Spiritualitas Orang Miskin dalam Perspektif Teologi “Allah yang Turut Menderita” Jürgen Moltmann
Artikel ini mengkaji spiritualitas orang miskin dalam kerangka teologi Jurgen Moltmann mengenai “Allah yang turut menderita”. Moltmann menegaskan bahwa Allah tidak berdiri jauh dari penderitaan manusia, melainkan hadir secara aktif melalui solidaritas ilahi yang diwujudkan dalam peristiwa salib. Studi ini menggunakan metode kualitatif melalui telaah literatur teologis dan analisis kontekstual untuk memahami bagaimana konsep tersebut berelasi dengan pengalaman spiritual kaum miskin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan berdampak pada dimensi psikologis, sosial, dan spiritual, termasuk munculnya krisis teodisi serta keterasingan religius akibat tekanan hidup dan bias struktural dalam komunitas gereja. Melalui kerangka Moltmann, pengalaman ini dapat dipahami dalam tiga dinamika utama. Pertama, penderitaan menjadi ruang di mana Allah hadir dan berelasi dengan mereka yang terpinggirkan. Kedua, spiritualitas orang miskin memperoleh pemaknaan baru ketika penderitaan dilihat bukan sebagai hukuman atau kegagalan moral, melainkan sebagai tempat solidaritas ilahi. Ketiga, pengharapan eskatologis menciptakan energi spiritual yang mendorong terbentuknya komunitas solidaritas serta komitmen untuk memperjuangkan keadilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi pemikiran Moltmann dengan spiritualitas orang miskin memberikan dasar teologis bagi teologi pembebasan dan praksis gereja yang transformatif. Temuan ini menegaskan pentingnya gereja untuk membangun komunitas inklusif, berpihak pada mereka yang tertindas, serta menghadirkan tanda-tanda pengharapan Allah dalam konteks kemiskinan struktural.