliki aktivitas antifungi yang bervariasi terhadap Malassezia furfur. Aktivitas yang kuat ditunjukkan oleh ekstrak etanol kulit buah pisang, daun bambu tali, daun komak, biji jintan hitam dan daun inggu. Nilai KHM masing-masing ekstrak antara lain: kulit buah pisang, daun bambu tali dan daun komak (10%), biji jintan hitam (20%), daun inggu (30%), daun dadap serep dan daun johar (50%), daun tomat (60%), daun apukat dan daun nagasari (70%). Ekstrak etanol daun sidaguri dan daun kethuk tidak memiliki nilai KHM. Semua ekstrak etanol tumbuhan uji tidak memiliki nilai Kadar Bunuh Minimum (KBM). Kata kunci: antifungi, ekstrak etanol, ketombe Abstract Dandruff is one of hair problem caused by Malassezia furfur, which can be controlled by antifungal agents. Empirically, some plants have been used as antidandruff treatment: rue (Ruta angustifolia), bamboo tali (Gigantochloa apus), blackwood cassia (Senna siamea), black cummin (Nigella sativa), avocado (Persea americana), Indian coral tree (Erythrina lithosprema), gutta percha (Palaquium rostratum), banana (Musa paradisiaca), cuban jute (Sida rhombifolia), tomato (Solanum lycopersicum), taro (Alocasia macrorrhiza) and lablab (Dolichos lablab). This research was aimed to observe antifungal activity, Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Fungicidal Concentration (MFC) of these 12 potential plants against Malassezia furfur. Each of plant simplisia was extracted by immersion in 70% ethanol for 5 days. Antifungal activity assay against Malassezia furfur were conducted using agar well diffusion, followed by dilution method to determine MIC and MFC. The results showed that all of plant ethanolic extract have various antifungal activity against Malassezia furfur. Strong activity showed by banana peels extract, bamboo tali leaves extract, lablab leaves extract, black cumin seeds extract and rue leaves extract. MIC values obtained were 10 % for banana peels extract, bamboo tali and lablab leaves extract, 20% for black cumin seeds extract, 30% for rue leaves extract, 50% for Indian coral and blackwood cassia leaves extract, 60% for tomato leaves extract, 70% for avocado and gutta percha leaves extract. Whereas cuban jute and taro leaves extract did not show MIC values. All of plant ethanolic extracts did not show MFC values. Key words: antifungal, dandruff, ethanolic extract
- Research Article
6
- 10.30595/jrst.v1i2.1577
- Sep 18, 2017
- JRST: JURNAL RISET SAINS DAN TEKNOLOGI
- Anwar Ilmar Ramadhan + 2 more
Shrinkage merupakan suatu cacat berupa perubahan dimensi produk hasil proses injection molding. Pendinginan mold merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cacat produk shrinkage. Pendinginan pada mold dapat dilakukan dengan media pendinginan udara ( air cooling ) atau fluida (water cooling). Pemanfaatannya tergantung dari efektivitas pendinginan yang perlu dicapai sehingga produk cepat berada pada batas temperatur sentak yang diijinkan sesuai material plastik, fasilitas yang tersedia dan konstruksi pendinginan yang mendukung. Pengujian dilakukan menggunakan material polypropylene dengan parameter yang konstan seperti waktu injeksi 1 detik, tekanan injeksi 650 bar, kecepatan injeksi 25 mm/s dan temperatur leleh 230°C - 240°C, serta variabel backpressure yang digunakan pada masing – masing zat pendinginan yaitu 15 kgf/cm2, 25 kgf/cm2, dan 35 kgf/cm2. Pada pengujian pendinginan cooling tower dengan menggunakan settingan temperatur leleh 230°C - 240°C dengan waktu injeksi 1 detik dan backpressure 15 kgf/cm2 nilai shrinkage-nya adalah 1,65%, dan backpressure 25 kgf/cm2 nilai shrinkage-nya 1,57 % serta pada backpressure 35 kgf/cm2 nilai shrinkage-nya adalah 1,49 %. Pada pengujian menggunakan pendinginan udara dengan menggunakan settingan yang sama seperti pada pendinginan cooling tower didapat nilai shrinkage pada backpressure 15 kgf/cm2 adalah 1,78 %, dan backpressure 25 kgf/cm2 nilai shrinkage sebesar 1,7 %, serta pada backpressure 35 kgf/cm2 nilai shrinkage-nya adalah 1,61 %. Berdasarkan hasil pengujian, shrinkage pada pengujian injection molding dengan pendinginan cooling tower lebih kecil dibandingkan pada pengujian injection molding dengan pendinginan udara. Hal ini disebabkan karena laju perpindahan panas konveksi maupun konduksi yang terjadi pada pendinginan cooling tower lebih baik dibandingkan dengan menggunakan pendinginan udara, sehingga pemerataan panas pada mold akan lebih merata dan akan memiliki temperatur yang konstan.