Korelasi Al-Qur'an Surah Al Hujurat Ayat 11-13 Dengan Manajemen Pendidikan Islam

  • Abstract
  • Literature Map
  • Similar Papers
Abstract
Translate article icon Translate Article Star icon
Take notes icon Take Notes

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implikasi pendidikan akhlak dari Surat Al-Hujurat ayat 11-13 terhadap generasi muda yang cenderung kurang memiliki sopan santun dan tata krama. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan content analysis, yang menyoroti konsep pendidikan akhlak tersebut melalui tafsir Al-Qur'an. Temuan menunjukkan bahwa surat tersebut menegaskan pentingnya menghormati, tidak berprasangka buruk, dan meningkatkan ketakwaan. Implikasinya adalah pentingnya pendidikan akhlak saat ini, di mana pendidik memiliki peran kunci dalam mentransfer nilai-nilai Islam kepada peserta didik, sehingga melalui keteladanan, nasihat, dan pembiasaan, mereka dapat membentuk akhlak yang mulia. Studi masa depan diharapkan dapat mengeksplorasi adaptasi perilaku dengan perkembangan zaman, yang dapat memberikan wawasan yang lebih baik untuk merespons kebutuhan masyarakat Muslim modern.

Similar Papers
  • Research Article
  • 10.51454/religi.v2i1.675
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Media 3D Page Flip HTML5
  • Jul 10, 2024
  • RELIGI: Jurnal Pendidikan Agama Islam
  • Intan Afifa Fitia + 2 more

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menggambarkan penerapan media berbasis 3D Page Flip HTML5 untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar peserta didik setelah penerapan media berbasis 3D Page Flip HTML5 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X.1 di SMA Negeri 11 Bombana. Penelitian yang digunakan ialah penelitian Tindakan kelas (classroom action research). Penelitian ini dilaksanakan pada peserta didik kelas X.1 SMA Negeri 11 Bombana tahun Pelajaran 2023/2024 dengan jumlah peserta didik 19 orang. Instrument yang digunakan adalah tes hasil belajar, untuk mengukur kemampuan peserta didik berupa tes siklus I dan tes siklus II (setelah pemberian tindakan); dan lembar observasi bagi guru dan peserta didik untuk pelaksanaan aktivitas pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Penerapan media berbasisi 3D Page Flip HTML5 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu pendidik menjelaskan atau memberikan gambaran materi kepada peserta didik melalui media pembelajaran berbasisi 3D Page Flip HTML5 dimana masing-masing peserta didik dapat membaca ataupun mempelajari materi serta aktivitas yang akan dilakukan peserta didik melalui link yang telah dibagikan. Penerapan media ini pada materi “menjauhi pergaulan bebas dan perbuatan zina untuk melindungi harkat dan martabat” telah mencapai keberhasilan, hal ini dapat dilihat dari aktivitas observasi guru dan peserta didik yang dikategorikan dalam keadaan baik. (2) Menggunakan media 3D Page Flip HTML5 menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dibuktikan dengan hasil belajar peserta didik yang berjumlah 19 orang menunjukkan bahwa pada siklus I peserta didik yang hasil belajarnya telah mencapai kriteria ketuntasan minimum yang telah ditetapkan sekolah yaitu (70) sebanyak 12 peserta didik dengan presentase 63,15%. Sedangkan pada siklus II peserta didik yang hasil belajarnya telah mencapai ketuntasan sebanyak 17 peserta didik dengan presentase 89,47%.

  • Research Article
  • 10.26740/penips.v3i3.56103
Pengaruh Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Dengan Media Pembelajaran Game TEBAK AKU Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 30 Surabaya
  • Oct 31, 2023
  • Jurnal Dialektika Pendidikan IPS
  • Irma 'Atul Nuvianti

Penelitian ini dilatar belakangi dengan rendahnya minat dan hasil belajar peserta didik kelas VII pada pembelajaran IPS di SMP Negeri 30 Surabaya. Hal tersebut dikarenakan penggunaan model, metode, dan media pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakteristik peserta didik disana. Dari permasalahan tersebut, peneliti membantu memberikan penerapan model pembelajaran yang dirasa sesuai dengan karakteristik peserta didik disana yaitu model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media game TEBAK AKU. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dengan media pembelajaran game ” TEBAK AKU” dalam meningkatkan minat belajar peserta didik selama proses kegiatan pembelajaran. (2) Mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media pembelajaran game ” TEBAK AKU” dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII SMP Negeri 30 Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan menggunakan jenis penelitian eksperimen semu. Desain penelitian yang digunakan yaitu Pretest-Posttest Nonequivallent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelasm VII. Sampel yang digunakan yaitu kelas VII B sebagai kelas eksperimen dan Kelas VII E sebagai kelas kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data di dalam penelitian adalah angket dan soal pretest-posttest. Teknik analisis data angket yang digunakan yaitu T-test dan menghitung rata-rata menggunakan excel. Sedangkan uji yang digunakan untuk hasil belajar yaitu uji T-test dan N-gain score. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media pembelajaran game TEBAK AKU dalam meningkatkan minat belajar yang dibuktikan dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 yang berarti probabilitasnya di bawah 0,05 (0,000 < 0,05) yang berarti Ho ditolak dan H1 diterima. Selanjutnya, dibantu dengan hasil perhitungan rata-rata dari data angket minat belajar kelas eksperimen rata-rata hasil perhitungan menunjukkan nilai sebesar 87,30263 dengan kriteria pengaruh yang Sangat Tinggi. Penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media pembelajaran game TEBAK AKU juga meningkatkan hasil belajar peserta didik yang dibuktikan dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 yang berarti probabilitasnya di bawah 0,05 (0,000 < 0,05) yang berarti Ho ditolak dan H1 diterima. Hasil output N-gain tes hasil belajar kelas eksperimen menunjukkan bahwa 0,5774 yang menunjukkan bahwa besarnya pengaruh dari penelitian ini menurut kriteria N-gain score adalah memiliki efek sedang dan mendapatkan nilai kategori tafsiran sebesar 57,7377 yang dianggap cukup efektif terhadap hasil belajar peserta didik.

  • Research Article
  • 10.24905/psej.v9i1.204
Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Etnosains untuk Melatih Keterampilan Literasi Sains Peserta Didik SMP
  • Oct 31, 2024
  • PSEJ (Pancasakti Science Education Journal)
  • Mikahela Dal + 2 more

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis etnosains, dan mengetahui keterampilan literasi sains peserta didik, serta respon peserta didik terhadap LKPD berbasis etnosains. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). Penelitian ini dilakukan pada peserta didik kelas VIIB SMPN 3 Borong yang berjumlah 27 peserta didik, dengan teknik pengumpulan data melalui validasi kelayakan LKPD IPA berbasis etnosains, wawancara, observasi kelas, tes literasi sains peserta didik, dan angket respon peserta didik. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis validasi kelayakan LKPD IPA berbasis etnosains, analisis wawancara, observasi kelas, analisis angket respon peserta didik, dan analisis literasi sains peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD berbasis etnosains mampu meningkatkan keterampilan literasi sains peserta didik kelas VIIB di SMPN 3 Borong. Hal ini dapat dilihat dari hasil validasi kelayakan LKPD berbasis etnosains dengan skor rata-rata sebesar 98% termasuk dalam kategori sangat layak. Nilai keterampilan literasi sains peserta didik dapat dilihat dari persentase ketuntasan nilai N-Gain score sebesar 0,83 atau dinyatakan dalam persen 〈g〉 83% yang termasuk dalam kategori tinggi. Hasil perhitungan angket respon peserta didik terhadap LKPD yang dikembangkan tersebut menunjukkan bahwa nilai respon peserta didik sebesar 62,70% yang termasuk dalam kategori baik

  • Research Article
  • 10.15548/alawlad.v13i2.8308
Pengembangan Modul Berbasis Arias Pada Materi Peredaran Darah Manusia Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Kelas 2 SD/MI
  • Dec 31, 2023
  • Tarbiyah Al-Awlad: Jurnal Kependidikan Islam Tingkat Dasar
  • Mahmud Mahmud + 2 more

Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi rendahnya kemampuan pemahaman konsep pelajaran Ilmu Pendidikan Alam (IPA) pada peserta didik. Kurangnya pemahaman konsep tersebut dianggap sebagai hambatan utama dalam memahami pembelajaran. Salah satu faktor penyebab rendahnya pemahaman konsep peserta didik adalah kekurangan bahan ajar atau sumber materi yang dapat dijadikan pedoman pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada pengembangan suatu bahan ajar, yakni modul berbasis ARIAS, dengan tujuan meningkatkan pemahaman konsep peserta didik secara valid dan praktis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (Research and Development) dengan mengadopsi model pengembangan 4D oleh Thiagarajan Sammel dan Semmel. Model ini melibatkan empat tahap, yakni pendefinisian (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Namun, penelitian ini hanya mencakup tahap pengembangan (develop), di mana modul dikembangkan dan kemudian diuji validitas serta praktikalitasnya. Instrumen yang digunakan untuk mengukur validitas terdiri dari lembar validasi dan angket yang diberikan kepada ahli materi/isi, ahli media, dan ahli bahasa. Sementara itu, instrumen praktikalitas melibatkan lembar praktikalitas dan angket yang disebarkan kepada pendidik dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul berbasis ARIAS pada materi sistem peredaran darah manusia memenuhi kriteria sangat valid, dengan rata-rata nilai validitas mencapai 86,9%. Begitu juga dengan praktikalitas, di mana modul ini dinilai sangat praktis dengan rata-rata 93,2%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini berhasil menghasilkan modul berbasis ARIAS yang valid dan praktis, yang dapat efektif digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran Ilmu Pendidikan Alam (IPA).

  • PDF Download Icon
  • Research Article
  • 10.47134/pgsd.v1i4.818
Implementasi STEM Berbasis Project Based Learning dalam Pembelajaran Bentuk-bentuk Bangun Datar Segitiga dan Segiempat
  • Aug 2, 2024
  • Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar
  • Aulia Rochmatul Fitria + 1 more

Di dalam mempelajari matematika tidak terlepas dari adanya sebuah permasalahan, permasalahan dalam penelitian ini adalah peserta didik kesulitan dalam pembelajaran matematika, kurang bisa memahami bentuk-bentuk bangun datar, serta kurang aktif pada saat kegiatan belajar mengajar Pelajaran matematika berlangsung. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan keaktifan dan konsep pemahaman bangun datar peserta didik dengan menerapkan pendekatan STEM berbasis Project Based Learning. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang.pendekatannya adalah deskriptif. Dalam pendekatan deskriptif data kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, tes tertulis, dan wawancara. Data dari penelitian ini diperoleh dari aktivitas proses pembelajaran pada guru dan peserta didik kelas II-C SDN Kepuh Kiriman 1 Waru dengan mata pelajaran Matematika bab 14 dengan materi bentuk-bentuk bangun segitiga dan segiempat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi pendekatan STEM berbasis Project Based Learning dalam pembelajaran bentuk-bentuk bangun datar segitiga dan segiempat sudah bisa diterapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan menunjukkan bahwa peserta didik sangat aktif dalam proses belajar. Kesimpulannya adalah implementasi pendekatan STEM berbasis Project Based Learning dalam pembelajaran bentuk-bentuk bangun datar segitiga dan segiempat sudah bisa diterapkan sesuai dengan ketentuan yang ada, dikarenakan pembelajaran ini dapat menumbuhkan rasa semangat, aktif, kreatif dan mampu berpikir kritis peserta didik.

  • Research Article
  • 10.61088/tadibi.v13i1.803
TARTIB NUZULI DAN ANDRAGOGI : TINJAUAN KONSEP DAN IMPLEMENTASI DALAM PENDIDIKAN
  • Sep 16, 2024
  • Ta'dibi : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
  • Damanhuri + 1 more

Penelitian ini membahas relevansi konsep Tartib Nuzuli dalam studi Al-Qur’an dengan pendekatan andragogi dalam pendidikan orang dewasa. Tartib Nuzuli merujuk pada urutan pewahyuan Al-Qur’an yang mencerminkan strategi pendidikan bertahap sesuai dengan kesiapan kognitif dan spiritual umat Islam. Konsep ini berkesesuaian dengan prinsip andragogi, yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, relevansi materi dengan kebutuhan peserta didik, serta kemandirian dalam proses belajar. Studi ini berupaya mengidentifikasi kesamaan prinsip antara kedua konsep tersebut dan bagaimana implementasinya dalam pendidikan Islam, khususnya dalam konteks pembelajaran orang dewasa. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif, yang menganalisis sumber-sumber primer dan sekunder terkait Tartib Nuzuli dan andragogi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tartib Nuzuli dan andragogi memiliki beberapa prinsip pembelajaran yang sejalan, seperti bertahap dan kontekstual, berorientasi pada kebutuhan praktis, serta mendorong refleksi dan pemahaman mendalam. Selain itu, konsep Tartib Nuzuli, yang membagi wahyu menjadi fase Makkiyah dan Madaniyah, menunjukkan pola pendidikan bertahap yang dapat diterapkan dalam model andragogi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa integrasi konsep Tartib Nuzuli dan pendekatan andragogi dapat menjadi strategi yang efektif dalam pendidikan Islam, khususnya bagi peserta didik dewasa. Dengan menerapkan prinsip pembelajaran bertahap, berbasis pengalaman, dan relevan dengan kehidupan peserta didik, model ini dapat meningkatkan pemahaman serta keterlibatan mereka dalam proses belajar. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum pendidikan Islam perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip Tartib Nuzuli serta metode andragogi guna menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif dan aplikatif.

  • Research Article
  • 10.29408/didika.v9i1.18736
Pengembangan Media Papan Selip (Slot Board) Terhadap Penguasaan Kosakata Pada Siswa Kelas II SDN Ampelgading Blitar
  • Jun 29, 2023
  • Jurnal DIDIKA: Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar
  • Indar Neliana Putri + 1 more

Kosakata merupakan aspek penting bagi siswa dalam menyampaikan pesan dan pendapat. Namun bebrapa studi menunjukan bahwa penguasaan kosakata siswa sekolah dasar masih rendah. Salah satu Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran papan Selip (Slot Board) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan penguasaan kosakata pada siswa kelas 2 SDN Ampelgading II Blitar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan SDN Ampelgadingm Blitar dengan subjek penelitian siswa kelas 2 yang berjumlah 13, yang terdiri dari siswa perempuan 6 orang dan siswa laki-laki 7 orang. Data penelitian yang diperoleh bahwa media pembelajaran Papan Selip (Slot Board) yang dikembangkan layak di uji cobakan. Respon peserta didik terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi kosakata melalui metode wawancara dan observasi dengan media pembelajaran menunjukkan respon yang baik dari peserta didik kelas 2 SDN Ampelgading Blitar.

  • Research Article
  • 10.33752/cartesian.v4i1.6687
Efektivitas Pembelajaran dengan Pendekatan PMRI Berbantuan Aplikasi Geogebra pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar
  • Nov 28, 2024
  • Cartesian: Jurnal Pendidikan Matematika
  • Rizki Nur Aulia Rahmadhani + 1 more

Materi bangun ruang sisi datar pada pelajaran matematika sering dijumpai dalam kehidupan nyata. Namun, realita menunjukkan bahwa masih banyak peserta didik yang belum bisa menyelesaikan masalah terkait bangun ruang sisi datar secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan efektivitas pembelajaran dengan pendekatan PMRI berbantuan aplikasi Geogebra pada materi bangun ruang sisi datar, khususnya luas permukaan dan volume dari bangun balok dan kubus. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 28 peserta didik kelas VIII G di MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng. Adapun jenis penelitian yang digunakan ialah deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan menggunakan metode tes tertulis, angket, serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pendekatan PMRI berbantuan aplikasi Geogebra efektif terhadap hasil belajar peserta didik. Hal ini terlihat dari perolehan skor rata-rata yakni 83,26 dan persentase ketuntasan klasikal yakni sebesar 82,14%. 2) Pendekatan PMRI berbantuan aplikasi Geogebra efektif terhadap respon peserta didik. Hal ini terlihat dari respon peserta didik tergolong positif dengan persentase rata-rata respon siswa sebesar 70,8% dengan yang menjawab ya lebih besar daripada yang menjawab tidak. 3) Pendekatan PMRI berbantuan aplikasi Geogebra efektif terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Hal ini terlihat pada perolehan skor rata-rata yakni 3,63 dan masuk dalam kategori baik.

  • Research Article
  • 10.56916/bip.v2i2.512
LITERASI MEMBACA CERITA LEGENDA SASAK DI SEKOLAH DASAR
  • Sep 18, 2023
  • Buletin Ilmiah Pendidikan
  • Miftahul Riyadah + 2 more

Penelitian ini bertujuan untuk menumbuhkan literasi membaca cerita legenda sasak dan mengetahui minat baca peserta didik dalam membaca cerita legenda sasak. Penelitian ini dilaksakan di SD Negeri 2 Menceh. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas 5 yang berjumlah 25 orang peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa deskriptif melalui obsevasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan peneliti beruapa reduksi data, penyajian data dan penartikan kesimpulan. Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa deskriptif melalui obsevasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan peneliti beruapa reduksi data, penyajian data dan penartikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa peserta didik kelas 5 SD Negeri 2 Menceh terdapat sebagain siswa mengetahui cerita legenda sasak dan sebagain siswa yang tidak menegatahui cerita legenda sasak dikarnakan peserta didik sebagaian minat masih kurang dalam membaca.

  • Research Article
  • 10.56013/fj.v2i2.1662
IMPLIKASI KONSEP TADIB TERHADAP KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM
  • Sep 4, 2022
  • FAJAR Jurnal Pendidikan Islam
  • Fitriyatul Hanifiyah

Pendidikan merupakan salah satu fasilitator yang sangat urgen untuk mewujudkan generasi mudan atau peserta didik menjadi agen of change bagi kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa. Pendidikan juga memiliki berbagai macam makna dalam menerapkan konsep-konsep Pendidikan di dunia nyata. Pemaknaan terhadap istilah Pendidikan juga terjadi di wilayah Pendidikan Islam. Istilah ta’dib juga dijadikan sebagai makna Pendidikan Islam. Ta’dib memiliki makna yang komprhensif, idela dan integral dalam penerapan konsep Pendidikan Islam. Tadib juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan karakter peserta didik. Oleh karenanya, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui implikasi ta’dib terhadap karakter peserta didik dalam konteks Pendidikan Islam. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian Field Research. Sedangkan Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa konsep ini memiliki makna yang sangat mendalam dan integral. Konsep ta’dib memiliki concern khusus terhadap kepribadian, akhlak atau adab peserta didik dalam mencari ilmu pengetahuan, sehingga ia dapat menggunakan dan mengamalkan pengetahuan yang telah diperolehnya dengan benar dan tepat. Oleh karena itu, peserta didik yang memiliki adab tersebut tidak akan melakukan penyalahgunaan terhadap ilmu pengetahuannya. Selain itu, peserta didik harus mempunyai keikhlasan dan kejujuran niat dalam mencari ilmu pengetahuan.

  • Research Article
  • 10.62504/jimre837
Pengaruh Keteladanan Guru Terhadap Karakter Peserta Didik Di SMK Al-Furqon Bantarkawung Brebes Tahun Pelajaran 2023/2024
  • Aug 21, 2024
  • Journal of International Multidisciplinary Research
  • Nur Fitri Saputri + 2 more

Penelitian ini mengkaji pengaruh keteladanan guru terhadap pembentukan karakter peserta didik di SMK Al-Furqon Bantarkawung, Brebes, yang merupakan komponen penting dalam proses pendidikan. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampaian materi, tetapi juga sebagai role model yang mempengaruhi sikap, perilaku, dan nilai-nilai peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Dalam konteks sosial yang penuh dengan konflik karakter, penelitian ini berupaya mengidentifikasi solusi melalui pendekatan keteladanan dalam pendidikan untuk membentuk aspek moral, spiritual, dan sosial siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Lokasi penelitiannya adalah SMK Al-Furqon Bantarkawung Brebes. Jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu 450 peserta didik. Sampel dalam penelitian ini adalah 10% dari peserta didik SMK Al-Furqon Bantarkawung dari kelas X sampai kelas XII yang diambil secara acak (random sampling) dengan jumlah 45 peserta didik. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner atau angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah rumus korelasi r product moment dan koefisien determinasi (KD) atau determination of coefficient (DC). Hasil perhitungan korelasi antara variabel x dan variabel y adalah sebesar 0,83. Selanjutnya dihitung dengan rumus KD = (rxy) 2 x 100% diperoleh hasil 69%. Kemudian dikonsultasikan dengan tabel interpretasi korelasi. Hasil analisis menunjukkan korelasi antara keteladanan guru (variabel x) dan karakter peserta didik (variabel y) sebesar 0,83, dan setelah dihitung dengan KD, diperoleh hasil 69%, menunjukkan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter peserta didik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keteladanan guru berpengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik di SMK Al-Furqon Bantarkawung, dengan pengaruh sebesar 69%. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran guru sebagai teladan dalam membentuk karakter positif siswa.

  • Research Article
  • 10.62504/jimr837
Pengaruh Keteladanan Guru Terhadap Karakter Peserta Didik Di SMK Al-Furqon Bantarkawung Brebes Tahun Pelajaran 2023/2024
  • Aug 21, 2024
  • Journal of International Multidisciplinary Research
  • Nur Fitri Saputri + 2 more

Penelitian ini mengkaji pengaruh keteladanan guru terhadap pembentukan karakter peserta didik di SMK Al-Furqon Bantarkawung, Brebes, yang merupakan komponen penting dalam proses pendidikan. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampaian materi, tetapi juga sebagai role model yang mempengaruhi sikap, perilaku, dan nilai-nilai peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Dalam konteks sosial yang penuh dengan konflik karakter, penelitian ini berupaya mengidentifikasi solusi melalui pendekatan keteladanan dalam pendidikan untuk membentuk aspek moral, spiritual, dan sosial siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Lokasi penelitiannya adalah SMK Al-Furqon Bantarkawung Brebes. Jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu 450 peserta didik. Sampel dalam penelitian ini adalah 10% dari peserta didik SMK Al-Furqon Bantarkawung dari kelas X sampai kelas XII yang diambil secara acak (random sampling) dengan jumlah 45 peserta didik. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner atau angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah rumus korelasi r product moment dan koefisien determinasi (KD) atau determination of coefficient (DC). Hasil perhitungan korelasi antara variabel x dan variabel y adalah sebesar 0,83. Selanjutnya dihitung dengan rumus KD = (rxy) 2 x 100% diperoleh hasil 69%. Kemudian dikonsultasikan dengan tabel interpretasi korelasi. Hasil analisis menunjukkan korelasi antara keteladanan guru (variabel x) dan karakter peserta didik (variabel y) sebesar 0,83, dan setelah dihitung dengan KD, diperoleh hasil 69%, menunjukkan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter peserta didik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keteladanan guru berpengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik di SMK Al-Furqon Bantarkawung, dengan pengaruh sebesar 69%. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran guru sebagai teladan dalam membentuk karakter positif siswa.

  • Research Article
  • 10.31602/jt.v7i1.18384
PENYITAAN BARANG BUKTI BERGERAK PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM (Studi Kasus di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Kelas I Kupang)
  • Mar 13, 2025
  • Jurnal Terapung : Ilmu - Ilmu Sosial
  • Betania Maygawati Christy

Abstrak Penyitaan barang bukti merupakan satu langkah penting dalam sistem peradilan pidana yang berfungsi untuk membuktikan keterkaitan antara pelaku dan tindak pidana yang dilakukan. Namun, dalam praktiknya, tindakan penyitaan sering kali menimbulkan permasalahan, terutama terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia, di mana barang yang disita ternyata bukan milik pelaku kejahatan, melainkan milik pihak lain yang tidak terlibat. Tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Kupang yang menggali mekanisme penyitaan, peran aparat penegak hukum, serta dampaknya terhadap masyarakat, terutama pemilik barang yang sah. Pendekatan sosiologi hukum digunakan untuk memahami hubungan antara hukum, masyarakat, dan keadilan dalam proses penyitaan, serta untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak. Metode pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum dengan studi RUPBASAN Kelas I Kupang. Subjek penelitian meliputi pihak penyidik, pengelola RUPBASAN, dan masyarakat yang terdampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun penyitaan barang bukti memiliki dasar hukum yang jelas, pelaksanaannya sering kali menimbulkan kontroversi karena kurangnya sosialisasi, kesalahan prosedur, dan lemahnya pemahaman masyarakat terhadap hak-haknya. Untuk itu, diperlukan upaya perbaikan dalam mekanisme penyitaan, pengelolaan benda sitaan, serta pemberian edukasi kepada masyarakat untuk meminimalkan konflik dan menjaga kepercayaan publik terhadap sistem hukum. Penelitian ini memberikan sumbangan yang signifikan dalam menggali hubungan antara aspek hukum dan masyarakat, khususnya dalam konteks pelaksanaan penyitaan barang bukti yang bersifat bergerak. Kata Kunci: Penyitaan, Rupbasan, Prespektif Sosiologi Hukum. Abstract The seizure of evidence is a crucial step in the criminal justice system, serving to establish the connection between the perpetrator and the crime committed. However, in practice, this action often leads to issues, particularly concerning human rights violations, where the seized items do not belong to the offender but to unrelated third parties. This paper is based on research conducted at the State Confiscated Property Storage House (Rupbasan) Class I Kupang, which examines the mechanism of seizure, the role of law enforcement officers, and its impact on society, especially the rightful owners of the items. A sociological legal approach was employed to understand the relationship between law, society, and justice in the seizure process and to provide solutions to the problems arising in the implementation of movable evidence seizures.This research utilized a qualitative approach. The study aimed to examine the process of movable evidence seizure from a sociological legal perspective with a case study at Rupbasan Class I Kupang. The research subjects included investigators, Rupbasan managers, and affected community members. The findings revealed that while the seizure of evidence has a clear legal basis, its implementation often sparks controversy due to a lack of public dissemination, procedural errors, and the limited understanding of citizens regarding their rights. Therefore, improvements are needed in the seizure mechanism, management of confiscated items, and public education to minimize conflicts and maintain public trust in the legal system. This research makes a significant contribution to understanding the relationship between law and society in the context of movable evidence seizures. Keywords: Seizure, Rupbasan, Legal Sociology Perspective. PENDAHULUAN Penyitaan barang bukti merupakan langkah krusial dalam proses penegakan hukum, yang berfungsi untuk membuktikan keterkaitan antara pelaku dan tindak pidana yang terjadi. Dalam hukum acara pidana, penyitaan bertujuan untuk mengamankan barang bergerak atau tidak bergerak sebagai alat bukti untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan. Namun, proses penyitaan sering kali mendapat kritik karena dianggap melanggar hak asasi manusia, terutama ketika barang yang disita bukan milik pelaku, melainkan milik pihak lain yang tidak terlibat.Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum, dengan studi kasus di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN) Kelas I Kupang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pengelolaan barang sitaan di RUPBASAN, termasuk tantangan yang dirasakan oleh masyarakat akibat tindakan penyitaan yang tidak sesuai prosedur.Penelitian terdahulu telah membahas penyitaan barang bukti dari berbagai aspek. Ferdian (2015) menyoroti prosedur penyitaan barang bukti oleh penyidik Polri dan hambatan yang dihadapi, terutama dalam kaitannya dengan peraturan perundang-undangan. Elias Zadrach Leasa (2015) fokus pada penyitaan barang bukti dalam pelanggaran lalu lintas, dengan perhatian khusus pada profesionalitas penyidik dalam menangani barang bukti. Sementara itu, Abdul Rosyad (2014) mengkaji penyitaan aset dalam kasus korupsi, yang menekankan pentingnya kehati-hatian aparat hukum dalam mengaitkan aset dengan tindak pidana.Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik pada penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum, khususnya dengan studi kasus di RUPBASAN Kelas I Kupang. Penelitian ini menggali bagaimana proses penyitaan tersebut memengaruhi masyarakat, termasuk permasalahan yang muncul akibat kurangnya pemahaman hukum di kalangan masyarakati.Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan pelaksanaan penyitaan barang bukti bergerak serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaan benda sitaan. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi hukum, penelitian ini juga berupaya memahami hubungan antara hukum, masyarakat, dan keadilan dalam konteks penyitaan barang bukti.Fenomena penyitaan barang bukti dalam kasus tindak pidana, seperti pencurian kendaraan bermotor, menggambarkan bagaimana hukum berperan dalam menciptakan ketertiban. Namun, permasalahan timbul ketika pelaksanaan penyitaan dianggap tidak adil, terutama ketika barang yang disita tidak memiliki hubungan langsung dengan tindak pidana yang terjadi.Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi penting dalam perbaikan mekanisme penyitaan barang bukti. Dengan memahami kendala yang dihadapi, penelitian ini juga memberikan rekomendasi bagi aparat penegak hukum untuk meningkatkan transparansi dan profesionalitas dalam pelaksanaan tugas mereka.Secara keseluruhan, penelitian ini mempertegas pentingnya sosialisasi hukum kepada masyarakat, perbaikan prosedur penyitaan, serta pengelolaan barang sitaan yang lebih baik. Hal ini diperlukan untuk menciptakan keadilan hukum sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum yang berlaku.METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang bertujuani menggambarkan objek secara mendalam dan menyeluruh. Studi kasus digunakan karena sifat objek penelitian yang khusus, memungkinkan eksplorasi mendalam melalui wawancara dan analisis data terintegrasi. Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Kelas I Kupang, dengan jadwal penelitian dari awal Maret hingga pertengahan April 2024. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan pegawai kantor tersebut sebagai sumber data utama. Penelitian ini mengandalkan data primer berupa hasil observasi dan wawancara, serta data sekunder dari dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian.Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara (baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur), serta dokumentasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai fenomena sosial, sementara wawancara digunakan untuk menggali informasi lebih mendalam dari para informan. Dokumentasi berfungsi untuk melengkapi data dengan menggunakan dokumen primer dan sekunder. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dimulai dengan pengelompokan data hingga penyusunan kesimpulan yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami lebih lanjut mengenai proses penyitaan barang bukti bergerak dalam perspektif sosiologi hukum serta mengidentifikasi kendala yang muncul dalam proses penyimpanannya.HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan wawancara dan observasi di RUPBASAN Kelas I Kupang, diketahui bahwa penyitaan barang bukti bergerak merupakan langkah hukum yang sangat penting dalam penegakan hukum di Indonesiai, khususnya dalam kasus tindak pidana. Berdasarkan Pasal 39 KUHAP, penyitaan barang bukti dilakukan untuk mendukung pembuktian dalam perkara pidana, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Langkah ini diambil untuk mencegah barang bukti yang terkait dengan tindak pidana disalahgunakan, rusak, atau hilang. Penyitaan ini sangat penting untuk memastikan keutuhan proses peradilan dan memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.Dari sudut pandang sosiologi hukum, penyitaan barang bukti menggambarkan kewajiban negara dan aparat penegak hukum untuk menjaga tatanan sosial serta memberikan kepastian hukum. Proses penyitaan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada, yang mana penyidik harus mendapatkan persetujuan dari Ketua Pengadilan Negeri, kecuali dalam kondisi mendesak. Hal ini mencerminkan adanya pengawasan yang ketat untuk mencegah penyitaan yang melanggar hak-hak individu.Proses penyitaan dimulai dengan pembuatan surat perintah yang berisi rincian barang yang akan disita, alasan penyitaan, serta identitas penyidiki. Barang yang disita kemudian diamankan, diperiksa, dan didokumentasikan dengan cermat untuk memastikan keasliannya sebagai barang bukti. Penyidik bertanggung jawab menjaga keamanan dan kelengkapan barang tersebut selama proses penyelidikan dan peradilan berlangsung. Dalam beberapa kasus, penyitaan dapat melibatkan ahli untuk memastikan relevansi barang bukti dalam perkara pidana.Jika ada kekhawatiran bahwa barang bukti akan dihancurkan, dipindahkan, atau disembunyikan, penyitaan dapat dilakukan segera tanpa menunggu izin formal, dalam keadaan mendesak. Keadaan ini membutuhkan tindakan cepat oleh penyidik untuk memastikan barang bukti tetap berada di bawah kontrol negara. Penyitaan dapat mencakup benda berwujud maupun benda tak berwujud, selama barang tersebut relevan dengan tindak pidana dan dapat dimiliki.Secara keseluruhan, penyitaan barang bukti memegang peranan penting dalam menjamin proses hukum yang adil dan transparan. Pentingnya menjaga barang bukti hingga penyelesaian perkara menunjukkan bahwa barang bukti adalah elemen yang sangat vital dalam sistem peradilan pidanai. Langkah ini tidak hanya mengamankan hak-hak korban dan tersangka, tetapi juga memastikan bahwa pengadilan dapat menjalankan tugasnya secara efektif dan berkeadilan.Rumah Penyimpanani Barang Sitaan Negara (RUPBASAN)Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara (RUPBASAN) memainkan peran vital dalam sistem pemasyarakatan Indonesia, dengan tanggung jawab untuk menyimpan dan mengelola barang bukti serta barang sitaan negara sampai proses hukum selesai. RUPBASAN memiliki peran penting dalam mendukung sistem peradilan dengan memastikan bahwa barang-barang yang berkaitan dengan tindak pidana disimpan dengan aman dan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Peran ini menjadi elemen krusial dalam penegakan hukum yang bertujuan menciptakan keadilan bagi masyarakat.Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM, RUPBASAN, termasuk RUPBASAN Kelas I Kupang, bertugas untuk menyimpan barang bukti yang terkait dengan kasus pidana maupun perdata yang melibatkan negara. Keberadaan RUPBASAN memastikan barang bukti yang disita tidak disalahgunakan dan tetap terjaga keasliannya, sehingga dapat digunakan sebagai bukti dalam proses hukum yang sedang berjalan. Hal ini mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan barang bukti.Kinerja RUPBASAN memiliki peran penting dalam mencapai tujuan organisasi, yakni mengelola barang bukti secara aman, tepat waktu, dan sesuai dengan peraturan hukum. Kinerja yang optimal akan mendukung sistem pemasyarakatan untuk menciptakan keadilan bagi masyarakat melalui pengelolaan barang bukti yang profesional. Beberapa indikator keberhasilan kinerja RUPBASAN antara lain adalah keamanan barang, kepatuhan terhadap prosedur hukum, serta efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaannya.Pengelolaan barang bukti oleh RUPBASAN tidak hanya berfungsi untuk mendukung penegakan hukum, tetapi juga menjadi bagian integral dari sistem pemasyarakatan yang lebih luas. Pemasyarakatan bertujuan untuk membina narapidana agar dapat diterima kembali oleh masyarakat, sementara pengelolaan barang sitaan memastikan bahwa setiap proses hukum dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Keterkaitan ini menggambarkan pentingnya peran RUPBASAN dalam mendukung keseluruhan sistem hukum pidana.Penilaian dan pengukuran kinerja RUPBASAN sangat penting untuk memastikan bahwa tugas yang diemban dijalankan dengan efisien dan efektif. Dengan kinerja yang maksimal, RUPBASAN dapat berperan optimal sebagai bagian dari sistem hukum yang lebih luas, yang bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan penegakan hukum yang adil di Indonesia. Keberhasilan RUPBASAN juga berkontribusi dalam mencapai tujuan strategis dalam sistem pemasyarakatan dan penegakan hukum.Prosedur Penyitaan Barang BuktiProses penyitaan barang bukti bergerak adalah tindakan yang diatur dalam hukum untuk menyita barang-barang yang berkaitan dengan tindak pidana, baik barang yang dipakai untuk melakukan tindak kejahatan maupun yang diperoleh sebagai hasil dari kejahatan tersebut. Tindakan ini menjadi bagian dari proses penyelidikan, penuntutan, dan peradilan. Tujuan dari penyitaan adalah untuk memastikan bahwa barang bukti dapat digunakan dalam proses hukum guna menentukan kebenaran suatu kasus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam KUHAP.Langkah awal dalam proses penyitaan adalah penyusunan surat perintah penyitaan oleh penyidik. Surat tersebut mencantumkan informasi tentang barang yang akan disita, alasan penyitaan, dan identitas penyidik yang bertanggung jawab. Surat ini harus ditandatangani oleh penyidik dan disaksikan oleh pihak yang hadir saat penyitaan berlangsung, sehingga memberikan landasan hukum yang jelas bagi tindakan tersebut.Setelah surat perintah diterbitkan, penyitaan dilaksanakan di lokasi yang relevan, seperti tempat kejadian perkara (TKP) atau lokasi lain tempat barang bukti ditemukan. Penyitaan juga dapat dilakukan terhadap barang yang berada pada tersangka atau pihak terkait lainnya. Selama proses penyitaan, penyidik wajib memastikan barang bukti tetap utuh dan tidak rusak, mengingat barang tersebut sangat penting dalam proses hukum selanjutnya.Setelah barang bukti disita, barang tersebut harus diamankan dan disimpan dengan aman di tempat yang terkunci, dengan akses yang hanya diperbolehkan bagi pihak yang berwenang. Sebuah daftar inventarisasi juga dibuat untuk mencatat detail barang bukti, seperti nomor inventaris, jenis barang, dan kondisinya, untuk mencegah kehilangan atau kerusakan selama proses hukum berlangsung.Prosedur penyitaan ditutup dengan pemeriksaan dan pengembalian barang bukti. Pemeriksaan bertujuan untuk mengumpulkan informasi tambahan terkait dengan tindak pidana yang dilakukan, dan sering kali melibatkan ahli forensik atau pihak berkompeten lainnya. Jika barang bukti sudah tidak relevan, barang tersebut dapat dikembalikan kepada pemiliknya setelah melalui evaluasi menyeluruh untuk memastikan bahwa barang tersebut tidak diperlukan lagi dalam pembuktian di persidangan.Aspek Hukum dalam PenyitaanPenyitaan barang bukti dalam sistem hukum pidana Indonesia dijelaskan secara terperinci dalam Pasal 39 KUHAP, yang meliputi baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak yang relevan dengan tindak pidana. Barang bergerak mencakup dokumen, uang, kendaraan, dan barang lain yang mudah dipindahkan, sementara barang tidak bergerak meliputi tanah dan bangunan. Tujuan utama penyitaan adalah untuk memastikan barang bukti dapat digunakan dalam proses penyidikan, penuntutan, dan persidangan. Barang yang disita harus relevan dengan tindak pidana, baik sebagai alat kejahatan, hasil tindak pidana, atau objek yang dapat membantu mengungkap kebenaran peristiwa pidana.Penyitaan harus dilakukan sesuai dengan prosedur hukum untuk memastikan keabsahannya. Dalam hal penyitaan barang bergerak, penyidik hanya dapat melakukannya setelah mendapatkan izin tertulis dari Ketua Pengadilan Negeri setempat. Izin ini bertujuan untuk memastikan agar penyitaan dilakukan dengan pengawasan yang tepat dan tidak sewenang-wenang. Namun, dalam situasi darurat, penyidik dapat segera melakukan penyitaan untuk mencegah hilangnya barang bukti atau gangguan terhadap penyidikan. Setelah penyitaan dilakukan, penyidik harus melaporkan tindakan tersebut kepada pengadilan untuk memperoleh persetujuan selanjutnya.Berdasarkan Pasal 1 angka 16 KUHAP, penyitaan merupakan tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mengambil dan menyimpan barang yang memiliki keterkaitan dengan tindak pidana, guna mendukung proses pembuktian dalam jalannya hukum. Barang yang disita akan menjadi milik negara dan tetap berada di bawah pengawasan negara hingga proses hukum selesai, memastikan keutuhan dan kesiapan barang tersebut sebagai alat bukti sah di pengadilan.Setelah barang disita, penyidik bertanggung jawab untuk memastikan barang tersebut disimpan dengan aman. Umumnya, barang tersebut ditempatkan di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN) untuk memastikan kondisinya tetap terjaga hingga proses hukum selesai. Penyimpanan yang baik sangat penting untuk benda bergerak, seperti kendaraan dan perangkat elektronik, untuk mencegah kerusakan atau penurunan nilai. Pengelolaan yang efektif juga mencerminkan transparansi dan akuntabilitas aparat penegak hukum dalam menangani barang sitaan.Meski prosedur penyitaan telah diatur dengan jelas, praktik di lapangan sering kali menghadapi tantangan, seperti potensi pelanggaran hak asasi manusia. Salah satu masalah yang sering timbul adalah penyitaan terhadap barang yang ternyata bukan milik pelaku kejahatan, melainkan milik orang lain yang tidak memiliki keterlibatan dalam tindak pidana tersebut. Hal ini dapat memicu konflik hukum dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hukum dan menyediakan pelatihan bagi penyidik, sehingga proses penyitaan dapat dilakukan secara adil serta sesuai dengan prinsip keadilan dan ketentuan hukum yang berlaku.Kendala Penyimpanan Benda Sitaan/Bukti Bergerak Tindakan Pidana di Kantor RUPBASAN Kelas I KupangPenyimpanan barang bukti bergerak dalam perkara pidana merupakan aspek krusial dalam sistem peradilan untuk memastikan barang bukti dapat digunakan dalam tahap penyelidikan, penuntutan, dan persidangan. Namun, proses ini menghadapi sejumlah tantangan yang dapat mengurangi efektivitasnya. Salah satu kendala utama adalah semakin berkembangnya modus operandi kejahatan yang lebih kompleks, seperti kasus pencurian kendaraan bermotor yang melibatkan penghilangan identitas kendaraan. Hal ini mempersulit proses identifikasi dan penyimpanan barang bukti, yang berpotensi menghambat jalannya proses hukum.Selain itu, ada risiko kehilangan atau penghilangan barang bukti, baik berupa barang fisik maupun dokumen pendukung, yang sering dilakukan oleh pelaku kejahatan untuk menghilangkan jejak. Kehilangan barang bukti ini dapat merusak integritas perkara hukum dan menghambat proses peradilan. Untuk itu, pengamanan barang bukti perlu dilakukan dengan sangat ketat untuk memastikan bahwa barang bukti tetap terjaga, termasuk menjaga identitas barang sebagai bagian penting dalam penyelidikan.Permasalahan lain yang kerap terjadi adalah ketidakpatuhan terhadap prosedur yang telah ditentukan dalam proses penyitaan dan penyimpanan. Kelalaian atau kesalahan dalam pengelolaan barang bukti dapat menyebabkan hilangnya atau kerusakan barang bukti, yang berdampak buruk pada kelancaran proses hukum. Pelanggaran terhadap prosedur ini dapat mengakibatkan sanksi yang serius sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, termasuk ancaman hukuman pidana berdasarkan Pasal 233 KUHP lama atau Pasal 365 KUHP yang baru.Selain itu, penyimpanan barang bukti elektronik atau digital, seperti ponsel, komputer, atau data digital, menghadirkan tantangan tersendiri. Risiko perubahan atau penghilangan data elektronik memerlukan prosedur pengelolaan yang lebih ketat, mengingat data tersebut sangat krusial dalam proses pembuktian. Kelalaian dalam pengelolaan barang bukti digital dapat dikenai sanksi berdasarkan ketentuan dalam UU ITE, yang mencakup ancaman pidana hingga delapan tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 miliar. Sebagai langkah penyelesaian, masyarakat dapat melaporkan masalah tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri, sedangkan pengelolaan barang bukti diatur melalui Peraturan Kapolri No. 10 Tahun 2010.KESIMPULAN Artikel ini menjelaskan bahwa meskipun penyitaan barang bukti bergerak merupakan bagian penting dari penegakan hukum, proses tersebut tetap menghadapi berbagai tantangan. Perkembangan metode kejahatan, hilangnya atau penghilangan barang bukti, serta kelalaian dalam pengelolaan barang bukti menjadi hambatan utama yang harus diatasi oleh aparat penegak hukum.Namun, dengan pengelolaan yang lebih baik, termasuk penerapan prosedur yang lebih ketat dan pengawasan yang lebih intensif, masalah-masalah tersebut dapat diminimalkan. Penyidik dan aparat penegak hukum perlu memastikan bahwa barang bukti yang disita tetap aman, baik dalam bentuk fisik maupun digital, untuk memastikan kelancaran dan keadilan dalam proses hukum. Pengawasan yang ketat serta penerapan sanksi tegas terhadap pelanggaran dalam pengelolaan barang bukti akan memberikan efek jera dan memastikan tercapainya keadilan dalam sistem peradilan pidana.DAFTAR PUSTAKA Abiding Yunus, Strategi Membaca, Teori dan Pembelajarannya, Bandung, RIZQI Press.Agus Harjito dan Martono . 2010 . Manajemen Keuangan. Yogyakarta : Ekonisia Belas. Yogyakarta : LibertyAbdul Rosyad, 2014 dengan Judul Pembaharuan Hukum Dalam Penyitaan Barang Bukti Hasil Korupsi. Dalam jurnal Pembaharuan Hukum Vol 1 No 2. 2014Burhan Bungin.2012. Analisa Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali.Elias Zadrach Leasa, yang dimuat dalam jurnal Sinta 2 Vol 21 Nomor 2 tahun 2015 dengan judul Penyitaan Barang Bukti Dalam Pelanggaran Lalulintas.Ferdian, 2015 dengan judul, Penyitaan Barang Bukti Yang Dilakukan Oleh Penyidik Polri Dan Hambatannya Di Polrest Kutim Dan Hambatannya. Journal of Law Jurnal ilmu hukum, Ejurnal Untag Samarinda Vol 1 No 1. Hartono, Jogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis Edisi 6. Yogyakarta: BPFE.Harahap, M. Yahya.2007. Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata. Jakarta : PT. Sinar Grafika.Hadawi Nawawi, M. Martini hadari.,1995,Instrumen Penelitian bidang social, Jogyakarta, Gajah Mada UniversityMoenir H,A.S, 2001, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bina Aksara, Jakarta.Michael Quinn Patton, 1980, Qualitative Evaluation Methods, Edisi, 2, berilustrasi, cetak ulang. Penerbit, Sage Publications OC.D. Hendropuspito, 1989, Sosiologi Sistematika. Kanisius. Yogyakarta.Priya Santosa, Bima, dkk, 2010, Lembaga Pengelola Aset Tindak Pidana, Jakarta:Poerdarminto, 1985, Kamus Saku. Pustaka Pelajar.Sarwono, Sarlito Wirawan. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Soekanto, Soerjono. 2000. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Soekanto, Soerjono. 1983. Beberapa Aspek Sosial Yuridis Masyarakat. Offset Alumni: BandungSuranto, Aw,Komunikasi Interpersonal, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: AlfabetaSugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: AlfabetaLiteratur Tambahan :Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945Undang-Undang No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu LintasPeraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor mengatur hubungan antara barang bukti fisik yang disita dengan pelanggaranPeraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor E.2.UM.01.06 Tahun 1986 tanggal 17 Februari 1986 dan disempurnakan tanggal 7 November 2002 Nomor E.1.35.PK.03.10 Tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) RUPBASANPeraturan Menteri Kehakiman RI No. M.05.UM.01.06 tahun 1983 tentang Pengelolaan Benda Sitaan Negara dan Barang Rampasan Negara di RUPBASAN.

  • Research Article
  • 10.61104/ihsan.v3i1.500
Transformasi Manajemen Peserta Didik di Lembaga Pendidikan Islam Pada Era Society 5.0
  • Jan 1, 2025
  • Jurnal IHSAN Jurnal Pendidikan Islam
  • Mutiara Ariska + 3 more

Transformasi manajemen peserta didik di lembaga pendidikan Islam sangat diperlukan dalam menyongsong era Society 5.0 yang ditandai dengan integrasi teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), dan big data, yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan untuk menghadapi tantangan utama yakni minimnya adaptasi teknologi dalam manajemen peserta didik serta pendekatan pembelajaran yang masih konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi inovatif dalam mengoptimalkan pengelolaan peserta didik guna meningkatkan kualitas pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif yang mengumpulkan data melalui analisis berbagai sumber literatur, termasuk jurnal, artikel, dan buku, yang relevan dengan transformasi pendidikan Islam dan teknologi di era Society 5.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi teknologi dapat meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kualitas layanan pendidikan. Penggunaan teknologi memungkinkan pengelolaan data peserta didik yang lebih baik, personalisasi pembelajaran, serta pengambilan keputusan berbasis data. Selain itu, pemanfaatan alat analitik dan platform digital mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. Namun, transformasi ini memerlukan dukungan kuat dari tenaga pendidik yang kompeten, fasilitas memadai, dan pendekatan yang seimbang antara teknologi modern dan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini menekankan pentingnya inovasi dalam manajemen peserta didik untuk menghadapi tantangan Society 5.0 tanpa kehilangan identitas pendidikan Islam. Diharapkan, implementasi strategi berbasis teknologi dapat meningkatkan mutu pendidikan Islam sekaligus membentuk generasi yang adaptif, kompeten, dan berakhlak mulia.

  • Research Article
  • 10.51494/jpdf.v5i3.1297
PROGRAM LITERASI MEMBACA UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MEMBACA BAGI PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR ISLAM FITRAH AL FIKRI
  • Aug 1, 2024
  • Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata
  • Siti Nur Rasya Ramadhan + 2 more

Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya ketertarikan kegiatan membaca di Indonesia yang menyebabkan Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lainnya. Ketertinggalan ini diperparah ketika tidak adanya penguatan dan persiapan yang matang di dalam lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan kegiatan literasi peserta didik, mendeskripsikan tantangan dan hambatan dari program literasi, mendeskripsikan output dari program literasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah guru, peserta didik kelas 5 Mina. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, obervasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses pelaksanaan kegiatan literasi peserta didik dilakukan melalui 3 tahap, yang pertama tahap pembiasaan, tahap pengembangan dan tahap pembelajaran. Adapun tantangan pada saat pelaksanaan program literasi timbul dari internalisasi peserta didik yaitu kurangnya tingkat kepercayaan diri saat membaca. Selain itu hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan program literasi ini yaitu kurangnya perhatian dari orang tua. Peserta didik juga sudah mampu memahami makna atau istilah, menangkap informasi, serta mampu menjelaskan makna dari istilah. Peserta didik mampu memahami bacaan tersirat atau tersurat. Peserta didik mampu membuat mengambil hikmah dari bacaan serta membuat teks menjadi cerita. Tetapi peserta didik belum mampu menilai isi teks dan menilai struktur bacaan.Abstract: This research is motivated by the low interest in reading activities in Indonesia which causes Indonesia to lag far behind other countries. This lag is exacerbated when there is no strengthening and thorough preparation in educational institutions. The aim of this research is to describe the process of implementing student literacy activities, describe the challenges and obstacles of the literacy program, describe the output of the literacy program. The research method used is qualitative with descriptive research type. The primary data source in this research is teachers, grade 5 students in Mina. The data collection techniques used were interviews, observation and documentation. The results of this research show that the process of implementing student literacy activities is carried out through 3 stages, the first is the habituation stage, the development stage and the learning stage. The challenges during the implementation of the literacy program arise from students' internalization, namely a lack of self-confidence when reading. Apart from that, the obstacle that occurs in implementing this literacy program is the lack of attention from parents. Students are also able to understand the meaning or terms, capture information, and be able to explain the meaning of terms. Students are able to understand implicit or explicit reading. Students are able to take lessons from reading and make the text into a story. But students are not yet able to assess the content of the text and assess the structure of the reading.

Save Icon
Up Arrow
Open/Close
  • Ask R Discovery Star icon
  • Chat PDF Star icon

AI summaries and top papers from 250M+ research sources.