- Research Article
- 10.32795/ds.v23i2.4893
- Oct 27, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Ida Ayu Tary Puspa + 2 more
Gender dalam budaya Bali yakni patriarki. Hal ini terlihat pada upacara wiwaha ataupun perkawinan. Wiwaha bisa menyebabkan pertalian hukum kekeluargaan seseorang putus dengan pihak orag tua ataupun pihak ayahnya dan saudara-saudaranya. Seorang perempuan yang melakukan perkawinan akan menjadi anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian hukum kekeluargaan suaminya dan putus dengan pertalian hukum kekeluargaan pihak ayahnya. Upacara wiwaha akan memerlukan upakara/banten sebagai simbol kesetaraan gender. Upakara tersebut akan berisi perlengkapan yang menyimbolkan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan karena ditampilkan berdampingan. Namun sebagai simbol ekspresif yang dirasakan oleh masyarakat Bali, tetap saja para perempuan belum bisa mencapai kesetaraan dan keadilan. Semakin sebuah keluarga yang terbentuk dari perkawinan menghormati perempuan, maka relasi gender akan semakin baik karena menempatkan perempuan pada posisi yang tidak tersubordinasi dan sesuai dengan yang disimbolkan dalam wiwaha tersebut.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i2.4837
- Oct 27, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Elfridus Cancang + 3 more
Fokus studi ini adalah menjelaskan praktik turuk empo dalam perkawinan Gereja Katolik Manggarai dari perspektif hukum adat dan Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983. Turuk empo merupakan praktik tradisi dalam perkawinan adat Manggarai, Flores, NTT, berupa kegiatan bercerita tentang silsilah atau garis keturunan keluarga sebelum melakukan perkawinan untuk memastikan kedua mempelai tidak memiliki hubungan darah. Maksud dan tujuan turuk empo rupanya memiliki kesamaan dengan ajaran Gereja yang melarang adanya perkawinan hubungan darah. Ajaran tersebut dijelaskan secara eksplisit dalam KHK 1983 Kan. 1078 §3 dan 1091 § 1-4. Gereja lokal Manggarai kemudian memasukan praktik turuk empo ke dalam ritus perkawinan Gereja Katolik karena dianggap memiliki banyak kesamaan substansi yang pada gilirannya diharapkan mampu menghantar umat pada penghayatan iman yang lebih mendalam. Kesamaan tersebut dapat dilihat dari nilai pragmatis dan transendental praktik turuk empo yang sejalan dengan hukum perkawinan Gereja Katolik dalam KHK 1983. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dan studi kepustakaan, secara khusus dalam KHK 1983. Selain itu, kami juga melakukan wawancara mendalam (depth interview) dengan tokoh adat Manggarai untuk mendalami praktik turuk empo dalam kebudayaan Manggarai. Temuan dari studi ini adalah praktik turuk empo memiliki substansi yang sama dengan ajaran Gereja Katolik tentang halangan perkawinan sedarah sehingga praktik turuk empo diterima oleh Gereja untuk dimasukan ke dalam ritus perkawinan Gereja Katolik Manggarai. Lebih lanjut, hal tersebut dapat ditemukan dalam nilai pragmatis dan transendental ritus turuk empo yang selaras dengan hukum perkawinan Gereja Katolik.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4107
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Ida Ayu Surya Wahyuni + 1 more
Regenerasi kepemimpinan merupakan sebuah upaya dalam memciptakan generasi pemimpin masa depan yang lebih baik. Melalui regenerasi kepemimpinan Hindu dapat mengantarkan terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur, cukup sandang, pangan dan papan karena dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang memiliki akhlak dan moral yang baik, cerdas, jujur, rela berkorban, arif serta bijaksana dan berkepribadian. Penelitian ini terfokus pada masalah pentingnya regenerasi kepemimpinan Hindu pada masyarakat dan pemerintahan Desa Adat Mendoyo Dangintukad, di Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana; dan persoalan yang ditemukan dalam regenerasi kepemimpinan pada pemerintahan Desa Mendoyo Dangintukad, di Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, studi kepustakaan. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif deskriptif yang dipadukan dengan beberapa sumber untuk mendapatkan data yang valid. Hasil penelitian ini menemukan beberapa hal sebagai berikut: Pentingnya regenerasi kepemimpinan pada lingkungan keluarga dan masyarakat di Desa Mendoyo Dangintukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana disebabkan karena alasan informal, alasan formal, dan alasan non formal. Penyebab generasi tua enggan melakukan regenerasi kepemimpinan di Desa Mendoyo Dangintukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana karena empat faktor yakni kewibawaan dan jabatan, sumber daya manusia (SDM) dan kekuasaan.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4078
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Akhmad Misbakhul Hasan + 2 more
Kebijakan perlindungan sosial melalui program-program kesejahteraan sosial yang dijalankan oleh pemerintah dan pemerintah daerah perlu dikaji ulang dengan seksama, baik dari aspek regulasi maupun implementasinya. Fenomena feminisasi kemiskinan di saat pandemi Covid-19 (feminisasi pandemi) dapat menjadi momentum transformasi kebijakan perlindungan sosial lebih responsif gender dan inklusif. Penelitian ini mengkaji kebijakan dan implementasi PKH dengan pendekatan dan perspektif feminis. Teori yang digunakan antara lain Gender and Welfare State Regimes-nya Diane Sainsbury. Alat analisis gendernya menggunakan Caroline Moser. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi kebijakan perlindungan sosial di Indonesia, termasuk PKH belum sepenuhnya responsif gender dan inklusif, meski kelompok sasaran utamanya adalah perempuan. Bantuan-bantuan sosial yang diberikan pun masih sebatas untuk pemenuhan praktis gender belum untuk pemenuhan strategis gender, sehingga belum mampu merubah pola relasi perempuan dalam keluarga maupun relasi sosial di masyarakat. Untuk itu, perlu pengkajian ulang dan pendalaman atas kebijakan-kebijakan perlindungan sosial, khususnya PKH hingga pada tataran implementasi agar lebih responsif gender dan inklusif. Penguatan kepada perempuan dan perempuan kepala keluarga miskin tidak boleh terjebak pada pembebanan kesejahteraan seseorang atau keluarga hanya kepada perempuan, ibu atau perempuan kepala keluarga sebagaimana diterapkan dalam Program Keluarga Harapan (PKH). Untuk itu, konsep teoritis tentang defamilialization and demotherization perlu menjadi kajian kerangka kebijakan PKH ke depan. Program-program kesejahteraan sosial, khususnya PKH, yang masih bersifat charity untuk pemenuhan kebutuhan praktis gender harus ditingkatkan menjadi program-progam yang lebih strategis gender.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4073
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Jimmi Pindan Pute + 5 more
Moderasi beragama merupakan kunci utama dalam membangun keseimbangan dan kesamarataan di antara umat beragama. Abad kedua puluh satu diidentikan dengan proses digitalisasi, sehingga generasi z memiliki peran signifikan untuk membangun moderasi beragama. Berdasarkan konsep tersebut, menjadi sebuah hal urgen untuk mengkaji tentang kontribusi yang dapat dilakukan oleh generasi z dalam membangun moderasi beragama melalui literasi digital. Oleh karena itu, tujuan studi ini adalah menyajikan berbagai kontribusi yang dapat dilakukan oleh generasi z dalam membangun moderasi beragama melalui literasi digital. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini, secara khusus dengan melakukan kajian literatur yang relevan, misalnya dari artikel jurnal dan buku-buku. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan pada persoalan tentang agama dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan media digital untuk membangun kepedulian dan sikap toleransi sesama beragama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa generasi z berperan penting sebagai generasi penerus bangsa Indonesia dalam membangun moderasi beragama. Adapun kontribusi generasi z dalam membangun moderasi beragama melalui literasi digital, yakni (1) membentuk komunitas literasi digital; (2) menyebarluaskan konten-konten dan informasi seputar agama yang membangun moderasi beragama; (3) melakukan pembinaan online; dan (4) menyelenggarakan lomba online.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4087
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- I Putu Sarjana + 1 more
Artikel ini berupaya mengangkat topik Jana Kertih yang merupakan salah satu bagian dari ajaran Sad Kertih. Pembahasan perihal Jana Kertih difokuskan pada aspek filosofis atau tattwa dan susila yang berhubungan dengan kemuliaan manusia. Jana Kertih diartikan sebagai perilaku mulia dalam upaya membangun kualitas sumber daya manusia menuju manusia berkualitas suputra sadhu gunawan. Perilaku yang mulia ini akan terwujud apabila manusia mengetahui hakikat dan tujuan hidup sebagai manusia sesuai ajaran agama Hindu, dan memahami nilai-nilai etis, estetis dan religius yang tertuang dalam teks-teks sastra. Perilaku mulia ini dibangun melalui pendekatan secara sakala (empiris) dan niskala (non empiris). Secara sakala perilaku mulia dibangun dengan cara internalisasi ajaran-ajaran Tattwa (Ketuhanan) dan Tata Susila (moralitas) melalui pelaksanaan pendidikan (asrama), sementara secara niskala (rohani) perilaku mulia dibangun melalui pelaksanaan upacara yadnya khususnya manusa yadnya.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4072
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Moudy Cynthia + 1 more
Penelitian ini ingin menganalisa kehidupan penyintas kekerasan seksual inses dan bagaimana ia menemukan jalan untuk mengambil kembali dirinya, untuk belajar dan melindungi dirinya sendiri untuk menjadi orang baik dan disaat yang sama menjaga dirinya agar tetap waras. Subyek penelitian ini adalah autobiografi No Tears for My Father karya Viga Boland. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah analisa teks dengan menggunakan teori Perkembangan Moral Perempuan Carol Gilligan dan Feminisme Psikoanalisis Dorothy Dinnerstein. Penelitian ini menelaah dinamika kehidupan penyintas (Viga Boland), kehidupan ibunya dan bagaimana penyintas menunjukkan dirinya kepada orang lain, perjuangannya untuk mencapai fase Etika Kepedulian dan meraih ke-saya-annya. Lebih lanjut studi ini juga mengelaborasi pengaturan gender yang patriarkis dan bagaimana pengaturan gender tersebut berdampak pada kekerasan seksual yang terjadi dalam kurun waktu yang lama. Penelitian ini juga membahas kehidupan dengan berbagai kejadian menghancurkan yang dialami oleh penyintas sejak ia kecil sampai dewasa, dan relasi kuasa serta manipulasi yang dimainkan ayahnya untuk tetap membuat anaknya bungkam dalam kerangkeng yang diciptakannya. Studi ini memperlihatkan bahwa korban kekerasan inses mengalami berbagai dinamika kehidupan yang kompleks. Korban menggunakan kekuatan dirinya sebagai perempuan, seperti dalam teori Dinnerstein, dan berjuang untuk ke-saya-annya, mencapai tahap perkembangan moral dimana etika kepeduliannya berhasil meraih dirinya sendiri. Rasa cintanya kepada pasangannya, rasa cinta yang akhirnya ditunjukkan oleh ibunya menjadi salah satu faktor korban bisa keluar dari siklus kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4071
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Fransisko Sadianto + 1 more
Fokus utama studi ialah untuk mendalami dan menggali makna dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ritus lamba wakos suku Rakas Manggarai Timur-Flores-NTT. Tujuan yang hendak dicapai dari studi ini yakni untuk menjadikan kearifan lokal ritus lamba wakos sebagai ritus yang memiliki kontribusi bagi kehidupan manusia di Indonesia terutama dalam usaha untuk membendung tindakan aborsi. Metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah pendekatan filosofis fenomenologis dengan mendalami kearifan lokal yang menyangkut penghormatan terhadap awal kehidupan manusia dalam kaitannya dengan konsep martabat manusia Armada Riyanto. Pendekatan yang digunakan untuk mendalami ritus lamba wakos yakni melalui pendekatan kualitatif dengan merujuk pada sumber wawancara dan studi kepustakaan. Studi ini menemukan bahwa dalam ritus lamba wakos pengakuan terhadap martabat manusia mendapat tempat yang nyata, sebab janin diserahkan kepada perlindungan Mori Kraeng (Tuhan) sebagai wujud tertinggi. Janin diakui eksistensinya sebagai manusia sejak dalam kandungan ibunya. Ritus ini juga berkontribusi menumbuhkan kesadaran ibu hamil untuk selalu menjaga janinnya hingga kelahirannya sehingga dapat menangkal keinginan untuk mengaborsi anaknya.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4074
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Stebby Julionatan + 2 more
Kasih adalah ajaran utama dalam Kekristenan. Namun, ketika ajaran utama Kekristenan tersebut diperhadapkan pada hak-hak kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan, beragam permasalahan mulai timbul. Akibat perbedaan interpretasi, kasih tak lagi bersifat inklusif kepada “sesamamu manusia”. Agama justru menjadi hambatan terbesar terhadap penerimaan pada ketubuhan dan seksualitas kelompok transpuan. Tafsir atas teks-teks Alkitab menghakimi keberadaan tubuh, seksualitas, dan ekspresi mereka yang cair. Kerasnya permintaan pada pengakuan dan persamaan hak --termasuk legalisasi perkawinan, dituding sebagai tindakan yang “sesat” dan penyebab terjadinya bencana sebagaimana negeri Sodom yang dilenyapkan Allah. Melalui studi literatur, penelitian ini hendak melihat bagaimana Gereja selama ini memaknai Kasih untuk melihat tubuh dan seksualitas transpuan. Lalu, melalui pemaknaan yang inklusi terhadap Kasih, apakah ada jalan bagi para transpuan untuk memenuhi kebutuhan kemitraan mereka hingga pada jenjang perkawinan? Dengan metode fenomenologi yang berperspektif feminis penelitian ini menemukan empat hal. Pertama, sejumlah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang tak memiliki perspektif gender adalah penelitian yang bias dan diskriminatif terhadap kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan. Kedua, penelitian yang tidak sensitif gender tersebut cenderung menggolongkan perkawinan transpuan sebagai perkawinan sesama jenis (same-sex marriage). Ketiga, Gereja dan pendeta jamak memakai tafsir heteronormatif yang menekankan bahwa perkawinan hanya diperkenankan Allah terjadi di antara laki-laki dan perempuan cis-gender. Dan keempat, pesan “kasihilah sesamamu manusia” yang selama ini dipakai Gereja dan adalah “kasihilah sesamamu manusia” yang mengecualikan kelompok minoritas, khususnya kelompok transpuan.
- Research Article
- 10.32795/ds.v23i1.4153
- May 13, 2023
- Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
- Priazki Hajri Hendra
Tujuan dari artikel ini adalah untuk melihat bagaimana esensi membangun identitas nasional sebagai wujud pertahanan budaya pada mahasiswa PPKn FKIP Universitas Jambi. Hal ini didasari karena pengaruh globalisasi yang tinggi dinilai dapat memudarkan identitas nasional bangsa Indonesia, maka dari itu perlu untuk ditanamkan substansi implementasi dari identitas nasional tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa perlu untuk menjadi agen transformasi dalam menjaga tradisi dan budaya yang ada, tidak hanya itu, mahasiswa juga dituntut untuk membangun refleksi diri terhadap persoalan yang dihadapi bangsa ini terutama sebagai mediator dalam mengedukasi generasi selanjutnya. Dan sebagai kesimpulan dalam penelitian ini mahasiswa memiliki peran yang strategis dalam menentukan arah bangsa ini kedepannya, hal ini diindikasikan karena mahasiswa merupakan generasi yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya, serta peran mahasiswa sebagai seorang pembelajar sejalan dengan semnagat serta visi misi negara untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter.