Pelayanan Sosial bagi Lanjut Usia dalam Perspektif Suku Rejang

  • Abstract
  • Literature Map
  • Similar Papers
Abstract
Translate article icon Translate Article Star icon
Take notes icon Take Notes

Orang lanjut usia (lansia) secara umum memiliki berbagai permasalahan dan kerentanan, baik aspek kesehatan, mental psikologis, aspek sosial dan aspek ekonomi. Situasi lansia tersebut membutuhkan model pelayanan sosial yang tepat sesuai dengan karakteristik masing-masing lansia, baik suku, agama, adat budaya dan kebiasaan masing-masing lansia. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pelayanan sosial yang tepat bagi lansia, khususnya Suku Rejang di Provinsi Bengkulu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus dengan tokoh Adat Masyarakat Rejang di Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Tengah dan Kabupaten Bengkulu Utara. Selain itu juga dilakukan studi dokumentasi untuk mengkaji pelayanan sosial bagi lansia. Hasil pendataan diolah dan dianalisa secara kualitatif sehingga mendapatkan gambaran yang jelas tentang pelayanan sosial bagi lansia dalam perpektif Suku Rejang. Hasil penelitian menunjukkan ada ditemukan nilai-nilai kearifan lokal Suku Rejang tentang bagaimana masyarakat memberikan pelayanan sosial bagi orang lansia. Pelayanan sosial bagi lansia yang dilaksanakan oleh masyarakat Rejang terbagi dua menjadi pelayanan yang dilakukan keluarga dan pelayanan yang dilakukan oleh komunitas atau kelompok dalam wujud lembaga adat. Dalam lingkup keluarga, pelayanan terhadap lansia dilakukan dalam bentuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan; makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Sementara pelayanan lansia yang dilakukan oleh lembaga adat, dilakukan dalam bentuk aturan yang memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan lansia oleh keluarga, dan manakala keluarga tidak memenuhi, maka akan mendapatkan sanksi dari lembaga adat. Berdasarkan hasil penelitian ini, kami merekomendasikan beberapa hal untuk ditindaklanjuti: a) Pentingnya pemeritah daerah, terutama dinas yang menangani lansia, untuk mengidentifikasi dan mengembangkan kembali nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Rejang dalam memberikan pelanyanan sosial lansia, baik dipergunakan dalam pelayanan di luar institusi maupun pelayanan di dalam institusi. b) Pentingnya lembaga adat dan tokoh masyarakat Rejang untuk menghidupkan dan mengembangkan kembali nilai-nilai kearifan lokal Suku Rejang sebagai acuan kehidupan bermasyarakat dalam merawat lansia dan memberikan pelayanan sosial bagi lansia

Similar Papers
  • Research Article
  • 10.20527/kognisia.2022.010.007
Peran Pola Asuh Otoritatif terhadap Kematangan Beragama pada Remaja di SMAN 1 Tebing Tinggi Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan
  • Mar 3, 2025
  • Jurnal Kognisia
  • Fatimah + 2 more

Masa remaja merupakan masa perubahan yang setiap indvidu. Padamasa remaja ini akan mengalami perubahan fisik ataupun psikis. Remaja yang mengalami hal itu cenderung melakukan hal yang beresiko, karena itu remaja adalah individu pertama yang harus di ajarkan jaran agama dan moral, termasuk orangtua mereka. Remaja yang memiliki perilaku yang sesuai dengan aturan moral adalah remaja yang memiliki kematangan beragama yang baik, karena agama pada hakikatnya hanya membawa umatnya menuju dan sebagai orangtua yang mengasuh anak dengan arahan dan bimbingan seperti asuhan otoritatif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran pola asuh otoritatif terhadap kematangan beragama pada remaja di SMAN 1 Tebing Tinggi. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 59 siswa di SMAN 1Tebing Tinggi, kabupaten balangan, kalimantan selatan, menggunakan metode purposive sampling. Metode menggunakan data instrumen skala otoritatif dan skala kematangan beragama. Metode analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti menghasilkan t hitung sebesar 5,989 dan t tabel sebesar 2,002 sehingga menunjukan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel (5,989> 2,002). Hasil penelitian ini pun menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disangkal bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan adanya peranan yang signifikan dari pola asuh otoritatif terhadap kematangan beragama dapat diterima. Metode analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti menghasilkan t hitung sebesar 5,989 dan t tabel sebesar 2,002 sehingga menunjukan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel (5,989> 2,002). Hasil penelitian ini pun menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disangkal bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan adanya peranan yang signifikan dari pola asuh otoritatif terhadap kematangan beragama dapat diterima. Metode analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti menghasilkan t hitung sebesar 5,989 dan t tabel sebesar 2,002 sehingga menunjukan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel (5,989> 2,002). Hasil penelitian ini pun menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disangkal bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan adanya peranan yang signifikan dari pola asuh otoritatif terhadap kematangan beragama dapat diterima. Hasil penelitian ini pun menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disangkal bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan adanya peranan yang signifikan dari pola asuh otoritatif terhadap kematangan beragama dapat diterima. Hasil penelitian ini pun menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disangkal bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan adanya peranan yang signifikan dari pola asuh otoritatif terhadap kematangan beragama dapat diterima.

  • Research Article
  • 10.69693/ijim.v1i3.142
Pengaruh Metode Focus Group Discussion Terhadap Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Pada Lansia
  • Sep 30, 2023
  • Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research
  • Fitriani Ningsih + 4 more

Lanjut usia (lansia) adalah orang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas yang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan ber- negara. Sekarang jumlah lansia semakin meningkat, oleh karena itu pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh metode focus group discussion terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi lansia di Posyandu Kemuning Wilayah Kerja Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya. Desain penelitian ini menggunakan desain eksperimen dengan rancangan pretest-posttest one group design. Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang terdata di Posyandu Kemuning dengan jumlah sampel sebanyak 42 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive sampling dan uji statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah uji McNemar Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode focus group discussion efektif meningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi lansia dengan nilai p diperoleh 0,001 (p < a 0,005). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan metode focus group discussion efektif meningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi lansia, oleh sebab itu untuk para Kader dan tenaga kesehatan di Posyandu Kemuning dapat menggunakan metode focus group discussion dalam memberikan pendidikan kesehatan lansia

  • Research Article
  • Cite Count Icon 3
  • 10.17509/jrak.v5i3.9223
PENGARUH POLITICAL CONNECTION, FOREIGN ACTIVITY, DAN, REAL EARNINGS MANAGEMENT TERHADAP TAX AVOIDANCE
  • Dec 20, 2017
  • Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan
  • Yopi Ferdiawan + 1 more

Abstract. This research is aimed to provide empirical evidence about relationship between political connection, foreign activity, and real earnings management on tax avoidance. Hanlon Heitzman (2010) defines tax avoidance as a continuum tax planning strategis to reduce the explicit taxes. Using purposive sampling, this research selects manufacturing companies that are listed in Indonesian Stock Exchange (IDX) in the period 2010-2015 as samples. Selected company data amounted to 65, so the total observation in this study are 365 firm-years. The data examination in this study uses multiple regression analysis with dated panel.The results of this study indicate that real earnings management has no significant effect on tax avoidance. These results mean that real earnings management conducted by the company can not detect tax avoidance activities undertaken by manufacturing firms in IDX. Meanwhile, political connections have a significant positive effect on tax avoidance, meaning that the average company uses its political connections to lower tax payments. Furthermore, a branch or subsidiary-like company can be used by companies to avoid more taxes by utilizing foreign activities stick to them to reduce taxes through profit shifting schemes as well as profit holding as evidenced by a significant positive effect. Keywords: earnings management; foreign activity; political connection; tax avoidance. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris terkait hubungan antara koneksi politik, aktivitas luar negeri, dan manajemen laba riil terhadap praktik penghindaran pajak. Hanlon Heitzman (2010) mendefinisikan penghindaran pajak sebagai perencanaan pajak yang kontinu untuk mengurangi pajak eksplisit. Dengan menggunakan metode purposive sampling, penelitian ini memilih perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2010-2015 sebagai sampel. Data perusahaan terpilih berjumlah 65, sehingga total pengamatan dalam penelitian ini adalah 365 perusahaan-tahun. Metode pengujian dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen laba riil tidak berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak. Hasil ini menunjukkan bahwa manajemen laba riil yang dilakukan oleh perusahaan tidak dapat mendeteksi kegiatan penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, hubungan politik memiliki dampak positif yang signifikan terhadap penghindaran pajak, yang berarti rata-rata perusahaan menggunakan koneksi politiknya untuk mendapatkan pembayaran pajak yang lebih rendah. Perusahaan cabang atau anak perusahaan dapat digunakan oleh perusahaan untuk lebih menghindari pajak dengan memanfaatkan aktivitas luar negeri yang melekat pada mereka untuk mengurangi pajak melalui skema profit shifting serta profit holding sebagaimana dibuktikan oleh hasil penelitian. Kata Kunci: koneksi politik; aktivitas luar negeri; manajemen laba; penghindaran pajak.Abstract. This research is aimed to provide empirical evidence about relationship between political connection, foreign activity, and real earnings management on tax avoidance. Hanlon Heitzman (2010) defines tax avoidance as a continuum tax planning strategis to reduce the explicit taxes. Using purposive sampling, this research selects manufacturing companies that are listed in Indonesian Stock Exchange (IDX) in the period 2010-2015 as samples. Selected company data amounted to 65, so the total observation in this study are 365 firm-years. The data examination in this study uses multiple regression analysis with dated panel.The results of this study indicate that real earnings management has no significant effect on tax avoidance. These results mean that real earnings management conducted by the company can not detect tax avoidance activities undertaken by manufacturing firms in IDX. Meanwhile, political connections have a significant positive effect on tax avoidance, meaning that the average company uses its political connections to lower tax payments. Furthermore, a branch or subsidiary-like company can be used by companies to avoid more taxes by utilizing foreign activities stick to them to reduce taxes through profit shifting schemes as well as profit holding as evidenced by a significant positive effect. Keywords: earnings management; foreign activity; political connection; tax avoidance. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris terkait hubungan antara koneksi politik, aktivitas luar negeri, dan manajemen laba riil terhadap praktik penghindaran pajak. Hanlon Heitzman (2010) mendefinisikan penghindaran pajak sebagai perencanaan pajak yang kontinu untuk mengurangi pajak eksplisit. Dengan menggunakan metode purposive sampling, penelitian ini memilih perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2010-2015 sebagai sampel. Data perusahaan terpilih berjumlah 65, sehingga total pengamatan dalam penelitian ini adalah 365 perusahaan-tahun. Metode pengujian dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen laba riil tidak berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak. Hasil ini menunjukkan bahwa manajemen laba riil yang dilakukan oleh perusahaan tidak dapat mendeteksi kegiatan penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, hubungan politik memiliki dampak positif yang signifikan terhadap penghindaran pajak, yang berarti rata-rata perusahaan menggunakan koneksi politiknya untuk mendapatkan pembayaran pajak yang lebih rendah. Perusahaan cabang atau anak perusahaan dapat digunakan oleh perusahaan untuk lebih menghindari pajak dengan memanfaatkan aktivitas luar negeri yang melekat pada mereka untuk mengurangi pajak melalui skema profit shifting serta profit holding sebagaimana dibuktikan oleh hasil penelitian. Kata Kunci: koneksi politik; aktivitas luar negeri; manajemen laba; penghindaran pajak.

  • Research Article
  • 10.22373/ahkamulusrah.v3i2.5006
DISPARITAS PUTUSAN MAHKAMAH SYAR’IYAH BANDA ACEH DALAM PENYELESAIAN HAK HADHANAH ANAK
  • Jun 26, 2024
  • AHKAMUL USRAH: Jurnal S2 Hukum Keluarga dan Peradilan Islam
  • Qandian + 2 more

Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis dengan menganalisis enam putusan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh terkait pertimbangan hakim dalam menentukan hak hadhanah pasca perceraian dan disparitas putusan hakim terkait enam putusan hadhanah oleh Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Rumusan masalah dalam penelitian ini pertama, bagaimana ketentuan hak hadhanah anak pasca perceraian menurut ketentuan hukum Islam dan KHI. Kedua, bagaimana pertimbangan hakim dalam menentukan hak hadhanah akibat perceraian pada putusan hakim Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Ketiga, bagaimana disparitas putusan hakim Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh dalam perkara perceraian tentang hak hadhanah. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat yuridis normatif dengan pendekatan berdasarkan bahan-bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori maupun konsep-konsep dan asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini. Sumber data primer dalam penelitian ini dengan melakukan wawancara bersama hakim Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Sedangkan data sekunder merupakan rujukan kedua bagi penulis dalam menyempurnakan penelitian ini seperti Undang-Undang tentang Peradilan Agama, KHI, Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Perkawinan. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa pertimbangan hakim dalam menentukan hak asuh anak berdasarkan 3 (tiga) aspek yaitu aspek yuridis, sosiologis, dan penalaran hukum dengan selalu mengedepankan kepentingan terbaik anak. Selanjutnya disparitas putusan hakim terkait enam putusan hak asuh anak dapat disimpulkan bahwa ada empat macam disparitas putusan hakim yaitu berupa dua putusan jatuh kepada pihak ayah, dua putusan jatuh ke pihak ibu, satu putusan jatuh sebagian ke ayah dan sebagian lagi ke ibu, dan satu putusan tidak dijatuhkan kepada keduanya, hak asuh berbeda dari setiap putusan berdasarkan fakta di persidangan dan kondisi anak serta hak asuh anak diputuskan hanya semata-mata demi masa depan anak. Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis dengan menganalisis enam putusan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh terkait pertimbangan hakim dalam menentukan hak hadhanah pasca perceraian dan disparitas putusan hakim terkait enam putusan hadhanah oleh Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Rumusan masalah dalam penelitian ini pertama, bagaimana ketentuan hak hadhanah anak pasca perceraian menurut ketentuan hukum Islam dan KHI. Kedua, bagaimana pertimbangan hakim dalam menentukan hak hadhanah akibat perceraian pada putusan hakim Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Ketiga, bagaimana disparitas putusan hakim Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh dalam perkara perceraian tentang hak hadhanah. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat yuridis normatif dengan pendekatan berdasarkan bahan-bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori maupun konsep-konsep dan asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini. Sumber data primer dalam penelitian ini dengan melakukan wawancara bersama hakim Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Sedangkan data sekunder merupakan rujukan kedua bagi penulis dalam menyempurnakan penelitian ini seperti Undang-Undang tentang Peradilan Agama, KHI, Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Perkawinan. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa pertimbangan hakim dalam menentukan hak asuh anak berdasarkan 3 (tiga) aspek yaitu aspek yuridis, sosiologis, dan penalaran hukum dengan selalu mengedepankan kepentingan terbaik anak. Selanjutnya disparitas putusan hakim terkait enam putusan hak asuh anak dapat disimpulkan bahwa ada empat macam disparitas putusan hakim yaitu berupa dua putusan jatuh kepada pihak ayah, dua putusan jatuh ke pihak ibu, satu putusan jatuh sebagian ke ayah dan sebagian lagi ke ibu, dan satu putusan tidak dijatuhkan kepada keduanya, hak asuh berbeda dari setiap putusan berdasarkan fakta di persidangan dan kondisi anak serta hak asuh anak diputuskan hanya semata-mata demi masa depan anak.

  • Research Article
  • 10.52263/jfk.v15i1.164
Teh Daun Katuk Pengaruh Teh daun Katuk terhadap Kecukupan ASI pada Bayi umur 0 sampai 6 bulan di Puskesmas Lahei II Kabupaten Barito Utara
  • Mar 20, 2025
  • Jurnal Forum Kesehatan : Media Publikasi Kesehatan Ilmiah
  • Tiana Kaleluni Tiana Kaleluni + 2 more

PENGARUH TEH DAUN KATUK TERHADAP KECUKUPAN ASI PADA BAYI UMUR 0 SAMPAI 6 BULAN DI PUSKESMAS LAHEI II KAPUBATEN BARITO UTARA Happy Marthalena Simanungkalit1, Irene Febriani2, Tiana Kaleluni3 Poltekkes Kemenkes Palangka Raya3 (tiakaleluni@gmail.com) Abstrak Latar Belakang : Manfaat pemberian ASI menurut WHO melindungi bayi dari kuman, menyediakan nutrisi lengkap, jaminan asupan higienis dan aman, membuat bayi tumbuh sehat dan cerdas, mengurangi resiko kanker, membantu member jarak kelahiran, menghemat biaya. Katuk merupakan tanaman kearifanlokal (indigenous), yang populer di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki banyak manfaat terutama untuk meningkatkan produksi ASI bagi ibu menyusui sehingga ibu dapat memenuhi kecukupan ASI untuk bayinya. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh teh daun katuk terhadap kecukupan ASI pada bayi 0 sampai 6 bulan di Puskesmas Lahei II Kabupaten Barito Utara. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy eksperiment atau eksperimen semu dengan pretest posttest non equivalent control group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan total sampel 17 ibu yang menyusui dengan mengkonsumsi teh daun katuk dan 17 ibu yang menyusui yang tidak diberikan perlakuan sebagai control. Penelitian ini dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil : Statistik uji z yang dihasilkan sebesar -2.270 dengan probabilitas sebesar 0.023. Hal ini berarti probabilitas < α (0.05), dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol. Kesimpulan : Ada perbedaan pemberian teh daun katuk terhadap peningkatan kecukupan ASI. Bagi ibu menyusui agar dapat mengkonsumsi teh daun katuk untuk meningkatkan produksi ASI agar dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya hingga usia 6 bulan dan juga cara mengkonsumsi teh daun katuk ini lebih praktis. XV + 68 hlm; 2021; 10 tabel Daftar Pustaka: 43 buah (2015-2021) Kata Kunci : ASI, Bayi, Teh daun katuk THE EFFECT OF KATUK LEAF TEA ON ADEQUACY OF BREAST MILK BABIES AGED 0 TO 6 MONTHS AT LAHEI II HEALTH CENTER NORTH BARITO REGENCY Abstract Background : The benefits of breastfeeding according to WHO protect babies from germs, provide complete nutrition, guarantee hygienic and safe intake, make babies grow healthy and smart, reduce cancer risk, help give birth spacing, save costs. Katuk is a plant of local wisdom (indigenous), which is popular in South Asia and Southeast Asia, including Indonesia. This plant has many benefits, especially to increase milk production for nursing mothers so that mothers can meet the adequacy of breast milk for their babies. Objective: To determine the effect of katuk leaf tea on the adequacy of breast milk in infants 0 to 6 months at Lahei II Public Health Center, North Barito Regency. Methods: This study used a quasi-experimental or quasi-experimental research design with pretest posttest non-equivalent control group design. The sampling technique used purposive sampling with a total sample of 17 mothers who were breastfeeding by consuming katuk leaf tea and 17 mothers who were breastfeeding who were not given treatment as controls. This study was analyzed using the Wilcoxon test. Results: The resulting z-test statistic is -2.270 with a probability of 0.023. This means that the probability is < (0.05), thus it can be stated that there is a significant difference in the adequacy of breastfeeding on the 8th day in the intervention group with the adequacy of breastfeeding on the 8th day in the control group. Conclusion : There is a difference in giving katuk leaf tea to increase the adequacy of breast milk. For breastfeeding mothers, they can consume katuk leaf tea to increase milk production so that they can provide exclusive breastfeeding to their babies until the age of 6 months and also how to consume katuk leaf tea is more practical. XV + 68 pages; 2021; 10 tables Bibliography: 43 pieces (2015-2021) Keywords : Breast milk, Baby, Katuk leaf tea PENDAHULUAN Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan status gizi anak dalam 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK). Menurut data profil kesehatan provinsi Kalimantan tengah cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2018 sebesar 41,69%, tahun 2019 sebesar 49,25%, dan tahun 2020 mengalami penurunan menjadi 45,82%. Target cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Lahei II untuk tahun 2017-2022 yaitu 85%. Tetapi, cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Lahei II tahun 2020 yaitu 83,82% dan pada tahun 2021 mengalami penurunan yaitu menjadi 63,33% (Laporan Tahunan Puskesmas Lahei II Kabupaten Barito Utara, 2020). Manfaat pemberian ASI menurut WHO melindungi bayi dari kuman, menyediakan nutrisi lengkap, jaminan asupan higienis dan aman, membuat bayi tumbuh sehat dan cerdas, mengurangi resiko kanker, membantu member jarak kelahiran, menghemat biaya (Anatolitou, 2012). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan laju sekresi dan produksi ASI adalah melalui penggunaan tanaman local yang banyak terdapat di KalimantanTengah salah satunya yaitu Katuk. Berbeda dengan sayuran daun lain, katuk dapat diproduksi sepanjang tahun, termasuk dimusim hujan (Duncanetal, 2012). Sehingga tanaman mudah dicari, didapatkan dan memiliki nilai ekonomis serta menjadi tanaman yang wajib ditanam terutama bagi warga kecamatan Lahei kabupaten Barito Utara yang sebagian besar warganya berladang/bertani, serta mereka percaya tanaman ini memiliki banyak manfaat terutama untuk meningkatkan produksi ASI bagi ibu menyusui sehinggu ibu dapat memenuhi kecukupan ASI untuk bayinya dimana Tiap 100 g daun katuk mengandung 59 kalori, 70 g air, 4,8 g protein, 2 g lemak, 11 g karbohidrat, 3111 g vitaminD, 0,10mg vitamin B6 dan 200 mg vitamin C (Kuswati, 2015). Kandungan protein dalam daun katuk berkhasiat untuk menstimulasi pengeluaran air susu ibu. Daun katuk dipercaya sebagai makanan yang dapat meningkatkan produksi ASI karena Mengandung polifenolan senyawa steroid yang bersifat estrogenic sehingga mampu meningkatkan hormon prolaktin yang berperan dalam merangsang sel-sel pada payudara untuk memproduksi ASI (Sandra, 2015). METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy eksperiment atau eksperimen semu dengan pretest post test non equivalent control group designnya itu mengamati variable hasil pada kelompok intervensi dan kelompok control pada waktu yang sama (waktu pemberian the daun katuk) (Dharma, 2011). Sampel dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok intervensi dan satu kelompok control. Kelompok intervensi diberikan perlakuan dengan memberikan teh daun katuk sedangkan kelompok control tidak diberikan teh daun katuk, kemudian dilakukan pengukuran menggunakan format isian saat hari ke 7 untuk melihat kecukupan ASI dengan mengkosumsi teh daun katuk dan kecukupan ASI dengan yang tidak mengkonsumsi teh daun katuk. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Lahei II pada bulan Februari sampai dengan Mei 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu nifas pada bulan Oktober sampai Desember tahun 2021 dan Januari serta Februari 2022 di Puskesmas Lahei sebanyak 120 orang. Sampel dari penelitian ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi usia 0 sampai dengan 6 bulan dengan total sampel 34 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan dianalisis dengan uji Wilcoxon. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Univariat Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Variabel Frekuensi Persentase Kelompok Intervensi <20 tahun 2 11.8% 20-35 tahun 12 70.6% > 35 tahun 3 17.6% Total 17 100% Kelompok Kontrol <20 tahun 20-35 tahun >35 tahun 5 10 2 29.4% 58.8% 11.8% Total 17 100% Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa dari 17 ibu yang diberikan teh daun katuk atau kelompok intervensisebesar 11.8% responden berusia kurang dari 20 tahun, kemudian sebesar 70.6% responden berusia 20 sampai 35 tahun, dan sebesar 17.6% responden berusia lebih dari 35 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang diberikan teh daun katuk berusia 20 sampai 35 tahun. Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa dari 17 ibu yang tidak diberikan teh daun katuk atau kelompok kontrol, sebesar 29.4% responden berusia kurang dari 20 tahun, sebesar 58.8% responden berusia 20 sampai 35 tahun dan sebesar 11.8% responden berusia lebih dari 35 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang tidak diberikan teh daun katuk berusia 20 sampai 35 tahun. Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Konsumsi Alkohol Variabel Frekuensi Persentase Kelompok Intervensi Iya 3 17.6% Tidak 14 82.4% Total 17 100% Kelompok Kontrol Iya Tidak 2 15 11.8% 88.2% Total 17 100% Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa dari 17 ibu yang diberikan teh daun katukatau kelompok intervensi sebesar 17.6% responden mengkonsumsi alkohol, dan sebesar 82.4% responden tidak mengkonsumsi alkohol. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang diberikan teh daun katuk tidak mengkonsumsi alkohol. Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa dari 17 ibu yang tidak diberikan teh daun katukatau kelompok kontrol sebesar 11.8% responden mengkonsumsi alkohol, dan sebesar 88.2% responden tidak mengkonsumsi alkohol. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang tidak diberikan teh daun katuk tidak mengkonsumsi alkohol. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kecukupan ASI Kecukupan ASI Sebelum Setelah Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase Kelompok Intervensi Sangat kurang Cukup ASI Tidak cukup ASI 3 12 2 17.6% 70.6% 47.2% 0 13 4 0 76.5% 23.5% Total 17 100% 17 100% Kelompok Kontrol Sangat kurang Cukup ASI Tidak cukup ASI 7 2 8 41.2% 11.8% 47.2% 0 11 6 0 64.7% 35.3% Total 17 100% 17 100% Berdasarkan tabel diatas, diketahui pada kelompok intervensi 17.% responden memiliki kecukupan ASI kategori sangat kurang, kemudian sebesar 70.6% responden memiliki kecukupan ASI kategori tidak cukup dan sebesar 11.8% responden memiliki kecukupan ASI kategori cukup ASI. Berdasarkan tabel diatas pada kelompok intervensi setelah diberikan Teh Daun Katuk sebesar 23.5% responden memiliki kecukupan ASI kategori tidak cukup, dan sebesar 76.5% responden memiliki kecukupan ASI kategori cukup ASI. Berdasarkan tabel diatas, diketahui pada kelompok kontrol sebesar 41.2% responden memiliki kecukupan ASI kategori sangat kurang, kemudian sebesar 47.1% responden memiliki kecukupan ASI kategori tidak cukup ASI dan sebesar 11.8% responden memiliki kecukupan ASI kategori cukup ASI. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang tidak diberikan teh daun katuk memiliki kecukupan ASI kategori tidak cukup ASI. Berdasarkan tabel diatas juga diketahui sebesar 64.7% responden memiliki kecukupan ASI kategori tidak cukup pada hari dan sebesar 35.3% responden memiliki kecukupan ASI kategori cukup ASI. Analisis deskriptif rata- rata kecukupan ASI hari ke 1 dan hari ke 8 pada kelompok intervensi dan kelompok Kontrol dapat dilihat pada grafik berikut : Berdasarkan grafik diatas, diketahui bahwa rata-rata kecukupan ASI hari ke 1 pada kelompok intervensi sebesar 6.647, sedangkan rata-rata kecukupan ASI hari ke 8 sebesar 8.176. Kemudian rata-rata kecukupan ASI hari ke 1 pada kelompok kontrol sebesar 6.529, sedangkan rata-rata kecukupan ASI hari ke 8 sebesar 7.294. Pengujian Kenormalan Data Kecukupan ASI Hari ke-1 dengan Kecukupan ASI Hari ke-8 pada Kelompok Intervensi (Kelompok yang Diberikan Teh Daun Katuk) Pengujian kenormalan data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi bertujuan untuk mengetahui normal tidaknya data tersebut. Pengujian kenormalan data dilakukan menggunakan Shapiro Wilk, dengan kriteria apabila nilai probabilitas >level of significance (alpha = 5%) maka data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dinyatakan normal. Hasil pengujian normalitas data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dapat dilihat melalui tabel berikut : Tabel 4.4 Pengujian Kenormalan Data Normality Test of Kecukupan ASI Kecukupan ASI Shapiro Wilk Sig. Keterangan Hari ke 1 0.909 0.095 Terpenuhi Hari ke 8 0.901 0.071 Terpenuhi Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengujian normalitas data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi masing-masing menghasilkan statistik Shapiro wilk sebesar 0.909 dan 0.901 dengan probabilitas masing-masing sebesar 0.095 dan 0.071. Hal ini dapat diketahui bahwa pengujian normalitas data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi menghasilkan probabilitas > alpha (5%), sehingga data tersebut dinyatakan berdistribusi normal. Pengujian Hipotesis Pengaruh Kecukupan ASI Hari ke-1 dengan Kecukupan ASI Hari ke-8 pada Kelompok Intervensi (Kelompok yang Diberikan Teh Daun Katuk) Pengujian hipotesis perbedaan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dilakukan menggunakan Paired T Test dengan hipotesis sebagai berikut H1 : Ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi. Kriteria pengujian menyebutkan apabila probabilitas < α (5%) maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi. Tabel 4.5 Hasil pengujian pengaruhkecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi Kecukupan ASI Rata-Rata t Probabilitas Hari ke 1 6.647 -6.260 0.000 Hari ke 8 8.176 Berdasarkan hasil pengujian yang tertera pada tabel di atas dapat diketahui bahwa statistik uji t yang dihasilkan sebesar -6.260 dengan probabilitas sebesar 0.000. Hal ini berarti probabilitas < α (0.05), dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi. Ditinjau dari nilai rata-rata, rata-rata kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan rata-rata kecukupan ASI hari ke 1. Hal ini menunjukkan bahwa kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi lebih baik dibandingkan kecukupan ASI hari ke 1. Analisis Perbedaan Kecukupan ASI Hari ke-1 dengan Kecukupan ASI Hari ke-8 pada Kelompok Kontrol (Kelompok yang Tidak Diberikan Teh Daun Katuk) Pengujian kenormalan data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol bertujuan untuk mengetahui normal tidaknya data tersebut. Pengujian kenormalan data dilakukan menggunakan Shapiro Wilk, dengan kriteria apabila nilai probabilitas >level of significance (alpha = 5%) maka data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol dinyatakan normal. Hasil pengujian normalitas data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol dapat dilihat melalui tabel berikut Tabel 4.6 Pengujian Kenormalan Data Normality Test Of Kecukupan ASI Kecukupan ASI Shapiro Wilk Sig. Keterangan Hari Ke 1 0.917 0.129 Terpenuhi Hari Ke 8 0.841 0.008 Tidak Terpenuhi Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengujian normalitas data kecukupan ASI hari ke 1 dan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol masing-masing menghasilkan statistik Shapiro wilk sebesar 0.917 dan 0.841 dengan probabilitas masing-masing sebesar 0.129 dan 0.008. Hal ini dapat diketahui bahwa pengujian normalitas data kecukupan ASI hari ke 1 kelompok kontrol menghasilkan probabilitas > alpha (5%), sehingga data tersebut dinyatakan berdistribusi normal. Sedangkan pengujian normalitas data kecukupan ASI hari ke 8 kelompok kontrol menghasilkan probabilitas < alpha (5%), sehingga data tersebut dinyatakan tidak berdistribusi normal Pengujian Hipotesis Pengaruh Kecukupan ASI Hari ke-1 dengan Kecukupan ASI Hari ke-8 pada Kelompok Kontrol (Kelompok yang Tidak Diberikan Teh Daun Katuk) Pengujian hipotesis perbedaan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol dilakukan menggunakan Wilcoxon test dengan hipotesis sebagai berikut H1 : Ada pengaruh yang signifikan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok control. Kriteria pengujian menyebutkan apabila probabilitas < α (5%) maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol. Tabel 4.7 Hasil pengujian pengaruh kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol Kecukupan ASI Rata-Rata z Probabilitas Hari ke 1 6.529 -2.511 0.012 Hari ke 8 7.294 Berdasarkan hasil pengujian yang tertera pada tabel di atas dapat diketahui bahwa statistik uji z yang dihasilkan sebesar -2.511 dengan probabilitas sebesar 0.012. Hal ini berarti probabilitas < α (0.05), dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 1 dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol. Ditinjau dari nilai rata-rata, rata-rata kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan rata-rata kecukupan ASI hari ke 1. Hal ini menunjukkan bahwa kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol lebih baik dibandingkan kecukupan ASI hari ke 1. Analisis Perbedaan Kecukupan ASI Hari ke-8 pada Kelompok Intervensi (Kelompok yang Diberikan Teh Daun Katuk) dengan Kecukupan ASI Hari ke-8 pada Kelompok Kontrol (Kelompok yang Tidak Diberikan Teh Daun Katuk) Pengujian hipotesis perbedaan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol dilakukan menggunakan Mann Whitney test dengan hipotesis sebagai berikut H1 : Ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok control. Kriteria pengujian menyebutkan apabila probabilitas < α (5%) maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol. Tabel 4.8 Hasil pengujian perbedaan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok control Kecukupan ASI Hari ke 8 Rata-Rata Z Probabilitas Kelompok Intervensi 8.176 -2.270 0.023 Kelompok Kontrol 7.294 Berdasarkan hasil pengujian yang tertera pada tabel di atas dapat diketahui bahwa statistik uji z yang dihasilkan sebesar -2.270 dengan probabilitas sebesar 0.023. Hal ini berarti probabilitas < α (0.05), dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi dengan kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol. Ditinjau dari nilai rata-rata, rata-rata kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan rata-rata kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa kecukupan ASI hari ke 8 pada kelompok kontrol lebih baik dibandingkan kecukupan ASI hari ke 1. Pembahasan Setiap hari peneliti melakukan recall terhadap responden dalam hal mengkonsumsi ekstrak teh daun katuk. Walaupun sebagian ibu yang mengalami masalah ASI tetapi mereka tetap memberikan ASI eksklusif. Ketika peneliti mengunjungi responden untuk menanyakan apakah ada efek dari teh daun katuk terhadap tubuh ternyata tidak ada efek samping karena sesuai dengan dosis. Kandungan dari alkaloid dan strerol yang terkandung di dalam daun katuk dapat meningkatkan produksi ASI. Sehingga kebutuhan ASI yang akan diberikan terhadap bayi pada periode menyusui dapat terpenuhi(Aulianova, 2016) Masalah kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan, salah satunya adalah pemberian ASI eksklusif pada bayi. Dengan memberikan ASI eksklusif pada bayi dapat memberikan pertahanan tubuh yang kuat dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan ASI, selain itu ASI juga membentuk jaringan otak karena mengandung omega 3 untuk pematangan sel-sel otak (Asifah,2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI adalah makanan ibu. Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi, diperlukan energi yang sama dengan jumlah energi yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter. Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapatkan tambahan makanan maka akan terjadi kemunduran dalam produksi ASI (Khasanah, 2013). Hasil penelitian ini juga sejalan denganPenelitianSuprayogi et al. (2015) tentang pengaruh daun katuk pada peningkatan produksi ASI. Hasil menunjukkan respon positif pada peningkatan produksi susu secara nyata pada semua dosis pemberian dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan persentasi peningkatan secara berurutan adalah 35, 40 dan 34 %. Kemungkinan hal ini karena senyawa aktif non-polar dalam Katuk peran penting dalam aksi hormonal dan metabolik di kelenjer ASI. Selain itu, Akbar et.al (2016) melakukan penelitian untuk melihat pengaruh pemberian tepung daun katuk terhadap produksi air susu ibu postpartum selama 3 minggu awal masa postpartum. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan daun katuk dapat meningkatkan produksi ASI dan BB anak selama 3 minggu perlakuan tetapi tidak mempengaruhi mortalitas anak dan respon imun. Suprayogi et.al (2016) melakukan penelitian tentang fraksi daun katuk sebagai obat untuk memperbaiki produksi ASI. Hasil penelitian ini memberikan respon positif terhadap total produksi ASI selama 10 hari laktasi. dikemukakan keberadaan senyawa – senyawa aktif dalam daun katuk, yang merupakan prekursor hormon progesteron dan estrogen. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Usia ibu pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol lebih banyak didapatkan pada ibu yang berusia 20-35 Konsumsi alkohol pada kelompok intervensi dan kontrol lebih banyak ibu yang tidak mengkonsumsi alkohol. Pada kelompok intervensi, kecukupan ASI sebelum diberikan perlakuan Teh Daun Katuk yaitu terbanyak dengan tidak cukup ASI. Pada kelompok intervensi, kecukupan ASI sesesudah diberikan perlakuan Teh Daun Katuk yaitu 14 bayi (82,3%) dengan cukup ASI. Ada perbedaan pemberian teh daun katuk terhadap peningkatan kecukupan Saran Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut : Bagi tempat penelitian Diharapkan supaya dapat memberikan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)yang lebih intensif kepada ibu menyusui mengenai ASI ekslusif dan menyarankan teh daun katuk sebagai terapi non farmakologi sehingga dapat meningkatkan kecukupan ASI. Bagi responden Disarankan pada ibu-ibu menyusui agar dapat mengkonsumsi teh daun katuk untuk meningkatkan produksi ASI agar dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya hingga usia 6 bulan dan juga cara mengkonsumsi teh daun katuk ini lebih praktis. Bagi peneliti selanjutnya Disarankan dari hasil penelitian ini agar dapat digunakan sebagai acuan bagi peneliti lain terutama yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh teh daun katuk terhadap kecukupan ASI pada ibu menyusui dengan meningkatkan jumlah waktu penelitian, memperbanyak jumlah populasi, serta dapat melakukan penelitian lebih lanjut bagaimana mengolah teh daun katuk sendiri sehingga lebih ekonomis. DAFTAR PUSTAKA Aeni dan Yuhandini. 2018. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Media Video Dan Metode Demonstrasi Terhadap Pengetahuan SADARI. Jurnal Care Vol .6, No.2, Tahun 2018. (Diakses tanggal : 26 Oktober 2020) Adam, M. (2016). Perawatan Payudara pada Masa Kehamilan dan Pemberian ASI Eksklusif Jurnal Ilmiah Kebidanan, 4(2), 77–83. Adinda,F. (2016). Peran ASI Bagi Tumbuh Kembang Anak. World Breastfeeding Week. Anatolitou, F. (2012). Human milk benefits and breastfeeding. Journal of Pediatric and Neonatal Individualized Medicine,1(1),11–18. https://doi.org/10.7363/010113 Arvin, K. B. (2017). Nelson Ilmu Keperawatan Anaked. 15 (alih bahas; A. Samik Wahab, ed.). Jakarta: EGC. Aulianova, R. S. dan T. (2016). Efektivitas Ekstraksi Alkaloid dan Sterol Daun Katuk (Sauropusandrogynus) terhadap Produksi ASI. Jurnal Majority, 5 (1), 117–121. Carsel, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan dan Pendidikan. Retrieved from https://books.google.co.id/books?isbn=6025888469 Clark, D. L. & C. R. & N. M. (2011). Breastfeeding : A Priority for UNICEF. Breastfeeding Medicine,Vol.6, No.https://doi.org/10.1089/bfm.2011.008 Dharma, K. K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan: Panduan Melaksanakan dan Menerapkan Hasil Penelitian. Jakarta: TransInfo Media. Eni, A. &. (2010). Kapita Selekta: ASI & Menyusui. Yogyakarta: Nuha Medika. Fikawati, Dkk, 2015. Gizi Ibu Dan Bayi. PT. Raja grafindo Persada, Jakarta Hackman NM. (2017). Breastfeeding outcome comparison by parity. Breastfeeding Medcine,Vol 10, Number 3. Hastono, sutanto priyo. (2016). Analisis Data Pada Bidang Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers. Hubertin S P. (2016). Konsep Penerapan ASI Eksklusif (Buku Saku Untuk Bidan). Jakarta: EGC. Idris, F. (2018). Membesarkan Anak Hebat Dengan Susu Ibu. Kuala Lumpur: Prin ADSDNBHD. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2015). Nilai Nutrisi Air Susu Ibu. Retrieved from http://idai.or.id Juliastuti. (2019). Efektivitas Daun Katuk (Sauropusandrogynus) Terhadap Kecukupan ASI pada Ibu Menyusui di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar. Indonesian Journal for Health Sciences, 3(1), 1–5. Kamariyah, N. (2015). Kondisi psikologi mempengaruhi produksi ASI ibu menyusui di BPSASKI Pakis Sido Kumpul Surabaya. Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol 2, No 7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Profil Kesehatan Indonesia.Health Statistics. Kementerian Kesehatan RI. (2019). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Profil Kesehatan Indonesia 2017 (Indonesia Health Profile 2017). 1–184. Retrieved from http://www.pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil- kesehatan-indonesia/Data-dan-Informasi_Profil-Kesehatan-Indonesia-2017.pdf Kitano N. (2016). Combined Effectsof Maternal Age and Parity I nSuccessful Initiation of Ekslusive Breastfeeding. Elsevier, 121–126. Kristianti, S., dan S. P. (2017). Exclusive Breastfeeding Support from Family and Health care Provider. Journal of Nursing and Health Science,vol 6 (4), 36–40. Kristiyanasari, A. W. (2009). Neonatus dan Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika. Kusumaningrum, T. (2016). Gambaran Faktor-Faktor Ibu yang Tidak MemberikanASIEksklusif diDesa CepokosawitKabupaten Boyolali. Kuswati, E. S. &. (2015). Pengaruh Konsumsi Ekstrak Daun Katuk Terhadap Kecukupan Asi Pada Ibu Menyusui Di Klaten. 132–135. Lestari, D., R. Zuraida., dan T. A. L. (2016). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Air Susu Ibu dan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Fajar Bulan. Medical Journal of Lampung University,2(4),10–13. Lusiana, N. (2015). Buku Ajar Metodologi Penelitian Kebidanan. Retrieved from https://books.google.co.id/books?isbn=6022806682 Monika, F. B. (2014). Buku Pintar ASI dan Menyusui. Jakarta Selatan: Naura Books. Mursyida, A., W. (2015). Hubungan umur ibu dan paritas dengan pemberian ASI ekslusif pada bayi berusia 0-6 bulan di Puskesmas Pembina Palembang tahun 2015. Nassar. (2010). Makanan Bayi dan Ibu Menyusui. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Nurjanah, S. N. (2013). Asuhan Kebidanan Postpartum. Bandung: PT Refika Aditama. Permatasari, I. & D.A. & F.R. (2016). Analisis Pengetahuan dan Perilaku Ibu Bekerja Seputar Manajemen Laktasi. Seminar Dan Workshop Nasional Keperawatan, 173–177. Pranajaya & Rudiyanti. (2018). Determinan Produksi ASI pada Ibu Menyusui. Jurnal Keperawatan, Vol IX(2). Rahmanisa, S. & T. A. (2016). Efektivitas Ekstraksi Alkaloid dan Sterol Daun Katuk (Sauropus androgynus ) terhadap Produksi ASI. 5, 117–121. Rahmawati A., P. B. (2017). Analisis faktor yang mempengaruhi produksi Air Susu Ibu (ASI) pada ibu menyusui yang bekerja. Jurnal Ners Dan Kebidanan, 2(4). Roesli, U. (2017). Mengenal ASI Eksklusif (1st ed.). Jakarta: Trubus Agriwidya. Sandra, F.(2015). Gizi Ibu dan Bayi. Jakarta: Rajawali Pers. Santoso, U. (2016). Pengaruh Cara Pemberian Ekstrak Daun Katuk (Sauropusandrogynus (L) Merr) Terhadap Penampilan dan Kualitas Karkas Ayam Pedaging. JITV, 7(3), 144–149. Savitri, R. A. & I. (2018). Pengaruh Pemberian ASI Eksklusif di BPM Maimunah Palembang. 9, 330–334. Setiawandari, I. (2017). Efektifitas Ekstrak Sauropus Androgynus (Daun Katuk) Dan Ekstrak Moringa Oleifera Lamk (Daun Kelor) Terhadap Proses Persalinan, Produksi Kolostrum dan Proses Involusi Uteri Ibu. Jurnal Kebidanan, Ix(I), 16–23. Sherwood, L. (2017). Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC. Sohimah, L. & Y. A. (2017). Analisis Faktor Pemberian (ASI) Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Cilacap Tengah I Kabupaten Cilacap Tahun 2017. Jurnal Ilmiah Kebidanan, 8(2), 125–137. Or Yang Mempengaruhi Pemberian Air Susu Ibu.

  • Research Article
  • 10.31602/jt.v7i1.18384
PENYITAAN BARANG BUKTI BERGERAK PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM (Studi Kasus di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Kelas I Kupang)
  • Mar 13, 2025
  • Jurnal Terapung : Ilmu - Ilmu Sosial
  • Betania Maygawati Christy

Abstrak Penyitaan barang bukti merupakan satu langkah penting dalam sistem peradilan pidana yang berfungsi untuk membuktikan keterkaitan antara pelaku dan tindak pidana yang dilakukan. Namun, dalam praktiknya, tindakan penyitaan sering kali menimbulkan permasalahan, terutama terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia, di mana barang yang disita ternyata bukan milik pelaku kejahatan, melainkan milik pihak lain yang tidak terlibat. Tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Kupang yang menggali mekanisme penyitaan, peran aparat penegak hukum, serta dampaknya terhadap masyarakat, terutama pemilik barang yang sah. Pendekatan sosiologi hukum digunakan untuk memahami hubungan antara hukum, masyarakat, dan keadilan dalam proses penyitaan, serta untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak. Metode pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum dengan studi RUPBASAN Kelas I Kupang. Subjek penelitian meliputi pihak penyidik, pengelola RUPBASAN, dan masyarakat yang terdampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun penyitaan barang bukti memiliki dasar hukum yang jelas, pelaksanaannya sering kali menimbulkan kontroversi karena kurangnya sosialisasi, kesalahan prosedur, dan lemahnya pemahaman masyarakat terhadap hak-haknya. Untuk itu, diperlukan upaya perbaikan dalam mekanisme penyitaan, pengelolaan benda sitaan, serta pemberian edukasi kepada masyarakat untuk meminimalkan konflik dan menjaga kepercayaan publik terhadap sistem hukum. Penelitian ini memberikan sumbangan yang signifikan dalam menggali hubungan antara aspek hukum dan masyarakat, khususnya dalam konteks pelaksanaan penyitaan barang bukti yang bersifat bergerak. Kata Kunci: Penyitaan, Rupbasan, Prespektif Sosiologi Hukum. Abstract The seizure of evidence is a crucial step in the criminal justice system, serving to establish the connection between the perpetrator and the crime committed. However, in practice, this action often leads to issues, particularly concerning human rights violations, where the seized items do not belong to the offender but to unrelated third parties. This paper is based on research conducted at the State Confiscated Property Storage House (Rupbasan) Class I Kupang, which examines the mechanism of seizure, the role of law enforcement officers, and its impact on society, especially the rightful owners of the items. A sociological legal approach was employed to understand the relationship between law, society, and justice in the seizure process and to provide solutions to the problems arising in the implementation of movable evidence seizures.This research utilized a qualitative approach. The study aimed to examine the process of movable evidence seizure from a sociological legal perspective with a case study at Rupbasan Class I Kupang. The research subjects included investigators, Rupbasan managers, and affected community members. The findings revealed that while the seizure of evidence has a clear legal basis, its implementation often sparks controversy due to a lack of public dissemination, procedural errors, and the limited understanding of citizens regarding their rights. Therefore, improvements are needed in the seizure mechanism, management of confiscated items, and public education to minimize conflicts and maintain public trust in the legal system. This research makes a significant contribution to understanding the relationship between law and society in the context of movable evidence seizures. Keywords: Seizure, Rupbasan, Legal Sociology Perspective. PENDAHULUAN Penyitaan barang bukti merupakan langkah krusial dalam proses penegakan hukum, yang berfungsi untuk membuktikan keterkaitan antara pelaku dan tindak pidana yang terjadi. Dalam hukum acara pidana, penyitaan bertujuan untuk mengamankan barang bergerak atau tidak bergerak sebagai alat bukti untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan. Namun, proses penyitaan sering kali mendapat kritik karena dianggap melanggar hak asasi manusia, terutama ketika barang yang disita bukan milik pelaku, melainkan milik pihak lain yang tidak terlibat.Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum, dengan studi kasus di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN) Kelas I Kupang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pengelolaan barang sitaan di RUPBASAN, termasuk tantangan yang dirasakan oleh masyarakat akibat tindakan penyitaan yang tidak sesuai prosedur.Penelitian terdahulu telah membahas penyitaan barang bukti dari berbagai aspek. Ferdian (2015) menyoroti prosedur penyitaan barang bukti oleh penyidik Polri dan hambatan yang dihadapi, terutama dalam kaitannya dengan peraturan perundang-undangan. Elias Zadrach Leasa (2015) fokus pada penyitaan barang bukti dalam pelanggaran lalu lintas, dengan perhatian khusus pada profesionalitas penyidik dalam menangani barang bukti. Sementara itu, Abdul Rosyad (2014) mengkaji penyitaan aset dalam kasus korupsi, yang menekankan pentingnya kehati-hatian aparat hukum dalam mengaitkan aset dengan tindak pidana.Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik pada penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum, khususnya dengan studi kasus di RUPBASAN Kelas I Kupang. Penelitian ini menggali bagaimana proses penyitaan tersebut memengaruhi masyarakat, termasuk permasalahan yang muncul akibat kurangnya pemahaman hukum di kalangan masyarakati.Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaan benda sitaan. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi hukum, penelitian ini juga berupaya memahami hubungan antara hukum, masyarakat, dan keadilan dalam konteks penyitaan barang bukti.Fenomena penyitaan barang bukti dalam kasus tindak pidana, seperti pencurian kendaraan bermotor, menggambarkan bagaimana hukum berperan dalam menciptakan ketertiban. Namun, permasalahan timbul ketika pelaksanaan penyitaan dianggap tidak adil, terutama ketika barang yang disita tidak memiliki hubungan langsung dengan tindak pidana yang terjadi.Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi penting dalam perbaikan mekanisme penyitaan barang bukti. Dengan memahami kendala yang dihadapi, penelitian ini juga memberikan rekomendasi bagi aparat penegak hukum untuk meningkatkan transparansi dan profesionalitas dalam pelaksanaan tugas mereka.Secara keseluruhan, penelitian ini mempertegas pentingnya sosialisasi hukum kepada masyarakat, perbaikan prosedur penyitaan, serta pengelolaan barang sitaan yang lebih baik. Hal ini diperlukan untuk menciptakan keadilan hukum sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum yang berlaku.METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang bertujuani menggambarkan objek secara mendalam dan menyeluruh. Studi kasus digunakan karena sifat objek penelitian yang khusus, memungkinkan eksplorasi mendalam melalui wawancara dan analisis data terintegrasi. Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Kelas I Kupang, dengan jadwal penelitian dari awal Maret hingga pertengahan April 2024. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan pegawai kantor tersebut sebagai sumber data utama. Penelitian ini mengandalkan data primer berupa hasil observasi dan wawancara, serta data sekunder dari dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian.Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara (baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur), serta dokumentasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai fenomena sosial, sementara wawancara digunakan untuk menggali informasi lebih mendalam dari para informan. Dokumentasi berfungsi untuk melengkapi data dengan menggunakan dokumen primer dan sekunder. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dimulai dengan pengelompokan data hingga penyusunan kesimpulan yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami lebih lanjut mengenai proses penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum serta mengidentifikasi kendala yang muncul dalam proses penyimpanannya.HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan wawancara dan observasi di RUPBASAN Kelas I Kupang, diketahui bahwa penyitaan barang bukti bergerak merupakan langkah hukum yang sangat penting dalam penegakan hukum di Indonesiai, khususnya dalam kasus tindak pidana. Berdasarkan Pasal 39 KUHAP, penyitaan barang bukti dilakukan untuk mendukung pembuktian dalam perkara pidana, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Langkah ini diambil untuk mencegah barang bukti yang terkait dengan tindak pidana disalahgunakan, rusak, atau hilang. Penyitaan ini sangat penting untuk memastikan keutuhan proses peradilan dan memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.Dari sudut pandang sosiologi hukum, penyitaan barang bukti menggambarkan kewajiban negara dan aparat penegak hukum untuk menjaga tatanan sosial serta memberikan kepastian hukum. Proses penyitaan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada, yang mana penyidik harus mendapatkan persetujuan dari Ketua Pengadilan Negeri, kecuali dalam kondisi mendesak. Hal ini mencerminkan adanya pengawasan yang ketat untuk mencegah penyitaan yang melanggar hak-hak individu.Proses penyitaan dimulai dengan pembuatan surat perintah yang berisi rincian barang yang akan disita, alasan penyitaan, serta identitas penyidiki. Barang yang disita kemudian diamankan, diperiksa, dan didokumentasikan dengan cermat untuk memastikan keasliannya sebagai barang bukti. Penyidik bertanggung jawab menjaga keamanan dan kelengkapan barang tersebut selama proses penyelidikan dan peradilan berlangsung. Dalam beberapa kasus, penyitaan dapat melibatkan ahli untuk memastikan relevansi barang bukti dalam perkara pidana.Jika ada kekhawatiran bahwa barang bukti akan dihancurkan, dipindahkan, atau disembunyikan, penyitaan dapat dilakukan segera tanpa menunggu izin formal, dalam keadaan mendesak. Keadaan ini membutuhkan tindakan cepat oleh penyidik untuk memastikan barang bukti tetap berada di bawah kontrol negara. Penyitaan dapat mencakup benda berwujud maupun benda tak berwujud, selama barang tersebut relevan dengan tindak pidana dan dapat dimiliki.Secara keseluruhan, penyitaan barang bukti memegang peranan penting dalam menjamin proses hukum yang adil dan transparan. Pentingnya menjaga barang bukti hingga penyelesaian perkara menunjukkan bahwa barang bukti adalah elemen yang sangat vital dalam sistem peradilan pidanai. Langkah ini tidak hanya mengamankan hak-hak korban dan tersangka, tetapi juga memastikan bahwa pengadilan dapat menjalankan tugasnya secara efektif dan berkeadilan.Rumah Penyimpanani Barang Sitaan Negara (RUPBASAN)Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara (RUPBASAN) memainkan peran vital dalam sistem pemasyarakatan Indonesia, dengan tanggung jawab untuk menyimpan dan mengelola barang bukti serta barang sitaan negara sampai proses hukum selesai. RUPBASAN memiliki peran penting dalam mendukung sistem peradilan dengan memastikan bahwa barang-barang yang berkaitan dengan tindak pidana disimpan dengan aman dan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Peran ini menjadi elemen krusial dalam penegakan hukum yang bertujuan menciptakan keadilan bagi masyarakat.Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM, RUPBASAN, termasuk RUPBASAN Kelas I Kupang, bertugas untuk menyimpan barang bukti yang terkait dengan kasus pidana maupun perdata yang melibatkan negara. Keberadaan RUPBASAN memastikan barang bukti yang disita tidak disalahgunakan dan tetap terjaga keasliannya, sehingga dapat digunakan sebagai bukti dalam proses hukum yang sedang berjalan. Hal ini mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan barang bukti.Kinerja RUPBASAN memiliki peran penting dalam mencapai tujuan organisasi, yakni mengelola barang bukti secara aman, tepat waktu, dan sesuai dengan peraturan hukum. Kinerja yang optimal akan mendukung sistem pemasyarakatan untuk menciptakan keadilan bagi masyarakat melalui pengelolaan barang bukti yang profesional. Beberapa indikator keberhasilan kinerja RUPBASAN antara lain adalah keamanan barang, kepatuhan terhadap prosedur hukum, serta efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaannya.Pengelolaan barang bukti oleh RUPBASAN tidak hanya berfungsi untuk mendukung penegakan hukum, tetapi juga menjadi bagian integral dari sistem pemasyarakatan yang lebih luas. Pemasyarakatan bertujuan untuk membina narapidana agar dapat diterima kembali oleh masyarakat, sementara pengelolaan barang sitaan memastikan bahwa setiap proses hukum dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Keterkaitan ini menggambarkan pentingnya peran RUPBASAN dalam mendukung keseluruhan sistem hukum pidana.Penilaian dan pengukuran kinerja RUPBASAN sangat penting untuk memastikan bahwa tugas yang diemban dijalankan dengan efisien dan efektif. Dengan kinerja yang maksimal, RUPBASAN dapat berperan optimal sebagai bagian dari sistem hukum yang lebih luas, yang bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan penegakan hukum yang adil di Indonesia. Keberhasilan RUPBASAN juga berkontribusi dalam mencapai tujuan strategis dalam sistem pemasyarakatan dan penegakan hukum.Prosedur Penyitaan Barang BuktiProses penyitaan barang bukti bergerak adalah tindakan yang diatur dalam hukum untuk menyita barang-barang yang berkaitan dengan tindak pidana, baik barang yang dipakai untuk melakukan tindak kejahatan maupun yang diperoleh sebagai hasil dari kejahatan tersebut. Tindakan ini menjadi bagian dari proses penyelidikan, penuntutan, dan peradilan. Tujuan dari penyitaan adalah untuk memastikan bahwa barang bukti dapat digunakan dalam proses hukum guna menentukan kebenaran suatu kasus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam KUHAP.Langkah awal dalam proses penyitaan adalah penyusunan surat perintah penyitaan oleh penyidik. Surat tersebut mencantumkan informasi tentang barang yang akan disita, alasan penyitaan, dan identitas penyidik yang bertanggung jawab. Surat ini harus ditandatangani oleh penyidik dan disaksikan oleh pihak yang hadir saat penyitaan berlangsung, sehingga memberikan landasan hukum yang jelas bagi tindakan tersebut.Setelah surat perintah diterbitkan, penyitaan dilaksanakan di lokasi yang relevan, seperti tempat kejadian perkara (TKP) atau lokasi lain tempat barang bukti ditemukan. Penyitaan juga dapat dilakukan terhadap barang yang berada pada tersangka atau pihak terkait lainnya. Selama proses penyitaan, penyidik wajib memastikan barang bukti tetap utuh dan tidak rusak, mengingat barang tersebut sangat penting dalam proses hukum selanjutnya.Setelah barang bukti disita, barang tersebut harus diamankan dan disimpan dengan aman di tempat yang terkunci, dengan akses yang hanya diperbolehkan bagi pihak yang berwenang. Sebuah daftar inventarisasi juga dibuat untuk mencatat detail barang bukti, seperti nomor inventaris, jenis barang, dan kondisinya, untuk mencegah kehilangan atau kerusakan selama proses hukum berlangsung.Prosedur penyitaan ditutup dengan pemeriksaan dan pengembalian barang bukti. Pemeriksaan bertujuan untuk mengumpulkan informasi tambahan terkait dengan tindak pidana yang dilakukan, dan sering kali melibatkan ahli forensik atau pihak berkompeten lainnya. Jika barang bukti sudah tidak relevan, barang tersebut dapat dikembalikan kepada pemiliknya setelah melalui evaluasi menyeluruh untuk memastikan bahwa barang tersebut tidak diperlukan lagi dalam pembuktian di persidangan.Aspek Hukum dalam PenyitaanPenyitaan barang bukti dalam sistem hukum pidana Indonesia dijelaskan secara terperinci dalam Pasal 39 KUHAP, yang meliputi baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak yang relevan dengan tindak pidana. Barang bergerak mencakup dokumen, uang, kendaraan, dan barang lain yang mudah dipindahkan, sementara barang tidak bergerak meliputi tanah dan bangunan. Tujuan utama penyitaan adalah untuk memastikan barang bukti dapat digunakan dalam proses penyidikan, penuntutan, dan persidangan. Barang yang disita harus relevan dengan tindak pidana, baik sebagai alat kejahatan, hasil tindak pidana, atau objek yang dapat membantu mengungkap kebenaran peristiwa pidana.Penyitaan harus dilakukan sesuai dengan prosedur hukum untuk memastikan keabsahannya. Dalam hal penyitaan barang bergerak, penyidik hanya dapat melakukannya setelah mendapatkan izin tertulis dari Ketua Pengadilan Negeri setempat. Izin ini bertujuan untuk memastikan agar penyitaan dilakukan dengan pengawasan yang tepat dan tidak sewenang-wenang. Namun, dalam situasi darurat, penyidik dapat segera melakukan penyitaan untuk mencegah hilangnya barang bukti atau gangguan terhadap penyidikan. Setelah penyitaan dilakukan, penyidik harus melaporkan tindakan tersebut kepada pengadilan untuk memperoleh persetujuan selanjutnya.Berdasarkan Pasal 1 angka 16 KUHAP, penyitaan merupakan tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mengambil dan menyimpan barang yang memiliki keterkaitan dengan tindak pidana, guna mendukung proses pembuktian dalam jalannya hukum. Barang yang disita akan menjadi milik negara dan tetap berada di bawah pengawasan negara hingga proses hukum selesai, memastikan keutuhan dan kesiapan barang tersebut sebagai alat bukti sah di pengadilan.Setelah barang disita, penyidik bertanggung jawab untuk memastikan barang tersebut disimpan dengan aman. Umumnya, barang tersebut ditempatkan di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN) untuk memastikan kondisinya tetap terjaga hingga proses hukum selesai. Penyimpanan yang baik sangat penting untuk benda bergerak, seperti kendaraan dan perangkat elektronik, untuk mencegah kerusakan atau penurunan nilai. Pengelolaan yang efektif juga mencerminkan transparansi dan akuntabilitas aparat penegak hukum dalam menangani barang sitaan.Meski prosedur penyitaan telah diatur dengan jelas, praktik di lapangan sering kali menghadapi tantangan, seperti potensi pelanggaran hak asasi manusia. Salah satu masalah yang sering timbul adalah penyitaan terhadap barang yang ternyata bukan milik pelaku kejahatan, melainkan milik orang lain yang tidak memiliki keterlibatan dalam tindak pidana tersebut. Hal ini dapat memicu konflik hukum dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hukum dan menyediakan pelatihan bagi penyidik, sehingga proses penyitaan dapat dilakukan secara adil serta sesuai dengan prinsip keadilan dan ketentuan hukum yang berlaku.Kendala Penyimpanan Benda Sitaan/Bukti Bergerak Tindakan Pidana di Kantor RUPBASAN Kelas I KupangPenyimpanan barang bukti bergerak dalam perkara pidana merupakan aspek krusial dalam sistem peradilan untuk memastikan barang bukti dapat digunakan dalam tahap penyelidikan, penuntutan, dan persidangan. Namun, proses ini menghadapi sejumlah tantangan yang dapat mengurangi efektivitasnya. Salah satu kendala utama adalah semakin berkembangnya modus operandi kejahatan yang lebih kompleks, seperti kasus pencurian kendaraan bermotor yang melibatkan penghilangan identitas kendaraan. Hal ini mempersulit proses identifikasi dan penyimpanan barang bukti, yang berpotensi menghambat jalannya proses hukum.Selain itu, ada risiko kehilangan atau penghilangan barang bukti, baik berupa barang fisik maupun dokumen pendukung, yang sering dilakukan oleh pelaku kejahatan untuk menghilangkan jejak. Kehilangan barang bukti ini dapat merusak integritas perkara hukum dan menghambat proses peradilan. Untuk itu, pengamanan barang bukti perlu dilakukan dengan sangat ketat untuk memastikan bahwa barang bukti tetap terjaga, termasuk menjaga identitas barang sebagai bagian penting dalam penyelidikan.Permasalahan lain yang kerap terjadi adalah ketidakpatuhan terhadap prosedur yang telah ditentukan dalam proses penyitaan dan penyimpanan. Kelalaian atau kesalahan dalam pengelolaan barang bukti dapat menyebabkan hilangnya atau kerusakan barang bukti, yang berdampak buruk pada kelancaran proses hukum. Pelanggaran terhadap prosedur ini dapat mengakibatkan sanksi yang serius sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, termasuk ancaman hukuman pidana berdasarkan Pasal 233 KUHP lama atau Pasal 365 KUHP yang baru.Selain itu, penyimpanan barang bukti elektronik atau digital, seperti ponsel, komputer, atau data digital, menghadirkan tantangan tersendiri. Risiko perubahan atau penghilangan data elektronik memerlukan prosedur pengelolaan yang lebih ketat, mengingat data tersebut sangat krusial dalam proses pembuktian. Kelalaian dalam pengelolaan barang bukti digital dapat dikenai sanksi berdasarkan ketentuan dalam UU ITE, yang mencakup ancaman pidana hingga delapan tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 miliar. Sebagai langkah penyelesaian, masyarakat dapat melaporkan masalah tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri, sedangkan pengelolaan barang bukti diatur melalui Peraturan Kapolri No. 10 Tahun 2010.KESIMPULAN Artikel ini menjelaskan bahwa meskipun penyitaan barang bukti bergerak merupakan bagian penting dari penegakan hukum, proses tersebut tetap menghadapi berbagai tantangan. Perkembangan metode kejahatan, hilangnya atau penghilangan barang bukti, serta kelalaian dalam pengelolaan barang bukti menjadi hambatan utama yang harus diatasi oleh aparat penegak hukum.Namun, dengan pengelolaan yang lebih baik, termasuk penerapan prosedur yang lebih ketat dan pengawasan yang lebih intensif, masalah-masalah tersebut dapat diminimalkan. Penyidik dan aparat penegak hukum perlu memastikan bahwa barang bukti yang disita tetap aman, baik dalam bentuk fisik maupun digital, untuk memastikan kelancaran dan keadilan dalam proses hukum. Pengawasan yang ketat serta penerapan sanksi tegas terhadap pelanggaran dalam pengelolaan barang bukti akan memberikan efek jera dan memastikan tercapainya keadilan dalam sistem peradilan pidana.DAFTAR PUSTAKA Abiding Yunus, Strategi Membaca, Teori dan Pembelajarannya, Bandung, RIZQI Press.Agus Harjito dan Martono . 2010 . Manajemen Keuangan. Yogyakarta : Ekonisia Belas. Yogyakarta : LibertyAbdul Rosyad, 2014 dengan Judul Pembaharuan Hukum Dalam Penyitaan Barang Bukti Hasil Korupsi. Dalam jurnal Pembaharuan Hukum Vol 1 No 2. 2014Burhan Bungin.2012. Analisa Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali.Elias Zadrach Leasa, yang dimuat dalam jurnal Sinta 2 Vol 21 Nomor 2 tahun 2015 dengan judul Penyitaan Barang Bukti Dalam Pelanggaran Lalulintas.Ferdian, 2015 dengan judul, Penyitaan Barang Bukti Yang Dilakukan Oleh Penyidik Polri Dan Hambatannya Di Polrest Kutim Dan Hambatannya. Journal of Law Jurnal ilmu hukum, Ejurnal Untag Samarinda Vol 1 No 1. Hartono, Jogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis Edisi 6. Yogyakarta: BPFE.Harahap, M. Yahya.2007. Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata. Jakarta : PT. Sinar Grafika.Hadawi Nawawi, M. Martini hadari.,1995,Instrumen Penelitian bidang social, Jogyakarta, Gajah Mada UniversityMoenir H,A.S, 2001, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bina Aksara, Jakarta.Michael Quinn Patton, 1980, Qualitative Evaluation Methods, Edisi, 2, berilustrasi, cetak ulang. Penerbit, Sage Publications OC.D. Hendropuspito, 1989, Sosiologi Sistematika. Kanisius. Yogyakarta.Priya Santosa, Bima, dkk, 2010, Lembaga Pengelola Aset Tindak Pidana, Jakarta:Poerdarminto, 1985, Kamus Saku. Pustaka Pelajar.Sarwono, Sarlito Wirawan. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Soekanto, Soerjono. 2000. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Soekanto, Soerjono. 1983. Beberapa Aspek Sosial Yuridis Masyarakat. Offset Alumni: BandungSuranto, Aw,Komunikasi Interpersonal, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: AlfabetaSugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: AlfabetaLiteratur Tambahan :Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945Undang-Undang No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu LintasPeraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor mengatur hubungan antara barang bukti fisik yang disita dengan pelanggaranPeraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor E.2.UM.01.06 Tahun 1986 tanggal 17 Februari 1986 dan disempurnakan tanggal 7 November 2002 Nomor E.1.35.PK.03.10 Tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) RUPBASANPeraturan Menteri Kehakiman RI No. M.05.UM.01.06 tahun 1983 tentang Pengelolaan Benda Sitaan Negara dan Barang Rampasan Negara di RUPBASAN.

  • Research Article
  • 10.57235/mantap.v2i2.3441
Pengaruh Green Accounting, Ukuran Perusahaan, dan Leverage Terhadap Financial Performance
  • Aug 29, 2024
  • MANTAP: Journal of Management Accounting, Tax and Production
  • Fathirah Nur Refiyani + 1 more

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh green accounting, ukuran perusahaan, dan leverage terhadap financial performance. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan perusahaan-perusahaan pada sektor Industrial yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2018 hingga tahun 2022. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 8 perusahaan sektor industrial yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2018 hingga tahun 2022 dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan dari setiap perusahaan yang telah dijadikan sampel penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Green Accounting(X1) sebagai variabel bebas pertama, Ukuran Perusahaan (X2) sebagai variabel bebas kedua, dan Leverage (X3) sebagai variabel bebas ketiga serta Financial Performance (Y) sebagai variabel terikat. Metode regresi data panel digunakan sebagai metodologi penelitian pada penelitian ini. Analisa hasil penelitian menggunakan bantuan perangkat lunak EViews 12 Student Version Lite. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang terbaik adalah Random Effect Model (REM). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Green Accounting secara parsial tidak berpengaruh terhadap Financial Perfomance, Ukuran Perusahaan secara parsial berpengaruh terhadap Financial Performance, Leverage secara parsial tidak berpengaruh terhadap Financial Performance, dan secara simultan Green Accounting, Ukuran Perusahaan, Leverage berpengaruh terhadap Financial Performance.

  • Research Article
  • 10.33366/nn.v7i3.2865
Kesalahan Penggunaan Teknik Sampling Pada Penelitian Kuantitatif Di Bidang Ilmu Keperawatan
  • Dec 31, 2023
  • Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan
  • Rachmat Chusnul Choeron + 1 more

Salah satu indikator kualitas penelitian kuantitatif ialah ketepatan dalam menggunakan teknik sampling, yaitu probability sampling. Namun, masih banyak ditemukan penelitian kuantitatif yang belum mengikuti kaidah randomisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesalahan penggunaan teknik sampling pada penelitian kuantitatif. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan pada hasil-hasil penelitian kuantitatif yang telah dipublikasikan pada jurnal-jurnal keperawatan Sinta 2. Variabel pada penelitian ini adalah penggunaan teknik sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah semua hasil penelitian kuantitatif yang dipublikasikan pada jurnal keperawatan sinta 2 yang memenuhi kriteria. Sampel sebanyak 47 hasil penelitian diambil dengan teknik cluster sampling, yaitu memilih secara acak jurnal keperawatan sinta 2 dan mengambil semua artikel hasil penelitian yang ada pada jurnal terpilih hingga jumlah sampel terpenuhi. Data dikumpulkan menggunakan lembar check list. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji univariate. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa hampir seluruh hasil penelitian kuantitatif yang telah dipublikasikan pada jurnal terakreditasi kemenristekdikti memiliki kesalahan dalam penggunaan teknik sampling, yaitu sebanyak 38 jurnal (80,85%). Teknik sampling yang paling banyak digunakan adalah nonprobability sampling, yaitu purposive sampling (47,37%) dan consecutive sampling (42,11%). Pemahaman terhadap teknik sampling perlu ditingkatkan kembali melalui seminar atau pelatihan agar dapat menyempurnakan hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan oleh para peneliti.

  • Research Article
  • 10.22146/mkgk.84983
Pengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta: penelitian potong lintang
  • May 8, 2024
  • MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
  • Budi Rodestawati + 8 more

Populasi lanjut usia merupakan fenomena global yang menjadi tren paling signifikan saat ini dan telah terjadi di semua negara dengan berbagai tingkat perkembangan, termasuk Indonesia. Penyakit periodontal merupakan salah satu permasalahan kesehatan oral yang utama di masyarakat dan keparahannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Penyakit periodontal memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup lanjut usia dan merefleksikan permasalahan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkajipengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 108 responden (n = 108) berusia ≥ 60 tahun. Karakteristik sosio-demografi yang diteliti pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan karakteristik wilayah tempat tinggal. Kondisi jaringan periodontal dinilai berdasarkan status perdarahan (bleeding on probing), tingkat kedalaman poket periodontal (pocket depth), dan kehilangan perlekatan jaringan periodontal (clinical attachment loss). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dankarakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap status perdarahan (p = 0,001, p = 0,015) dan rerata kedalaman poket (p = 0,005, p = 0,027), namun tidak berpengaruh terhadap rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,148, p = 0,105). Pada penelitian ini, jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal, baik pada status perdarahan (BOP) (p = 0,399), rerata kedalaman poket (PD) (p = 0,365), maupun rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,179). Tingkat pendidikan dan karakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal (BOPdan PD) pada populasi lanjut usia, sehingga aspek tersebut perlu dipertimbangkan dalam perencanaan intervensi pencegahan penyakit periodontal pada lanjut usia.

  • Research Article
  • 10.47200/jcob.v7i01.1927
PERSEPSI MAHASISWA AKUNTANSI TERHADAP PROFESI AKUNTAN PUBLIK
  • Jul 27, 2023
  • Journal Competency of Business
  • Rahmat Satriawan + 1 more

Pilihan karir (profesi) merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan oleh mahasiswa. Faktanya menunjukkan bahwa profesi akuntan publik tidak menjadi pilihan utama mahasiswa akuntansi untuk berkarier, selain tingkat kelulusan ujian Certified Public Accountant (CPA) yang relatif rendah, dan tidak semua lulusan akan terjun ke profesi akuntan publik. Penelitian ini mereplikasi penelitian Aryani Maulida (2022) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi karir menjadi akuntan publik, hasil penelitian menyatakan bahwa lingkungan kerja, imbalan finansial, nilai-nilai sosial, pertimbangan pasar tenaga kerja, dan pelatihan profesional berpengaruh signifikan terhadap minat pilihan karir mahasiswa akuntansi untuk menjadi akuntan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali pengaruh 1ingkungan kerja, penghargaan finansial, nilai-nilai sosial, pertimbangan pasar, pelatihan professional dan personalitas terhadap persepsi mahasiswa akuntansi pada profesi akuntan publik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, Populasi adalah mahasiswa Akuntansi Universitas Teknologi Yogyakarta. Pemilihan sampel dengan metode purposive sampling. Data yang digunakan adalah data primer, teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner secara online (dengan google form) yang dibagikan melalui WhatsApp pada mahasiswa akuntansi semester akhir yang sudah mengambil mata kuliah pengauditan. Peneliti mengambil sampel laki-laki 36 responden dan perempuan 39 responden. Data analisis menggunakan bantuan SPSS 29. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja dan pertimbangan pasar berpengaruh pada persepsi mahasiswa akuntansi terhadap profesi akuntan publik sedangkan pengahargaan finansial, nilai-nilai sosial, pelatihan profesional dan personalitas tidak berpengaruh pada persepsi mahasiswa akuntansi pada profesi akuntan publik. Keterbatasan penelitian ini hanya menggunakan satu sampel dari perguruan tinggi swasta, teknik pengumpulan yaitu dengan non probability melalui kuisioner dengan data cross section sehingga hanya mencerminkan kondisi pada periode pengambilan data, oleh karena itu belum dapat mewakili keseluruhan populasi secara proporsional. Dengan demikian kesimpulan hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi.

  • Research Article
  • 10.32699/jamasy.v2i6.3727
Store Athmosphere dalam Dimensi dan Pengaruhnya Terhadap Minat Beli Konsumen
  • Dec 6, 2022
  • Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Perbankan Syariah
  • Rama Harmazi + 1 more

Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh dimensi pada Store Atmosphere terhadap minat beli konsumen pada Toko Roti Tiga Saudara Snack & Bakery di Pati. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah melakukan pembelian di Toko Roti Tiga Saudara Snack & Bakery. Metodologi - Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan kategori non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel 100 responden, sedangkan untuk olah data dengan menggunakan program SPSS 26. Penelitian ini menggunakan Teknik analisis regresi berganda. Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dimensi Store Athmosphere yang terdiri dari 4 variabel yaitu, Exterior dan General Interior tidak berpengaruh terhadap minat beli konsumen pada Toko Roti Tiga Saudara Snack & Bakery. Sedangkan Store Layout dan Interior Display berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen di Toko Roti Tiga Saudara Snack & Bakery. Implikasi – Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan para pemangku kebijakan terutama dalam pemasaran untuk menggunakan dimensi Store Atmosphere sebagai bahan dalam mengambil keputusan.

  • Research Article
  • 10.19184/linsko.v3i2.47710
Hegemoni dalam Novel Dharitri Karya Nellaneva dan Pemanfaatannya sebagai Alternatif Materi Pembelajaran Sastra di SMA
  • Dec 2, 2024
  • Lingua Skolastika
  • Yuniar Nur Imamah + 2 more

Penelitian ini mengkaji bentuk hegemoni dan dampak hegemoni kelompok superordinat terhadap kelompok subordinat dalam novel Dharitri karya Nellaneva, serta pemanfaatan hasil penelitian sebagai alternatif materi pembelajaran sastra di SMA. Dalam penelitian ini yang menjadi objek adalah novel Dharitri karya Nellaneva. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan bantuan teori hegemoni Gramsci. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sumber data berupa novel Dharitri karya Nellaneva. Data diperoleh dengan teknik dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif Miles & Huberman yang disesuaikan dengan metode analisis sastra sesuai kebutuhan penelitian. Hasil penelitian terdiri dari tiga pembahasan. Pertama, hegemoni pemerintah Dharitri (kelompok superordinat) terhadap penduduk Dharitri (kelompok subordinat) berbentuk hegemoni ideologi, kebudayaan, negara, dan kaum intelektual. Secara lebih spesifik, dalam hal menjalankan kekuasaan, Pemerintah Dharitri mengejawantahkan ekspresi ideologinya melalui media teknologi, bahasa, dan peraturan. Kedua, bentuk-bentuk hegemoni yang dilakukan pemerintah Dharitri terhadap penduduk Dharitri memunculkan dampak positif dan negatif. Pemerintah Dharitri berhasil melancarkan bentuk-bentuk hegemoni. Hal tersebut menunjukkan bahwa ideologi yang dikelola dengan baik oleh pemerintah akan dapat menciptakan persetujuan penduduk berupa perubahan sikap dan perilaku sesuai kehendak pemerintah. Ketiga, hasil penelitian akan diimplementasikan menjadi materi pembelajaran novel yang ditujukan untuk peserta didik di SMA kelas XII. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis. Kata Kunci Gramsci, Hegemoni, Sosiologi Sastra ABSTRACT This study analyzes the form of hegemony and the hegemonic impact of superordinate groups on subordinate groups in Nellaneva's Dharitri novel, as well as the utilization of the research results as an alternative material for teaching literature at high school. In this research, the object is novel Dharitri by Nellaneva. This research uses literary sociology approach with Gramsci's hegemony theory. This type of research is a qualitative research with the data source being novel Dharitri by Nellaneva. The data were obtained by documentation techniques and then analyzed using Miles & Huberman qualitative data analysis technique which was adapted with literary analysis method according to research needs. The research results consist of three discussions. First, the hegemony of the Dharitri government (superordinate group) on the Dharitri population (subordinate group) takes the form of ideological, cultural, state and intellectual hegemony. More specifically, in terms of exercising power, the Dharitri Government manifests ideological expression through technology, language and regulations. Second, the forms of hegemony exercised by the Dharitri government on the Dharitri population have had both positive and negative impacts. The Dharitri government succeeded in carrying out forms of hegemony. This shows that ideology which is managed well by the government will be able to get approval from Dharitri population. Third, the results of the research will be implemented into novel learning materials aimed at XII high school students. This research was expected to provide theoretical and practical benefits. Keywords Gramsci, Hegemony, Literary Sociology

  • Research Article
  • 10.37253/altasia.v6i2.9607
Faktor yang Mempengaruhi Niat Beli Produk Tiruan Brand Mewah oleh Wisatawan Saat Berlibur ke Kota Batam
  • Aug 30, 2024
  • Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia
  • Renza Fahlevi + 1 more

Penjualan produk tiruan brand mewah telah menjadi salah satu destinasi wisata yang populer bagi wisatawan yang berlibur ke kota Batam. Pembahasan tentang niat membeli produk tiruan brand mewah oleh wisatawan merupakan topik penelitian yang belum banyak diangkat kedalam topik penelitian, sehingga penelitian ini dapat mengisi kesenjangan pada penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara variabel status consumption, social influence, dan harga terhadap sikap serta niat membeli produk tiruan brand mewah oleh wisatawan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 170 responden yaitu wisatawan yang membeli produk tiruan brand mewah saat berlibur ke kota Batam. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan diolah dengan aplikasi PLS. Hasil penelitian menunjukan bahwa status consumption, social influence, dan harga merupakan variabel yang mempengaruhi sikap dan niat beli wisatawan terhadap produk tiruan brand mewah saat berlibur ke kota Batam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber data tentang perilaku pembelian tas tiruan brand mewah oleh wisatawan, sehingga data penelitian dapat digunakan oleh pemangku kepentingan seperti pemerintah dan perusahaan pemilik brand mewah untuk mengambil kebijakan ataupun menyusun keputusan bisnis. Responden pada penelitian ini belum dikelompokkan berdasarkan asal daerahnya, sehingga untuk penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk melakukan pengelompokkan tersebut agar hasil penelitian berikutnya lebih terperinci.

  • Research Article
  • 10.30998/jh.v8i1.2478
Tokoh dan Penokohan dalam Naskah Drama Panembahan Reso dan Pengejaran
  • Jun 30, 2024
  • Hortatori : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
  • Maria Fransisca + 3 more

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tokoh dan penokohan yang terdapat pada naskah drama Panembahan Reso (PR) dan naskah drama Pengejaran (Pn). Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan objektif. Penelitian ini berfokus pada kajian atau analisis tokoh dan penokohan dengan menggunakan teori penokohan Burhan Nurgiyantoro. Data penelitian ini berupa lakuan tokoh yang tertulis dalam bentuk dialog tokoh atau ungkapan tokoh lain. Sumber data penelitian ini adalah buku teks Bahasa Indonesia SMA Kelas XI yang di dalamnya terdapat naskah drama. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik membaca intensif, teknik simak, dan teknik catat. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif model alir yang terdiri dari tiga langkah yakni reduksi data, display data atau penyajian data, dan verifikasi atau kesimpulan. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa terdapat delapan tokoh protagonis dan dua tokoh antagonis yang didasarkan pada karakter setiap tokoh. Simpulan penelitian menjelaskan bahwa tokoh protagonis adalah pemain dalam drama yang sifatnya selalu positif sehingga memberikan dampak baik bagi pembaca naskah drama maupun penonton drama sedangkan tokoh antagonis adalah pemain dalam drama yang memiliki sifat negatif yang menimbulkan konflik baik fisik maupun batin dan baik langsung maupun tidak langsung. Tokoh protagonis maupun tokoh antagonis dilukiskan secara dramatik oleh pengarang. Rekomendasi hasil penelitian ini ada tiga. Pertama, guru dapat menerapkan hasil penelitian ini dalam pembelajaran materi drama di sekolah khususnya dari segi tokoh dan penokohan kepada peserta didik. Kedua, peserta didik dapat memahami tokoh dan penokohan naskah drama serta mampu mendemonstrasikan naskah drama yang terdapat dalam buku teks Bahasa Indonesia SMA Kelas XI sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku di sekolah. Ketiga, bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang relevan dengan penelitian ini.Kata Kunci: Tokoh; Penokohan; Naskah Drama

  • Research Article
  • 10.33024/mahesa.v3i10.11040
Hubungan Terapi Non Farmakologi terhadap Ganguan Tidur pada Lansia di Desa Sukahurip
  • Oct 1, 2023
  • MAHESA : Malahayati Health Student Journal
  • Mayang Oktaviani + 1 more

Elderly is a group that has experienced setbacks in psychological and physiological aspects. Everyone will experience old age, so this stage is a natural and natural stage at the end of the human life phase. The World Health Organization (WHO) categorizes the age limit for the elderly. To determine the effect of non-pharmacological therapy on sleep disturbances in the elderly in Sukahurip village in 2023. This research uses a type of quantitative research with a research design study using a quasi-experiment with a pretest-posttest control group design approach. In this study there was one group of subjects where the group was observed before the intervention was carried out and then observed again after the intervention. The results of this research were that of the total male and female respondents who had the highest score of experiencing sleep disturbances, there were 16 women (53.3%), and the age of the respondents who experienced the highest sleep disturbance in the elderly in Sukahurip village, namely the elderly aged 60 -69 years as many as 21 respondents out of a total of 30 respondents. Where some of the respondents who have jobs include retirees, farmers, employees and housewives who have the highest number of respondents who experience sleep disturbance problems, namely farmers as many as 12 (40%) results of the "Test Statistics", known Asymp. Sig. (2-tailed) is worth 0.000. p-value 0.000 <0.05. Respondents can know that there is an influence of the application of non-pharmacological therapy on sleep disorders, so that with this research they can add knowledge and insight to be able to reduce the problem of sleep disorders in the elderly with non-pharmacological therapy. And this research can be used as a reference for future researchers Keywords: Non-Pharmacological Therapy, Sleep Hygiene, Warm Water Foot Soaking Therapy and Sleep Disturbances In The Elderly ABSTRAK Lansia merupakan kelompok yang telah mengalami kemunduran dalam aspek psikologis maupun fisiologis. Setiap orang akan mengalami lanjut usia, sehingga tahapan ini merupakan tahapan yang wajar dan alami diakhir fase hidup manusia.World Health Organization (WHO) mengkategorikan batasan umur lansia yaitu usia pertengahan usia 45-59 tahun, lanjut usia pertama yakni usia 60-74 tahun, lanjut usia tua yakni 75-90 tahun, dan sangat tua yakni >90 tahun (Widyaningrum et al., 2019). Mengetahui pengaruh terapi non farmakologi terhadap gangguan tidur pada lansia di desa sukahurip tahun 2023. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan study Desain penelitian menggunakan Quasi experiment dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Pada penelitian ini terdapat satu kelompok subjek dimana kelompok tersebut di observasi sebelum dilakukan intervensi kemudian diobservasi lagi sesudah intervensi. hasil penilitian ini dari total responden berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang memiliki nilai tertinggi mengalami gangguan tidur adalah perempuan sebanyak 16 (53,3%), dan usia responden yang peling tinggi mengalami gangguan tidur pada lansia di desa sukahurip yaitu lansia yang berusia 60-69 tahun sebanyak 21 responden dari total 30 responden. Dimana sebagian responden yang memiliki pekerjaan diantaranya pensiunan,petani,karyawan dan IRT yang memiliki jumlah responden tertinggi yang mengalami masalah gangguan tidur yaitu petani sebanyak 12 (40%)hasil “Test Statistik”, diketahui Asymp. Sig. (2-tailed) bernilai 0,000. nilai p value 0,000 < 0,05. Responden dapat mengetahui bahwa adanya pengaruh penerapan terapi non farmakologi terhadap gangguan tidur,sehingga dengan adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan agar mampu mengurangi masalah gangguan tidur pada lansia dengan terapi non farmakologi Dan penelitian ini bisa dijadikan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya Kata Kunci : Terapi Nonfarmakologi,Sleep Hygine,Terapi Merendam Kaki dengan Air Hangat dan Gangguan Tidur Pada Lansia

Save Icon
Up Arrow
Open/Close
  • Ask R Discovery Star icon
  • Chat PDF Star icon

AI summaries and top papers from 250M+ research sources.