Petani sebagai Mitra Allah
Artikel ini membahas peran petani sebagai mitra Allah dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui pendekatan teologis-biblika. Berangkat dari realitas krisis ketahanan pangan, marginalisasi petani, dan krisis regenerasi di Indonesia, penelitian ini menegaskan bahwa persoalan pangan tidak hanya bersifat teknis dan ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi teologis yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur dan tafsir teologis-biblika terhadap tiga teks utama, yaitu Kejadian 2:15, Mazmur 104:14–15, dan Markus 4:26–29. Analisis dilakukan melalui sintesis literatur teologi agraris, ekoteologi, dan teologi kerja untuk menyingkap makna kerja pertanian dalam relasi Allah, manusia, dan ciptaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja bertani dipahami sebagai praktik iman yang bersifat relasional, partisipatif, dan bergantung pada pemeliharaan Allah. Petani dipahami bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai penatalayan dan mitra Allah dalam menjaga keberlanjutan ciptaan dan keadilan pangan. Implikasi teologis dari kajian ini menegaskan pentingnya pengembangan teologi agraris kontekstual di Indonesia yang menempatkan ketahanan pangan sebagai isu iman, etika, dan ekologi. Penelitian ini dibatasi pada kajian literatur dan tafsir teks, sehingga membuka peluang bagi studi empiris lanjutan dalam konteks komunitas petani dan kebijakan pangan.