Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Year Year arrow
arrow-active-down-0
Publisher Publisher arrow
arrow-active-down-1
Journal
1
Journal arrow
arrow-active-down-2
Institution Institution arrow
arrow-active-down-3
Institution Country Institution Country arrow
arrow-active-down-4
Publication Type Publication Type arrow
arrow-active-down-5
Field Of Study Field Of Study arrow
arrow-active-down-6
Topics Topics arrow
arrow-active-down-7
Open Access Open Access arrow
arrow-active-down-8
Language Language arrow
arrow-active-down-9
Filter Icon Filter 1
Export
Sort by: Relevance
  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.22435/hsji.v14i2.6495
Acetylcholinesterase Inhibition and Determination of Quality Parameters Polyherbal and Combination Extracts from Moringa oleifera Lam., Phyllanthus niruri L., and Nigella sativa L.
  • Dec 31, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Sabrina Krisna Whardhani + 2 more

Background: Alzheimer's Disease (AD) is a neurodegenerative disorder characterized by degeneration and death of neurons. Cholinesterase inhibitor medicine, especially acetylcholinesterase inhibitors (AChE) are commonly used to manage AD. Huperzine A is a food supplement with AChE inhibition activity which has been approved for the treatment of AD in China. Therefore, further exploration on medicinal plants traditionally utilized in Indonesia is needed. This research aims to evaluate the potency and safety of several medicinal plants for future utilization to manage AD.Methods: The acetylcholinesterase inhibitory activity was tested using Ellman method. The phytochemical screening of polyherbal, Moringa oleifera Lam., Phyllanthus niruri L., and Nigella sativa L extracts was carried out according to Materia Medika Indonesia. Determination of quality parameters used methods from Parameter Standar Umum Ekstrak Tanaman Obat.Results: Active compounds have been successfully extracted. Each extract was subjected to different assays and shows that the polyherbal product has a low AChE inhibitory potential. Meanwhile, combination extracts formulated in this study have better AChE inhibitory potential.Conclusion: The combined extract formulated in this study shows a potential to be applied as an AChE inhibitor. It may be utilized as a safe alternative treatment for people with AD. Abstrak Latar Belakang: Penyakit Alzheimer (AD) merupakan gangguan neurodegeneratif yang ditandai dengan degenerasi dan kematian neuron. Obat penghambat kolinesterase, terutama penghambat asetilkolinesterase (AChE) biasanya digunakan untuk mengelola AD. Huperzine A adalah suplemen makanan dengan kemampuan menghambat AChE dan telah disetujui untuk pengobatan AD di Cina.. Oleh karena itu eksplorasi lebih jauh terhadap tanaman obat tradisional di Indonesia perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dan keamanan beberapa tanaman obat agar dapat dimanfaatkan dalam pengobatan AD.Metode: Uji aktivitas penghambatan asetilkolinesterase dilakukan menggunakan metode Ellman. Penapisan fitokimia ekstrak poliherbal, Moringa oleifera Lam., Phyllanthus niruri L., dan Nigella sativa L dilakukan berdasarkan metode dari Materia Medika Indonesia. Parameter mutu ditentukan berdasarkan Parameter Standar Umum Ekstrak Tanaman Obat.Hasil: Senyawa aktif telah berhasil diekstraksi dari Moringa oleifera Lam., Phyllanthus niruri L., Nigella sativa L., dan poliherbal. Masing-masing ekstrak telah melalui beberapa pengujian dan hasil menunjukkan bahwa produk poliherbal memiliki potensi penghambatan AChE yang rendah. Sementara, kombinasi ekstrak yang diformulasikan dalam penelitian ini menunjukkan potensi penghambatan AChE yang lebih baik. Kesimpulan: Kombinasi ekkstrak yang diformulasikan dalam penelitian ini menunjukkan potensi untuk diaplikasikan sebagai penghambat AChE. Ini dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan yang aman untuk penderita AD.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 1
  • 10.22435/hsji.v14i2.6604
The Level of Knowledge about Cervical Cancer and Breast Cancer in Women in Bali
  • Dec 31, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Ni Wayan Tianing + 5 more

Background: Cervical cancer is one type of malignancy that is a major and serious concern because it has a high incidence rate. In Indonesia, cervical cancer ranks second as cancer with the highest incidence and is the second most common cause of death after breast cancer. The high incidence of cervical cancer and breast cancer is caused by the level of knowledge about cervical cancer and breast cancer that is owned by the community, especially women. Methods: This study is a descriptive – cross sectional study which aims to measure the public's knowledge of early symptoms and knowledge about risk factors for cervical cancer and breast cancer through the CCAM (Cervical Cancer Awareness Measure) and Breast Cancer Awareness (Breast Cancer Awareness Measure) Questionnaires. The total number of samples is 185 samples with an age range of 25-60 years.Results: The data were analyzed descriptively on the elaboration of questionnaires and analytically with regression measurements and the results of the level of knowledge of cervical cancer in Bali Province were 43.8% in the low category, 54.1% in the medium category and 2.2% in the high category. Meanwhile, the level of knowledge of breast cancer in the province of Bali with low category is 44.9%, with medium category as much as 50.8% and high category as much as 4.3%.Conclusion: Based on the results of the study, it was found that the level of knowledge about cervical and breast cancer in Bali is still relatively low. The low level of knowledge is one of the factors in the increasing incidence of cervical and breast cancer. AbstrakLatar Belakang: Kanker serviks merupakan salah satu jenis keganasan yang menjadi perhatian utama dan serius karena memiliki angka kejadian yang tinggi. Di Indonesia, kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker dengan angka kejadian tertinggi serta menjadi penyebab kematian terbanyak nomor dua setelah kanker payudara. Tingginya angka kejadian kanker serviks dan kanker payudara disebabkan oleh tingkat pengetahuan tentang kanker serviks dan kanker payudara yang dimiliki masyarakat khususnya wanita. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif – cross sectional yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan masyarakat terhadap gejala dini dan pengetahuan tentang faktor resiko kanker serviks dan kanker payudara melalui Kuisioner CCAM (Cervical Cancer Awareness Measure) dan Kuisioner Breast – CAM (Breast Cancer Awareness Measure). Total jumlah sampel adalah sebanyak 185 sampel yang memiliki rentang usia 25 – 60 tahun.Hasil: Data dianalisis dengan deskriptif pada penjabaran kuesioner dan analitik dengan pengukuran regresi dan didapatkan hasil tingkat pengetahuan kanker serviks di Provinsi Bali dengan kategori kurang sebanyak 43,8%, kategori cukup sebanyak 54,1% dan kategori baik sebanyak 2,2%. Sedangkan tingkat pengetahuan kanker payudara di Provinsi Bali dengan kategori kurang sebanyak 44,9%, dengan kategori cukup sebanyak 50,8% dan kategori baik sebanyak 4,3%.Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat pengetahuan tentang kanker serviks dan payudara di Bali masih tergolong rendah. Rendahnya tingkat pengetahuan tersebut menjadi salah satu faktor meningkatnya angka kejadian kanker serviks dan payudara.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.22435/hsji.v14i2.5185
Healthcare Seeking Behaviour in Medical and Non-Medical Students: A Comparative Cross-Sectional Study in Tangerang Indonesia
  • Dec 31, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Dyana Safitri Velies + 5 more

Background: Adolescence is a phase in life where one grows and learns about necessary skills and particular knowledge. One of the top barriers to seeking health-care in medical students is academic reprisal because they fear that whatever illness will affect them adversely. This study aimed to look at health-care-seeking behaviors in Indonesian medical students as compare to non-medical students. Methods: A cross-sectional study was done at the Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Indonesia. Independent T-test analysis and chi-square performed using SPSS version 25. Results: There were 428 participants in this study with 261 (60.98%) female respondents. There were a significant mean difference (p = 0.0014) in the age at which they start working for the first time in the medical groups (17.96 years) and non-medical groups (18.75 years). In addition, a significant difference depicted (p = 0.044) on accessing of health-care facilities as medical students (59.26%) as compared to non-medical students (40.74%).Conclusion: There were a significant mean difference between medical students and non-medical students regarding their health-care-seeking behavior. Although often overlooked, adolescents also require health-care treatments, either medically or mentally. AbstrakLatar Belakang: Masa remaja merupakan fase dalam kehidupan dimana seseorang tumbuh dan belajar tentang keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan di masa depan. Salah satu hambatan utama untuk mencari perawatan kesehatan pada mahasiswa kedokteran adalah dampak negatif secara akademis karena mereka takut bahwa penyakit yang diderita akan memberi dampak negatif bagi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku pencarian pelayanan kesehatan pada mahasiswa kedokteran di Indonesia dan membandingkannya dengan mahasiswa non kedokteran.Metode: Studi potong lintang dilakukan di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Indonesia. Analisis Independent T-test dan chi-square dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25.Hasil: Terdapat 428 peserta dalam penelitian ini dengan 261 (60,98%) responden perempuan. Terdapat perbedaan yang signifikan (p = 0,0014) pada usia pertama kali bekerja pada kelompok medis (17,96 tahun) dan non-medis (18,75 tahun). Perbedaan signifikan (p = 0,044) juga tampak pada akses layanan kesehatan dimana mahasiswa kedokteran (59,26%) lebih sering mengakses fasilitas kesehatan dibandingkan dengan mahasiswa non-medis (40,74%).Kesimpulan: Terdapat perbedaan rata-rata yang bermakna antara perilaku mahasiswa kedokteran dan mahasiswa non-medis dalam mencari pelayanan kesehatan. Meski sering diabaikan, remaja sesungguhnya membutuhkan perawatan kesehatan, baik secara medis maupun mental.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.22435/hsji.v14i2.6502
The Impact of Bullying on Stunting Adolescents
  • Dec 31, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Eni Hidayati + 5 more

Backgrounds: Stunting in adolescents is a development problem brought on by genetics, poor nutrition, and poverty. To transform ridicule into a weakness for bullying victims, bullies prey on teens with a less-than-ideal physique (stunting). Teenagers with small stature are one of the targets of bullying victims. This study's research goal was to ascertain how bullying affects stunted young people.Methods: employing a cross-sectional methodology with a quantitative descriptive design. Using the complete sampling methodology, 36 participants represented the study's population. The data was collected using a bullying questionnaire, and the impact of bullying was carried out with a constructed test with a reliability result of the bullying questionnaire at 0.951 and the reliability of the effects of bullying at 0.918.Results: A total of 21 respondents (58.3%) reported experiencing low bullying, and 19 reported feeling the impact of bullying was unaffected (52.8%). It is clarified that these teenagers can adapt to forming positive social connections at school. The engagement in bullying acts decreases as teacher concern for combating bullying increases. A total of 21 respondents (58.3%) experienced low bullying, and an additional 19 said the impact of bullying did not affect them (52.8%). These teenagers can adjust to making wholesome friends at school. Bullying behavior declines as teachers' concern for stopping bullying rises.Conclusion: In addition to choosing people with varied features from this study, it is anticipated that it will be possible to conduct research in this manner. It is also recommended that future researchers include additional variables. AbstrakLatar belakang: Remaja dengan perawakan pendek (stunting) merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh genetik, masalah gizi kronis, dan kemiskinan. Remaja dengan perawakan pendek menjadi salah satu sasaran korban bullying, para pelaku memanfaatkan remaja yang mempunyai tubuh kurang ideal (stunting) menjadikan bahan ejekan sebagai kelemahan korban bullying. Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak bullying pada remaja yang mengalami stunting. Metode: menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cros-sectional. Populasi dalam penelitian ini dengan sampel 36 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen angket bullying dan dampak bullying yang dilakukan uji construct dengan hasil reliabilitas kuesioner bullying sebesar 0,951 dan untuk hasil reliabilitas dampak bullying sebesar 0,918. Hasil: sebagian besar responden mengalami bullying ringan dengan jumlah 21 responden (58,3%) dan sebagian tidak mengalami dampak bullying dengan jumlah 19 responden (52,8%). Hal ini dijelaskan bahwa remaja tersebut dpaat menyesuaikan diri dengan memiliki hubungan sosial yang baik di sekolahan. Semakin tinggi kepedulian guru untuk mengatasi bullying maka akan semakin rendah keterlibatan remaja dalam melakukan tindakan bullying.Kesimpulan: Diharapkan dapat mengadakan penelitian yang serupa, dan disarankan peneliti selanjutnya umtuk menambah variabel-variabel yang lain, selain itu dengan memilih subjek dengan karakteristik yang berbeda dari penelitian ini

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.22435/hsji.v14i2.6615
Study of Risk Factors Diabetic Peripheral Neuropathy at One Single Center in Indonesia
  • Dec 31, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Ahmad Mahdi Rezkiansyah + 3 more

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a disease that can lead to diabetic peripheral neuropathy (DPN). DPN is caused by various risk factors such as age, body mass index (BMI), glycated hemoglobin variability including mean HbA1c (M-HbA1c), hypertension status, triglyceride levels, total cholesterol levels, low-density lipoprotein (LDL) levels, and high-density lipoprotein (HDL) levels. This study aims to investigate the factors influencing DPN.Methods: A retrospective cross-sectional study of diabetic patients with and without DPN was undertaken at Jakarta referral hospitals from January 2021 to December 2022. Age, BMI, mean HbA1c variability, hypertension status, triglycerides, total cholesterol, LDL, and HDL values were compared between DPN and non-DPN groups. Chi-square analysis and logistic regression were performed to identify factors influencing DPN.Results: There were 62 patients diagnosed with DPN and 51 patients without DPN. Chi-square analysis showed a correlation between the variability of M-HbA1c (p = 0.003), triglycerides (p = 0.002), total cholesterol (p = 0.001), and LDL (p = 0.016) and the incidence of DPN in patients. Variability of M-HbA1c (p = 0.032, PR: 0.340, 0.127 – 0.914 95% CI), (p = 0.008, OR : 0.430, 0.205 – 0.793 95% CI), and HDL levels (p = 0.024, OR : 0.325, 0.122 – 0.865 95% CI) was revealed by logistic regression analysis.Conclusion: DPN correlates with a high degree of variability in M-HbA1c, triglyceride levels, total cholesterol, and LDL. Consequently, diabetics must monitor their respective health conditions in order to prevent DPN. AbstrakLatar belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan neuropati diabetik perifer (NDP). Neuropati diabetik perifer disebabkan oleh berbagai faktor risiko seperti usia, indeks massa tubuh (IMT), variabilitas HbA1c salah satunya rata-rata HbA1c (M-HbA1c), status hipertensi, kadar trigliserida, kadar kolesterol total, kadar low-density lipoprotein (LDL), dan kadar high-density lipoprotein (HDL). Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi NDP.Metode: Penelitian potong-lintang retrospektif dengan melibatkan pasien DM dengan komplikasi neuropati diabetik perifer dan tidak di rumah sakit rujukan nasional di Jakarta, Indonesia pada Januari 2021 - Desember 2022. Perbandingan antara grup NDP dan tidak berdasarkan umur, IMT, Variabilitas rata-rata HbA1c, status hipertensi, trigliserida, kolesterol total, LDL, dan HDL. Analisis chi-square dan regresi logistik dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor mempengaruhi NDP.Hasil: 62 pasien datang dengan diagnosis NDP dan 51 pasien tanpa NDP. Analisis chi-square menyatakan terdapat hubungan signifikan antara variabilitas rata-rata HbA1c (p = 0,003), trigliserida (p = 0,002), kolesterol total (p = 0,001), dan LDL (p = 0,016) dengan kejadian NDP pasien. Analisis regresi logistik menunjukkan variabilitas rata-rata M-HbA1c (p = 0,032, OR: 0,340, 0,127 – 0,914 95% CI), kadar trigliserida (p = 0,008, OR : 0,430, 0,205 – 0,793 95% CI), dan kadar HDL (p = 0,024, OR : 0,325, 0,122 – 0,865 95% CI).Kesimpulan: Variabilitas M-HbA1c, kadar trigliserida, kolesterol total, LDL yang tinggi berkorelasi dengan NDP. dengan demikian, para penderita DM ini perlu selalu memantau kondisi kesehatan masing-masing agar tidak menimbulkan NDP.

  • Open Access Icon
  • Journal Issue
  • 10.22435/hsji.v14i2
  • Dec 31, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • Cite Count Icon 3
  • 10.22435/hsji.v14i1.6440
The Effect of Macroeconomics and Access to Health Service on Stunting in Indonesia
  • Sep 14, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Reni Eka Septiani + 2 more

Background: The prevalence of stunting in Indonesia is still above the World Health Organization standard. This study aims to analyze the effect of economic growth, income inequality, the Human Development Index (HDI), poverty, government spending on the health sector, and access to health services on the prevalence of stunting in Indonesia.Methods: The random effect technique is utilized to estimate the role of macroeconomic variables and access to health services on stunting in 34 provinces in Indonesia.Results: Economic growth has a positive effect on stunting, HDI and access to health services has a negative effect on stunting. Income inequality, poverty, and government spending on the health sector has no effect on stunting.Conclusion: Economic growth has a positive effect on stunting because the growth of income is not evenly distributed and income increases are not spent on nutrition. Increasing inclusive economic development and policies that lead to stunting reduction, especially in provinces with high stunting rates are very much needed. HDI and better access to health services are proven to lower stunting. Some policy recommendations are improving access to health services and making sure that the services can reach all pregnant women. Optimizing nutrition services, consultations, and education for pregnant women through health service centers are very much needed. AbstrakLatar belakang: Prevalensi stunting di Indonesia masih di atas standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, ketimpangan pendapatan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kemiskinan, pengeluaran pemerintah sektor kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan terhadap prevalensi stunting di Indonesia.Metode: Teknik random effect digunakan untuk mengestimasi pengaruh variabel makroekonomi dan akses pada pelayanan kesehatan terhadap stunting di 34 provinsi di Indonesia.Hasil: Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap stunting, IPM dan akses pelayanan kesehatan berpengaruh negatif terhadap stunting, ketimpangan pendapatan, kemiskinan, dan pengeluaran pemerintah sektor kesehatan tidak berpengaruh terhadap stunting.Kesimpulan: Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap stunting karena pertumbuhan pendapatan tidak merata dan peningkatan pendapatan tidak dibelanjakan untuk gizi. Peningkatan pembangunan ekonomi yang inklusif dan kebijakan yang mengarah pada pengurangan stunting terutama di provinsi dengan angka stunting yang tinggi sangat diperlukan. IPM dan akses pelayanan kesehatan yang lebih baik terbukti menurunkan prevalensi stunting. Beberapa rekomendasi kebijakan adalah meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dan memastikan bahwa layanan tersebut menjangkau seluruh ibu hamil. Optimalisasi pelayanan gizi, konsultasi, dan edukasi ibu hamil melalui puskesmas sangat diperlukan

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.22435/hsji.v14i1.6492
Cloning and Expression of SARS-CoV-2 Membrane Recombinant Protein in Prokaryotic Expression System
  • Sep 14, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Silvia Tri Widyaningtyas + 3 more

Background: The M protein is one of the structural protein of SARS CoV-2. The M protein is relatively conserved and stable than other structural protein. This made immunodominant epitopes of M protein has the advantage to be learned with the aim to understanding its immunogenicity and its antigenicity. Several studies have shown that M protein successfully expressed in several expression system, E. coli was one of them. In this study, M gene of SARS CoV-2 was cloned, sequenced, expressed in E. coli BL21 (DE3) system, and purified with denature condition. The membrane recombinant protein can be used for development of a SARS CoV-2 antibody diagnostic system.Methods: the gene encoding the SARS-CoV-2 M protein in the form of gBlocks was cloned into the cloning vector and then subcloned into the pQE80L prokaryotic expression vector. There were three stages of recombinant plasmids verification which were the colony PCR, restriction, and sequencing. The M gene cloned in pQE80L was expressed by using BL21 and purified under denature condition.Results: The recombinant plasmid pQE80L was confirmed containing M protein using primer that specifically amplify the multiple cloning sites (MCS) of pQE80L and produce 595 bp amplicon that indicating the presence of recombinant gene. Restriction of recombinant plasmid using BamHI and HindIII produced 306 bp and 4709 bp DNA bands. The sequence of M gene in pEQ80L has been confirmed by sequencing. Further to ensure the M gene could be expressed in prokaryotic system, the recombinant plasmid was transformed into BL21 bacteria. The SARS-CoV-2 membrane protein with a size of 11,83 kDa has been successfully expressed and purified using the Ni-NTA agarose purification technique under denature conditions.Conclusion: the gene encoding the membrane protein of SARS-CoV-2 has been successfully cloned and expressed in the prokaryotic expression system. AbstrakLatar belakang: Protein M merupakan salah satu protein struktural SARS-CoV-2. Protein M merupakan protein yang relatif lestari dan tidak mudah untuk bermutasi dibandingkan protein struktural lainnya. Hal ini menjadikan protein M memiliki kelebihan untuk dipelajari epitop imunodominannya, dengan tujuan untuk memfasilitasi pemahaman terkait imunogenisitas dan antigenisitasnya. Beberapa penelitian menunjukkan ekspresi protein M telah dilakukan pada beberapa sistem ekspresi, salah satunya pada sistem ekspresi E. coli. Pada penelitian ini dilakukan pengklonaan gen M SARS CoV-2, sekuensing, ekspresi pada E. coli BL21(DE3), dan purifikasi dengan kondisi denatur. Protein rekombinan membran ini kemudian dapat digunakan dalam pengembangan sistem diagnostik antibodi SARS CoV-2.Metode: gen penyandi protein M SARS-CoV-2 dalam bentuk gBlocks diklona ke dalam vector pengklonaan dan kemudian disubklona ke dalam vector ekspresi prokariot pQE80L. Tiga tahapan verifikasi terhadap plasmid rekombinan, yaitu PCR koloni, restriksi, dan sekuensing dilakukan untuk memastikan bahwa gen target telah berhasil diklona. Plasmid ekspresi pQE80L yang membawa gen M kemudian diekspresikan dan dipurifikasi pada kondisi denatur. Hasil: Plasmid rekombinan pQE80L dikonfirmasi mengandung protein M menggunakan primer yang secara spesifik mengamplifikasi multiple cloning site (MCS) pQE80L dan menghasilkan amplicon berukuran 595 bp yang menunjukkan keberadaan gen rekombinan. Restriksi plasmid rekombinan menggunakan BamHI dan HindIII menghasilkan pita DNA berukuran 306 bp dan 4709 bp. Sekuen genM di pQE80L dikonfirmasi dengan sekuensing. Untuk memastikan bahwa gen M dapat diekspresikan di sistem prokariot, plasmid rekombinan ditransformasi ke dalam bakteri BL21. Protein membran SARSCoV-2 dengan ukuran 11,83 kDa telah berhasil diekspresikan dan dipurifikasi menggunakan teknik purifikasi Ni-NTA agarose pada kondisi denature.Kesimpulan: gen penyandi protein membrane SARS-CoV-2 telah berhasil diklona dan diekspresikan pada sistem ekspresi prokariot

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.22435/hsji.v14i1.6448
Efficacy and Safety of Nootropic Herbal Medicines in Increasing Cognitive Function in Alzheimer Patients
  • Sep 14, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Luigi Collins Aribowo + 3 more

Background: Alzheimer’s disease is the most common type of dementia found in society and it is estimated that the number of dementia sufferers will increase. Declining cognitive function is a hallmark symptom and the treatment that has been used to combat the symptom is still unsatisfactory and has side effects. This review explores other herbal and nootropic alternative treatments.Methods: Published Randomized Clinical Trials (RCT) and meta-analyses regarding the efficacy and safety of herbal medicine in increasing cognitive function in Alzheimer patients are searched in PubMed and Google Scholar while applying several inclusion and exclusion criteria.Results: 14 articles are retrieved, which are 3 RCTs and 11 meta-analyses, and are analyzed further. Several interventions are examined, which include Ginkgo biloba, Curcuma longa, Crocus sativus, Huperzine A, Panax ginseng, and Chinese herbal medicine. Each of these interventions exert different levels of efficacy and safety, and differ in their price range.Conclusion: Out of all the analyzed interventions, Crocus sativus could be used as a potential treatment for Alzheimer patients due to its comparable level of efficacy and safety to that of standard therapy and cost effective, but there needs to be a standardized extract for the Indonesian population to easily obtain. Abstrak Latar belakang: Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering ditemukan dalam masyarakat dan diperkirakan angka penderita akan terus meningkat beberapa tahun kedepannya. Salah satu gejala khas dari penyakit Alzheimer adalah gejala menurunnya fungsi kognitif, dan obatan-obatan yang sekarang dipakai untuk melawan gejala tersebut belum memuaskan dan terdapat beberapa efek samping. Berdasarkan hal tersebut dibuat tinjauan untuk menelusuri terapi alternatif yang bersifat herbaldan nootropik.Metode: Dilakukan penelusuran artikel publikasi Randomized Controlled Trial (RCT) dan meta-analisis mengenai khasiat dan keamanan tanaman obat untuk meningkatkan fungsi kognitif pada pasien Alzheimer dalam database PubMed dan Google Scholar dengan menerapkan beberapa kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.Hasil: Terdapat 14 artikel berupa 3 RCT dan 11 meta-analisis yang dianalisa lebih lanjut. Beberapa intervensi yang ditelusuri adalah Ginkgo biloba, Curcuma longa, Crocus sativus, Huperzine A, Panax ginseng, dan Obat herbal Cina. Masing-masing intervensi memiliki khasiat untuk meningkatkan fungsi kognitif, tingkat keamanan, dan rentang harga yang berbeda.Kesimpulan: Dari semua intervensi yang dianalisa, Crocus sativus dapat menjadi terapi alternatif untuk pasien Alzheimer dikarenakan intervensi ini dapat meningkatkan fungsi kognitif, memiliki tingkat keamanan yang setara dengan terapi standar dengan harga terjangkau, namun perlu adanya sediaan ekstrak terstandard yang dapat dijangkau masyarakat Indonesia.

  • Open Access Icon
  • Research Article
  • 10.22435/hsji.v14i1.6474
The Risk of Depression Among Health Workers During the Covid-19 Pandemic: A Study at Type B Hospitals in Indonesia Using PHQ-9
  • Sep 14, 2023
  • Health Science Journal of Indonesia
  • Herqutanto Herqutanto + 4 more

Background: Hospital workers are vulnerable in the fight against COVID-19 and may experience significant psychological and mental health consequences. Depression is one of the emotional and mental disorders that can affect the health services provided by hospital workers. This study aimed to determine the relationship between occupational factors and other factors towards the risk of depression during the Covid-19 pandemic among workers at type B hospital.Methods: This study is a cross-sectional study using secondary data, a total of 669 workers (22-59 years age) were included. Demographic variables and work-related variables were collected from the Human Resources Unit (HR) and the Occupational Safety and Health Committee Unit (K3RS) of a type B hospital. Their risk of depression was measured using Patient Health Questionnaire (PHQ-9) and occupational stress assessed by the Survey Diagnostic Stress (SDS). SPSS versions 27 was used to conduct data analysis.Results: Prevalence of depression among workers in type B hospital is 15.1%. Multivariate logistic regression analyses show that role conflict stressors (OR 3.68, 95% CI = 1.69 – 8.01) were more important risk factor for depression than quantitative workload stressor and career development stressor.Conclusion: A high prevalence of depression was found among workers in type B hospital during the COVID-19 outbreak. Paying attention to job role conflict at the workplace will be useful for decreasing the risk of depression. Regular mental health checks and counseling should be performed along with periodic health checks. AbstrakLatar belakang: Pekerja di rumah sakit rentan dalam perang melawan COVID-19 dan mungkin mengalami gangguan emosional dan mental yang signifikan. Depresi merupakan salah satu gangguan emosional dan mental yang dapat memengaruhi pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pekerja di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor pekerjaan dan faktor lain dengan risiko depresi pada masa pandemi Covid-19 pada pekerja di Rumah Sakit tipe B.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analisis potong lintang dengan menggunakan data sekunder meliputi 669 pekerja di rumah sakit tipe B. Variabel demografi dan variabel terkait pekerjaan dikumpulkan dari Unit Sumber Daya Manusia (SDM) dan Unit Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3RS) Rumah Sakit tipe B. Risiko depresi diukur dengan menggunakan Kuesioner Kesehatan Pasien (PHQ-9) dan stres kerja yang dinilai dengan Survey Diagnostic Stress (SDS). Analisis data menggunakan SPSSStatistics versi 27.Hasil: Prevalensi risiko depresi pada pekerja di RS tipe B adalah 15,1%. Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa stresor konflik peran (OR 3,68, 95% CI = 1,69 – 8,01) merupakan faktor risiko yang paling dominan terkait risiko depresi daripada stresor beban kerja kuantitatif dan stresor pengembangan karir.Kesimpulan: Prevalensi depresi yang tinggi ditemukan pada pekerja di rumah sakit tipe B selama wabah COVID-19. Memperhatikan konflik peran pekerjaan di tempat kerja akan berguna untuk mengurangi risiko depresi. Pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan jiwa secara berkala harus dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan berkala.